Terpaksa Menikahi Atasanku

Terpaksa Menikahi Atasanku
13~ Istriku. Gadis Kecilku Perdebatan dan perkelahian


__ADS_3

H A P P Y R E A D I N G


Alvero pun mengangguk mengiyakan. “Iya sayang, ada yang lucu! Banyak tahu! Udah deh sayang, ngga usah basa-basi lagi kenapa beberapa hari ini nomer handphoneku di blokir? Dan sekarang kamu bahkan memanggilku dengan sebutan, Al?”


‘Sepertinya aku memang harus mengatakan semuanya,’ batin Viora.


”Al, a-aku minta ... maaf,” ucap Viora terbata-bata.


“Maaf? Why? What have you done?” tanya Alvero kebingungan.


“Banyak yang telah ku lakukan so we better break up,” ungkap Viora dengan jelas.


“Aku tidak mau! Kamu datang-datang mau ngajak putus sama aku? Seriously?” tanya Alvero masih tidak percaya.


“Aku serius, Al. Aku ngga mau basa-basi dan ngga ingin kamu terluka terlalu jauh. Lebih baik kita udahan aja karena aku nggak pantas sama kamu. Aku wanita jahat yang sudah membuat Pria menderita dan kamu adalah korbannya jadi, lebih baik kamu cari wanita lain yang benar-benar mencintaimu,” ungkap Viora mengakhiri hubungannya.


’Aku tahu, Al. Pasti kamu nggak bisa terima semua ini tapi, mau bagaimana lagi sejauh kita berhubungan aku belum bisa mencintaimu meskipun aku sudah mencobanya,’ batin Viora seraya menundukkan kepalanya.


Alvero mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tidak percaya dengan apa yang sudah ia dengar barusan. Padahal ia begitu mencintai Viora, bahkan ia lebih mencintai kekasihnya daripada dirinya sendiri.


“Viora, tolong tarik kata-katamu barusan. Aku minta maaf kalau aku ada salah sama kamu tapi, tolong jangan putusin aku. Kita udah berjalan lima tahun pacaran dan sekarang kamu putusin aku tiba-tiba tanpa adanya kejelasan pasti. Ayolah aku janji akan mengikuti semua yang kamu inginkan, aku Janji sayang,” ungkap Alvero yang tidak terima seraya menggenggam tangan kekasihnya.


Viora terus-menerus menggelengkan kepalanya seraya menarik tangan yang sedang di genggaman oleh Alvero. Ia tidak tega melihat Alvero tapi, ia juga tidak bisa berada dalam hubungan yang tidak seharusnya ini terjadi.


“Al, tolong mengertilah. Aku sudah menikah dan maaf aku memang tidak pernah memberitahukan mu tapi, mengertilah karena hubungan kita tidak baik untuk terus kita lanjut yang ada hanya akan menyakitimu," ucap Viora terus menyakinkan Alvero.


“Nggak! Aku ngga peduli. Mau kamu udah nikah kek! Janda sekalipun tetap aku nggak peduli! Karena aku sudah sangat mencintaimu. Lagipula aku sudah tahu kamu menikah, Kelvin pernah memberitahu ku tapi, hubungan kalian terjadi karena keterpaksaan jadi apalagi yang harus kutunggu sebaiknya kita tidak putus.” Lagi-lagi Alvero tetap kekeh pada pendiriannya.


‘Jadi Alvero sudah tahu aku telah menikah tapi, kenapa dia menutupi semuanya?' batin Viora.


“Sebentar! Tadi kamu bilang kalau kamu tahu aku sudah menikah lalu kenapa kamu tidak bertanya? Apa kamu tidak mencintaiku?” tanya Viora kebingungan.


“Karena aku mencintaimu makanya aku hanya diam meskipun aku tahu. Hubungan yang sudah terjalin lima tahun tidak akan dengan mudah berakhir begitu saja meskipun dulu kita hanya LDR-an tapi, aku tidak pernah menganggap hubungan ini suatu kebohongan walaupun pada akhirnya memang kamu menjadikan ku sebagai pelampiasan,” ucap Alvero yang sudah berlinang air mata.


‘Kelvin, kamu harus membayar semuanya!' batin Alvero.


