Terpaksa Menikahi Atasanku

Terpaksa Menikahi Atasanku
25~S3 Istriku. Gadis Kecilku Benih-benih Asmara


__ADS_3

H A P P Y R E A D I N G


“Minum terus dulu nanti baru ngomong,” ungkap Alvero sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Ihhh! Aku juga lagi curhat lagian ngga apa-apa kok,” kesal Alice.


“Udah-udah nanti malah ribut lagi. Lagian kok bisa sih sampai ada orang yang ngejar kalian? Apa kamu punya musuh, Alice?” ungkap Bibi Karin sambil bertanya.


“Sejauh ini sih nggak ada, Bi. Cuma ... Aku baru ada masalah sama kedua temanku tapi, buat apa mereka harus suruh orang buat ngikuti aku. Aneh 'kan? Kupikir itu bukan dari kedua temanku itu deh pasti ada orang lain di balik semua ini,” ungkap Alice dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Eh! Ngomong itu biasa aja nggak usah lebay gitu,” ketus Alvero.


“Kamu kenapa sih suka banget gangguin aku?! Nanti bilang wanita galak lagi padahal dia sendiri yang sengaja gangguin,” kesal Viora melihat Alvero.


“Yah lagian ngomong pakek angguk gitu, biasa aja lagi. Bibi juga bakalan dengerin kok,” ucap Alvero tanpa ingin mengalah.


“Aduh ... Kalian berdua ini apa aja jadi masalah terus ujung-ujungnya ribut. Mendingan kalian fokus sama orang yang sengaja kejar kalian itu bukannya jadi ribut gini,” timpal Bibi.


Alvero bersama Alice, sama-sama terdiam. Mereka berada dalam pikiran masing-masing entah apa yang di pikirkan hingga membuat Bibi Karin kebingungan melihat tingkah mereka.


“Udah ah! Bibi mau tidur dulu ngantuk. Kalian mendingan pikirkan ide apa yang cocok untuk mengatasi masalah orang yang kejar kalian itu. Oh ya, satu lagi Alvero besok malam Mama sama Papa kamu balik kesini,” ungkap Bibi dan langsung beranjak pergi.


“Apa, Bi? Mereka balik kesini? Yah ngapain sih mereka balik? Bibi coba deh halangi mereka gitu supaya nggak jadi pulang,” jawab Alvero kaget.


“Dimana-mana itu orangtuanya pulang harusnya senang bukannya malah nggak suka. Dasar aneh!” ungkap Alice seraya langsung berlari ke kamarnya.


Bibi Karin tidak menjawab justru ia menggelengkan kepala melihat mereka terus saja ribut dan hanya berbaikan jika ada kepentingan masing-masing.


Alvero mengejar Alice yang sudah memasuki kamarnya. Hingga Alvero berada di dalam itu.


“Ngapain kesini? Udah sana keluar! Aku mau istirahat capek!” ungkap Alice seraya mengusir Alvero.


“Kamu tuh nggak tahu kalau Mama sama Papa pulang otomasi aku takut. Mereka itu kejam dan sering marah-marahin aku,” curhat Alvero dengan tiba-tiba sambil cemberut.


“Masa sih? Orang tua kita itu kalau marah itu artinya mereka perhatian dan mau kita jadi anak yang baik jadi, apalagi dong? Baguslah kalau kamu masih bisa ngerasain gimana di omelin Mama, di puji Papa tapi, aku udah sejak kecil udah nggak pernah dapat perhatian seperti itu,” sahut Alice dengan sedikit membagi curhatannya.


“Eh? benarkah? Tapi, kemana mereka pergi?” tanya Alvero penasaran.


“Aku ngga tahu, dan aku juga belum pernah liat wajah mereka sampai aku besar seperti ini. Dulu aku punya nenek tapi, akhirnya beliau pergi dan meninggalkan aku sendirian hingga akhirnya aku di adopsi oleh orang lain. Namun, saat aku sudah besar mereka juga meninggalkanku,” sambut Alice.


“Alice, aku sungguh tidak berniat untuk membuatmu sedih, sungguh. Tapi, sekarang tidak perlu khawatir anggap saja aku sebagai keluargamu juga apalagi sekarang kita sudah bersatu dalam pekerjaan yang sama,” ucap Alvero seraya mengusapkan rambut Alice.


