
H A P P Y R E A D I N G
Claudia pun pergi, sementara Steven hanya tersenyum sembari melambaikan tangannya walaupun Claudia tidak membalasnya.
Langkah malas pun Steven lakukan, ia benar-benar bernasib sial. “Bisa-bisa aku mati kedinginan apalagi makan dan tidur hanya bisa dua kali, ah sial!” gumam Steven sambil menendang apapun benda di depannya.
Senang karena sudah bertemu dengan Claudia, namun juga kesal dengan syarat konyol yang diberikan olehnya. Perasaan bercampur aduk, meski begitu ia memilih untuk langsung pulang ke kediamannya Kelvin.
...----------------...
(Kediaman Kelvin)
Steven memasuki kediaman itu dengan rasa malas, ia bahkan cemberut sepanjang ia berjalan. Namun, tidak sengaja Kelvin yang sedang membawa cemilan kearah Viora berhenti saat melihat temannya menyedihkan.
“Pulang-pulang langsung cemberut kaya enggak di kasih jatah! Kusut amat! Sana setrika biar enak dilihat tuh muka,” ledek Kelvin dengan sengaja sembari tersenyum.
Viora mendengar ucapan suaminya pun tersenyum sembari ikut-ikutan. “Iya nih. Cerita dong gimana tadi ketemunya lancar enggak? Udah baik 'kan enggak?”
“Jangan nanya gitu, Pookie. Kalau di lihat dari muka sih pasti abis di campakkan. Eh! Di buang sampai mana tadi? Ke laut atau disuruh bertapa ke hutan? Ha-ha-ha, udah ah yuk! Kita enak-enakan yuk!” ucap Kelvin yang tidak berakhlak terus meledek Steven.
Viora pun tersenyum sembari mengambil cemilan lalu duduk di pangkuan suaminya meskipun di depan Steven. Namun, berbeda dengan Steven yang sedari tadi sibuk terdiam kemudian mengambil cemilan dari tangan Viora tanpa memintanya.
Dengan nafas berat Steven pun memilih duduk dekat mereka. “Gue kesel!”
“Lo kenapa sih? lagi enggak waras ya?" tanya Kelvin dengan seenaknya.
“Kalian tahu, Claudia kasih gue hukuman ... Ha! Dia kaya mau bunuh gue pelan-pelan! Parahnya lagi jatah makan sama tidur gue cuma dua jam!” rengek Steven dengan teriakan bahkan memukul kepalanya sendiri.
Kelvin bersama Viora tercengang bahkan melirik satu sama lain. “Ha-ha-ha! Rasain emang enak! Tapi, saran gue ya kalau emang mau dia maafin Lo yah ... Nurut aja deh apa yang dia mau,” sahut Kelvin.
“Arrgh! Gue bakalan nurut kok masalahnya ... ah! Udahlah percuma kasih tahu sama kalian yang ada gue di ledek terus!” ketus Steven sembari bangkit dari duduknya lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
__ADS_1
Kelvin bersama Viora tersenyum melihat Steven gundah gulana seperti orang yang sedang putus asa. Namun, itu hanya sesaat Kelvin juga mencari kesempatan untuk merampas paksa milik Viora.
“Ehem! Pookie, main yuk!” ajak Kelvin.
“Main? Padahal tadi siang udah. Ihh kamu kebangetan deh masa sehari tiga kali. Pagi iya, siang juga, terus sekarang malem. Duh ... kalau begini terus yang ada kita lahir anak banyak nanti gara-gara kamu,” sahut Viora.
“Yah bagus dong jadi Istana kita ini enggak sepi, Pookie. Makan aja sehari tiga kali tentu dong aku mau makan kamu juga tiga kali. Supaya adil gitu biar enggak ada yang cemburu. Udah yuk! Buat Dedek bayi. Ah, sayang cepetan! Keburu Steven balik terus gangguin kita,” paksa Kelvin sembari menenggelamkan wajahnya di leher Viora.
Viora menarik nafasnya memburu. “Iya deh iya! Tapi, aku mau di atas, hehe.”
“Siap! Tuan Putri, ya udah yuk, Pookie.”
“Okay, Bookie.”
Kelvin langsung membopong tubuh Viora untuk dibawa masuk ke dalam kamar. Dan adengan enak-enakan pun terjadi.
...----------------...
