
H A P P Y R E A D I N G
Berbeda dengan Viora, yang sedari tadi senyam-senyum sebab ia ingin menyelesaikan hubungannya dengan Alvero meskipun ia takut jika nantinya mereka akan bertengkar tapi, ia tidak akan membiarkan hal itu sampai terjadi.
‘Semoga saja rencana ku membawa Kelvin tidak akan membuat masalah apapun. Ini waktu yang tepat untukku harus mengakhiri semuanya lagipula sudah banyak kekecewaan yang pernah aku berikan. Yah aku harus bisa menyelesaikan semuanya,’ batin Viora yang sedang duduk di meja hias miliknya.
Viora sedang memakai make-up berbeda dengan Kelvin yang baru keluar dari kamar mandi. Memakai handuk yang masih melilit setengah di badannya. Dengan postur tubuh menarik untuk dilihat membuat Viora melirik kearah Kelvin.
‘Duh ... kok aku gugup gini yah? Apa karena aku mulai membuka peluang untuk Kelvin? Sampai aku bisa seperti sedang jatuh cinta begini,’ batin Viora di barengi dengan nafas panjang.
Lalu Kelvin mengeringkan rambutnya serta tubuhnya tepat di samping istrinya. Ia lalu berniat mengambil pakaian tapi, sesaat langkahnya terhenti sebab ia tahu bahwa Viora sedang mencuri pandang kearahnya.
“Em! Ngapain lihat-lihat, suka yah? Banggakan punya suami udah tampan, baik, penuh perhatian, sayang istri, udah peka, putih, badan keren, pemilik perusahaan, dan kaya lagi! Nah lengkap 'kan? Jujur aja deh kalau suka ya bilang suka ngga usah curi pandang gitu terus,” ungkap Kelvin lengkap seraya begitu percaya diri.
“Heh! Ngga usah kepedean! Siapa juga yang curi pandang sama Pria kaya kamu. Udah ah jangan banyak ngoceh mulu, sana siap-siap aku udah makin laper tahu,” sahut Viora dengan ketus.
‘Duh ... aku kok bisa sih curi pandang ke Evin? Malu-maluin aja deh. Pasti sekarang dia besar kepala,' batin Viora.
Kelvin bukannya menurut dengan apa yang di katakan istrinya. Ia justru seperti sengaja mengganggu sampai ia mendekat lalu melempar handuk tepat ke wajah Viora, meskipun Viora sudah bermake-up.
“EVIN! ARRRGGH ... AKU UDAH MAKE-UP! DASAR NYEBELIN!” geram Viora begitu kesal.
Rasa kesal dengan ulah suaminya membuat Viora dengan cepat mengambil handuk tersebut lalu berniat membalas lemparan tapi, niatnya terhenti saat melihat tubuh polos Kelvin dari belakang yang tidak memakai benang satupun. Meskipun ia sudah pernah melihatnya langsung dari depan namun, ia juga masih malu.
Viora menutup matanya lalu melempar handuk tersebut kembali. Kelvin tersentak saat lemparan itu tepat mengenai punggungnya. Kelvin pun berbalik dan melihat jika istrinya sedang malu-malu kucing.
Kelvin pun mendekati istrinya. “Sayang, udahlah ngga usah tutup mata gitu, lagian nih ya kamu juga udah lihat 'kan sekali. Lepasin tangan kamu, gadis kecil.”
__ADS_1
“Ogah! Waktu itu ngga sengaja kita sampai berbuat sejauh itu lagipula kamu yang godain aku jadi aku ngga merasa bersalah. Udah deh mendingan cepat pakai baju jangan kaya cicak gitu. Ngeri lihatnya," ungkap Viora yang mengingat memory saat mereka di kantor.
“Ngeri-ngeri gini kamu juga bakalan demen, gadis kecil. Apalagi nih kalau aku udah mulai pasti kamu minta jatah terus, yakin aku,” sahut Kelvin yang penuh keyakinan.
“Enak aja! Gua ngga demen ama yang begituan! Dah ah sana cepet pakai baju ... pegel tahu tutup mata terus.” Viora buka tidak suka, dia hanya malu. Lagipula mana mungkin ia tidak suka dengan orang yang ia cintai.
Kelvin Hana tersenyum melihat reaksi istrinya seperti ini. Ia lalu mengambil handuk dan kembali melilitkannya di tubuhnya.