“Nggak masalah, Alvero. Terimakasih banyak,” sahut Alice sambil tersenyum.


Alice merasa nyaman dengan perhatian Alvero. Meskipun mereka sudah dua kali berhubungan. Namun, perhatian Alvero hari ini mampu membuat Alice merasakan kenyamanan.


‘Ternyata Alvero bisa lembut juga walaupun ia selalu berhubungan secara kasar denganku tapi, sifat lembut dan perhatiannya justru membuatku senang. Tapi, kalau di lihat-lihat Alvero ganteng juga. Aduh ... Pikiran macam apa ini? Jangan tergoda Alice. Dia hanya perhatian denganmu karena kalian sudah tinggal bersama dan menjadi partner kerja. Ingat dia sudah memiliki kekasih,’ batin Alice.

__ADS_1


”Emm! Ngapain melamun sambil pandangi aku gitu? Mulai jatuh cinta ya sama aku? Ayo ngaku?” tanya Alvero sambil tersenyum.


“Ihhh siapa juga yang bakalan jatuh cinta sama Pria kasar kaya kamu. Pasti kekasihmu itu juga menyesal memilihmu,” sahut Alice seraya tertawa.


“Asal kamu tahu yah, aku itu bisa berbuat lembut dan sangat romantis. Kalau tidak percaya tanya saja pada Viora,” ucap Alvero dengan jujur.


“Benarkah? Tapi, apa kalian belum melakukan sesuatu? Maksudnya seperti yang kita lakukan. Aku tidak menyangka jika memang kalian tidak berbuat jauh saat menjadi kekasih apalagi hubungan kalian sudah masuk kedalam lima tahun dan itu bukan waktu yang singkat,” tanya Alice dengan penasaran.


“Jadi, selain kamu wanita galak tapi, kamu juga wanita yang selalu suka masuk kedalam hubungan orang lain ya? Aku pernah jujur denganmu. Selama hidupku belum sama sekali aku berhubungan dengan wanita manapun kecuali berpegang tangan, dan denganmu. Jika kamu tidak percaya itu bukan urusanku. Lagipula kekasihku sudah memiliki suami tentu saja dia lebih memilih suaminya daripada aku,” ungkap Alvero dengan memperlihatkan raut wajah sedih.


‘Pasti sangat berat untuk menghadapi situasi yang Alvero alami padahal dia sudah sangat mencintai kekasihnya itu. Tunggu! Kenapa pikiranku sejak tadi terus peduli dengannya? Ya ampun ini tidak boleh terjadi,’ batin Alice.


“Aku hanya ingin tahu, Alvero. Ah sudahlah lebih baik kamu balik ke kamarmu sekarang supaya aku bisa membersihkan diri dan istirahat. Sudah sana keluar,” usir Alice.


“Hey! Ini rumahku! Mana bisa kamu mengusirku dengan begitu mudah,” geram Alvero.


“Sudah sana keluar!”


Dengan sama-sama tersenyum Alice menarik tangan Alvero untuk ia bawa keluar. Lalu ia langsung mengunci pintu agar aktivitasnya tidak terganggu dengan tiba-tiba.


......................


Malam pun tiba, Alice sudah melakukan semuanya mulai dari membersihkan diri serta makan malam. Hari yang begitu melelahkan dan ingin cepat-cepat berisitirahat. Namun, entah mengapa ia tidak bisa tidur dan justru memilih untuk bermain game agar rasa ngantuk datang tapi, bukan rasa ngantuk yang datang melainkan ketagihan bermain game sampai akhirnya jam menunjukkan tepat pukul satu malam dan sampai akhir itu ia masih terjaga.


“Aduh ... Kalau nggak tidur yang ada besok bakalan masuk kesiangan nih mana besok ada rapat lagi, sebaiknya aku harus tidur,” gumam Alice seraya langsung menarik selimutnya.


Mencoba untuk menutup matanya tapi, dirinya tetap tidak bisa tertidur sampai ia menutup matanya dengan kain juga belum mendatangkan efek ngantuk hingga akhirnya ia memilih untuk bangun.


Tepat berada di depan pintu kamar Alvero. Alice mencoba membuka pintu, dan untung saja pintu tersebut tidak terkunci. Hingga ia masuk dengan perlahan seperti maling seraya menguncikan pintu.


