
H A P P Y R E A D I N G
(Kediaman Kelvin)
Kelvin terbangun dari tidurnya. Badannya sudah agak baikan walaupun rasa sakit masih sedikit terasa. Ia lalu melihat kearah samping istrinya masih terlelap dalam tidur. Menatap wajahnya dengan tatapan penuh cinta. Senyuman ikut terpancar dari tatapan wajah tampan miliknya, ia juga mengusap lembut rambut istrinya.
“Gadis kecil, aku akhirnya bisa meluluhkan kembali hatimu walaupun aku tahu dosaku terlalu banyak saat aku menyakitimu dulu. Namun, meskipun begitu sekarang aku berjanji akan selalu menjagamu dalam hidup dan mati ku,” gumam Kelvin seraya terus mengusap rambut Viora.
Senyuman terus menemani wajah tampan Kelvin. Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk terus menatap wajah istri yang begitu ia cintai. Memory kenangan saat mereka masih kecil sampai saat Viora berpura-pura untuk magang di tempatnya.
‘Zoya, kamu benar kalau aku pasti bisa menemukan seseorang yang juga mencintaiku. Walaupun aku dulu mencintaimu namun, sekarang rasa cintaku untukmu sudah berpindah tempat ke dalam diri Viora. Zoya, aku berterimakasih padamu,’ batin Kelvin.
Tangan Viora bergerak lalu matanya perlahan terbuka. Tidurnya terganggu sebab Kelvin terus mengusapkan kepalanya. Menyadari hal itu dengan cepat Kelvin menarik tangannya agar tidak ketahuan.
“Eh Pangeran, udah lama bangunnya?" tanya Viora sambil menguap.
“Enak tidurnya? Suka ya tidur bareng Pangeran tampan?” tanya Kelvin sengaja bertanya duluan.
Wajah Viora memerah seperti kepiting rebus. Ia senang tapi, ia juga malu jika Kelvin sengaja menggodanya.
“Cie ... sampai memerah gitu? Ngaku deh gadis kecil, jangan malu gitu dong,” ledek Kelvin seraya tersenyum.
Viora begitu kesal diledek oleh Kelvin. Ia lalu mencubit suaminya itu tepat di perutnya.
“Aww! Sakit sayang. Ihhh ... kamu bukannya di cium malah di cubit! Sini kukunya biar aku potong!” kesal Kelvin seraya menahan tawanya.
“Rasain! Nyebelin sih. Udah ah aku mau bangun mau siapin sarapan buat kita,” ucap Viora berusaha menghindar.
Belum sempat ia benar-benar turun dari tempat tidur, Kelvin langsung menahan tangannya hingga ia tidak bisa lagi bergerak kemanapun.
“Apalagi Pangeran ... aku mau ke dapur. Emang kamu nggak laper apa? Aku laper tahu!” omel Viora dengan bibir manyun.
Kelvin bukannya menjawab tapi, ia memilih untuk menertawai istrinya. Wajah Viora langsung berubah cemberut saat ia menyadari bahwa dirinya sedang di tertawai.
__ADS_1
“Ihhh ... kesel deh bukannya jawab kek, atau apa kek. Malah ketawa. Udah ah ngeselin!” ungkap Viora merajuk seraya melipatkan tangannya.
Kelvin menarik tubuh istrinya hingga Viora berbaring kembali. “Tunggu dulu sayang, jangan buru-buru. Aku mau ngomong sesuatu.”
Viora menarik nafasnya memburu. “Ya udah ngomong terus, mau bilang apa emangnya?”
“Kamu sadar ngga kalau tadi tingkah kamu lucu sayang. Bukannya kita di sini banyak pelayan yah? Terus ngga biasanya kamu mau siapin sarapan. Pinter masak emangnya? Ngaku deh gadis kecil, grogi yah sayang?” Kelvin benar-benar suka meledek istrinya.
“Isss serah deh,” kesal Viora sambil memukul Kelvin dengan pelan.
“Sakit sayang! Kamu nih galak banget. Tadi cubit aku terus sekarang di pukul. Aku tuh lagi sakit harusnya di sayang-sayang, di cium-cium, supaya cepat sembuh," ucap Kelvin dengan seenaknya.
“Iya itu sih maunya kamu, Pangeran,” sahut Viora menutup matanya menahan malu.
