Terpaksa Menikahi Atasanku

Terpaksa Menikahi Atasanku
32~S3 Istriku. Gadis Kecilku Cinta, luka, kerinduan, cemburu, & Hargailah waktu


__ADS_3

H A P P Y R E A D I N G


“Seriously! Mulai detik ini aku berhenti untuk menjadi teman ranjang mu karena aku tidak ingin kamu melihatku seperti wanita murahan yang hanya ingin mendapatkan kepuasan. Jadi kupikir aku ingin berhenti,” ucap Alice dengan penuh keyakinan sambil terus menunduk.


Plak! Tamparan mendarat di wajah Alice.


“Aww! Kenapa kamu menamparku, Alvero?!” tanya Alice dengan bentakan keras.


“Masih berani kamu bertanya!” geram Alvero.


“Aku punya mulut makanya aku berani bertanya!” bentak Alice tanpa ingin mengalah.


“Argghh! Alice! Kamu benar-benar membuatku kesal! Katakan kenapa sekarang kamu berubah pikiran?!


“Karena aku mempunyai pikiran tentu saja aku bisa berubah kapan saja, ” jawab Alice dengan semena-mena.


“Ya ampun ... Jawaban macam apa itu? Ayolah aku ingin memarahi mu tapi, tolong jangan buat aku ingin tertawa,” ungkap Alvero sambil menahan tawanya.


“Hey! Aku tidak sedang membuat lelucon!” bentak Alice.


“Sekarang dengarkan sebaiknya hilangkan semua keinginan konyol mu itu dan kembali berpikir dengan rencana kita. Aku ingin semuanya berjalan sesuai rencana yang sudah kita sepakati. Tentu saja setelah ini kamu akan mendapatkan bayaran semuanya, paham?” ungkap Alvero dengan serius.


“Nggak paham!” jawab Alice.


“Argh! Aku sudah berbicara panjang lebar! Sebaiknya kita langsung pulang aku capek,” ungkap Alvero.


Alvero tidak ingin lagi berdebat, ia merasa kesal jika berdebat dengan Alice. Sama saja berdebat dengannya seperti kucing jantan bertengkar yang memiliki suara meong besar padahal nyali sangat kecil.


Begitupun dengan Alice. Ia masih tidak ingin berdiam diri dengan apa yang akan Alvero lakukan nanti. Dirinya masih sangat tidak rela.


‘Alvero sekarang malah beneran pulang lagi, dia bahkan tidak begitu peduli dengan perkataan ku yang tidak ingin menjadi teman ranjangnya. Memangnya aku bercanda toh aku juga serius sekarang ini tapi, dia menganggap ku melucu,’ batin Alice kesal.


“Eh bentar! Kita beneran mau pulang?” tanya Alice dengan sengaja.


”Lah beneran! Emang kalau nggak pulang mau kemana lagi? Ke kuburan gitu?” sahut Alvero dengan tidak serius.


“Yah siapa tahukan kamu beneran mau bawa aku kesana,” ungkap Alice.


“Ada-ada aja.”


“Oh ya, Alvero. Aku serius loh ngga mau lagi jadi teman ranjang mu,” ungkap Alice.


“Oh ya? Jadi kalau nggak mau sama aku terus mau sama siapa lagi? Emang ada Pria yang mau sama wanita galak kaya kamu?” tanya Alvero dengan ledekan.


“Yah jelaslah adalah! Buktinya kamu yang mau sama aku. Makanya kalau ngomong tuh di pikir dulu jangan alasan! Kalau emang kamu nggak mau sama aku pasti kamu nggak bakalan mau buat tidur seranjang denganku,” ungkap Alice.


“Heh! Itukan lain. Itu bukan soal cinta melainkan kebutuhan manusiawi jadi, yah ... Wajar-wajar aja sih kalau aku mau tidur sama kamu. Bentar deh kita debat lagi masalah ini ngapain sih? Yang ada tuh berdebat gini bikin aku nggak fokus. Emangnya mau kita ketabrak terus mati di sini. Nanti Mama aku bakalan nuntut kamu loh,” jawab Alvero dengan sesuka hatinya.


“Kenapa malah jadi kemana-kemana. Kamu mau nasehati aku apa mau doain biar cepet mati,” kesal Alice.


“Yah salah sendiri ngapain bahas itu terusan,” ungkap Alvero sambil kembali fokus dengan jalan didepan.


“Yah karena aku tuh sayang sama kamu! Eh, ma-maksudnya aku sayang kita berdua takut kenapa-kenapa,” jawab Alice dengan terbata-bata.


Alvero menatap wajah Alice dengan begitu lama. Sampai membuat Alice salah tingkah.


“Katakan apa maksudmu barusan?” tanya Alvero memastikan.


“Nggak ada maksud apapun,” jawab Alice dengan santai.


“Jawab Alice! Jangan membodohi ku, cepat katakan apa maksudmu!” bentak Alvero sambil menepikan mobilnya dengan cepat.


