
H A P P Y R E A D I N G
“Terimakasih, temanku,” sahut Alice dengan bahagia.
‘Bagus, langkah selanjutnya di mulai. Aku sudah tidak sabar menantinya,’ batin Alice.
Viora langsung mengiyakan ajakan Alice. Mereka pun memasuki ruangan itu. Alice langsung membawa Viora didepan laptop tapi, belum sempat Viora mencoba nyalakan laptop justru seseorang menepuk pundaknya sampai dirinya terkejut.
Orang itu dengan cepat mengeluarkan tisu serta korek api lalu langsung mengarahkan didepan mata Viora hingga dirinya tiba-tiba pingsan. Seorang ahli hipnotis juga peramal masa depan. Biasa di panggil dengan sebutan Madam. Alice mengetahui orang tersebut dari Bibi Karin.
Bibi Karin mengundang kenalannya di kampung untuk datang ke kota agar bisa memecahkan semua masalah yang sedang di hadapi oleh Alice dan Alvero. Madam langsung memulai aksinya.
“Loh! Kok malah pingsan? Bukannya dia akan di hipnotis?” tanya Alice penasaran.
“Yah benar tapi, tenanglah dulu, Alice. Sebaiknya kunci pintunya terlebih dahulu agar kita bisa lebih leluasa,” perintah Madam tersebut.
Alice langsung berlari untuk mengunci pintunya. Ia lalu kembali seraya membantu Viora untuk di dudukan.
“Kamu sudah siap?” tanya Madam itu.
“Sudah, Madam,” jawab Alice seraya memilih duduk di samping Viora.
Madam tersebut langsung membaca sebuah mantra begitu pelan sampai tidak terdengar. Ia lalu menepuk pundak Viora agar dirinya terjaga. Viora pun terjaga tapi, masih dalam kondisi dalam pengaruh hipnotis.
“Katakan dengan jujur tanpa adanya sedikitpun kebohongan yang akan di tanyakan oleh Alice. Ungkapkan dengan ikhlas tanpa takut dengan apapun,” ungkap Madam tersebut.
Madam itu langsung memberikan syarat agar Alice bisa langsung memulainya. Alice pun menarik nafasnya memburu.
“Aku Alice, temanmu. Apa kamu mengenalku?” tanya Alice.
“Ya kenal tapi, dia bukan temanku,” sahut Viora dalam keadaan terpengaruhi.
Alice langsung melototkan matanya seraya melihat kearah Madam tersebut. Dirinya di minta untuk terus melanjutkan pertanyaannya lagi.
“Sebenarnya apa hubunganmu dengan Bos di sini dan juga Alvero? Siapa yang akan kamu pilih di antara mereka?” tanya Alice melanjutkan.
“Bos di sini adalah suamiku, dan Alvero adalah pacar pelampiasan ku. Tentu saja aku memilih untuk bersama dengan suamiku,” ungkap Viora dengan mata memandang lurus kedepan.
‘Sialan! Benar-benar wanita ini berani sekali mempermainkan Pria yang aku cintai,’ batin Alice.
“Bagaimana hubungan rumah tanggamu? Apa kamu bahagia? Semenjak menikah apa suamimu bermain dengan kasar atau lembut di ranjang? Lalu bagaimana dengan Alvero, apa kalian juga pernah berhubungan badan?” tanya Alice kembali.
“Aku bahagia tapi, belum pernah sama sekali bermain di ranjang dengan suamiku begitupun dengan Alvero.”
“Oh begitu ... Jadi kapan akan melakukan hubungan suami istri tersebut? Dan, jika Alvero memintamu untuk bersama kembali apakah kamu mau?” Lagi-lagi Alice tidak hentinya bertanya.
“Rencananya besok kami akan pergi honeymoon. Tentu saja aku tidak akan mau kembali dengan Alvero,” jawab Viora dengan jelas.
Ada senyuman di balik raut wajah cantik Alice saat mendengar pernyataan bahwa Viora tidak akan mau kembali dengan Alvero.
“Alice, jangan lupa cari tahu mengenai orang yang mengejar kalian itu mana tahu dia mengetahuinya. Jangan terlalu banyak bertanya hal yang tidak terlalu penting,” ungkap Madam.