“Yah karena itu aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini lagi. Jujur awalnya memang aku ingin membuka hatiku untukmu karena semua pengorbanan yang telah kamu berikan bahkan di saat aku merasa terpuruk tapi, sejak aku tahu kalau dulu Kelvin tidak sengaja untuk mencelakai mu. Maka aku berpikir kalau sebenarnya aku yang sudah salah menilai orang lain.” Viora mencoba menjelaskan.


“Ayolah sayang, mengertilah. Apa yang kamu harapkan dari Kelvin? Karena dia tampan? Dia seorang miliader? Aku juga memiliki semua itu, kamu sudah tahu. Lagipula Kelvin telah berhubungan dengan orang lain. Apa mungkin kamu tidak jijik dengannya? Kamu bahkan sampai saat ini masih perawan sedangkan dia keperjakaannya telah hilang. Coba pikirkan itu!” bentak Alvero yang sudah tidak ingin menahannya lagi.


Viora menarik nafasnya memburu. “Yah, aku tahu kalau suamiku telah berbuat hal menjijikkan tapi, aku tidak akan merasa jijik kecuali aku merasa muak dengan menghukum orang yang sebenarnya tidak bersalah. Lagipula sekalipun itu aku menikahi duda kalau memang dia cocok untukku jadi tidak ada salahnya. Padahal kamu yang ingin menghajar Kelvin tapi, dia hanya ingin membela dirinya.”


‘Apa Kelvin yang sudah menceritakan semuanya? Sialan!’ batin Alvero.


“Memang! Aku yang duluan menghajar Kelvin. Itu semuanya karena dia membuatmu menangis bahkan aku tidak suka melihatmu terus-menerus memikirkan Pria seperti dia. Rasanya aku ingin membunuhnya saat itu tapi, Author berkehendak lain dengan membuatku terluka. Walaupun memang sakit namun, aku bisa menang dan merasa puas karena aku mendapatkan perhatian khusus darimu,” ungkap Alvero dengan jujur.


“Kamu itu jahat! Seharusnya kamu tidak perlu melakukan apapun hanya aku menangis. Itu sama saja kriminal. Bagaimana jika saat itu Kelvin benar-benar terbunuh maka aku tidak akan pernah mau memaafkan dirimu lagi, Al. Sudahlah sepertinya cukup! Sudah terlalu banyak hal yang kita bicarakan jadi mulai saat ini tolong jangan anggap aku kekasihmu lagi,” ungkap Viora tanpa adanya bantahan.


Viora ingin pergi namun, tangannya di tahan oleh Alvero hingga membuatnya tidak bisa beranjak pergi dari tempat itu.

__ADS_1


“Selamanya aku tidak akan pernah menganggap kalau kita sudah putus. Jika semua nomer ponselku, kamu blokir maka selamanya aku akan menganggu mu dengan nomer lain bahkan aku bisa bertindak lebih jauh sayang. Bukankah kita sudah pacaran begitu lama tapi, kita belum melakukan apapun?” Alvero benar-benar tidak ingin mengalah.


“Hentikan Al, kita tidak bisa menjadi kekasih lagi kecuali menjadi teman biasa. Dan jangan lakukan hal bodoh apapun itu karena selamanya aku tidak akan mau denganmu. Cari saja wanita lain toh di luar juga banyak yang lebih cantik dariku," sahut Viora seraya terus mencoba melepaskan tangannya.


“Jangan mimpi sayang, aku benar-benar sudah mencintaimu. Aku tidak bisa melupakan semuanya,” ucap Alvero tetap kekeh.


Viora tidak lagi mengucapkan apapun sebab tidak akan berguna juga berlama-lama berbicara karena ia tahu sifat Alvero yang tidak ingin mengalah. Ia terus mencoba untuk berusaha menghentikan perlakuan dari Alvero meskipun begitu sulit bahkan tangannya sudah terasa begitu sakit.


‘Sekarang bagaimana aku bisa lari? Mengambil ponselku juga tidak bisa,’ batin Viora cemas.


“Ikut denganku, sayang!” perintah Alvero seraya menarik tangan Viora dengan kejam.


“Lepaskan! Aku tidak mau!” bentak Viora.


Semua orang di Cafe tersebut tercengang melihat sebuah drama sedang di mulai. Bahkan ada yang merasa ketakutan melihatnya. Lalu pelayan Cafe tersebut memanggil petugas keamanan untuk mengamankan Alvero.