“Okay baik kalau emang kamu paksa. Aku tuh sayang sama kamu! Aku cinta sama kamu! Puas sekarang!” sahut Alice dengan berteriak.


Alvero mengusap wajahnya dengan cepat. Ia bahkan tidak menyangka kejujuran Alice membuat hatinya tidak menentu. Bahkan ia mengeluarkan keringat dingin padahal yang sedang jujur bukan dirinya.


“Jawab Alvero! Aku sudah mengatakan semua yang kamu mau jadi, sekarang jawab aku harus apa dengan perasaanku saat ini? Apa aku harus membunuh Viora? Agar kamu bisa mencintaiku atau aku harus pergi dari hidupmu agar aku bisa mengikhlaskan semuanya. Tetapi, aku tidak akan pergi dari hidupmu meskipun kamu mengusirku!” ucap Alice dengan jujur.


“Sudahlah jangan banyak ngoceh mendingan kita langsung pulang pasti Mama juga sudah sampai di rumah,” sahut Alvero mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.


Merasa kesal dengan sikap Alvero yang sengaja tidak ingin mendengar semua kejujuran yang di katakan oleh Alice. Ia lalu mengambil kunci mobil lalu menyimpan di bawah pahanya agar Alvero tidak bisa terus-menerus berusaha untuk lepas.


“Hey! Kembalikan kuncinya. Mama pasti sudah sampai di rumah ayo cepat bawa kesini,” pinta Alvero sambil mendekati Alice.


“Aku ngga mau kasih. Aku bilang ngga tetap nggak!” tolak Alice.


“Ayolah ini bukan waktunya bercanda, Alice!” bentak Alvero dengan mengeraskan rahangnya.


“Apa kamu pikir ini lelucon? Coba pikirkan tentang perasaanku. Aku sudah jujur denganmu tapi, apa balasannya, kamu bahkan sengaja tidak ingin melihatku saat ini bahkan kamu sengaja untuk mengalihkan perhatian. Apa aku ini begitu menjijikkan? Aku sudah mengikhlaskan bahkan keperawanan ku buatmu,” ucap Alice dengan mata berkaca-kaca.


“Oh ya? Mengikhlaskan keperawanan mu? Apa itu tidak salah bicara? Kamu memberiku untuk mendapatkan uang. Kamu menjual tubuhmu lalu sekarang kamu mengatakan kamu mengikhlaskannya. Ya ampun ... Aku sungguh tidak percaya ada wanita sepertimu yang sengaja hilang ingatan di depanku. Bagaimana kalau kita ke rumah sakit? Siapa tahu setelah itu pikiranmu kembali normal untuk berpikir waras,” ungkap Alvero dengan menghina Alice.


“Aku tidak hilang ingatan! Aku memang sudah mengikhlaskannya. Awalnya kamu mengambil paksa milikku, dan hari itu semuanya telah terjadi jadi saat itu namanya aku sudah ikhlas tapi, hari-hari yang lain kita melakukan semuanya sendiri meskipun aku meminta bayaran. Tentu saja aku meminta bayaran karena semua ini terjadi juga ulah dirimu sendiri,” sahut Alice yang sudah tidak merasa segan.


“Memang aku akui awalnya keperawanan mu hilang olehku tapi, setelah itu kamu seperti wanita menjijikkan mengharapkan uang. Dasar menjijikkan!” bentak Alvero dengan melototkan matanya.


“Hey tentu saja aku mengharapkan uang darimu! Aku tinggal di rumahmu saja harus membayar segalanya jadi darimana aku bisa dapatkan uang. Lagipula aku tidak melakukannya dengan Pria lain kecuali denganmu. Yah wajar saja aku meminta bayaran padamu karena kamu yang sudah mengambil keperawanan ku,” sahut Alice.


“Kita sudah impas! Kamu kehilangan keperawanan mu dan aku kehilangan keperjakaanku. Jadi, mulai saat ini jika pun kita melakukan hubungan lagi maka aku tidak akan membayarnya. Sekalipun kamu meminta aku tidak akan pernah mau, atau jika perlu kamu lebih baik pergi dari hidupku karena aku juga tidak mencintaimu!” ucap Alvero dengan begitu mudah.


“Kamu memang kehilangan keperjakaan tapi, kamu tidak membekas melainkan diriku. Jadi, aku sudah katakan mulai saat ini aku juga tidak ingin menjadi boneka pemuas nafsu mu, dan mengenai cintaku, tidak masalah jika memang kamu tidak mencintaiku tapi, ingat aku saat ini sudah jujur denganmu jadi, aku akan melakukan apapun juga untuk bisa bersamamu sekalipun hidup Viora menjadi ancamannya,” ancam Alice dengan serius.


“Jangan membawa-bawa Viora dalam permasalahan kita! Dia tidak tahu apapun! Awas saja kalau kamu mencelakai Viora maka aku tidak segan-segan untuk membunuhmu! Sekarang kembalikan kunci mobilku!” bentak Alvero.


Alvero menunggu sampai Alice mengembalikan kuncinya tapi, percuma tidak ada komentar apapun dari Alice bahkan wanita itu sudah memilih untuk berdiam diri.


