Terpaksa Menikahi Atasanku

Terpaksa Menikahi Atasanku
16~S3 Istriku. Gadis kecilku Idenya Bibi & Alice mengamuk


__ADS_3

(Kediaman Alvero Li Xizing)


Tiga hari kemudian.


Dokter sedang melepaskan perban yang terbungkus dari kaki Alvero. Ia sangat bahagia akhirnya kakinya sembuh dan tidak lagi merasakan sakit atau pegal karena lamanya berbaring. Ia sudah kembali bisa bergerak bebas.


“Silahkan Anda langsung coba berjalan,” pinta Dokter tersebut seraya tersenyum.


“Baik, Dok,” sahut Alvero mengiyakan.


Dengan pelan-pelan Alvero melangkah kaki lalu setelah itu dia loncat-loncat seperti bayi yang baru saja bergerak. Senyuman bahagia bukan cuma di rasakan olehnya tapi, juga di rasakan oleh pelayan-pelayan di kediamannya, seperti Bibi Karin sebagai kepala pelayan.


Layaknya seorang Ibu, Bibi Karin langsung memeluk anak yang selama ini sudah di asuh begitupun sebaliknya Alvero juga tidak segan atau merasa jijik meskipun memeluk seorang pelayan.


“Bi, lihat aku sudah sembuh!” ucap Alvero dengan begitu bahagia.


“Iya Bos, akhirnya Bos bisa jalan lagi dan ayo kejar cinta yang sempat tertunda,” sahut Bibi Karin yang sama bahagia.


Alvero hanya tersenyum mendengar apa yang di katakan oleh bibinya. Lalu seringai senyum keluar dari raut wajahnya. ‘Aku tidak akan melepaskan kekasihku begitu saja.’


Dokter yang masih di sana hanya bisa melihat kebahagiaan yang sedang terjadi. Lalu Alvero menyadari satu hal sampai ia tidak sadar bahwa Dokter juga masih ada.


“Oh ya Dok, terimakasih banyak atas bantuannya,” ucap Alvero seraya mengulurkan tangannya.


“Sama-sama, baiklah kalau begitu ini ada sedikit resep untuk membuat tubuh Anda kembali sehat setelah lama berbaring. Jadi kalau sudah saya permisi dulu,” sahut Dokter sembari memberikan kertas kecil.


“Baik Dok. Pak, tolong antar 'kan Dokter pulang,” pinta Alvero pada supir pribadinya.


“Baik, Bos.”


Semuanya sudah meninggalkan kamar Alvero hanya tersisa Bibi Karin, yang masih dengan setianya menunggu.


Bibi Karin mengusap rambut Alvero layaknya seperti anak sendiri meskipun ia selalu memanggil dengan sebutan Bos, karena ia tidak ingin melangkahi statusnya terlalu jauh.


“Bos, kalau saran saya lebih baik Bos kejar Viora dengan lebih hati-hati agar kejadian seperti ini tidak lagi terjadi. Yang ada nanti anakku ini kembali terluka,” saran Bibi Karin.


“Benarkan, Bi?” tanya Alvero kebingungan.


“Tentu saja, menurut yang saya lihat lawan Bos itu bukan orang biasa. Dia bahkan lebih kuat bahkan dia sampai melukai Bos cukup parah, jadi mulai sekarang Bos harus mempunyai strategi untuk mendapatkan kekasih Bos kembali,” ungkap Bibi Karin.


Alvero terdiam, ia mencoba mencerna semua yang telah di katakan oleh kepala pelayannya tersebut. ‘Jika aku kembali menyerang Kelvin pasti dia selalu bisa mengalahkan ku. Sudah dua kali aku di kalahkan olehnya. Sepertinya ide dari Bibi ada benarnya juga.


“Baiklah Bi, aku setuju dengan ide cemerlang itu. Jadi, awal mula aku harus melakukan apa?” tanya Alvero yang tidak sabaran.


“Begini, Bos harus mencari anggota bayaran untuk bisa melindungi diri, dan untuk melancarkan rencana ini. Kalau perlu Bos harus bisa masuk kedalam perusahaan lawan untuk menjatuhkan dia juga pelan-pelan. Jadi, apa Bos punya kenalan dari sana?” ungkap Bibi seraya bertanya.


