Terpaksa Menikahi Atasanku

Terpaksa Menikahi Atasanku
48~ S3 Istriku Gadis Kecilku Terbongkarnya rahasia Alice


__ADS_3

H A P P Y R E A D I N G


“Alice kemana sih di telepon-telepon enggak di angkat lagi? Apa mungkin mereka benar udah sering berhubungan tapi, kok aku masih belum percaya. Eh! Bentar-bentar, Mama bilang kalau Alice pernah datang ke rumah cuma buat nyariin aku, nah dia sebenarnya mau bilang apa? Padahal sebelumnya dia enggak pernah lagi berani buat datang apalagi aku udah mengusir dia. Sebaiknya aku harus langsung temuin Alice tapi, gimana caranya? Di telepon enggak di jawab. Kalau aku langsung ke apartemennya pasti Steven malah ajak perang. Arrggh! Sial! Udahlah masa bodoh! Aku harus ke sana buat bisa dapatkan jawaban yang membuat kepalaku pusing,” gumam Alvero sembari melemparkan ponselnya ke sebelah tempat duduk yang lain.


Tekad Alvero sudah bulat ingin langsung menghampiri Alice. Agar semua pertanyaan dalam otaknya bisa terpecahkan. Menancap gas dengan cepat hingga akhirnya tiba di tempat yang ingin ia datangi.


...----------------...


Alvero tidak kunjung turun dari mobilnya, ia mengintip dari mobil. Berharap mendapatkan sesuatu jalan agar bisa masuk kedalam tanpa adanya Steven. Namun, saat dia berada di mobilnya Steven bersama Alice terdengar sedang ribut meskipun belum tahu dengan permasalahan yang terjadi.


“Kamu aneh banget deh dari tadi kamu cuekin aku terus bahkan sampai bentak, emang salahku apa? Padahal aku cuma mau ngajak kamu makan abisnya kamu udah lama banget duduk di balkon sini,” ucap Alice dengan nada tinggi yang bisa di dengar oleh Alvero dari luar.


“Aku udah bilang, aku cuma mau sendiri cuma mau sendiri lagian nanti kalau aku udah baikan pasti aku bakalan bilangin kamu kok,” sahut Steven yang juga di dengar oleh Alvero.


“Serah deh! Padahal bayi kamu ini cuma mau kamu manjain, apalagi aku lagi laper! Mau makan banyak tapi, ya udahlah kalau kamu males keluar duduk aja terus sampai besok di balkon itu,” ketus Alice yang masih bisa di dengar Alvero.


“Iya-iya deh maaf. Ya udah kalau gitu aku belikan makanan dulu ya. Baru deh nanti aku manjain,” sahut Steven mengalah.


Steven yang habis bertengkar dengan Claudia, ia tidak banyak bicara namun, Alice yang merasa kesal terus-menerus di cuekin oleh Steven akhirnya marah hingga terjadi perdebatan.


Alvero yang sedari tadi menyimak apa yang sedang terjadi, ia pun bergegas pergi sedikit menjauh karena ia tahu kalau Steven sedang ingin keluar dari apartemen mereka.


“Pindah ke sebelah sana dulu deh kayaknya,” gumam Alvero yang langsung bergegas pergi menjauh.


Terlihat Steven keluar lalu mengambil mobilnya, ia tidak merasa curiga dengan mobil yang terparkir sedikit jauh. Alvero yang sedari tadi menunggu, ia bahkan menundukkan kepalanya agar tidak terlihat.


Mobil yang di tumpangi oleh Steven pun pergi. Kemudian Alvero berjalan mendekat dengan cepat kedepan pintu apartemen Alice. Karena tidak tahu kode masuk akhirnya ia memilih untuk menekan bel.


Dari dalam Alice mendengar bel berbunyi namun, ia berpikir jika Steven kembali pulang. “Kok cepat banget? Pasti dia ada ketinggalan sesuatu nih.”


Alice membuka pintunya dengan bergegas, saat ia buka tanpa melihat siapa tamu datang. “Loh? Kok udah balik, baru aja per-pergi. Alvero? Kamu kok-”


Alvero membungkam mulut Alice dengan tangannya, lalu dengan cepat ia menarik masuk tubuh Alice bersamaan dengannya. Alvero pun tidak lupa untuk menguncikan pintu terlebih dahulu.


“Ngapain kamu kesini?” tanya Alice dengan ketus.


“Loh? Mau aku kesini kek ya suka-suka aku dong. Lagian kamu juga ke rumahku jadi, biar adil aku juga harus kesini dong,” sahut Alvero yang langsung memilih duduk di sofa tanpa menunggu siempunya suruh.


“Jawab kamu kesini ngapain?” tanya Alice terus-menerus.


“Aku kesini mau jenguk tunangan ku yang sedang hamil, apa salah?” jawab Alvero sembari tersenyum tersungging.


‘Astaga! Dari mana dia tahu kalau aku sedang hamil? Apa mungkin dia juga tahu kalau ini anaknya tapi, dari mana?’ batin Alice sembari mengerutkan keningnya.


“Ka-kamu tahu darimana aku sedang hamil?” tanya Alice dengan gelagapan.