Alice pun mengangguk. “Apa kamu tahu dua orang yang berusaha untuk mengejar aku bersama dengan Alvero kemarin?”
“Ya, mereka adalah orang-orang bayaran dari suamiku,” ungkap Viora.
“Sialan! Madam, rasanya aku ingin mencekik wanita murahan ini sekarang juga. Dia bersama dengan suaminya benar-benar sudah keterlaluan!” geram Alice.
“Tenangkan dirimu, Alice. Fokuskan saja dengan apa yang ku perintahkan agar nanti masalahmu biar kita cari solusi,” ungkap Madam memperingati.
“Alasan apa sampai kalian mau membayar orang lain demi mengikuti ku?” tanya Alice.
“Karena aku tidak percaya dengan wanita sepertimu,” jawab Viora.
“Arghh! Madam aku sudah selesai. Jadi wanita murahan ini tidak bodoh juga tapi, sayangnya aku lebih pintar darinya,” ungkap Alice sambil melirik kearah Madam.
“Ingat, Alice. Menurut penglihatan ku wanita itu cukup pintar. Dia tidak bisa kita anggap remeh. Lihatlah dirinya bahkan bisa bermuka dua denganmu. Ya sudah kalau sudah selesai aku akan menyuruhnya kembali,” ungkap Madam seraya langsung di sambut anggukan oleh Alice.
Madam membaca sebuah mantra dengan bisikan, ia lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Viora. “Setelah tersadar kamu tidak akan bisa mengingat apapun, dan sekarang kembalilah keruangan mu. Lima menit kemudian kamu akan kembali normal, dan setelah itu lupakan semuanya yang telah kamu lihat saat ini.
Alice membuka kunci pintunya. Viora langsung berjalan dengan pandangan kosong, hingga akhirnya ia kembali kedalam ruangannya.
__ADS_1
Di dalam ruangan Viora. Dirinya tiba-tiba tersadar tapi, ia seperti merasakan pusing lalu memilih untuk duduk.
“Perasaan aku tadi masuk ke ruangan Alice tapi, kok sekarang aku udah di ruangan ku? Aduh ... Apa mungkin aku karena kelelahan jadinya sampai ketiduran dan tidak bisa mengingat apapun,” gumam Viora sambil memegang kepalanya.
Viora benar-benar tidak mengingat apapun. Dirinya memutuskan untuk meneguk minuman sampai akhirnya ia memilih untuk melanjutkan pekerjaan tanpa memusingkan apa-apa lagi.
...----------------...
Di ruangan Alice. Ia sedang menghitung uang untuk di bayar lewat muka kepada Madam. Uang hasil pemberian dari Alvero cukup banyak demi mendatangkan tamu istimewa mereka.
“Terimakasih, Alice. Ucapkan salam ku pada Karin, dan nanti jika kalian membutuhkan jasaku lagi maka jangan segan-segan untuk menghubungiku,” ungkap Madam seraya tersenyum.
“Sama-sama, Madam. Oh ya bolehkan aku meminta satu permintaan? Ini tidak menyangkut dengan wanita tadi ataupun Bibi Karin tapi, mengenai masa depanku. Bolehkan ramalkan masa depanku sekarang? Tapi, jujur aku tidak bisa membayar mu lagi karena aku juga tidak memiliki uang yang banyak,” pinta Alice.
“Tentu saja, aku akan melakukannya dengan cuma-cuma untukmu karena kamu pasti akan menjadi ladang uang untukku. Baiklah, tatap mataku, dan berikan tanganmu agar aku bisa menggenggamnya,” sahut Madam mengiyakan.
Alice menuruti sesuai perintah. Madam langsung menatap mata Alice beberapa saat lalu ia langsung melepaskannya.
Madam menarik nafasnya justru membuat Alice sedikit cemas.
“Katakan Madam apa yang kamu lihat barusan? Bagaimana masa depanku?” tanya Alice penasaran.
“Em kamu ingin jawaban yang jujur tapi, tidak mengenakan atau jawaban yang bohong?” tanya Madam dengan sengaja.
