
H A P P Y R E A D I N G
“Jangan berbelit-belit! Saya hanya ingin kamu mengatakan semuanya. Di luar dari itu saya tidak ingin mendengarnya. Cepat katakan!”
“Ba-baik, Tuan. Saat di mana Tuan pergi ke luar kota. Nyonya mengusir Lastri dengan tuduhan pencurian. Namun, setelah sekian lamanya, Lastri melahirkan seorang anak perempuan. Dia berusaha menghubungi Nyonya tapi, Nyonya tidak peduli bahkan ia meminta untuk langsung membunuh anak itu. Tiga hari setelahnya saat sedang hujan deras tiba-tiba terdengar suara bayi menangis di luar hingga akhirnya saya mengambilnya lalu membawa kepada Nyonya tapi, dengan cepat dia langsung mengambil senjata supaya melenyapkan anak itu. Namun, seorang pelayan yang lain mencoba menahannya dengan alasan dia sangat mengidam-idamkan seorang anak hingga saya memohon supaya anak itu di besarkan olehnya. Nyonya pun memberikan izin tapi, dia harus memenuhi syarat supaya pergi dari rumah ini. Begitulah Tuan, kami berdua pun tidak tega dengan anak itu hingga akhirnya kami menaruh benda yang sangat berharga di bawah tempat tidur kamarnya, Tuan muda. Berharap jika sewaktu-waktu Tuan muda sendirilah yang menemukannya. Makanya saya selalu meminta agar saya yang membersihkan kamar tersebut. Begitulah kira-kira, Tuan. Sungguh saya tidak mengada-ngada,” cerita bibi Karin panjang lebar sembari masih bersujud.
“Astaga! Benar-benar. Terima kasih karena kamu sudah mau membela bayi itu. Dia tidak salah, saya yang salah. Mamanya Alvero dulu selalu marah-marah, dia terus-menerus mengomel meskipun saya tidak salah apapun. Hingga pada akhirnya malam itu saya menenangkan diri untuk di Club tapi, sewaktu saya pulang ke rumah justru Lastri yang membuka pintu. Sampai akhirnya semuanya terjadi dengan begitu cepat. Oh ya, Karin. Apa kamu tahu di mana keberadaan Lastri sekarang?” tanya Papa.
Alice, dan Alvero hanya menjadi penonton dari drama papanya.
“Saya tahu, Tuan. Dia tidak selamat, setelah beberapa hari selesai melahirkan nyawanya melayang. Namun, mengenai bayi yang di rawat oleh pelayan itu jika saya tidak salah, dia membawa anak itu ke kampung halamannya di Medan tapi, kondisi anak itu tidak sehat bahkan sering sakit-sakitan. Hanya itu yang saya tahu, Tuan.”
“Baiklah, nanti tolong kirimkan nomor ponsel pelayan itu kepada saya. Ya sudah kalian boleh tidur kembali.”
Bibi Karin mengangguk, semua pelayan pun pergi tapi, tidak dengan Alice dan Alvero. Papa kemudian ingin bersujud di depan Alvero namun, dengan cepat dia menahannya.
“Pa, jangan lakukan itu. Papa tidak salah, Alvero mengerti sebagai sesama pria. Bagi aku, Papa adalah Ayah terbaik di Dunia ini, ” ungkap Alvero sembari tersenyum.
“Terima kasih, Nak. Bolehkah kalau Papa meminta agar kamu mencari adikmu? Papa tahu mungkin Mama tidak akan suka dengannya tapi, dia juga darah daging Papa. Jadi, sudah seharusnya kita memperlakukan dia dengan baik.”
“Baik, Pa. Alvero akan mencarinya dan akan membawanya masuk kedalam keluarga kita.”
“Baiklah. Ohh ya, Alice. Temani Alvero untuk mencari adiknya. Karena lebih baik kalian pergi berdua, sebab biar Papa yang akan mengurus pekerjaan.”
“Tidak, Pa. Sebaiknya Alice tetap di sini karena Alvero tidak ingin jika berpergian jauh apalagi kondisinya sedang berbadan dua. Nanti Alvero akan membawa dua orang pengawal,” sahut Alvero begitu perhatian.
__ADS_1
Alice mendengar tidak sadar jika dirinya tersenyum. ‘Duh ... Alvero peduli banget sama aku,’ batin.