“Aku tahu darimana itu bukan urusanmu. Yang ingin aku tahu anak siapa sebenarnya yang kamu kandung itu?” tanya Alvero yang langsung mencekal tangan Alice kemudian di bawa duduk bersama.


Alice terdiam sejenak. ‘Apa mungkin aku harus mengatakan semuanya? Tapi, bagaimana kalau dia tidak ingin mengakui kami? Justru rasa sakit yang kembali kurasakan,' batin.


“Apa maumu datang kesini? Setelah akhirnya kamu mengusirku lalu kembali memintaku bekerjasama denganmu, bahkan kamu tidak menjengukku ke rumah sakit, dan sekarang kamu duduk dengan gagah di depanku tanpa ada kesalahan. Apa kamu selalu begini di semua wanita?” ungkap Alice dengan pertanyaan baru.


“Ayolah jangan berbelit-belit. Aku kemari itu hanya untuk ingin menjenguk mu lagipula Mama bilang kalau kamu sedang mencariku kemarin. Berbicara bagaimana sikapku kepada wanita lain semuanya tergantung bagaimana sikap wanita itu sendiri juga perasaanku. Oh ya, tolong jawab yang aku tanyakan. Apa kamu benar-benar sedang hamil? Lalu bayi itu anak siapa? Jika itu bukan anakku maka aku akan pergi sekarang,” ungkap Alvero panjang lebar seraya ingin memastikan.


‘Apa memang ini jalan yang tepat tapi, bagiamana jika Alvero tidak mengakui anaknya?’ batin Alice merasa cemas.


Alice bangkit dari duduknya, ia juga tidak ingin menatap wajah Alvero. “Iya ini adalah anakmu, dan tujuanku untuk datang kembali ke rumahmu hanya ingin untuk memberitahukan tentang bayi ini.”


“Jadi benar itu anakku ya. Jika Mami mengetahui ini pasti dia sangat senang bahkan sampai langsung menikahi kita di hari itu juga tapi, yang aku heran 'kan, aku mendengar dari orang lain bahwa anak ini adalah anak Steven. Kenapa kamu berbohong dengannya? Apa memang kalian sudah pernah berbuat?” ucap Alvero yang juga ikut-ikutan bangkit sembari berdiri di depan Alice.


Alice mengangguk. “Jujur saja kami memang pernah tidur bersama. Lalu apa masalahnya denganmu? Bukankah kamu tidak menginginkan diriku?”


“Memang tidak ada, hanya saja aku sudah tidak lagi percaya dengan kata-katamu yang hanya jatuh kedalam tubuhku lalu sekarang kamu bahkan bermain api dengan orang lain. Apa ini yang kamu katakan mencintaiku? Heuh! Alice, Alice. Ternyata kamu seperti wanita malam di luar sana yang hanya memberikan tubuhmu kepada siapapun,” ungkap Alvero yang berusaha merendahkan harga diri Alice.


“Cukup, Alvero! Kamu tidak berhak untuk mengatakan semua itu padaku. Karena kamulah yang sudah membuang ku bahkan hanya menjadikan aku sebagai alat untuk kamu bisa mendapatkan Viora. Jikapun aku bisa memilih maka aku akan memilih untuk tidak pernah mengenalmu. Sekarang pergi dari apartemen ku, dan jangan lagi pernah berharap kamu bisa menjadi ayah dari anakku ini meskipun sekarang kamu sudah tahu,” bentak Alice dengan amarahnya.


‘Kenapa aku kesal ya mendengar Alice berhubungan dengan Steven?’ batin Alvero.


“Sekarang ikut denganku! Aku akan memberitahukan semuanya kepada Mami kalau kamu sedang mengandung, dan aku akan bertanggung jawab dengan anak ini tapi, setelah anak ini lahir maka kita harus bercerai. Kau ingat, Mami sangat mengingatkan cucu jadi, sekarang aku sudah memiliki anak darimu. Ah, satu lagi jangan pernah lagi katakan cintamu untukku karena aku tidak akan percaya apalagi mengingat tubuhmu yang kotor dengan pria lain. Menjijikkan! Sekarang ikut denganku! Ayo cepat!” paksa Alvero sembari menggenggam tangan Alice dengan kuat.


‘Apa-apain? Dia akan tanggung jawab dengan bayiku lalu kembali membuang ku setelah anak ini lahir. Lebih baik aku tidak ikut dengannya. Lebih baik aku hidup bersama Steven yang sudah bersedia menerima anakku bahkan tidak bersikap kasar seperti dia,’ batin Alice seraya mencoba melepaskan tangannya.


“Berani sekali kamu hanya ingin tanggung jawab sampai anakku lahir lalu setelah itu kamu akan mengambil paksa dariku. Aku yang mengandungnya! Aku yang akan melahirkannya bukan dirimu! Jadi kamu tidak punya hak atas anakku. Lebih baik cepat pergi dari sini. Kamu pria kejam! Tidak punya hati!”


“Oh begitu? Jadi kalau aku pria kejam yang tidak punya hati lalu apa bedanya denganmu bahkan lebih menjijikkan. Kamu wanita murahan yang hanya mementingkan uang bahkan saat aku memintamu pergi dengan begitu mudah kau sudah mendapatkan pengganti. Jika kamu tidak ingin ikut denganku maka aku akan menghubungi Mami lalu memberitahukan semuanya. Kamu mungkin bisa menolak ucapanku namun, aku tidak yakin kamu akan menolak ucapan mamaku.”