“Ya ampun ... Tentu saja dengan jawaban yang jujur. Ayolah aku ingin tahu," paksa Alice yang tidak sabaran.
“Baiklah. Di depan nanti hatimu akan tersakiti oleh cintamu sendiri. Tapi, kamu masih bisa memperbaikinya. Namun, hidupmu akan penuh cobaan juga kesedihan,” ungkap Madam dengan jelas.
“Ya ampun ... Sebegitu burukkah? Apa memang tidak ada masa depan yang baik untukku?” tanya Alice dengan ketakutan.
“Tentu ada tapi, kamu harus berkorban banyak hal. Ya sudah sebaiknya itu saja yang bisa ku katakan. Sudahlah jangan terlalu di pikirkan. Kalau begitu aku pergi dulu, dan sekali lagi terimakasih bayarannya," ungkap Madam yang langsung beranjak pergi meninggalkan perusahaan tersebut.
Alice gelisah dengan apa yang sudah ia dengar. Dirinya tidak tenang setelah mendengarnya bahkan ia mondar-mandir tanpa sebab.
“Bagiamana ini masa depanku buruk sekali? Ah sial! Harusnya aku tidak perlu menanyakannya, lalu sekarang justru aku yang sibuk sendiri. Sudahlah apapun terjadi di depan aku harus bisa memperbaikinya seperti yang sudah di katakan oleh Madam. Sebaiknya sekarang aku memberi laporan pada Alvero,” gumam Alice seraya mengeluarkan ponselnya.
Menunggu beberapa saat panggilan di jawab sampai panggilan ketiga baru akhirnya Alvero menjawabnya.
“Sabar sedikit. Aku juga sedang sibuk bekerja. Memangnya hari ini tentang apa yang kamu beritahukan padaku? Apa urusanmu dengan Madam sudah selesai?” tanya Alvero dari balik ponsel.
“Tentu saja sudah! Makanya aku menelepon mu. Ah ya satu hal ingin katanya kalau besok Viora dengan suaminya akan pergi honeymoon jadi, apa langkah selanjutnya yang harus kulakukan?” ungkap Alice seraya bertanya.
“Apa?! Mereka akan honeymoon?!” Alvero kaget dengan berteriak.
“Ayolah sudah wajar mereka melakukannya toh juga mereka suami istri jadi, tidak perlu berteriak seperti itu kupingku bisa tuli gara-gara mu,” omel Alice seraya memutarkan bola matanya.
“Tapi, aku tidak ingin mereka melakukan itu. Apalagi jika mereka sampai memiliki keturunan tentu saja aku sangat tidak terima,” ucap Alvero tidak suka.
“Yah ... Mau bagaimana lagi toh mereka sudah resmi. Oh ya, jangan lupakan bayaran ku ya,” pesan Alice sambil tersenyum.
“Tenang saja. Alice, sebaiknya hari ini minta pada Bos mu agar memberikan izin untukmu pulang lebih awal. Kita akan melakukan langkah selanjutnya jadi, ku pikir kita perlu persiapan dengan matang. Ku harap tidak ada bantahan,” perintah Alvero.
“Ya ampun ... Langkah apalagi? Bukankah kita hanya diskusi sampai langkah di sini saja baru setelah itu kamu mengejar Viora lagi? Jadi, perlu langkah apalagi? Duh ... Rasanya aku sangat lelah,” rengek Alice sambil menarik nafasnya.
“Ya awalnya ia tapi, saat ini tidak! Viora akan pergi honeymoon jadi, bagaimana bisa aku berdiam diri di sini, dan akan me jadi penonton untuk mereka. Tentu saja kita harus membuat langkah yang lain,” ungkap Alvero tidak ada hentinya.
“Ya-ya baiklah, terserah kamu saja. Aku akan mengikuti tujuanmu. Ya sudah teleponnya ku matikan yah, kerjaan juga di sini juga masih banyak. Daaa ....” Alice langsung mematikan ponselnya sebelah pihak.
Alice menarik nafas dengan panjang. Harinya begitu melelahkan. Belum lagi mengurus pekerjaan di tambah menjadi alat sebagai tangan kanan Alvero. Sungguh hari yang sulit demi bertahan hidup.