“Jangan buat keributan di sini! Lebih baik keluar sana!” bentak Scurity tersebut yang berusaha mengusir mereka.


“Anda lebih baik diam! Karena ini adalah hubungan saya dengan istri saya! Jadi tidak perlu mengusir kami seperti itu!” geram Alvero yang tidak terima.


“Tolong Pak, bantu saya. Dia bukan suami saya, tolong!” teriak Viora meminta bantuan.


”Ah! Sudahlah! Keluar kalian dari sini cepat!” usir Scurity tersebut yang ingin mau tahu permasalahan itu.


Alvero lalu merasa kesal hanya menarik tangan Viora. Rasanya begitu susah untuk membawanya pergi. Lalu Alvero akhirnya memutuskan untuk membopong tubuh Viora walaupun selalu ada penolakan.


“Diam sayang, lebih baik kita langsung pulang dan kamu akan tinggal denganku menjadi boneka penghibur untukku,” ungkap Alvero yang sudah di kuasai oleh amarah.


“Aku akan melepaskan mu nanti saat kita sudah sampai di rumah. Semuanya akan ku lepas termasuk pakaianmu, sayang. Sebab aku tidak terima dengan keputusanmu maka setelah itu sudah pasti kamu selamanya menjadi milikku." Lagi-lagi Alvero tetap kekeh pada pendiriannya.


“Jangan pernah bermimpi terlalu jauh! Jika kamu bertingkah menjijikkan seperti ini maka aku akan membencimu selamanya!” bentak Viora serya memukul-mukul punggung Alvero.


Alvero tetap tidak peduli. Ia sudah buta dengan cinta bahkan ia rela membawa paksa Viora dengannya. Lain halnya dengan Kelvin, yang sedari tadi hanya menunggu di dalam mobil seperti yang sudah mereka sepakati. Lalu Kelvin melihat sesuatu yang mengejutkan hingga membuatnya begitu marah. Bagaimana tidak Alvero sedang berjalan menuju mobilnya.


“Sialan! Itu Alvero! Berani-beraninya dia ingin menculik istriku seperti itu,” geram Kelvin seraya turun dari mobilnya.


Ia pun berlari agar tidak terlambat menyelamatkan istrinya. Lalu Kelvin sampai dan sudah berdiri di hadapan Alvero dan istrinya.


“Lepasin istri gua!” bentak Kelvin seraya mengepalkan tangannya.


Alvero tersenyum sinis melihat kehadiran Kelvin dengan tiba-tiba. Ia tidak suka rencananya harus gagal kali ini. Lalu Alvero terpaksa menuruni Viora.


“Kenapa Kelvin? Apa Lo kaget? Dengarkan kalau gue ingin membawa kekasihku ini untuk bermalam kembali denganku, sebab kami sudah melakukan hubungan suami istri. Haha Lo pasti kaget bukan? Dasar pecundang! Lo bahkan tidak bisa menyentuh istri Lo ini. Karena selamanya Viora adalah kekasihku!” ungkap Alvero yang sengaja mengada-ada.


Kelvin begitu marah, ia mengeraskan rahangnya bahkan mengepalkan tangannya. Brug! Satu tendangan tepat mengenai perut Alvero hingga ia tersungkur jauh.


“Menjijikan! Berani banget Lo katakan semua itu sama gua!” geram Kelvin seraya berjalan mendekati Alvero.


“Selamanya gua nggak bakalan biarin siapapun menyakiti istri gua! Jika dulu Lo hanya koma maka sekarang gua benar-benar bakaln bunuh Lo!” Kelvin benar-benar marah hingga matanya melotot seraya menarik kerah baju milik lawannya.

__ADS_1


“Hah? Oh ya?! Lo mau bunuh gue? Wow ... gue takut sekali tapi, jangan mimpi sialan!” bentak Alvero memberikan perlawanan dengan memukul kepala Kelvin.


Kelvin seketika sempoyongan namun, ia kembali normal seperti biasa. Menarik nafas dalam-dalam hanya ingin menghadapi lawannya di depan.


“Mari kita duel hidup dan mati! Jika gue kalah maka gue tidak akan menjadikan istri Lo sebagai kekasih gua lagi dan begitupun sebaliknya," ungkap Alvero memberikan pilihan.