‘Ya ampun ... Bagaimana ini? Aku memang ingin menjadi pendamping hidup Alvero tapi, aku tidak ingin jika keadaannya seperti ini. Dia hanya ingin aku kembali demi anak dalam kandunganku lalu setelah itu dia akan kembali membuang ku. Apa mungkin cinta akan ada setelah kami hidup bersama? Kurasa tidak, pasti cintanya untuk Viora lebih besar,’ batin Alice yang begitu kebingungan.


“Alvero, aku mohon tolong pergi dari sini. Aku tidak masalah kamu tidak ingin tanggung jawab. Kita lebih baik tidak perlu terus berdebat jadi, sekarang pergilah. Jangan lagi ganggu hidupku karena aku sudah bahagia hidup bersama Steven. Ku mohon ... Pergilah,” usir Alice dengan baik-baik.


“Aku tidak mau pergi jika tidak pergi dengan membawamu. Lagipula anak dalam kandungan mu itu adalah darah daging ku. Sudah menjadi tanggung jawab ku untuk membesarkannya. Meskipun kamu terus menolak maka aku akan tetap memaksanya,” sahut Alvero sembari mengeraskan rahangnya.


Alvero tidak ingin di bantah, ia bahkan terus memaksa Alice meskipun Alice mencoba terus menolak. Bahkan terjadi kekerasan saat Alvero menarik Alice. Ia memberikan tamparan keras.


Suara mobil Steven terdengar oleh mereka. Wajah Alice langsung pucat bahkan nafasnya tidak karuan karena merasa ketakutan. Namun, berbeda dengan Alvero yang justru tersenyum mendengar mobil itu sudah berhenti tepat di depan apartemen.


“Alvero, sebaiknya kau sembunyi. Steven sudah pulang. Aku tidak ingin dia tahu, aku tidak ingin kalian sampai ribut di sini. Malu di denger tetangga,” ungkap Alice dengan ketakutan.


“Ha ha ha, justru itu yang kuinginkan makanya aku masuk kedalam apartemen mu. Bertahanlah aku akan mencium mu sekarang,” ucap Alvero sembari melakukan apa ia inginkan.


Alvero benar-benar melakukannya. Dengan cepat ia mendaratkan ciuman itu tepat di bibir Alice. Walaupun Alice mencoba menolak tapi, tenaganya tidaklah sebanding.


Diluar pintu, Steven sedang menekan tombol kunci untuk bisa memasuki apartemen itu. Pintu pun perlahan terbuka namun, betapa tercengangnya ia melihat dua orang sedang bermesraan di depannya.


“Alice, Alvero, Kalian?!” ucap Steven dengan terkejut.


Alvero tersenyum sembari melepaskan ciumannya. Ia justru memilih duduk walaupun Steven sudah menggenggam tangannya.


“Lo emang enggak tahu malu, Alvero! Gua udah kasih peringatan tapi, Lo masih temuin Alice. Berani-beraninya lo tetap temuin Alice bahkan mengambil ciuman dari calon istri gua! Dasar ******!” geram Steven sembari melemparkan makanan yang sejak tadi ia bawa pulang.


“Wow! Apa gue enggak salah denger? Calon istri Lo. Ha-ha-ha, Jangan kepedean. Lo itu enggak tahu apa-apa mendingan Lo pergi dari apartemen Alice sekarang!” sahut Alvero yang juga tidak ingin kalah.


Steven ingin menghajar Alvero namun, dengan cepat Alice menahannya dengan cara memeluk Steven dari belakang hingga akhirnya pukulan itu tidak terjadi.


“Alvero, cepat pergi dari sini! Aku tidak ingin ikut denganmu!” bentak Alice yang masih berada di belakang Steven.


“Dasar menjijikkan! Steven! Asal Lo tahu anak di dalam kandungan Alice itu anak gue! Jadi Lo harus jangan lagi bawa Alice kedalam hidup Lo!” ungkap Alvero dengan suara lantang.


Steven terdiam sembari menatap Alice dengan tatapan yang tidak di mengerti oleh orang lain. ‘Apa benar yang Alvero katakan? Tapi, jika itu memang anaknya Alice kenapa dia mengakui sebagai anakku?’


Alice menunduk tanpa berani menatap wajah Steven. Kemudian Steven menarik tangan Alice dengan kuat lalu membawa masuk kedalam kamarnya.


“Steven, lepas. Ini sakit,’ pinta Alice.


Steven melepaskan genggaman tangannya lalu ia mengusap wajahnya dengan cepat. “Tolong jelaskan apa yang barusan aku dengar, jelaskan!”

__ADS_1


Alice bungkam sambil menunduk. Steven terus menunggu jawaban namun, Alice tetap tidak berkata apapun. Hingga akhirnya Steven menendang apapun benda yang ada di depannya sampai membuat Alice terkejut.


“Steven, cukup. Aku akan menjelaskannya padamu tapi, ku mohon jangan putuskan hubungan kedekatan kita, pliss ...,” rengek Alice sambil menyatukan kedua tangannya di depan Steven.


“Cepat jelaskan semuanya!” hardik Steven bahkan sampai memucratkan air liurnya.


