
H A P P Y R E A D I N G
Alice menyimak apa yang sedang mereka bicarakan. ‘Jadi Alvero udah punya kekasih.
“Eh-eh bisa nggak sih nggak usah bahas wanita lain saat lagi ada aku,” omel Viora.
Bibi Karin bersama Alvero saling melihat satu sama lain.
Alvero langsung mengeluarkan ponselnya seperti ingin menghubungi seseorang. Baru sebentar lalu dirinya sudah berbicara dengan orang lain.
“Ya sayang, ada apa? Oh sebentar lagi aku kesana ya. Iya sayangku, cintaku, pasti kok tenang aja. Nggak mungkin aku lupain wanita secantik kamu. Daaa ... cintaku,” ungkap Alvero dengan ponselnya.
‘Rasain emang enak di kacangin! Padahal aku nggak telepon sama siapapun,’ batin Alvero.
“Males lihatin orang bucin ngga ada tempat kaya gini. Mana kamarku? Mau istirahat nih capek!” ungkap Alice dengan jujur.
“Pelayan! Antara wanita ini ke tempat kamar tamu yah!” teriak Alvero.
Alice langsung bergegas pergi dengan sangat pelan. Ia mendengarkan sesuatu. Lantaran dirinya sedikit penasaran.
“Tadi itu kekasihmu telepon si Viora itu ya? Tumben banget,” tanya Bibi Karin.
Mendengar nama Viora membuat Alice menghentikan langkahnya, lalu ia kembali duduk berdekatan dengan Alvero.
“Bentar-bentar, kalian lagi bahas apasih? Kok aku kaya sering denger namanya?” ungkap Alice.
“Udah sana istirahat, tadi katanya capek sekarang malah ngajak ngerumpi lagi. Udah sana cepetan,” kesal Alvero yang tidak suka jika ada orang mencampuri privasinya.
__ADS_1
“Yakan cuma mau tahu aja bukan mau ngerumpi. Susah ngomong sama orang pelit. Bibi, ceritain dong aku beneran sumpah pernah dengar nama itu tapi, aneh di mana,” ungkap Alice dengan begitu kepo.
“Bibi ngga bisa bilang, nak Alice. Toh pacarnya sendiri tuh yang nggak mau di kasih tahu. Udahlah Bibi kedalam dulu ya,” sahut Bibi Karin lalu beranjak pergi dari tempat itu.
Bibir Alice manyun. “Aku juga 'kan tinggal di sini sekarang masa sih nggak boleh tahu lagian nanti aku juga jadi bagian di sini.”
‘Belagu banget ini orang belum apa-apa udah anggap dia bagian di sini. Dasar wanita ngga jelas tapi, kok waktu itu aku ngerasa susah banget ya masukin ke dia. Apa mungkin dia memang masih perawan? Kalau emang dia perawan berarti wanita baik-baik dong?’ batin Alvero tidak menentu.
Alice akhirnya pergi menuju ke kamarnya. Ia kesal dengan Alvero yang tidak menjawab ucapannya justru Pria itu memilih untuk melamun.
Alvero menyadari jika Alice telah meninggalkannya sendirian. Ia sedikit merasa bersalah lantaran sudah tidak memperdulikan apa yang Alice katakan. Hingga Alvero memutuskan untuk menemuinya.
Di dalam kamar, Alice terlihat sedang merapikan barang-barang yang ia bawakan. Alvero tidak membantu hanya melihatnya sambil asyik rebahan.
“Alice,” sapa Alvero.
Alvero menarik tangan Alice, hingga Alice terjatuh tepat keatas tubuh Alvero.
“Bentar aja kok, seriusan mau tanya siapa pacarku?” tanya Alvero.
“Ogah! Nggak penting banget!” sahut Alice dengan kesal seraya ia bangun.
Alvero tersenyum. Ia lalu melepaskan Alice hingga wanita itu kembali dengan pekerjaannya.
‘Mumpung aku sekarang lagi ada teman. Apa salahnya kalau aku curhat,’ batin Alvero.