...----------------...
Pagi telah terlewati. Semua orang keluar dari perusahaan untuk beristirahat begitupun dengan Kelvin. Dirinya langsung menemui istrinya. Terlihat Viora sedang bersantai dengan mengotak-atik ponselnya. Kelvin langsung memasuki ruangan istrinya tanpa mengetuk pintu lagi.
“Hay gadis kecil. Keluar yuk cari makan,” ajak Kelvin.
“Oh ya udah yuk. Ini juga udah selesai main game,” sahut Viora mengiyakan.
“Seru banget yah main game sampai nggak ngajak aku,” ungkap Kelvin seraya mengacak rambut istrinya.
“Iya abisnya bosen ngga ngapa-ngapain. Lagian 'kan kerjaku cuma satu jadi selesai itu mending main game. Ya udah yuk kita langsung pergi pasti Pangeran udah laper,” tebak Viora sambil menggandeng tangan suaminya.
__ADS_1
Kelvin hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Mereka langsung keluar dengan tangan saling bergandengan. Kelvin menyadari hal itu. Namun, tidak dengan Viora. Ia tidak mengingat bahwa mereka sedang berada di perusahaan. Hingga akhirnya salah satu staf karyawan melihat sambil tersenyum baru akhirnya Viora tersadar.
“Pangeran, kenapa sih ngga kasih tahu aku kalau kita masih jam istirahat? Gimana nih ada karyawan yang lihat?” tanya Viora sedikit cemas.
“Ya mau bagaimana lagi, gadis kecil? Toh dia sudah melihatnya yah sudah jangan terlalu di hiraukan. Kamu itu adalah istriku jadi, jika pun kita terus bersembunyi yang ada nanti juga bakalan semua orang tahu,” jawab Kelvin dengan jelas.
“Tapi, mengenai peraturan di sini? Aku tidak ingin kamu di salahkan oleh karyawan sendiri apalagi kalau mereka demo bisa-bisa kariermu terancam, Pangeran,” ungkap Viora.
“Jangan terlalu banyak berpikir, gadis kecil. Lebih baik kita fokuskan saja dengan jalan didepan terus habis itu baru deh kita bahas apapun atau mau belanja apapun juga,” ucap Kelvin dengan penuh perhatian.
“Oh ya baiklah,” sahut Viora mengiyakan.
Mereka memilih makan siang di tempat yang sedikit jauh. Tidak seperti biasanya yang hanya makan siang dengan berjalan kaki. Namun, mereka memilih memakai mobil agar keromantisan bisa di lakukan seperti bergandengan tangan.
Kelvin langsung memesan makanan untuknya istrinya juga dirinya. Mereka tidak pedulikan apapun dan langsung melahapnya. Candaan terkadang ikut serta ditengah mereka.
“Gadis kecil, aku sudah tidak sabar lagi,” ungkap Kelvin sambil menyantap sajian.
“Maksudmu, Pangeran?” tanya Viora kebingungan.
“Nanti malam kita 'kan mau pergi honeymoon, gadis kecil. Kamu udah lupa ya?”
“Eh enggak kok! Lupa dikit sih,” sahut Viora seraya tersenyum kikuk.
Kelvin menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang istri. Mereka kembali melanjutkan makan siang sampai selesai. Jam kerja sudah menunjukkan agar mereka harus kembali.
“Balik yuk, gadis kecil,” ajak Kelvin.
Viora langsung mengiyakan sambil menggenggam tangan Kelvin. Mereka langsung keluar untuk kembali ke kantornya.
...----------------...
Sampai di perusahaan, semua orang sudah kembali fokus dengan kesibukan begitupun Kelvin dan Viora. Mereka telah memilih berpisah di depan ruangan masing-masing. Alice berjalan sendirian sambil membawakan buku kecil sebagai catatan jadwal pertemuan dengan klien. Alice langsung mengetuk pintu ruangan Kelvin.
“Masuk!” ucap Kelvin.
“Bos, hari ini kita ada jadwal dengan direktur dari perusahaan pertambangan. Mereka mengajak bertemu untuk membahas proyek kedepan yang akan kita bangun bersama,” ungkap Alice sambil membaca didepan Kelvin.