Alvero mengambil paksa. Ia menarik tubuh Alice dengan begitu kuat sampai gundukan dua miliknya tertekan dengan lengan Alvero dan menimbulkan rasa sakit. Alvero tidak peduli, ia justru mencoba mengangkat paha Alice. Mereka saling mendorong dan menarik hingga paha Alice kesakitan dan berubah menjadi warna memar kemerahan akibat tarikan tangan yang begitu keras.


Alvero berhasil mendapatkan kuncinya kembali. Ia langsung fokus dengan jalan didepan tanpa ingin tahu apa yang sedang di lakukan oleh Alice.


‘Aww rasanya sangat sakit. Dada dan pahaku, aduh ... Gimana ini?' batin Alice.


Alice kesakitan di bagian dadanya yang lebih parah meskipun pahanya meninggalkan bekas luka merah tapi, tidak begitu kesakitan seperti bagian dadanya. Ia pun terus memegang dadanya sambil meringis kesakitan. Membuka baju untuk melonggarkan sedikit pengait dadanya. Alvero sesekali melirik, melihat Alice seperti benar-benar kesakitan.


“Alice, kamu tidak apa-apa?” tanya Alvero cemas.


Alice tidak menjawab, ia justru terus memegang dadanya yang sakit. Alvero begitu cemas, ia pun langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


“Alice, tahanlah kita akan sampai ke rumah dengan cepat. Maafkan aku sudah keterlaluan denganmu,” ucap Alvero sambil sesekali melirik.


...----------------...


Begitu cepat mengebut sampai akhir mereka sampai di kediaman. Terlihat di halaman kediamannya sebuah mobil mewah terparkir dengan rapi.


“Yah ... Mama dan Papa sudah pulang di waktu yang tidak tepat,” gumam Alvero.


Alvero turun sambil membantu Alice keluar seraya membopong tubuhnya. Dengan berjalan cepat ia langsung membawa Alice masuk kedalam meskipun orangtuanya sudah berdiri di depan pintu saat mengetahui dirinya pulang.


“Hay, Mam, Pa,” sapa Alvero tanpa melihat ke wajah orangtuanya.


“Nak, siapa wanita itu? Dia kenapa?” tanya Mama perhatian.

__ADS_1


Tanpa menjawab pertanyaan Alvero melewati jalan orangtuanya tanpa berhenti. Ia berniat untuk membawa Alice kedalam kamarnya sebelum akhirnya dia memberikan pernyataan pada orangtuanya.


Alvero akhirnya keluar dari kamarnya setelah menutup pintu. Ia langsung memberikan pelukan untuk mama dan papanya.


“Mama kok pulang ngga tungguin aku jemput dulu,” ucap Alvero.


“Hey! Kalau kami tunggu kamu jemput yang ada kami berjamur di sana. Siapa wanita itu yang kamu bawa masuk kesini? Terus kamu abis dari mana? Capek Mama kabarin kamu bahkan capek tungguin kamu balas pesan dari mamamu ini. Sengaja ya? Lagian kamu kenapa sih bukannya pulang dulu kesini malah keluyuran terus pulang-pulang bawain perempuan. Anak siapa yang kamu bawa? Kalau sampai keluarganya tahu kamu bawa dia lari gimana? Apa kamu mau tanggung jawab? Mama sih ogah tanggung jawab tapi, kalau papamu mana tahu mau sama anak kesayangannya,” ngoceh Mama dengan panjang lebar.


“Loh! Kok jadi papa yang di bawa-bawa. Aku salah apa, dek?” tanya Papa tiba-tiba.


“Ya ampun ... Mama! Pliss deh satu-satu Mama tanyain. Lagian aku belum cerita Mama udah ngomel aja kebiasaan deh kayak gitu. Denger ya, Ma. Wanita itu tunangan ku, dia abis kepeleset terus jatuh makanya aku buru-buru bawa dia istirahat. Namanya Alice, dia juga tinggal di sini karena aku yang memintanya,” ungkap Alvero.


“Apa? Tunangan? Dasar ya kamu! Mama pergi sebentar udah macam-macam di sini. Kapan kamu tunangan? Kenapa sama Mama dan Papa nggak kamu kasih tahu? Apa kamu tidak menganggap kami ini orangtuamu? Mama juga belum tahu bebet, bibit, bobot, gadis itu. Kamu main tunangan aja. Apa kamu pikir tunangan itu seperti kamu pacaran?! Bagiamana kalau nanti gadis itu dari keluarga nggak benar? Terus hubungan kamu dengan Viora calon menantuku bagaimana? Jangan bilang kalian sudah putus setelah pacaran lima tahun. Ya ampun benar-benar anak ini ingin membuat jantungku copot,” tanya Mama yang terus mengomel tiada henti.


Papa perlahan memilih menjauh dari Alvero saat situasi kacau seperti ini. Namun, Alvero justru memijat kepalanya yang pusing mendengar mamanya mengomel tanpa kenal lelah.