“Kayaknya udah tidur, ah males banget. Mau tidur ngga bisa, mau bergadang males main game mulu,” gumam Alice yang bete.


Alice terduduk di tepi ranjang. Alvero mendengar suara Alice, dan ia berniat untuk mengagetkannya. Dengan sekali pukulan Alice langsung berteriak sambil mengusapkan dadanya.


“Astaga! Alvero! Jangan bikin kaget woy! Kalau aku tiba-tiba jantungan terus mati mendadak gimana? Mau tanggung jawab hah?” geram Alice sambil terus mengusap dadanya.


“Hahaha buktinya ngga mati mendadak 'kan? Eh tunggu, ngapain kesini malem-malem?” tanya Alvero seraya mendekatkan dirinya.


“Aku nggak bisa tidur, mau main game males banget udah dari tadi berjam-jam, ya udah aku milih pergi kesini. Tapi, kamu kok belum tidur juga? Ayo kepikiran aku ya ....” Alice sengaja meledek Alvero.


“Ogah! Udah jangan ngada-ngada! Aku itu cuma kepikiran sama kekasihku bukan sama kamu. Jadi, jangan terlalu percaya diri,” sahut Alvero dengan tegas.


‘Biasanya aku sering dengar dia ngomong gini biasa aja tapi, sekarang kok aku mau nangis ya,’ batin Alice dengan mata berkaca-kaca.


Entah kenapa Alice tiba-tiba memiliki perasaan aneh apalagi saat mendengar kalau Alvero sangat memikirkan kekasihnya dan justru sangat menolak untuk memikirkan dirinya. Ia bahkan saat ini menangis dengan tiba-tiba.


“Eh! Kok malah nangis? Ya ampun,” tanya Alvero panik seraya membawa Alice kedalam pelukannya.

__ADS_1


“Udah jangan nangis. Kamu kenapa sih tiba-tiba nangis? Apa aku salah ngomong ya?” tanya Alvero sambil mengusapkan rambut Alice.


Hati Alice tidak karuan. Ia merasakan ketenangan saat ucapan dari Alvero. Dirinya masih menangis dengan tersedu-sedu dan justru memeluk Alvero dengan erat.


‘Aneh! Biasanya kalau aku berbicara seperti itu justru Alice akan membalasnya dengan hinaannya juga. Apa mungkin Alice memiliki perasaan denganku? Tapi, tidak mungkin diakan hanya ingin bersama denganku demi mendapatkan uang dari hasil pekerjaannya,’ batin Alvero.


‘Aduh ... Kok aku jadi baper begini? Pakai nangis lagi. Ya ampun ini benar-benar memalukan. Bagaimana ini apa yang harus kulakukan?’ batin Alice.


Alvero menyadari jika tangisan Alice semakin mereda. Ia akhirnya melepaskan pelukan dengan pelan-pelan sambil mengusapkan air mata. Lalu Alvero ingin membuat tenang Alice dengan mengecup bibirnya hingga mereka saling berciuman dengan begitu lama. Bukan hal aneh lagi untuk mereka lakukan. Namun, bedanya ciuman itu justru memberikan kesan kasih sayang dan begitu lembut berbeda dengan saat mereka setiap berhubungan hanya ada nafsu di dalamnya.


Tiba-tiba hati Alice tidak karuan. Jantungnya berdetak kencang seperti merasakan sesuatu. Padahal sebelumnya ia tidak pernah merasakan semuanya itu. Hingga akhirnya ia melepaskan ciuman mereka.


‘Oh tidak! Apa seperti ini namanya jatuh cinta? Aku bahkan gugup padahal sebelumnya aku sudah sering melakukannya bersama Alvero tapi, tidak terjadi seperti ini. Ya Dewa, apa mungkin aku sedang jatuh cinta dengannya?’ batin Alice.


“Alvero, a-aku minta maaf sudah mengganggu tidurmu. Sebaiknya aku harus kembali ke kamarku,” gumam Alice ingin beranjak pergi.


Dengan cepat Alvero menahan tubuh Alice. “Jangan pergi. Kulihat keadaanmu malam ini sangat aneh jadi, lebih baik tidurlah denganku. Agar besok kita bangun tubuhmu kembali seperti biasa.”


“Baiklah,” sahut Alice dengan pasrah.