Alice menarik nafas dalam-dalam. “Sebelumnya aku minta maaf, aku terpaksa melakukan semuanya. Sebenarnya anak ini memang anak dari Alvero meskipun kita juga sudah berhubungan tapi, mana mungkin kita langsung memiliki keturunan hanya berhubungan sesaat bahkan belum sampai seminggu. Memang aku tidak menceritakan bagaimana kedekatan ku dengan Alvero. Kami hampir setiap malam selalu berhubungan, baik dalam keadaan bahagia ataupun bertengkar.”


“Apa? Jadi benar anak yang kau kandung anaknya Alvero? Lalu kenapa kamu mengakui kalau itu anakku?! Meskipun terpaksa seharusnya kamu tidak melakukan semua itu. Kamu tahu hubunganku dengan Claudia hancur! Dia terluka! Karena kupikir aku memang anak dari ayah ini. Aku bahkan sampai meminta dia untuk menjadi istri keduaku. Astaga, Alice. Kamu benar-benar membalaskan kebaikanku dengan kejahatan. Aku benar-benar tidak menyangka kamu ternyata begitu licik bahkan lebih berbisa dari ular!” hardik Steven.


“Aku tahu ini salah, aku pasti akan memberitahukan semuanya kepada Claudia. Maafkan aku, Steven. Tolong jangan membenciku. Aku terpaksa melakukan semuanya ini karena aku takut anakku tidak memiliki ayah saat dia besar nanti. Kau tahu, jangankan Alvero menerimaku, dia saja kesini hanya untuk mengambil anakku ini lalu setelah itu dia akan kembali membuang ku seperti sampah. Jadi, ku mohon jangan tinggalkan aku, apalagi sampai membenciku,” sahut Alice memohon sembari menggenggam tangan Steven.


“Tidak, Alice. Aku tidak bisa memaafkan mu sebelum hubunganku dengan Claudia kembali membaik. Jikapun Alvero menginginkan anakmu ini wajar saja dia adalah ayahnya. Lalu aku siapa? Orang yang kau gunakan saat dirimu tidak tahu memiliki siapapun. Aku kecewa denganmu, Alice. Kau hanya mementingkan kehidupanmu sempurna tanpa memikirkan orang lain padahal jelas-jelas karena ulah mu ini orang lain sudah menjadi korbannya. Sepertinya kita memang harus berpisah di sini. Pergilah dengan Alvero, dia adalah ayah dari anak dalam kandungan mu. Aku akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua supaya nanti Alvero bisa memberikan cintanya untukmu. Jadi, sekarang aku harus pergi. Terima kasih sudah mau menampungku, dan maaf kita memang tidak seharusnya untuk berdekatan seperti ini. Jikapun nanti kita tidak sengaja bertemu anggap saja kita tidak pernah saling mengenal,” ungkap Steven panjang lebar lalu melangkah lebih mendekat dengan lemari pakaian.


“Steven, ku mohon ... Jangan pergi dariku. Jikapun kita akan berpisah di sini maka jangan sampai kita tidak saling mengenal. Kita masih memiliki ponsel untuk kita saling bertukar kabar. Kau sudah berjanji bahwa selalu akan menemaniku, dan bahkan menjadikan aku sebagai keluargamu jadi aku mohon tepati janjimu itu,” pinta Alice sembari memeluk Steven dari belakang.


“Itu sudah berbeda kasus, saat itu hatiku tidak sadar bahwa kamu ternyata seperti ini. Namun, sekarang aku tahu alasanmu hanya karena takut tapi, cobalah mengerti bahwa sesungguhnya orang lain juga membutuhkan kasih sayang. Andai saja waktu itu kamu mengakui jika ini anaknya Alvero maka aku akan membantumu agar bisa bersama dengannya tapi, sekarang justru aku yang tidak tahu harus kemana. Sudahlah aku akan pergi dari tempat ini. Semoga kamu hidup bahagia dengannya.” Steven berkata sambil melepaskan pelukan Alice.


“Steven, tolong pikirkan lagi,” ucap Alice dengan wajah polos.


“Ya-ya aku akan kembali memikirkannya jadi sekarang tolong berikan aku waktu untuk mengemasi barang-barangku.”


Steven melanjutkan apa yang ingin ia perbuat. Mengambil koper kemudian memasukkan semua barang-barang miliknya. Namun, Alice hanya menjadi penonton.


Tidak begitu lama Steven membereskan semua barangnya. Ia langsung keluar tanpa berkata apapun lagi dengan Alice meski Alice mengikuti dari belakang. Alvero yang sedari tadi menonton televisi sembari menunggu dua orang itu selesai.


Alvero menatap kepergian Steven dengan tatapan penuh kemenangan, ia bahkan tersenyum tersungging. Namun, berbeda dengan Alice yang sudah meneteskan air matanya.


‘Rasanya aku tidak sanggup melihat Steven pergi. Aku terlalu nyaman saat tinggal bersama dengannya bahkan aku belum pernah begitu di perhatikan oleh seorang pria. Dia adalah sosok pria yang baik, perhatian juga lemah lembut tapi, kenapa aku begitu bodoh telah menyakitinya. Andaikan saja aku dari dulu mengakui bahwa itu anaknya Alvero mungkin sampai detik ini Steven akan terus bersama denganku,’ batin Alice sambil menangis.