“Mendingan sekarang Mama sekarang istirahat apalagi habis pulang jauh-jauh pasti capek. Calon menantu Mama sekarang itu dia bukan lagi Viora, dan kalaupun nanti Viora ada pasti aku akan langsung menikahi mereka berdua. Semua yang Mama khawatirkan saat ini sebaiknya lupakan. Pliss ya, aku juga mau istirahat capek banget nih. Kalau mau interogasi mendingan besok lagi," ucap Alvero sambil membawa mamanya ke kamar.


“Entahlah nasib anakku ini. Dia sudah besar, dan memilih hidupnya sendiri. Aku sangat pusing memikirkan kamu, nak. Rasanya ah sudahlah Mama jadinya ngantuk nih,” ungkap Mama sambil menguap.


Akhirnya kedua orangtuanya memilih untuk masuk ke kamar mereka tanpa memusingkan apapun yang terjadi sebab sudah waktunya tidur. Alvero langsung kembali ke kamarnya untuk melihat bagaimana keadaan Alice.


Alvero masuk kedalam dan tidak lupa mengunci pintunya. Ia melihat Viora sudah telanjang dada sambil terus memegang dadanya yang sakit. Merasa bersalah akhirnya Alvero memberanikan diri untuk mendekat meskipun mereka sedang dalam keadaan berdebat.


“Alice, apa aku boleh melihat dada mu yang sakit?” tanya Alvero.


“Tentu saja. Ini salahmu! Aku sampai kesakitan. Kamu harus tanggung jawab,” ucap Alice dengan terus meringis kesakitan.


‘Emang enak! Rasain kenak tipu. Lagian mana mungkin sakit cuma di tekan sedikit. Padahal kamu biasanya juga mer*masnya dengan kuat,’ batin Alice seraya menahan senyumnya.


Alvero dengan hati-hati menyentuh dada Alice meskipun ia sendiri sedang menahan nafsunya sebab dada terpampang jelas dengan bulatan besar yang sudah siap untuk di santap. Walaupun demikian ia terus menahan dirinya agar Alice tidak kesakitan lagi.


“Alice, bagaimana aku harus menghilangkan rasa sakitnya? Sungguh aku sangat takut jika kamu kesakitan di bagian dada mu. Aku benar-benar minta maaf,” ucap Alvero merasa bersalah.


“Apa kamu ingin aku memaafkan mu?” tanya Alice.


“Yah tentu saja.”


“Tapi ada syaratnya,” ucap Alice.


‘Aneh, apa Alice sengaja sedang mempermainkan aku?’ batin Alvero.


“Kamu sedang menipuku ya?” tanya Alvero curiga.


“Tidak! Siapa yang menipumu?! A-aku sungguh sedang kesakitan, percayalah,” ucap Alice.


“Aku tidak percaya denganmu. Kamu mencoba menipuku saat ini. Apa mau mu? Apa kamu sengaja ingin aku melakukan hubungan itu sekarang? Jadi, seperti itu caramu untuk mencoba menggodaku? Ternyata kamu hanya berbohong mengatakan kalau tidak ingin lagi menjual tubuhmu tapi, sekarang kamu justru ingin meminta dariku dengan cara seperti ini,” kata Alvero tanpa memikirkan perasaan orang lain.


“Cukup, Alvero! Aku memang tidak ingin lagi menjadi boneka ranjang mu tapi, aku hanya sedang mengetes apakah kamu masih peduli denganku atau tidak. Itu saja tidak lebih, jadi jangan terlalu percaya diri. Meskipun aku mencintaimu tapi, mulai saat ini aku tidak akan mau menjadi teman ranjang mu! Ya sudah sana keluar aku ingin istirahat.” Alice langsung menarik selimutnya.


“Hey ini kamarku bukan kamarmu jadi lebih baik kamu yang keluar," usir Alvero seraya langsung naik ke atas tempat tidur.


“Aku tidak mau! Jika kamu memaksaku maka aku akan membongkar semuanya pada orangtuamu bahwa diriku ini bukan tunangan mu dan juga kamu sedang menahan seorang wanita,” ancam Alice.


“Argh! Kamu benar-benar sudah melewati batas mu, Alice!” geram Alvero.


“Yah memang tapi, alangkah baiknya kita tidur saja sebab tidak ada untungnya kamu berteriak-teriak yang ada orangtuamu akan mendengarnya,” ucap Alice seraya masuk kedalam selimut yang dipakai oleh Alvero.


“Hey! Minggir! Ini selimutku.” Alvero berkata sambil menjauh.


“Aku tidak ingin,” tolak Alice.


Alice justru semakin memperkuat pelukannya. Alvero merasa kesal walaupun ia juga menyukainya. Namun, akhirnya mereka berdamai setelah pandangan mereka saling beradu. Mata Alice penuh cinta menatap mata Alvero. Tetapi entah seperti apa perasaan Alvero terhadapnya.


‘Kenapa Alvero tiba-tiba tersenyum denganku? Bukankah dia barusan marah? Dasar Pria aneh!’ batin Alice.