Alvero yang sejak tadi ketiduran pun akhirnya terbangun. Ia merasakan tubuhnya ada yang menekan hingga akhirnya ia melirik dan melihat Alice sedang berada di sampingnya sembari kaki dan tangan memeluknya.
“Loh, Alice.” Alvero tersadar namun melihat Alice berada di sampingnya yang sudah pulas di alam mimpi.
Alvero menatap wajah Alice, lalu ia mengusapnya perlahan. ‘Setelah semuanya telah terjadi bahkan aku pernah mengusir mu tapi, lihat kita bahkan kembali bertemu. Berarti aku tahu kalau takdir memang tidak bisa di tolak namun, sayang aku bahkan bisa mencintaimu.’
Sentuhan dari Alvero membuat Alice bangkit dari tidurnya. Meskipun masih belum sepenuhnya mata terbuka tapi, Alice sekilas merasakan jika rambutnya sedang di sentuh. Saat itu pula Alvero menjauhkan tangannya.
“Hoaam! Udah jam berapa?” tanya Alice sambil menguap.
“Masih malem kok, udah tidur terus lagi,” sahut Alvero tanpa mengajaknya ribut.
“Malem? Oh ya perasaan tadi aku ngerasa kamu nyentuh rambut aku, ciee diam-diam suka ya,” ledek Alice sembari tersenyum.
__ADS_1
“Jangan kepedean!” ketus Alvero yang langsung bangkit dari samping Alice.
Alice kesal mendengar jawaban dari Alvero namun, meski begitu Alvero bahkan pergi keluar dari kamarnya meskipun sedang tengah malam.
Alvero yang tidak tahu harus kemana pun memutuskan untuk berjalan ke dapur berniat untuk minum. Cahaya lampu remang-remang sebab lampu di ruangan sengaja tidak dihidupkan meski begitu hanya tersisa lampu di teras dan belakang. Alvero terus berjalan namun, saat melewati beberapa kamar termasuk kamar milik orangtuanya juga tamu. Ia pun mengingat sesuatu.
‘Mami udah tidur, terus kotak yang sewaktu itu diambil sama Mami. Apa aku harus ambil lagi ya? Pasti ada sesuatu,’ batin Alvero sembari menatap ke kamar maminya.
Dengan berpikir panjang akhirnya Alvero memutuskan untuk mengambil. Berjalan pelan-pelan seperti maling dirinya pun membuka pintu sepelan mungkin agar orangtuanya tidak terbangun. Pintu pun terbuka, ia masuk sembari celingak-celinguk mencari keberadaan kotak tersebut. Melihat ke kolom ranjang, membuka lemari pakaian namun tetap tidak didapatkan. Belum merasa puas dengan pencariannya hingga akhirnya Alvero membuka sebuah laci yang tidak jauh dari sebelah mamanya tertidur. Ia membukanya sangat pelan hingga tarikan laci kedua akhirnya memperlihatkan sebuah kotak yang sudah ditebak kira-kira berumur panjang.
“Yes! Ketemu,’ batin Alvero.
Alvero pun membawa kotak tersebut keluar bersamaan dengannya tanpa lupa menutup pintu agar tidak menimbulkan kecurigaan. Ia lalu berlari kedalam kamarnya namun, beruntung Alice sudah kembali tertidur pulas. Mencari cari untuk membuka gembok kunci tapi, sial ia bahkan tidak bisa membukanya hingga akhir ia memutuskan untuk keluar menghampiri para scurity di luar.
Tiba di sana, Alvero langsung mengetuk pintu tempat mereka meskipun sedikit lama menunggu mereka bangun hingga akhirnya mereka keluar meskipun dalam keadaan mengantuk.
“Eh! Tuan, ada apa, Tuan? Hoaam!” tanya seorang Scurity sembari menguap.
“Bukain kotak ini bentar bisa enggak? Aku enggak ada alatnya,” sahut Alvero sambil menyerahkan kotak tersebut.
“Oh! Ini harus di ketok pakai palu besar nih. Emang Tuan perlu sekarang?”
“Kagak! Perlunya nanti pas gue mati, ya sekaranglah!” ketus Alvero.
“Eh! Anu, Tuan. Maaf, ya udah sebentar saya bukain.”
...----------------...
Sambil menunggu yuk kepoin novel Author yang lain.
__ADS_1