“Lalu apa ada lagi?” tanya Kelvin.
“Ada Bos, nanti malam acara party tunangan manager dari PT Freeport. Jadi dia mengundang kita untuk menghadiri acara tersebut. Oh ya, di dalam juga acara tersebut bahwa akan ada pelelangan besar-besaran mengenai harga tanam saham untuk program barang dalam negeri, jadi sebaiknya kita juga harus mengikutinya Bos, sebab itu juga menguntungkan apalagi sistem manajemen juga kita bisa bekerjasama apabila kita sanggup ikut,” ungkap Alice dengan panjang lebar.
“Jadi nanti hanya akan ada rapat dan nanti malam? Tolong batalkan jadwal ku nanti malam sebab aku sangat sibuk. Oh ya satu lagi aku juga ingin mengambil cuti sekitar seminggu ada urusan yang sangat istimewa yang harus ku lakukan,” perintah Kelvin.
“Tapi, Bos. Jika nanti malam Anda juga tidak ikut maka itu merugikan pihak kita sendiri sebab nanti tentu saja kita bertemu dengan para petinggi-petinggi lain di sana, dan Bos sendiri sebagai petinggi Perusahaan terbesar sekaligus memegang dua saham. Otomasi jejaring sosial perusahaan kita semakin besar dan lebih mudah untuk kita bekerjasama,” ucap Alice terus-menerus.
“Saya bilang tidak ikut ya tidak! Memangnya Anda yang menjadi Bos di sini hah? Sudah saya ingatkan bahwa saya tidak bisa ikut nanti malam jadi, saya pikir kamu harus ikut bersama staf karyawan lain untuk menggantikan saya yang berhalangan. Nanti akan saya kirimkan hadiah sebagai tanda maaf saya jadi, kamu tidak perlu mengatur saya,” tegas Kelvin.
“Ma-maaf Bos, saya tidak bermaksud untuk melawan perintah. Baiklah kalau begitu saya permisi dulu,” pamit Alice dengan mengangguk-anggukkan kepalanya seraya keluar.
Alice keluar dengan kesal, sepanjang ia berjalan menuju ruangannya ia kesal bahkan membentak karyawan yang sengaja menyapanya.
Di dalam ruangannya, ia mengomel sendirian. “Aduh ... Kalau kaya gini bisa gagal rencana Alvero. Sebaiknya aku harus mengabarinya.”
Alice mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Alvero. Tidak berapa lama langsung terjawab.
“Hallo, Alvero. Gimana nih Kelvin malah nggak mau datang ke pesta nanti malam. Gagal dong rencana kita,” ucap Alice yang telah menyerah.
“Tenang saja, jika itu tidak berhasil maka kita harus mencari jalan lagi melalui Viora. Aku punya ide cemerlang bersama dengan Madam, dia juga sudah di sini bersamaku,” ungkap Alvero bahagia.
“Wah lega sekali ... Akhirnya aku nggak harus capek-capek lagi,” sahut Alice sambil mengusap dadanya.
“Eh siapa yang bilang nggak capek. Sekarang pergi ke ruang Viora. Ajak dia ikut bersama denganmu. Ikut temenin apa kek gitu, pintar-pintar kamu deh,” perintah Alvero.
“Yah ... Kok harus aku lagi? Capek tahu! Mana baru habis di marahin lagi sama Bos,” ngeluh Alice.
“Udah sana ... Nanti aku kasih tambah gaji, janji pokoknya. Nanti madam akan ikut denganmu jadi, setelah mengajak Viora sebaiknya kamu langsung izin pulang lebih awal,” ucap Alvero.
“Okay deh, ya udah aku langsung ke ruang Viora yah. Pasti dia harus di bujuk lagi,” ucap Alice sambil mematikan teleponnya.
Alice ingin beranjak pergi. Namun, sebuah pesan dari Alvero membuatnya terhenti. Pesan yang berisikan sesuai rencana di kirim melalui email. Dengan senyuman terpancar di wajahnya Alice langsung berjalan ke ruang Viora.
__ADS_1