“Ngapain senyam-senyum emang ada yang lucu?!” tanya Alice dengan keras.


“Eh! Nggak kok! Udahlah ini udah malem ribut pun nggak ada guna. Tidur yuk besok pagi kita bangun pasti Mama sudah mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan untukmu. Jadi, ayo tidur,” ajak Alvero sambil membawa Alice kedalam pelukannya.


Alice menganggukkan kepalanya sambil ikut tersenyum. Ia merasa senang jika melihat perhatian Alvero seperti ini meskipun kecil namun, sudah membuatnya bahagia.


‘Walaupun aku belum merasakan cinta darimu setidaknya aku sudah merasakan kebahagiaan darimu, perhatian bahkan kita selalu berdua. Tubuhmu memang milikku meski hatimu belum menjadi milikku tapi, aku berjanji akan membuatmu jatuh cinta denganku. Alvero, aku ingin terus memelukmu seperti ini,' batin Alice seraya membalas pelukan dengan erat.


“Hey, jangan kuat-kuat memelukku. Aku tidak akan lari darimu. Lagipula nafasku bisa sesak,” ungkap Alvero sambil menahan senyumnya.


“Biarkan saja. Aku ingin tidur di dalam pelukanmu setiap hari meskipun kamu tidak mencintaiku. Namun, aku merasa senang jika kita bisa seperti ini. Ku mohon izinkan aku tidur denganmu setiap malam,” pinta Alice sambil terus memeluk.


“Yah baiklah aku izinkan. Tapi, jangan ganggu rencana ku untuk Viora. Sebagai balasannya aku akan mengizinkan mu memelukku setiap malamnya,” ungkap Alvero sambil mengecup kening Alice.


“Terima kasih, Alvero. Aku mencintaimu,” ucap Alice penuh cinta.


‘Sama-sama, Alice. Maafkan aku sudah membawamu kedalam keadaan seperti ini. Semoga kamu bisa mendapatkan lelaki yang tulus mencintaimu,’ batin Alvero.


‘Meskipun kamu tidak menjawab cintaku tapi, aku selalu akan selalu mencintaimu. Dan mulai malam ini aku akan membuatmu jatuh cinta padaku,’ batin Alice.


Mereka saling berpelukan dengan pikiran masing-masing. Cinta tidak ada yang tahu seperti apa kisah mereka. Mimpi indah pun menyertai tidurnya. Bahkan dalam mimpinya Alice, seorang Pria sedang berusaha untuk membunuhnya tapi, akhirnya sosok Pria tersebut berubah menjadi ular dan sebaliknya justru mengejarnya. Namun, di dalam mimpi Alvero justru dirinya sedang berhubungan dengan Alice. Dengan begitu kuat dan mesra.


...----------------...


(Apartemen Alvero)


(Viora Lausy)


Aku merasa ketakutan. Bagaimana tidak tanganku di ikat, dan tidak bisa bergerak sedikitpun. Sampai tengah malam aku terus menangis bahkan air mataku mengalir tanpa tahu kapan berhenti. Sejak dari tadi dua pelayan terus menyuruhku untuk makan meskipun mereka yang menyuapinya. Tetapi sampai tengah malam pun aku tidak berniat apa-apa bahkan aku meludahi makanan tersebut tepat di wajah pelayan-pelayan itu. Sampai mereka berdua menjambak rambutku dengan kasar.


“Kelvin, aku merindukanmu. Maafkan karena aku acara honeymoon kita gagal. Seharusnya sejak dulu aku tidak terus menunda-nunda waktu kita agar kita bisa honeymoon dengan cepat. Tetapi sekarang semuanya sia-sia,” gumam ku sambil menangis.


“Pelayan! Ku mohon ... Kemari 'lah! Aku ingin pipis!” teriakku.


‘Setidaknya aku harus mencari cara agar aku bisa lepas dari sini. Bagaimanapun caranya aku harus bisa,’ batinku.


Suara pintu terdengar dan bisa ku tebak dua pelayan sialan itu datang.


“Apa sih teriak-teriak? Ini tuh udah malam waktunya tidur bukan teriak! Dasar nyusahin!” bentak salah seorang pelayan sambil melipatkan tangan di dadanya.


“Aku kebelet pipis jadi tidak mungkin aku bisa tidur. Ku mohon lepaskan aku terus nanti kalian bisa mengikatnya lagi.”


“Jangan banyak alasan! Pasti mau kabur 'kan?!” tanya pelayan tersebut.


“Udahlah ngga usah ladenin dia mendingan kita tidur yuk!” ajak pelayan satunya lagi.


“Kalian tunggu dulu. Aku benar-benar tidak berbohong. Aku kebelet pipis emangnya mau kalau aku pipis di sini terus nanti kalian juga yang capek bersihinnya. Yah ngga apa-apa sih kalau emang aku harus pipis di sini tapi, ini bukan cuma pipis. Perutku juga mules kayaknya mau buang air besar. Terserah kalian sih mau percaya atau nggak,” ungkapku sambil membuat posisi.