“Lo pikir istri gua apa sampai Lo beraninya menjadikan dia sebagai taruhan! Ngga akan ada duel dalam taruhan tapi, sekarang gua yang bakal menghabisi Lo di sini,” sahut Kelvin kesal.


‘Ya ampun bagiamana ini? Mereka akan ribut di sini. Aduh aku harus mencari pertolongan untuk menghentikan mereka jika tidak maka salah satu pasti akan celaka. Aku tidak ingin Kelvin terluka,’ batin Viora lalu berlari dari tempat itu.


Kelvin dan Alvero tidak peduli kalau Viora sudah meninggalkan tempat itu. Mereka hanya fokus pada tujuan untuk saling membunuh satu sama lain. Pukulan demi pukulan terus saja mengenai keduanya. Seakan sama-sama kuat dan tidak ingin mengalah. Keduanya hingga babak belur.


Alvero sudah sedikit lemas, ia tetap berusaha bangkit meskipun Kelvin telah menghajarnya habis-habisan. Namun, begitupun sebaliknya jika Kelvin mampu memberikan pukulan terus-menerus maka Alvero selalu ada cara membalas pukulan di tempat yang tidak di pikirkan oleh lawannya.


Nafas keduanya terengah-engah. Mereka benar-benar ingin menghabisi lawannya. Tanpa ada ampun siapa yang lemah maka dia yang akan mati.


“Bangun Lo, b*ngsat!” bentak Kelvin dengan sadis.


Alvero menghapus darah mengalir di tepi bibirnya. Ia lalu bangun kembali dengan perlahan meskipun kakinya juga sudah terluka.


“Sini maju Lo!” bentak Alvero dengan keras.


Kelvin lalu berusaha berlari sekuat sisa tenangnya. Ia lalu menendang Alvero tepat di dadanya lalu meninju wajahnya kembali dengan bertubi-tubi.


“Stop ...! Berhenti kalian!” teriak petugas keamanan yang baru datang bersama Viora.


Viora lalu berlari mendekati suaminya. “Evin! Sudah hentikan! Dia bisa mati dan itu akan membahayakan nyawamu juga. Sudah berhenti, jangan lagi pukuli dia. Aku tidak mau kamu sampai berurusan dengan pihak hukum.”


”Tapi, dia harus mati. Aku tetap harus membunuhnya di tanganku!” Kelvin tidak mendengarkan apa yang dikatakan istrinya.


“Evin, sudah cukup! Lebih baik kita pulang saja. Lagipula Alvero sudah terluka cukup parah. Aku sudah meminta orang-orang itu yang akan mengantarnya. Sudahlah ayo kita pulang,” ungkap Viora lalu membantu Kelvin untuk berjalan sampai ke mobil.


Di dalam mobil Viora yang mengambil alih mengemudi. Ia tidak akan membiarkan Kelvin untuk yang melakukan semua itu.


Kelvin melirik istrinya yang sangat fokus memandang kedepan. “Sayang, kok kamu nggak biarin aku buat langsung bunuh Alvero? Masih cinta yah?”


Viora menggelengkan kepalanya lalu melirik kearah suaminya. “Bukan masalah itu. Kamu tahu aku tidak mencintainya. Aku hanya tidak ingin Pangeran, kalau sampai kamu berurusan dengan hukum maka percuma saja kita berbaikan. Lebih baik istirahatlah sebelum kita sampai ke rumah.”


Kelvin tidak lagi menanyakan apapun. Ia lebih memilih diam sebab dirinya juga sedang kesakitan dan untuk berdebat dengan istrinya rasanya ia sudah tidak sanggup.


***----------------------------***


Sekitar tiga puluh menit mereka telah kembali pulang dan tiba di kediamannya. Kelvin langsung turun di bantu oleh Viora dan juga scurity.


Tiba di kamarnya. Viora langsung mengambil kotak obat untuk mengobati suaminya. Dengan perlahan ia melepaskan baju Kelvin hingga ia telanjang dada.


“Tahan dikit yah,” ucap Viora.


Kelvin pun mengangguk seraya memandangi wajah istrinya. “Aw sakit!”

__ADS_1


“Tahan dikit, ihh kenak pukulan ngga sakit! Giliran di kasih obat sakit,” omel Viora seraya terus memberikan obat.


“Beneran sakit ... abisnya enak tahu lihat kamu perhatian gini,” goda Kelvin.


__ADS_2