“Udah selesai nih. Buka terus matanya jangan tutup gitu nanti make-upnya hilang loh,” ucap Kelvin dengan jujur.
Perlahan Viora melepaskan matanya, ia merasa lega melihat Kelvin sudah memakai pakaian. Memang ada-ada saja melakukan pasangan suami istri yang satu ini.
“Gitu dong dari tadi!” ucap Viora ngegas.
“Yee ... malah sewot! Ini tuh wajib tahu biar kita bisa punya dedek bayi,” sahut Kelvin tidak ingin mengalah.
“Udah aja yuk kita pergi. Nanti yang ada telat yuk,” ajak Viora seraya menggandeng tangan Kelvin.
“Apalagi sih yuk kita pergi ... di sana pasti ngobrol lagi, aku udah makin laper nih mau makan di luar,” paksa Viora yang tidak sabaran.
“Bentar deh? Kita ketemu Alvero mau ngapain sih?” tanya Kelvin penasaran.
Viora melirik kearah suaminya. “Sebenarnya sih aku mau selesaikan hubungan dengan dia, jadi aku ajak kamu tapi, nanti Pangeran tungguin di mobil aja yah setelah itu baru deh kita langsung cari makan.
“Oh ... siap deh. Gadis Kecilku,” sahut Kelvin seraya mencolek dagunya.
Viora pun tersenyum lalu mereka berdua beranjak keluar rumah dengan saling menggandeng tangan layaknya sepasang kekasih yang baru jadian sampai para pelayan rumah pun melihatnya bahagia.
__ADS_1
“Adem rasanya lihat Tuan sama Nyonya ngga cek-cok mulu. Kalau nggak beh biasanya puyeng atuh lihat mereka berdua ribut,” ucap seorang pelayan yang sedang gibah.
“Iya Teh bener, abdi mah seneng pisan juga lihatnya, Teh,” jawab pelayan yang lain.
Kelvin dan Viora sedang melajukan dengan mobil ke sebuah Cafe Grand. Alvero mengirim lokasinya di sana. Sekitar tiga puluh menit perjalanan mereka pun sampai.
(Di Cafe Grand)
Seperti yang sudah mereka sepakati bahwa Kelvin akan berdiam diri sementara di mobil kecuali jika keadaan mendesak baru ia harus keluar. Lalu Viora pun berpamitan dengan suaminya dan langsung memasuki Cafe tersebut.
Di dalam tempat itu terlihat di pojok kanan seorang Pria tampan sedang duduk sendirian. Ia terlihat terus-menerus melirik jam, siapa lagi jika bukan Alvero.
Alvero menyadari bahwa Viora telah datang, begitupun sebaliknya. Ia langsung menuju ketempat kekasihnya duduk. Tidak ada raut wajah bahagia dari Alvero, entah mengapa ia begitu murung sebab biasanya ia selalu menyambut Viora dengan senyuman.
“Hay Al, udah lama nunggunya?" tanya Viora basa-basi.
‘Apa barusan? Al? Aneh banget sampai dia nggak panggil gua sayang,’ batin Alvero curiga.
”Yah udah lama dikit sih, bye the way kesini sama siapa?” sahut Alvero seraya bertanya seakan ia tidak mencurigai sesuatu.
“Oh biasa sendirian tapi, kok tumben banget ajak ketemuan. Apa ada hal penting?” Viora pun terus bertanya.
“Lah emangnya ngga boleh gitu ajak kekasih sendiri ketemuan? Bukannya emang udah seharusnya yah tapi, kok aku ngerasa kalau kamu udah makin aneh tahu,” ungkap Viora dengan kegelisahan yang ia rasakan.
“Aku aneh? Nggak tuh! Aku baik-baik aja kok masih kaya biasa,” sahut Viora jelas.
Alvero pun tiba-tiba tertawa, ia seakan tidak percaya dengan apa yang sudah di dengar.
__ADS_1
“Ada yang lucu yah?” tanya Viora kebingungan.
Alvero pun mengangguk mengiyakan. “Iya sayang, ada yang lucu! Banyak tahu! Udah deh sayang, ngga usah basa-basi lagi kenapa beberapa hari ini nomer handphoneku di blokir? Dan sekarang kamu bahkan memanggilku dengan sebutan, Al?”