“Ya ampun ... Nyusahin banget!” bentak pelayan itu.


Mereka akhirnya menurut dan sedang berusaha melepaskan pengikat di tanganku. Meskipun sedikit susah namun, akhirnya tali tersebut lepas. Aku berjalan pelan-pelan kearah kamar mandi lalu dirinya kabur tapi, tubuhnya berhasil di tahan oleh seorang pelayan.


“Hey! Kamu itu cuma perempuan sama sepertiku! Jangan pikir aku takut!” bentak ku sambil menjambak rambut pelayan satunya.


Pelayan menjerit-jerit kesakitan. Temannya berusaha untuk menangkap ku tapi, justru aku memutar-mutar 'kan tubuh rambut pelayan yang sudah di dalam genggamannya. Hingga akhirnya ia mendorong dengan kuat tubuh pelayan itu sampai tersungkur jatuh menindih temannya.

__ADS_1


Untung saja aku berhasil kabur. Memang apartemen itu tidak memiliki penjagaan ketat hanya di jaga oleh dua pelayan perempuan. Jadi, tidak terlalu susah melarikan diri dari sana. Aku terus kabur sampai akhirnya di luar apartemen menabrak seorang wanita sampai kami berdua jatuh ke lantai.


“Hey! Kalau jalan itu lihat-lihat dong! Sakit tahu!” geram Claudia yang belum melihat siapa yang menabraknya.


Mataku melotot melihat seseorang yang pernah kukenal. Betapa senangnya aku akhirnya bisa mendapatkan bantuan.


“Claudia? Kamu Claudia 'kan? Yang waktu itu temannya Zoya istri dari Reiner! Ya ampun ... Aku beruntung sekali bertemu denganmu di sini sebaiknya sekarang tolong aku. Dua orang perempuan sedang berusaha mengejar ku. Lihat itu mereka!” ungkapku dengan cepat sambil menunjuk kearah belakangnya.


Tanpa berpikir panjang Claudia langsung membantu menghadang dua pelayan tersebut. Tenaga mereka seimbang dua lawan dua.


“Siapa kamu?! Lebih baik minggir! Kami tidak punya urusan denganmu jadi, jangan halangi jalan kami untuk menangkap wanita di sampingmu itu,” ungkap salah satu pelayan dengan keras.


“Siapapun aku kalian tidak perlu tahu! Yang jelas wanita yang sedang kalian cari adalah temanku. Sebaiknya kita menuntaskan semuanya di sini sekarang juga!” bentak Claudia sambil mendekati dua pelayan itu.


Claudia langsung menjambak rambut salah satu pelayan tersebut dengan kasar begitupun denganku. Mereka berdua saling menjambak di barengi dengan teriakan karena kesakitan. Bahkan Claudia menendang lawannya apalagi dia memakai high heels justru lawannya kesakitan karena mengenai tepat di perutnya apalagi high heels begitu runcing. Claudia juga membantuku melawan lawan ku hingga akhirnya dua pelayan tersebut jatuh dengan keadaan begitu berantakan.


Claudia melepaskan high heels miliknya seraya melarikan diri bersama denganku. Sampai akhirnya kami di depan mobilnya dan depan cepat Claudia langsung menancapkan gas seraya melaju dengan kecepatan tinggi. Sudah sedikit jauh dari apartemen tersebut Claudia menepikan mobilnya.


“Kok malah berhenti?" tanyaku kebingungan.


“Yah karena kupikir mereka tidak akan mungkin mengejar kita jadi aku berhenti. Oh ya, kamu Viora 'kan? Kalau aku tidak salah mengingat kamu dulu wanita yang merebut seorang Pria bersama dengan kakakku, Eliezer, benarkah?” tanya Claudia memastikan.


“Yah benar. Sayangnya Pria itu di menangkan olehku. Aku memang Viora. Tetapi kebetulan sekali kamu ada di sini,” sahutku sambil tersenyum.


“Aku baru sampai kesini tapi, aku tersesat sebab temanku memberikan alamat rumahnya salah jadi, aku memilih untuk mencari tempat tinggal sementara tapi, kebetulan akhirnya aku bisa bertemu denganmu. Ah ya, jika aku boleh tahu kenapa mereka ingin menculik mu?” ungkap Claudia sambil bertanya.


“Dua pelayan tadi utusan dari mantan kekasihku. Dia tidak terima aku meninggalkannya dan memilih untuk menikah dengan Kelvin. Hingga akhirnya ia menculik ku. Terima kasih Claudia, kamu sudah membantuku. Oh ya, jika memang kamu tidak memiliki tempat tinggal maka lebih baik kamu menginap di kediamanku. Lagipula pasti Kelvin akan mengizinkan apalagi jika dia tahu kamu telah menyelamatkan nyawaku. Bagaimana apa kamu mau?”


“Sebetulnya aku merasa tidak nyaman apalagi jika itu berhubungan dengan Kelvin. Tentu saja dia mengenaliku apalagi dia pasti mengingat semua kejahatan yang telah kakakku perbuat dengannya. Lain kali saja, lebih baik aku mencari tempat bermalam di sekitaran sini,” tolak Claudia dengan sopan.