“Kalau soal anggota bayaran mudah tinggal di kasih duit langsung ada berapapun yang kita mau. Nah masalahnya, untuk jadi mata-mata di dalam perusahaan Kelvin, aku nggak punya kenalan satupun. Rasanya memang aku juga ingin mengambil kekasihku kembali, dan menghancurkan perusahaannya,” ungkap Alvero dengan penuh harapan.

__ADS_1


“Bener Bos, tapi sudahlah sekarang fokuskan saja untuk mencari beberapa anggota setelah itu baru fokus untuk mencari mata-mata. Tempat yang cocok untuk mencari anggota bayaran, Bos harus ke Club. Yah ... itung-itung buat rileks pikiran tapi, ingat jangan sampai Bos mabuk-mabukan apalagi sampai tergoda dengan wanita,” ungkap Bibi Karin yang terus memberikan ide cemerlang.


“Wah! Ide bagus ... banget. Makasih ya Bi, selama ini udah mau selalu ada buat Bos muda ini. Meskipun Mama dan Papa selalu sibuk sampai tidak memperdulikan anaknya lagi, dan maaf kalau aku menjadi Anda hanya sebagai kepala pelayan tapi, sekarang aku janji Bibi mau jadi apa?” sahut Alvero penuh cinta seraya bertanya.


‘Asyik ... akhirnya aku naik jabatan. Meskipun Nyonya hanya memberiku kesempatan sebagai kepala pelayan maka sekarang aku akan naik jabatan sebagai pemberi nasehat. Aduh ngga sabar terima gaji banyak,’ batin Bibi Karin yang begitu gila pangkat.


“Sama-sama Bos, itu memang sudah kewajiban saya untuk merawat dan melindungi tuanku. Bos juga sudah seperti anakku sendiri jadi, Ibu pasti tidak akan membiarkan anaknya menderita. Kalau mengenai jabatan ... apa sebaiknya menjadi penasehat saja? Maaf kalau saya lancang,” kata Bibi Karin yang begitu cerdik.


Alvero sempat berpikir lalu tidak lama ia langsung menyetujuinya dengan anggukan. Bagaikan durian jatuh yang sudah lama di tunggu. Begitulah gembiranya Bibi Karin saat jabatannya naik lebih tinggi. Ia juga langsung memberikan pelukan kepada Alvero.


‘Yes! Aku bisa poya-poya sekaligus shopping sana sini, dan bisa arisan sama temen-temen ku,' batin Bibi Karin seraya memeluk Alvero.


“Jadi mulai sekarang Bibi ngga perlu lagi awasi bagian dapur dan juga pekerjaan lain di sini karena Bibiku ini hanya cukup berada di sampingku saat aku sedang buntu. Juga apapun yang akan ku ambil tindakan sebisa mungkin aku akan merundingkannya dulu. Bagian kepala pelayan yang baru Bibi bisa langsung pilih siapa yang ingin di pilih,” ungkap Alvero sambil tersenyum.


“Terimakasih banyak, Bos. Saya benar-benar tidak bisa berkata apapun lagi. Saya bahagia ... banget! Akhirnya bisa juga jadi kepercayaannya, Bos,” sahut Bibi Karin.


“Tentu saja, Bi. Kita adalah keluarga, aku juga sudah menganggap Bibi sebagai ibuku meskipun Bibi hanyalah penasehat di sini. Oh yah jangan panggil Bos dong, lagian kita ini sudah seperti keluarga. Panggil dengan sebutan namaku,” pinta Alvero dengan tulus.


“Baik, Alvero. Bibi akan selalu bersamamu. Ya sudah udah ngocehnya, makan gih. Pasti laper 'kan? Sejak kemarin kamu makanya dikit karena nahan sakit, jadi sekarang makan yang banyak,” ungkap Bibi Karin seraya menarik tangan majikannya.


“Haha baiklah, Bibi,” sahut Alvero menurut.


Mereka berdua langsung menuju ke ruang makan. Memang sudah seperti anak dan Ibu. Bibi Karin bahkan menyuapi Alvero dengan begitu lembut walaupun ia hanya ingin melakukan semua itu demi di pandang, dan untuk naik jabatan. Kepeduliannya hanya sebatas karena uang.