“Alice, anggap aja ini curhatan untuk menemani kamu yang sedang beres-beres. Awalnya aku bahagia banget punya kekasih dan kami sudah berjalan lima tahun tapi, satu hari kekasihku memutuskan hubungan itu sampai akhirnya aku memilih untuk menenangkan diri di Club. Dia sangat cantik persis seperti kamu, bedanya dia tidak galak kayak kamu. Hubunganku dengannya berakhir sebab dirinya diam-diam telah memiliki suami padahal aku begitu mencintainya, bahkan rela melakukan apapun untuknya. Namun, dia justru mematahkan semangatku hingga aku menjadi seperti ini tidak menentu lagi untuk hidup. Rasanya saat aku kehilangannya aku juga ingin kehilangan dengan hidupku,” curhat Alvero.
__ADS_1
Alice yang sedari tadi menyimak hingga dirinya tidak terlalu memperdulikan dengan barang-barangnya.
“Jadi kekasihmu itu sudah diam-diam menikah padahal kalian sedang pacaran? Bener sialan itu orang. Kalau saja aku kenal pasti bakalan aku jambak sekalian. Aku tuh nggak suka sama orang yang berselingkuh seperti itu. Kesel sendiri jadinya,” respon Alice dengan bagus
“Sama, aku juga kesel. Tapi, mau bagaimana lagi dia justru lebih memilih Pria lain padahal Pria itu sudah banyak menyakitinya bahkan pernah berhubungan dengan wanita lain juga. Aku sampai tidak habis pikir. Namanya Viora, dia memang lucu menggemaskan namun, jika aku mengingatnya saat ini hanya rasa sakit yang ku alami,” curhat Alvero kembali.
“Viora? Bentar, kayaknya aku pernah dengar nama itu. Ada salah satu sekretaris baru di perusahaan tempat ku bekerja. Namanya juga sama. Apa mungkin itu dia? Atau hanya kebetulan namanya sama?” tanya Alice dengan kaget.
Mendengar jika Alice mengetahui namanya itu. Ia langsung lompat dari ranjang sampai ke dekat lemari pakaian meskipun tidak terlalu jauh.
“Serius kamu pernah mendengar namanya? Sebentar aku punya banyak fotonya,” sahut Alvero seraya mengambil ponselnya.
Galeri terbuka, lalu dengan terburu-buru Alvero menunjukkan gambar tersebut hingga akhirnya Alice mengangguk berkali-kali.
“Iya benar! Dia adalah orang yang sama. Baru masuk kerja selama beberapa hari meskipun dia masuk dengan cara tidak terhormat alias menjual tubuhnya itu pada Bos kami,” ungkap Alice.
“Menjual tubuhnya hanya demi masuk kerja? Rasanya tidak terlalu percaya dengan itu. Mana mungkin kekasihku melakukan hal menjijikkan denganku saja dia tidak pernah mau aku ajak bermalam,” sahut Alvero membelanya.
Alice menaruh pakaiannya. Ia lalu berpindah duduk tepat di samping Alvero.
“Karena kamu sudah memulainya maka nanti bantu diriku untuk berkemas-kemas setelah kita selesai ngerumpi. Aku benar-benar tidak mengada-ngada Alvero, jelas-jelas dia masuk dengan cara tidak benar. Hari pertama berkerja aku sudah memergokinya keluar dari ruangan Bos dengan baju acak-acakan bahkan bukan itu saja justru dirinya sampai di terima kerja begitu cepat tanpa melewati tes apapun. Apa itu bukan menjual sesuatu namanya?” Alice sampai berkata panjang lebar demi membuat orang percaya.
‘Benarkah sampai Viora melakukan semua itu? Hanya demi uang? Tapi aku masih tidak percaya kekasihku sangat buta karena uang. Apa mungkin bosnya itu adalah ... Kelvin,’ batin Alvero.
“Sebentar. Siapa nama bos kalian?” tanya Alvero penasaran.
“Kelvin Marble, dia itu Pria yang tidak terlalu dekat dengan karyawan manapun bahkan denganku saja sebagai sekretaris pertama hanya sebatas berkomunikasi mengenai pekerjaan. Sebab yang pernah ku dengarkan dulu dirinya sedang putus asa dengan wanita yang dia cintai telah menikah, nama wanita itu Zoya. Tapi sangat aneh 'kan jika Viora ini dekat dengan Bos padahal dia hanyalah sekretaris biasa,” ungkap Alice dengan panjang lebar.
__ADS_1