“Ah tidak perlu sungkan! Aku tahu pasti kamu akan menolaknya tapi, percayalah suamiku tidak akan memarahi mu. Apalagi hubungan suamiku dengan Eliezer sudah membaik. Kami juga pernah mengunjungi makamnya dan Kelvin sudah memaafkan semua perbuatan jahatnya itu jadi, ayo kita pulang ke tempatku lagipula tidak bagus wanita mencari tempat tinggal tengah malam seperti ini,” ungkap ku menyakinkannya.


“Tapi, lebih baik jangan. Aku ... Benar-benar tidak berani bertemu dengan Kelvin. Aku malu dengannya sebab perbuatan jahat dari kakakku juga aku lakukan. Lebih baik aku mengantarmu pulang setelah itu aku akan pergi dan tolong sampaikan salam ku padanya,” ucap Claudia selalu menolak.


“Sudah-sudah aku tidak ingin mendengar penolakan darimu lagi. Lebih baik kita langsung cepat menuju ke rumahku. Pasti suamiku sudah sangat khawatir dengan keadaanku saat ini.”


“Tapi, Viora. Aku benar-benar-”


Ucapan Claudia terhenti sebab aku menutup mulutnya. “Ayo turun, biarkan aku yang menyetir mobil. Kita tidak bisa terlalu lama berada di luar tengah malam seperti ini. Aku juga takut kalau nanti ada penjahat yang ingin melukai kita.”


Akhirnya Claudia pun pasrah. Kami juga menukar posisi duduk supaya lebih cepat untuk sampai ke rumah. Claudia pun memilih tidur saat aku sedang menyetir mobilnya.


...----------------...


...----------------...


(Kediaman Pasutri)


(Kelvin Marble)


Sampai saat inipun aku masih mondar-mandir menunggu kabar pencarian istriku. Aku telah mengutus orang untuk mencari istriku juga untuk menyelidiki di mana tempat keberadaan Alice. Pasalnya menurut keterangan dari beberapa karyawan saat menghilangnya istriku, Alice juga saat itu tidak berada di kantor padahal masih dalam waktu kerja. Apalagi mengingat sebuah pesan yang masuk padaku jelas bahwa itu bukan tulisan dari Viora sebab dia tidak akan memanggilku dengan sebutan oh suamiku ....


“Kemana kamu pergi, gadis kecil? Aku sama sekali tidak ingin kehilanganmu yang kedua kalinya. Aku bersumpah akan membunuh siapapun yang berani menculik mu dariku! Bahkan honeymoon kita sampai tertunda padahal aku sudah mempersiapkan segalanya,” gumam ku sambil terus mondar-mandir.


Keluarga kami belum ada yang tahu tentang kehilangan Viora. Sebab aku tidak ingin mereka cemas, bahkan Zoya sendiri sengaja tidak ku kabari sebab aku tahu Zoya pasti akan memberitahukan pada bundaku. Jam sudah memasuki tepat pukul dua malam bahkan sampai detik ini pun aku belum mengantuk dan terus menunggu sampai kabar ku dapatkan. Hingga akhirnya sebuah mobil memasuki halaman rumahku. Mereka adalah anggota utusanku.


“Selamat malam, Bos,” sapa salah satu anggota bayaran ku.


“Malam, bagaimana? Apa kalian mendapat kabar?”


“Maaf, Bos. Kami tidak membawa kabar apapun. Sudah keliling dari pagi tapi, masih tidak ada tanda-tanda di mana Nyonya berada bahkan kami sudah menyebarkan poster tentang Nyonya. Kami benar-benar minta maaf,” ucap ketua dari anggota utusan seraya menundukkan kepalanya.


“Baiklah tidak apa-apa. Kita akan kembali mencari besok pagi sebaiknya malam ini pencarian kalian sudah bisa di hentikan, istirahatlah,” ucapku merasa kasian.


“Terima kasih, Bos. Kalau begitu kami permisi dulu.” Mereka langsung pamit dan meninggalkan kediamanku.


Harapanku sia-sia. Entah kemana istriku pergi. Terduduk sambil melamun di teras rumah sambil menunggu keajaiban datang.


“Sepertinya aku harus terus mencari meskipun hari sudah berganti. Gadis Kecil, jika kamu tidak kutemukan maka aku juga tidak bisa tidur tenang,” gumam ku sambil melangkah menuju ke garasi mobil.


Saat aku ingin menuju kesana sebuah mobil tiba-tiba berhenti di depan pintu gerbang. Keamanan rumah yang masih terjaga langsung melihat keluar lalu mobil tersebut langsung memasuki halaman kediamanku.


“Mobil siapa itu? Sebelumnya aku belum pernah melihat mobil itu kesini,” gumam ku kebingungan.


Dua wanita turun dari mobil tersebut dan betapa senangnya aku saat melihat orang yang sedang ku cari-cari akhirnya kembali pulang. Dengan berlari menghampiri mereka lalu tanpa aba-aba aku langsung memeluk tubuhnya dengan begitu erat.