----------:::::::::::::::::::::::::::::::::::::---------


(Kediaman Pasutri)


“Udahlah gadis kecil, ngga usah kerja. Lagian ada aku di sini yang bakalan kasih nafkah buat kamu. Abisnya kemarin 'kan karena kita ribut, sekarang udah nggak jadi surat pengunduran diri itu aku terima, dan tidak perlu membayar denda, mengerti?” Kelvin terus berusaha membujuk.


“Aku ngga ngerti tuh! Udah ah jangan banyak ngoceh pagi-pagi, Pangeran. Yuk kita langsung kerja takut keburu telat soalnya aku juga ngga enak sama karyawan lain,” sahut Viora yang tidak ingin dengar omongan orang lain.


“Kamu bandel banget sih! Aku itu udah kasih enak loh. Tinggal duduk di rumah, makan enak terus uang bulanan dapet. Aneh deh sama kamu,” kesal Kelvin.


“Iya aku tahu kita udah baikan tapi, aku tuh yang ada terus-terusan males di rumah apalagi nih pendidikan aku sayang dong udah sekolah capek-capek. Lagian nanti di kantor kalau aku nggak kerja juga bisa tidur terus terima gaji jadi ... uang bulanan kamu tambahin dua kali lipat yah,” ungkap Viora dengan permintaannya seraya tersenyum kikuk.


Kelvin bingung harus mengatakan apalagi kepada istrinya. Dia memilih untuk berdiam dan menarik nafas panjang. Percuma terus menahannya yang ada jadi ribut.


“Ya udah deh serah! Kalau gitu yuk kita jalan,” ajak Kelvin seraya menggenggam tangan istrinya.


“Eh tunggu! Lepasin dulu tanganku, Pangeran.”


“Lah emangnya kenapa? Bukannya sudah seharusnya kita berjalan bersama sambil berpegangan tangan. Lalu masalahnya kenapa, gadis kecil? Jangan bilang kamu mau cari alasan biar bisa deket-deket sama Pria lain di kantor nanti,” tanya Kelvin curiga.


“Ihhh ... udah deh jangan cemburu gitu! Kamu itu CEO di sana masa sih peraturan sendiri nggak ingat! Yang pernah aku baca nih pas aku melamar kerja katanya nggak bisa bekerja sesama hubungan suami dan istri di sebabkan biar tidak lalai dan tidak sampai berhubungan di sana jadi, sebaiknya kita menjadi suami istri di dalam ruanganmu saja Pangeran, diluar seperti kekasih atau sekretaris biasa," ungkap Viora dengan jelas.


Kelvin mengangguk-anggukkan kepalanya, ia juga setuju dan hampir melupakan peraturan perusahaannya sendiri. Tapi, Kelvin juga memikirkan satu hal sampai membuat dia tidak berhenti terus tersenyum.

__ADS_1


“Ngapaian senyam-senyum, lagi mikirin apa?” tanya Viora sambil memicingkan matanya.


“Anu sayang, tadi kamu bilang kalau di ruangan ku, kita bisa jadi suami dan istri. Nanti aku bakalan sering-sering panggil kamu ya,” sahut Kelvin yang mencari kesempatan.


“Oh gitu ... ogah! Udah ah yuk kita pergi nanti yang ada telat,” ucap Viora seraya menarik lengan suaminya.


Kelvin tersenyum dan menurut apa yang di katakan oleh istrinya. Mereka langsung memasuki mobil dengan memakai supir pribadi, dan langsung menancap gas menuju ke perusahaan.


------:::::::::::::::::::::::::::::::::------


(Setiba di perusahaan)


Setiba mereka berdua di sana. Kelvin ingin menggandeng tangan istrinya tapi, ia mengurungkan niatnya itu lantaran mengingat peraturan yang sudah ada.


“Gadis kecil, nanti kalau ada apa-apa masuk aja ke ruangan ku yah,” ucap Kelvin.


“Baik, Pangeran," sahut Viora menurut.


Mereka langsung memasuki kantor dengan berjalan beriringan tanpa saling menggenggam. Ada yang melihatnya dengan senyuman karena beberapa adalah staf kantor yang lama sebab mereka juga pernah menghadiri pesta pernikahan bosnya. Namun, tidak dengan mereka-mereka yang belum lama ini bekerja bisa di bilang baru beberapa tahun.


