Terpaksa Menikahi Atasanku

Terpaksa Menikahi Atasanku
Eps 104 Lihat tempat bayi tertunda


__ADS_3

Happy reading


≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈


(Reiner Joe Notern)


“Sayang ... kok kamu ngelamun gitu sih? Kalau ada sesuatu itu cerita sayang bukannya ngelamun sendirian ngga baik loh entar kerusakan gimana mau kamu?”


“Ihhh ngga maulah, isss kamu kok doain aku gitu, kesel tahu!” rajuk Zoya karena tidak terima.


“Aku ngga doain sayang, cuma ngga mau kamu ngelamun gitu, ayo cerita sama aku, kamu kenapa?” pintaku agar ia terbuka denganku.


“Ngga ada hal berat kok Mas, cuma ... aku rindu aja sama Viora,” sahut Zoya jujur, terlihat jelas dari matanya bahwa sedang berbohong.


“Gitu sayang, aku pikir kenapa yaudah sini peluk aku aja,” ucapku seraya mendekat lalu memberikan pelukan hangat untuknya.


Begitulah dengan istriku, sudah dua hari semenjak kepergian Viora, ia lebih banyak diam dan melamun sampai aku sendiri takut dengan keadaannya. Memberikan pelukan untuknya tidak cukup jika tidak dibarengi dengan usapan lembut di pipinya serta mengikuti keinginannya.


Seketika ide cemerlang timbul dalam benakku, aku hanya ingin melihatnya tidak murung dan melamun karena itu semua tidak akan membuat Viora kembali.


“Sayang, ehmm bagaimana kalau kita berlibur? Yah meskipun bukan diluar negeri sebab kamu tidak mungkin berpergian jauh dengan keadaan seperti ini, hanya di sekitar sini apalagi kita sudah lama nggak liburan 'kan?”


“Liburan, emangnya sekarang tanggal berapa sih Mas? Kok kamu malah ngajak aku liburan sih? Gimana sama pekerjaan kamu, aku nggak mau,” sahut Zoya kekeh tidak ingin pergi.


“Sayang ... dengerin yah aku itu atasan loh jadi kamu nggak usah pikirin soal kenapa kita liburan, ah ya mengenai tanggal ini masih tanggal 5 Oktober kok, kenapa emang?”


“Apa 5 Oktober?! Aduh gawat Mas, anu ... Kelvin besok ulangtahun dan aku belum siapin apa-apa, duh sahabat macam apa aku ini? Jahat banget aku,” ucap Zoya mengutuk dirinya sendiri karena kelupaan.


“Ihhh kamu, aku pikir kenapa rupanya lupa ultah Kelvin sampai segitunya, udah deh sayang nanti masalah itu kita pikirin lagi yah, kamu tenang aja yah biar aku yang nyiapin semua suprise, jadi yang harus kamu pikirin itu mau nggak liburan sama aku?”


Aku kembali bertanya agar ia tidak lupa dengan niat baikku karena menginginkan dirinya bahagia dan tidak terus-menerus memikirkan seseorang yang sudah memilih jalan hidup yang lebih baik.

__ADS_1


“Oke deh Mas, aku mau tapi pas ultah kelvin nanti aku boleh undang semua temen-temen ku ngga? Yah buat ramaikan aja sih,” pinta Zoya. Tentu saja aku memberikan izin pada wanita yang kucintai.


“Terserah sayang, mau kamu undang siapapun juga aku ngga masalah, itu semuanya urusan kamu, aku cuma mau nyiapin kejutan buat sahabatmu yah ... itung-itung buat balas kebaikan Kelvin sama kamu dulu.”


“Makasih ya Mas tapi aku kasihan sama Kelvin, saat hari istimewanya nanti jelas-jelas dia lagi butuh seseorang yang sekarang ia cintai justru orang itu sekarang malah pergi.” Dan lagi-lagi Zoya memperhatikan keadaan orang lain dengan berlebihan, aku takut dia cemas.


“Iya sayang ... udah ah jangan ngomong sedih gitu terus aku 'kan ngga mau kamu terlalu cemas sama orang lain gimana kalau sekarang kita liat tempat bayi? Ayo dong sayang ... pliss mau yah?”


“Dasae mesum! Siang hari lihat tempat bayi? Duh kamu yah suka kebangetan deh ah, sini aku jewer telingamu,” ucap Zoya sedikit kesal dengan raut wajah yang ceria.