Alvero mendorong tubuh Alice dengan pelan-pelan. “Udahlah enggak usah berlebihan gitu pakai nangis segala lagi. Dasar banyak drama. Mendingan sekarang kemas semua barang-barang lalu kita akan kembali pulang ke tempatku. Tidak ada bantahan apapun, atau aku akan berbuat kasar.


“Dasar! Pria iblis!” bentak Alice dalam isak tangisnya.


“Ya-ya aku pria iblis sedangkan kamu wanita menjijikkan! Lebih tinggi derajat iblis daripada wanita menjijikkan sepertimu. Sana cepat kemas barang-barangmu! Aku tidak ingin lama-lama. Kesibukanku bukan hanya untuk mengurus wanita menjijikkan sepertimu, dasar murahan!” hardik Alvero tanpa peduli perasaan orang lain tersakiti.


Alice berlari memasuki kamarnya. Ia kembali meratapi nasibnya. Hidupnya yang benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat. Tak ada lagi teman, tak ada lagi pekerjaan, tak ada lagi Steven di sisinya lalu sekarang hidup dengan Alvero.


‘Menyedihkan!’ batin Alice sambil menatap perutnya yang masih datar.


Alvero memasuki kamar Alice, ia menatap Alice yang sedang berkemas-kemas namun, dirinya kesal melihat pekerjaan yang begitu lama. Sampai akhirnya ia mengambil alih untuk membantu Alice.


“Lama banget sih! Kemas ini dong lelet banget. Kalau nangis itu yah nangis aja enggak usah sampai bawa-bawa sama pekerjaan. Lelet 'kan jadinya lama,” kesal Alvero seraya memasukkan pakaian dengan ala kadarnya.


...----------------...


Mereka berada di dalam mobil. Alvero menyetirnya dengan begitu cepat bahkan Alice sampai harus berpegangan tangan padahal sudah memakai sabuk pengaman. Tidak ada perbincangan di antara mereka. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.


(Kediaman Alvero)


Tiba di kediaman, Alvero langsung berjalan mendahului Alice tanpa menunggunya terlebih dahulu. Berbeda dengan Alice, ia justru menatap kediaman itu dalam-dalam.


‘Baru sehari aku mencoba lagi untuk kembali kesini lalu sekarang aku justru kembali untuk tinggal di sini. Jika dulu aku bisa menjadi penguasa namun, sekarang sepertinya tidak mungkin. Steven, di mana kamu tinggal? Mungkinkah kamu sudah menemukan tempat tinggal? Semoga saja Tuhan selalu melindungi mu,’ batin Alice mencoba tetap tegar.


Ia berjalan melangkah sambil menarik koper seorang diri. Saat hampir memasuki pintu masuk tiba-tiba Mami Alvero datang untuk membantunya membawakan koper.


“Duh ... Alice, kenapa bawa koper sendirian? Inikan berat. Alvero itu benar-benar ya. Dia main masuk tanpa bantuin kamu. Sini biar saya yang bawakan," ucap Mami Alvero.


“Iya, Tante. Makasih, udah enggak apa-apa biar Alice aja yang bawain,” sahut Alice merasa tidak nyaman.


“Senyam-senyum! Bantuin tuh angkat barang! Alice juga tunangan mu," perintah Mami.


“Ogah! Mendingan Alvero tidur,” sahut Alvero dengan santai.


“Dasar ini anak belum nikah aja udah males begini apalagi udah nikah. Duh ... Kasian menantuku,” gumam Mami sembari mengusap-usap dadanya.


Alvero mendengar apa yang di katakan oleh mamanya hingga membuatnya bangkit dari duduknya. “Udahlah, Mami. Ngapain sih bantuin dia biarkan aja dia capek sendiri. Meskipun dia lagi hamil tapi, Alvero tetap enggak suka apalagi pas ingat dia sama pria lain. Dia itu kabur dari sini cuma buat memilih tinggal sama pria lain. Mami harus tahu itu.”


“Apa yang sedang kamu katakan ini, Alvero? Mami benar-benar tidak mengerti. Alice hamil?” tanya Mami kebingungan.


“Duh ... Mami lama banget nyambungnya. Gini ya, Mi. Alice itu lagi hamil anaknya Vero tapi, dia lebih memilih untuk tinggal dengan pria lain padahal jelas-jelas bayi dalam kandungannya itu anaknya Vero. Lebih baik Mami jangan terlalu perhatian dengannya,” hasut Alvero dengan sengaja.


‘Rasakan kamu, Alice. Mulutmu dengan tubuhmu tidak bisa dipercayai. Mulut penggoda bahkan tubuh ikut-ikutan. Lihatlah selama ini Mami selalu menjadi pelindung buatmu tapi, sekarang Mami akan menjadi seperti Ibu mertua yang muak denganmu,’ batin Alvero sembari mengangkat alisnya sebelah sambil tersenyum.