“ Ya sudah terima kasih banyak ya, Papa beruntung sekali ada anak juga menantu seperti Alice. Baiklah kalau begitu Papa balik tidur lagi ya kalau tidak Mama akan mengamuk nanti jatah Papa hilang lagi,” ucap Papa sembari tertawa, lalu meninggalkan kedua anaknya.
Alvero bersama Alice pun kembali Menuju ke kamarnya. Namun, di tengah perjalanan Alice dengan sengaja mendekati Alvero sampai berjalan bersentuhan.
“Itu jalan luas ngapain nempel-nempel,” kesal Alvero.
“Suka aja, hehe. Oh ya, keluargamu ternyata unik yah banyak keunikannya,” sahut Alice yang tetap berjalan sesuka hatinya.
“Cuma pikiranmu aja kali. Ya udah ah aku mau tidur ngantuk,” ucap Alvero yang langsung merebahkan tubuhnya namun, dengan cepat Alice pun ikut.
...----------------...
(Kediaman Kelvin)
Pagi-pagi sekali Claudia tiba, ia langsung memasuki kediaman Kelvin. Dia juga sudah janjian dengan Viora untuk memberitahukan bahwa ia akan datang. Tepat di depan pintu gerbang Steven terlihat yang hanya memakai handuk tapi memiliki celana pendek di dalam. Ia memang sudah bersiap-siap dengan hukuman konyol untuknya. Namun, Kelvin bersama istrinya sejak melihat Steven seperti orang bodoh terus saja tertawa bahkan sampai Claudia datang, mereka begitu suka meledeknya.
Mereka berempat langsung berjalan kearah kolam renang, di mana pagi-pagi sekali airnya begitu dingin namun, itulah kesempatan yang cocok untuk memberikan hukuman. Claudia pun mengecek tingkat dingin air tersebut tapi, begitu lumayan hingga akhirnya ia berdiri di depan Steven sambil melipatkan kedua tangan di dadanya.
“Ehem! Pelayan!” panggil Claudia dengan teriakan keras bahkan seperti tuan rumah.
Dua pelayan pun datang namun, mereka berdua justru berdiri di depan Kelvin dan Viora. Tetapi pelayan itupun langsung di arahkan untuk menghadap ke Claudia.
“Begini, cepat carikan es batu sebanyak dua ember besar terus langsung masukan kedalam kolam ini, dan ini uangnya. Sisa uang itu ambilkan untukmu,” perintah Claudia sembari memberikan uang.
__ADS_1
Steven menelan ludahnya mendengar perintah konyol dari Claudia. “Ayolah, Ball. Air kolam begitu dingin saat pagi lalu sekarang kamu meminta mencari es batu. Bagaimana jika aku membeku terus tiba-tiba mati?”
“Pelayan! Tambah es batunya menjadi empat ember besar, sekarang!” perintah Claudia bertambah.
“Astaga! Ball, kamu sengaja membuatku mati pelan-pelan,” rengek Steven lagi sembari menarik-narik tangan Claudia dengan manja.
“Pelayan! Tambah es batunya menjadi enam ember besar! Sekali lagi kamu protes maka akan bertambah dua kali. Cepat berendam! Sekarang!” perintah Claudia dengan sadis.
Steven menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. Ia pun pelan-pelan mendekati tepian kolam namun, saat pertama kali ia menyentuh dengan ujung kakinya, ia bahkan teriak menggigil.
Melihat kelakuan konyol Steven, Claudia langsung mendorongnya hingga ia terjebur ke kolam. Kelvin bersama Viora sangat suka melihat momen indah dari temannya. Mereka bahkan mengabadikannya ke media sosial bahkan mereka saling membuat vlog bersama.
“Hallo guys ... Nih lihat ada pria ganteng lagi di hukum sama bininya, ha-ha-ha. Tahu enggak guys ... Dia lemah takut istri,” ungkap Kelvin di depan videonya.
Mendengar hal itu Viora langsung menjewer telinga Kelvin hingga membuat Kelvin meringis kesakitan.
“Pinter ya kamu. Oh ... jadi enggak takut istri ya begitu. Sana ikutan masuk ke kolam! Cepat!” perintah Viora dengan kejam.
“Anu, anu, Sayang. Aku kebelet nih!” sahut Kelvin yang berusaha kabur.
Dengan cepat Viora menahan tubuhnya Kelvin, lalu mendorongnya ikut masuk ke kolam sambil tidak lupa memvideokan.
...----------------...
Hay guys ... Sambil nunggu yuk baca novel Author. Klik profil ya atau cari di pencarian.
__ADS_1