“Udah ihh jangan malu gitu. Gadis kecil, tahu nggak kalau tadi kamu makin cantik deh kalau muka memerah gitu,” ungkap Kelvin mencoba merayu istrinya.
“Evin! Ihhh ... serah deh!” bentak Viora sambil tersenyum.
Kelvin lalu membalas senyuman seraya mengecup kening istrinya. Ia bahagia akhirnya setelah penantian begitu lama hubungan mereka bisa lebih baik. Lalu ia pun mengingat sesuatu.
“Iya dong. Aku 'kan udah dewasa, udah bukan gadis kecil lagi walaupun kamu masih menganggap aku kecil,” sahut Viora seraya membuatnya bibir manyun.
“Selamanya sayang, aku akan memanggilmu seperti itu meskipun rambutmu sudah memutih,” ungkap Kelvin seraya mencium pipi Kelvin.
Dengan memberanikan diri Viora mencium pipi suaminya. Meskipun malu namun ia ingin sekali menunjukkan kasih sayangnya walaupun hanya berani setengah-setengah.
Kelvin menatap wajah istrinya begitu lama saat ia mendapat perlakuan manis. Lalu Kelvin mendekatkan wajahnya agar ia bisa menunjukkan kasih sayangnya juga. Perlahan bibir mereka menyatu dengan begitu lembut. Senyuman manis terpancar di wajah keduanya.
“Emm Pangeran, a-aku kayaknya harus ke dapur deh,” ucap Viora mencari alasan.
“Loh ke dapur ngapain, gadis kecil?” tanya Kelvin penasaran.
“Y-ya itu aku mau belajar masak,” sahut Viora seraya tersenyum kikuk.
__ADS_1
Tanpa menunggu jawaban dari Kelvin. Viora langsung berlari keluar dari kamarnya. Hatinya dag-dig-dug seperti pertama kali jatuh cinta padahal ia sudah sangat lama mencintai suaminya.
‘Untung aja gue bisa lolos kalau ngga m*mpus gue malu banget,' batin Viora yang masih berdiri di depan pintu kamarnya.
Di dalam kamar Kelvin tersenyum melihat reaksi dari Viora. Begitu lucu dan menggemaskan. Ia sangat ingin menghabiskan waktu lebih lama tapi, ia tahu dirinya masih belum sembuh total untuk bisa bergerak terlalu banyak. Hingga ia memutuskan untuk tidak mengejar istrinya keluar.
Kelvin akhirnya memutuskan untuk melihat wajah Viora dari dalam ponselnya. Dari mulai mereka kecil sampai saat ini ia masih menyimpan kenangan-kenangan manis bersama. Lalu ia membuat catatan di ponselnya sebagai pengingat hari penting, hari di mana mereka kembali berbaikan, dan selamanya akan selalu ia ingat.
°°°°
Dear gadis kecilku. Tepat hari ini kita kembali memulai sesuatu yang baru yang tidak pernah bisa aku duga. Aku percaya pada takdir namun, aku juga percaya kita bisa merubah takdir. Jadi, mulai hari ini aku akan merubah takdir bersamamu agar kita bisa hidup bahagia seperti suami dan istri di luar sana.
Hari baru. Kenangan yang baru.
31 Desember 2032
Pangeran konyol mu
Kelvin Marble
°°°°
Isi catatan yang di tulis Kelvin. Singkat tapi jelas. Meskipun tahunnya sengaja Author buat seperti itu.
Kelvin lalu menyimpannya. Badannya yang sakit tapi, hatinya tidak, justru ia sangat bahagia. Sebab itulah dirinya tidak begitu merasakan kesakitan yang terdapat di tubuhnya.
-------------:::::::::::::::::::::::::---------------
(Kediaman Alvero Li Xizing)
Tiga hari kemudian.
Dokter sedang melepaskan perban yang terbungkus dari kaki Alvero. Ia sangat bahagia akhirnya kakinya sembuh dan tidak lagi merasakan sakit atau pegal karena lamanya berbaring. Ia sudah kembali bisa bergerak bebas.
__ADS_1
“Silahkan Anda langsung coba berjalan,” pinta Dokter tersebut seraya tersenyum.
“Baik, Dok,” sahut Alvero mengiyakan.