Wajah Alice ketakutan dengan apa yang sudah Alvero katakan. “Ta-Tante, tolong jangan percaya semua kata-katanya. Dia berbohong, Tante. Alice pergi dari sini bukan karena ingin tinggal bersama pria lain tapi, Alvero sendiri yang mengusirnya. Sungguh, Aku ti-”


“Diam! Berani-beraninya kamu menjelek-jelekkan anak saya di depan saya sendiri. Dasar wanita sial. Pantas saya waktu itu kamu tiba-tiba pergi dari rumah ini bahkan tidak pernah mengunjungi saya lagi padahal saya sudah merestui hubungan kalian bahkan pernikahan juga akan saya siapkan tapi, ternyata ini balasan dari perbuatan baik saya. Kamu ternyata menyakiti Alvero, itu sama saja kamu menyakiti saya. Hubungan kalian hanya akan bertahan selama kamu hamil, dan ingat untuk tinggal di sini jangan males-malesan," ungkap Mami Alvero dengan kejam sambil menunjuk-nunjukan tangannya.


‘Astaga! Dia pikir dia siapa sampai berani-beraninya ngomong kasar bahkan Alvero sengaja memanas-manasi mamanya sendiri. Kurang ajar!’ batin Alice kesal.


“Cukup ya, Tante! Anda sudah melewati batas. Saya juga tidak terlalu berharap untuk kembali tinggal di rumah ini. Jika bukan karena anak Tante sendiri yang tidak tahu malu membawa saya kesini. Jika tidak saya juga tidak akan mau. Saya akan pergi dari sini jadi, tidak perlu menjadikan saya budak kalian, dan satu hal lagi jangan berharap setelah bayi ini lahir akan menjadi milik kalian. Ini adalah darah daging saya!” sahut Alice dengan tegas demi membela dirinya.


Alice menyeret kopernya dengan cepat, ia ingin meninggalkan kediaman neraka itu. Hatinya begitu sakit atas perlakuan dari Alvero begitupun mamanya. Saat Alice sedang berusaha untuk pergi dengan cepat Alvero kembali menyeret Alice bahkan membopong tubuhnya untuk kemudian mengunci Alice di dalam kamarnya.


“Lepaskan aku! Kalian tidak punya hak melakukan semua ini terhadapku! Lepaskan aku!” teriak Alice sembari menggedor-gedor pintu.


“Jangan harap kamu bisa lepas dari sini, Alice. Lahirkan anak itu dulu baru aku akan melepaskan mu,” sahut Alvero tanpa memiliki perasaan.


Alvero pergi menemui mamanya yang sedang menyaksikan semua perbuatan yang ia lakukan.


“Nak, kemari sebentar ada yang ingin Mami katakan.”


“Ada apa, Mami?” tanya Alvero penasaran.


“Meskipun kalian sedang bertengkar sebaiknya jangan terlalu kasar dengan Alice. Dia sedang mengandung anakmu. Mengandung anak bahkan sampai sembilan bulan itu tidaklah mudah. Tadi Mami hanya menggertak 'nya karena Mami kesal mengingat apa yang sudah kamu katakan, padahal Mami belum mengetahui yang sebenarnya. Apapun itu masalah kalian secepatnya selesaikan apalagi nanti kalian juga akan menikah. Cepat berikan cucu lagi untuk Mami bila perlu lima,” ungkap Mami dengan serius lalu langsung meninggalkan Alvero yang sedang tercengang.


“Astaga! Mami benar-benar memiliki wajah cukup banyak. Dia berubah begitu cepat, dan selalu begitu. Ah sudahlah lebih baik aku mencari udara segar ketimbang bosan di sini,” gumam Alvero.


...----------------...


Di sisi lain, Alice menangis meratapi nasibnya. Ia sudah berhenti menggedor-gedor pintu.


“Bagaimana caranya aku bisa kabur? Bahkan di setiap pintu, dan jendela memiliki pengaman lalu aku harus apa? Dulu aku tinggal di sini bebas lalu sekarang justru sebaliknya. Hidup seperti dalam neraka. Benar-benar sial!” gumam Alice.


...----------------...


(Kediaman Kelvin)


Steven yang tidak tahu harus menuju kemana. Ia pun memilih untuk pergi ke tempat Kelvin berada, ia menuju kesana tanpa memberikan kabar apapun. Tiba di kediaman Kelvin. Steven turun dengan rasa malas, ia kemudian menekan bel. Tidak butuh waktu lama pintu gerbang langsung terbuka bahkan yang membukanya Viora sendiri.


“Eh, Steven? Tumben banget kesini?” tanya Viora penasaran.


“Ajak masuk dulu kek,” sahut Steven dengan rasa malas.


“Ya ampun ... Ya udah yuk masuk! Pookie! Ada temanmu nih ....” Viora berteriak memanggil Kelvin.

__ADS_1


Kelvin keluar dari balik kamarnya. “Teman? Teman yang mana, Bookie?!”


“Kesini cepetan! Jangan teriak dari sana!” ketus Viora.


Kelvin yang baru bangun tidur siang berjalan keluar dengan rasa malas meskipun ia sudah mencuci wajahnya. Sambil menguap ia mendekati Viora.


“Teman yang mana, Bookie?” tanya Kelvin.


“Tuh lihat! Steven kesini,” ketus Viora.


“Kalian berdua kenapa sih ribut banget? Kasih gue teh kek, kopi kek, ini enggak malah ribut di depan,” timpal Steven.