“Aaa ampun, ampun ... sayang .... Ihhh kamu jahat banget sih sama suami sendiri, nyebelin kamu sakit tahu,” ucapku seraya mengusap bekas telinga yang dijewer olehnya seakan berpura-pura sakit agar terlihat manja.


Zoya tersenyum manis lalu sepertinya ia ingin menjewer telingaku lagi dengan cepat aku menangkap tangannya lalu membawanya kedalam pelukanku, “Sini dulu sayang.”


“Kenapa Mas? Kok tiba-tiba kamu–”


Cupss! Kecupan manis mendarat tepat dibibir ranumnya hingga membuat ucapannya terhenti, penyatuan lidah pun beraksi, mulai dari pelan-pelan sampai menelan rakus seperti tidak ingin tersisa. Suara desahan pun muncul di balik ciuman yang penuh kenikmatan, dengan liar aku terus membuat lidahku dengannya terus menyatu hingga membunyikan suara cipratan kedua mulut kami.


“Maas ... ahh ....ahh.” Meski ciuman kami sudah berhenti tapi tanganku mencoba mencari sesuatu dua gundukan indah yang siap untuk rampas dan di telan habis oleh mulutku.


“Kamu suka sayang?”


“Tentu Mas.”


“Yah, aku juga menyukainya dan selalu akan menyukai bibirmu ini bahkan semuanya, aku berjanji tidak akan pernah tidak menyukai tubuh indahmu ini meskipun kamu sudah tua nanti sayang,” ucapku jujur memang tidak ada niatan untuk berdusta.


“Terimakasih Mas, umm ... ayo lanjutkan sayang,” pinta Zoya. Tentu saja aku menyetujuinya.


“Aku menyukainya sayang ... katakan sekali lagi, kamu ingin aku cepat memasuki dirimu, katakan sayang pliss ....” Aku sengaja bermain-main dengannya karena aku tahu Zoya sudah di ambang batas kenikmatan, tentu saja aku mengunakan hal itu untuk sedikit menggodanya.


Wajah Zoya sangat jelas terlihat memerah, aku tahu dirinya sedang menahan malu tapi bukan Reiner namanya jika tidak bisa mengatasi semuanya. Dengan tiba-tiba aku menghentikan semua aksi nakal ku dan justru membuat Zoya terpaku melihat wajahku mungkin saja dia kebingungan kenapa aku berhenti.

__ADS_1


“Mas ... apa yang kau lakukan? Aku ingin .... ah kenapa kamu malah berhenti?” rengek Zoya.


“Katakan sayang ... katakan, kamu ingin diriku, ingin aku memasuki dirimu, ayo sayang cepat aku ingin mendengarnya,” ucapku terus memaksa agar ia menurut dengan keinginanku.


“Anu ... a–aku, Mas. Aku ingin dirimu saat ini,” dengan cepat Zoya mengatakannya meski tidak tepat seperti yang aku inginkan tapi itu sudah cukup waktuku membuat agar ia tergoda.


Aku tersenyum seraya menyambut dirinya mendekat lalu melanjutkan aksi yang sempat tertunda. Tapi tiba-tiba–


Kringg ...


Kringg ....


Kringg.


Suara ponsel sangat menganggu acara ku, tidak henti-hentinya ponsel berdering dibalik saku celana.


“ Astaga ... Sialan! Siapa sih yang telepon ngga tau diri banget?!” aku terus mengomel seraya mengambil ponsel tidak tahu diri itu.


“Udah ah jangan marah gitu mana tahu penting angkat dulu Mas, kepentinganmu lebih utama nanti kita juga bisa lanjut,” sahut Zoya mencoba menenangkan diriku.


“Iya deh sayang, kamu bener.” Aku pun menuruti ucapannya.


Saat sedang mencoba mengangkat panggilan membuatku sedikit kebingungan sebab tertera nama Steven yang sedang berusaha menghubungiku.


‘Tumben sekali anak ini, kenapa yah ngga biasanya?’ batinku curiga.


* * *


Hidup dan mati aku akan selalu bersamamu


Meski cobaan masih ada didepan tapi jika kita mau bersama-sama niscaya Tuhan akan menyertai jalan kita berdua. Ingatlah seberat apapun kisah kita dulu pasti kita juga akan bisa bahagia. (Zoya–Reiner)

__ADS_1


__ADS_2