Alvero membawa tubuh Alice untuk tidur di sampingnya. Alice yang memakai baju bagian atas sedikit tipis hingga Alvero bisa melihatnya dengan jelas. Perlahan ia membuka baju Alice sampai tidak tersisa, begitupun dengan pakaiannya. Mereka berdua saling berpelukan tapi, tidak melakukan apapun hanya membuat tubuh mereka sama-sama merasakan sentuhan.


Alice menarik selimut hingga menutup tubuh mereka. Alvero sudah lebih dulu memejamkan matanya sambil memeluk Alice.


‘Hatiku berkata bahwa sekarang rasa cinta untukmu telah ada. Namun, bagaimana aku melakukan tugasku untuk membuatmu kembali bersama kekasihmu, Alvero? Rasanya saat ini aku benar-benar tidak ingin lagi lepas darimu ataupun memberikanmu pada wanita lain. Ya Dewa, berikan aku kekuatan untuk menjalankan tugasku nanti. Aku ingin melihatnya bahagia dengan kekasihnya walaupun aku sekarang menyadari bahwa saat ini cinta sudah ada padaku,' batin Alice sambil meneteskan air mata dalam diam seraya memeluk Alvero dengan erat.


Alvero merasakan tetesan air mata jatuh di atas pipinya. Dengan membuka mata sedikit tanpa di ketahui oleh Alice. Ia melihat dan merasakan tangisan serta pelukan yang begitu nyaman bahkan belum ia rasakan saat mereka sedang berhubungan dulu.


‘Apa mungkin Alice benar-benar sudah mencintaiku? Tapi itu tidak bisa terjadi justru ia akan tersakiti sama sepertiku dulu. Entah kenapa malam ini justru aku merasakan kesedihan saat melihatnya menangis. Tapi, aku masih mencintai Viora, dan akan selalu menjadikan ia sebagai kekasihku saat ini,’ batin Alvero.


Hati Alvero justru tidak ingin jika cinta ada dalam hati Alice. Ia takut membuat orang lain tersakiti dengan mencintainya. Ia terus terpikir sampai akhirnya ia terlelap dalam mimpinya.


...----------------...


Pagi yang cerah. Pagi yang indah. Bangkitkan sebuah gairah. Mentari terbit dengan terangnya. Bangkitkan sebuah harapan yang besar. Alice terbangun, ia melihat Alvero berada di sampingnya yang masih pulas tertidur. Menatap wajah tampan Alvero membuat hatinya bahagia.


‘Ternyata bahagia itu sederhana. Bangun pagi dengan melihat orang yang aku cintai sudah membuatku bahagia. Astaga! Apa-apaan ini? Aku bahkan sekarang benar-benar sudah mengakui cintaku ini. Lebih baik aku harus bisa menghapus cinta ini, dan fokus dengan tujuanku sebelumnya,’ batin Alice.


Alice sudah memantapkan pilihannya meskipun ia tidak yakin bisa atau tidak. Namun, ia akan tetap mencobanya walaupun sulit. Alice berniat untuk meninggalkan Alvero yang masih tertidur pulas. Ia tidak ingin mengganggu waktu tidurnya itu. Saat dirinya beranjak turun dari ranjang tiba-tiba tangannya di cekal oleh Alvero.


“Alvero, kapan kamu bangun?” tanya Alice kebingungan.


“Sejak kamu melamun melihatku. Lalu sekarang kamu ingin kemana?” ungkap Alvero seraya bertanya.


“Aku ingin pergi ke kamarku lagipula kita juga harus bekerja. Jadi, lepaskan tanganku,” paksa Alice.


“Tidak mau aku lepaskan sebelum jawab pertanyaan ku. Katakan kenapa semalam kamu menangis? Apa memang kamu telah mencintaiku, Alice?” tanya Alvero dengan sungguh-sungguh.

__ADS_1


...----------------...


Tidak ada yang tahu kapan kita akan jatuh cinta baik dengan teman, mantan, atau istri tetangga? Namun, cinta bisa tumbuh karena sering terbiasa bersama. Yang awalnya biasa-biasa saja kemudian menjadi terasa istimewa karena banyak waktu dan kesempatan yang dihabiskan bersama. Bahkan yang tadinya benci bisa jadi cinta karena saking seringnya kemana-mana bersama.


__ADS_2