“Gadis kecil, kamu kemana saja? Aku lelah mencarimu bahkan tengah malam seperti ini aku juga sedang mencarimu,” tanyaku sambil terus memeluknya.


“Nanti akan ku jelaskan, Pangeran. Oh ya sebaiknya kita langsung masuk kedalam,” sahut Viora sambil melepaskan pelukannya.


“Ayo, Claudia, kita masuk!” ajak Viora.


Sejak kedatangan mereka aku tidak terlalu fokus melihat seorang wanita yang berdiri di sebelah mobil sebab aku begitu merindukan istriku. Tetapi anehnya nama wanita itu seperti pernah aku mendengarnya. Tanpa bertanya apapun Viora langsung menggandeng tanganku untuk membawa masuk ke dalam serta Claudia mengikuti di belakang.


Viora langsung membangunkan pelayan di kediaman kami yang sudah tertidur untuk menyiapkan minuman untuk Claudia. Meskipun sudah larut malam tapi, alangkah baiknya menyambut tamu dengan sopan.


“Maaf, kamu beneran Claudia, adiknya Steven?” tanyaku kebingungan.


“Benar, Pangeran. Kami tidak sengaja bertemu dan dia juga sudah menolongku. Mungkin jika dirinya tidak datang pasti saat ini aku belum bisa kembali,” timpal Viora yang sedang mendekatiku.


“Oh ... Begitu. Gadis kecil, sebenarnya apa yang sudah terjadi denganmu? Kenapa kamu tiba-tiba menghilang bahkan kamu mengirimkan sebuah pesan lalu setelah itu ponselmu tidak bisa di hubungi,” tanyaku penasaran.


“Ceritanya panjang, Pangeran. Tapi, nanti aku akan menceritakan semuanya padamu. Oh ya Claudia, ini silahkan di minum pasti kamu kecapean. Setelah itu kamu bisa langsung istirahat, aku sudah meminta pelayan untuk mengantarmu ke kamar,” ungkap Viora begitu perhatian.


“Terima kasih, Viora. Kalian sudah mau repot-repot menampungku malam ini. Sebaiknya memang aku harus istirahat segera mungkin sebab badanku sudah sedikit pegal-pegal. Oh ya satu lagi, Kelvin. Kamu, pasti mengenaliku bukan? Sebelum aku tidur di tempatmu alangkah baiknya aku ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya kepadamu. Semua kesalahanku juga kesalahan kakakku dulu sebab sangat tidak nyaman tidur tanpa mengucapkan maaf terlebih dahulu,” ungkap Claudia.


”Ya-ya tidak perlu sungkan seperti itu. Aku juga sudah memaafkan kakakmu juga dirimu jadi, anggap saja kediaman ini seperti milikmu, dan terima kasih sudah menolong istriku. Aku benar-benar bersyukur akhirnya istriku selamat berkat bantuan mu,” sahutku sambil tersenyum.


“Sama-sama, kalian ternyata orang-orang baik. Kalau begitu aku istirahat dulu,” pamit Claudia seraya mengikuti arah jalan pelayan.


...----------------...


(Author POV)


(Di dalam kamar Pasutri)


Kelvin sedang memijat bahu istrinya. Ia merasa kasihan dengan gadis kecilnya tersebut. Segala perhatian ia kerahkan sampai rasa kantuk datang. Viora menyadari jika pijatan suaminya semakin pelan. Ia pun menoleh kebelakang.


“Pangeran, kalau udah ngantuk yaudah tidur gih. Aku mau mandi dulu soalnya gerah banget,” ucap Viora sambil mengusap pipi Kelvin.


“Baiklah, gadis kecil. Jangan lama-lama ya, kalau sudah tolong bangunkan aku,” pinta Kelvin.


Viora menganggukkan kepalanya. Ia langsung mengambil handuk, sedangkan Kelvin justru memilih untuk tertidur sebab semenjak Viora hilang ia tidak bisa tidur dengan nyenyak.


Sekitar lima belas menit Viora akhirnya selesai. Ia memang tidak ingin berlama-lama. Viora langsung merebahkan dirinya di samping Kelvin tanpa membangunkannya.


“Pangeran, tidurlah. Kamu pasti kelelahan mencariku. Maafkan aku yang selalu menunda-nunda untuk tidak mau honeymoon denganmu, dan saat honeymoon kita tiba justru semuanya telah gagal gara-gara orang lain. Sekarang aku mengerti bahwa waktu adalah segalanya. Aku mencintaimu,” ungkap Viora penuh cinta sambil mengecup kening Kelvin.


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


Meskipun kamu memilih sibuk karena tidak ingin membuang waktu, jangan lupa menyisihkan waktu untuk orang yang kamu sayang. Ketika kesempatan itu datang, upayakan yang terbaik. Karena mungkin, kesempatan selanjutnya tidak datang dalam waktu dekat. Salam sayang, Meldy Ta.


__ADS_2