“Bentar deh, Lo beneran Steven ya? Ha-ha-ha, tumben banget kesini kenapa Lo lagi kesasar hah? Kaya orang enggak betah hidup aja Lo. Eh tunggu dulu. Aneh ya, saat Claudia tinggal di hotel, Lo malah kesini. Giliran Claudia tinggal di sini Lo pergi. Aneh hidup Lo,” ketus Kelvin dengan ala kadarnya.


“Apaan sih? Ngomel mulu. Viora, ada makanan yang enakkan? Gue laper nih. Kalau pesan datangnya lama bisa pingsan deh gue,” tanya Steven sembari memegangi perutnya.


“Iya-iya ada. Ya udah yuk ke dapur,” ajak Viora yang langsung di ikuti oleh Kelvin dan Steven.


Tiba di meja makan, Steven melahap makanan begitu banyak sampai membuat Viora bersama Kelvin memandang satu sama lain.


“Pookie, lihat deh dia makan kaya enggak makan selama seminggu padahal duitnya banyak tuh. Pasti lagi patah hati,” ucap Kelvin kepada Viora yang juga bisa di dengar oleh Steven.


“Iya nih, Bookie. Bener kata kamu pasti lagi masalah cinta. Kalau enggak di tolak ya di putusin ha-ha-ha,” ledek Viora bersama dengan Kelvin.


Steven terus melahap makanannya meskipun ia mendengar semua ledekan dari teman-temannya. “Gue denger ya semua yang kalian omongin. Dasar teman laknat.”


“Udahlah anggap aja lagi dengerin radio. Habisin tuh semua makanan. Kasian gue lihatnya. Tidur di jalanan ya? Berapa hari enggak makan? Seminggu, atau sebulan?” ledek Kelvin terus-menerus.


Steven tidak peduli dengan ledekan temannya padahal ia tidak bisa mendengar ada teman yang meledeknya pasti dia akan membalas kekonyolan lebih pedas. Namun, karena hatinya sedang bersedih ia lebih memilih untuk berdiam diri.


Steven terus melahap makanannya meskipun nyinyiran dari temannya terus terdengar di telinga. Sampai akhirnya ia selesai menghabiskan tanpa sisa kemudian terduduk dengan tidak semangat di depan Kelvin dan Viora.


Kelvin bersama Viora saling memandang melihat Steven seperti orang yang sudah kehilangan semangat hidupnya.


“Bye the way, Lo sebenarnya lagi kenapa sih? Perasaan dari tadi kita lihatin galau terus," tanya Kelvin penasaran.


“Iya nih. Biasanya juga kalau Pookie ku lagi kumpul sama kamu pastinya orang yang paling konyol itu kamu, Steven,” timpal Viora yang juga penasaran.


“Gue ... Bingung,” sahut Steven dengan malas.


“Bingung?”


“Yah gue bingung. Apa yang harus lakuin sekarang?” tanya Steven dengan tiba-tiba.


“Kalau Lo enggak cerita mana mungkin kami bisa tahu apa yang harus Lo lakuin,” sahut Kelvin.


“Em, Viora. Pliss! Bantuin gue, Pliss! Cuma Lo satu-satunya orang yang bisa bantu gue, bujuk Claudia,” pinta Steven dengan memohon.


“Bujuk Claudia?! Apa yang harus gue bujuk? Secara kami tiba-tiba suruh aku tanpa jelasin apapun itu. Katakan sebenarnya kamu dengan Claudia sedang masalah apa?” tanya Viora dengan cepat.


“Eeee, jadi aku pikir kalau wanita itu hamil anakku tapi, ternyata tidak. Dia hanya menipuku padahal jelas-jelas dia hamil dengan orang lain namun, semuanya dia lakukan demi anaknya karena takut dia bersama bayinya tidak di akui. Meskipun aku tahu seorang Ibu akan mempertaruhkan semuanya demi anaknya,” curhat Steven tanpa kejelasan.


“Lalu yang jadi permasalahan mu dengan Claudia apa?! Ya ampun, Steven. Ayolah ceritakan detailnya,” ungkap Viora kebingungan.


“Masalahnya ... Aku memberitahukan Claudia bahwa aku adalah Ayah dari anak itu. Ah! Aku bingung sekali! Dia benar-benar marah denganku padahal kami baru jadian seminggu,” lanjut Steven sembari menarik rambut dengan kedua tangannya.


“Jadi kalian sudah berpacaran?! Lalu sekarang udah putus, begitu? Astaga! Steven, kamu benar-benar ya! Kalau masalah beginian sih aku sendiri bingung harus membantunya apalagi kau tahu sendiri kalau hubungan rumah tanggaku saja pernah dalam masalah yang cukup besar,” ungkap Viora yang juga kebingungan.


‘Ya ampun, kasian Steven. Posisinya begitu sulit seperti kehidupanku dulu,’ batin Kelvin.


“Aku juga sama denganmu, aku tidak tahu harus berbuat apa. Claudia pasti sangat marah. Mungkin saja dia tidak ingin untuk bertemu lagi denganku. Bodohnya aku sampai membuka rahasia yang belum tentu benar lalu sekarang kemalangan berpaling kearahku. Oh Tuhan ... Ini menyulitkan sekali,” rengek Steven dengan terus-menerus.