Karyawan yang pernah termakan omongan orang lain melihat Viora berjalan dengan Bos mereka dengan tatapan sadis seperti ini menerkam mangsanya di depan. Namun, begitupun dengan Alice, sang sekretaris pertama yang tidak sengaja melihat pemandangan yang buruk.


“Berani banget dia pakai jalan barengan sama Bos. Aku aja ngga berani. Dasar! Wanita itu benar-benar tidak tahu malu sudah masuk kesini gara-gara kasih tubuhnya untuk Bos, malah sekarang berani-beraninya pasang muka sok cantik di depan. Cantikan juga aku,” omel Alice yang terus-menerus memperhatikan bosnya.


Semua orang menundukkan kepalanya saat Bos mereka melewati jalannya. Lalu Viora merasa dia bukanlah pemilik perusahaan hanya sekretaris kedua. Ia pun mundur perlahan-lahan dan langsung memasuki ruangannya sendiri meskipun ruangannya juga tidak terlalu jauh.


Alice menyadari jika Viora sudah berpisah dari bosnya, ia ingin sekali melabrak wanita itu. Lalu Alice berjalan dengan jalan tergesa-gesa.


Tanpa mengetuk pintu ruangan Viora. Dengan beraninya Alice memasuki ruangan tersebut, dan di ikuti oleh karyawan yang lain yang juga tidak sengaja melihat Alice masuk kesana. Sekitar tiga orang yang memasuki ruangan Viora.


Sambil melipatkan tangan dan melihat Viora seperti sampah menjijikkan. Ia langsung menarik rambut Viora tanpa aba-aba.


“Eh! Kamu itu benar-benar ngga tahu malu dan sopan santun yah. Kemarin kamu keluar dengan pakaian acak-acakan, dan sekarang kamu bahkan beraninya jalan bareng Bos!” geram Alice seraya terus menarik rambutnya.


“Kasih pelajaran aja, Alice. Wanita kaya dia emang harus dikasih pelajaran. Baru kerja sehari aja udah belagu terus kemarin-kemarin kamu sampai nggak kerja tiga hari tanpa adanya pemberitahuan sama sekali. Kamu pikir ini hotel! Yang bisa sesuka hati kapan mau liburan!” timpal Mony dengan kejam seraya mendorong kepala Viora.


Mony selaku staf karyawan. Ia juga adalah temannya Alice, meskipun jabatan Alice lebih tinggi namun, itu tidak membuatnya cemburu. Satu staf karyawan yang satunya tidak melakukan apapun kecuali menyaksikan apa yang terjadi.


Viora menahan kesakitan saat menerima tarikan rambutnya yang begitu sakit. Ia berusaha melepaskan tangan Alice. Namun, tenaganya sia-sia karena ia hanyalah sendirian.


“Awas kalian bakalan menyesal sudah memperlakukan aku seperti ini,” ancam Viora seraya memegang rambutnya.


“Wow ... jadi kami akan menyesalinya? Aduh guys bantuin ngakak yuk, ini orang udah masuk lewat pintu ngga bener terus sekarang malah beraninya ancam kita. Heh! Denger ya! Kami ini pekerja yang sudah bertahun-tahun di sini tapi, cara masuk kami murni ngga kaya wanita murahan kaya kamu! Terus sekarang berani banget pakai ancam kita-kita!” geram Alice dengan sadis.


Sekali Alice berbicara, sekali pula tarikan rambut Viora hingga ia meringis kesakitan. Mereka semua menertawai Viora yang sedang menahan amarahnya.


“Udah, Alice. Yuk kita pergi lama-lama di sini ngga cocok yang ada ketahuan lagi. Mendingan nanti kalau dia berulah lagi godain Bos, kita hajar di tempat yang sesuai,” ungkap Mony mengingatkan.

__ADS_1


“Okay, aku setuju. Dan kamu wanita murahan! Ini cuma peringatan, jika nanti kamu beraninya godain Bos kami lagi awas aja siap-siap kamu nggak bakalan betah kerja di sini. Yuk guys kita pergi.”


Alice bersama temannya langsung keluar dari ruangan itu. Sedangkan Viora menahan amarahnya, ia juga merapikan kembali rambutnya yang berantakan.


__ADS_2