“Begini saja, coba bicara lagi baik-baik dengan Claudia. Siapa tahu setelah itu dia akan mengerti tentang dirimu. Jika memang dia mencintaimu pasti dia akan mencoba mengerti tapi, itu hanya berlaku untukku. Jika Claudia, entahlah aku juga tidak terlalu tahu karakter dirinya seperti apa jika berurusan dengan cinta.”


“Arrggh! Kepalaku pusing sekali. Sebaiknya aku harus istirahat. Jika seperti inipun aku juga tidak tahu harus berpikir apa. Kelvin, Viora. Aku akan pergi istirahat sebentar,” pamit Steven yang langsung pergi meninggalkan pasangan pasutri tanpa menunggu mereka mengiyakan.


Steven telah melangkah pergi. Kemudian Kelvin memeluk istrinya dari belakang sembari membenamkan wajahnya di leher istrinya.


“Pookie, kau lihat dia pria yang malang,” ucap Kelvin.


“Ya-ya aku tahu itu. Lalu apa tujuanmu saat ini sampai memelukku seperti ini, Bookie?” sahut Viora sembari bertanya.


“Em! Kau pasti tahu. Pookie, aku ingin memakan dirimu. Aku sangat lapar,” kata Kelvin yang semakin mengeratkan pelukannya.


“Hey! Bukankah kau sudah makan, Bookie? Bahkan perutmu masih kekenyangan,” jawab Viora yang tidak peka.


“Aduh ... Pookie! Jaringan mu lambat sekali. Aku lapar dirimu sayang bukannya makanan. Ayolah aku ingin dirimu, sungguh! Aku sangat lapar. Pasti kamu tidak tega melihatku kelaparan.”


“Ya-ya aku sangat suka melihatmu kelaparan," sahut Viora sembari membalikkan tubuhnya agar bisa memandangi wajah Kelvin.


“Oh ... Begitu. Jadi kamu sekarang sudah mengakui kalau kamu menyukai diriku yang sedang kelaparan seperti ini. Baiklah, jadi sekarang aku tahu kalau kamu suka sekali dengan godaan ku,” ucap Kelvin dengan sesukanya.


“Hey! Sejak kapan aku bilang begitu?” Viora kebingungan.


“Sejak ... Aku kelaparan! Ayolah, Pookie. Aku lapar sekali, tubuhmu begitu indah.” Dengan sengaja Kelvin berusaha menggoda Viora.


“Benar-benar pria tamak! Ya sudah kamu bisa makan sepuasnya,” ketus Viora sembari tersenyum manis.


Kelvin bahagia bahkan refleks memeluk istrinya itu. Mereka berdua langsung menuju ke kamarnya untuk menuntaskan rasa lapar. Kelvin yang sudah candu dengan tubuh istrinya begitu ... Tidak sabaran. Bahkan ia dengan sengaja menggendong istrinya agar rasa laparnya terpuaskan. Hingga akhirnya mereka berakhir dengan aktivitas yang indah, saling menyenangkan satu sama lain hingga hubungan penyatuan itu begitu panas bahkan membara seperti air mendidih.


...----------------...


(Kediaman Alvero)


Alvero memasuki kamarnya, ia membuka dengan pelan-pelan. Terlihat jika Alice tertidur dalam duduknya tepat tidak jauh dari pintu masuk. Menatap Alice dengan tatapan kasihan sampai akhirnya Alvero mencoba untuk membangunnya. Namun, caranya tidak santai bahkan ia dengan sengaja mengejutkan Alice sampai terbangun dari mimpinya.


“Ngapain tidur di lantai? Itu ranjang luas loh,” ketus Alvero sambil bertanya.


“Bukan urusanmu! Sekarang cepat aku ingin pergi dari sini. Jangan mengurungku hanya karena adanya bayi ini. Tanpa kamu, aku akan berusaha membesarkan anakku dengan baik,” sahut Alice kesal.


“Aduh ... Ngapain sih baru bangun malah ajak ribut. Udah sana cuci muka terus sikat gigi, bau tahu pakai teriak segala lagi,” ungkap Alvero sembari menahan senyumnya.


“Dasar!” ketus Alice.


Alice bangkit, ia menuju ke kamar mandi. Saat dirinya kembali Alvero terlihat masih di dalam kamar itu bahkan sedang asyik rebahan sambil bermain ponsel miliknya.


“Eh! Maksudnya kamu apa sih sampai waktu itu bilang ke Mami kalau aku itu kabur sama pria lain. Jelas-jelas kamu yang udah usir aku,” ungkap Alice dengan sengaja.


“Lah emang kenyataannya. Kamu tinggal dengan dia bahkan kalian melakukan hubungan badan. Apa itu tidak berlebihan?” tanya Alvero dengan serius bahkan meletakkan ponselnya.


“Kamu lagi cemburu ya?” tanya Alice penasaran.


“Cemburu?! Enggak salah! Aku itu cuma mau anak di dalam kandungan mu karena Mami sudah sangat menginginkan keturunan ku. Jadi, wajar aja dong kalau aku kurang suka dengan kelakuanmu apalagi kamu dengan mudahnya bermain.”


“Bentar, bentar! Kamu kalau cemburu bilang aja deh, Alvero. Jangan perlakukan aku dengan sesuka mu begitu,” ucap Alice.

__ADS_1


__ADS_2