
H A P P Y R E A D I N G
“Apa, Mam? Menikah? Tunggu dulu Mama, jangan langsung pergi,” refleks Alvero kaget sambil menatap wajah Alice.
“Aduh ... Sakit perutku, Mama kamu lucu ya. Rasain! Emang enak bakalan di nikahin!” ledek Alice sambil terus tertawa terpingkal-pingkal.
‘Hore ... Senangnya aku. Sekali dayung dua pulau di arungi. Bukan cuma menjadi pacar tapi, langsung di jodohkan. Ahh ... Ngga sia-sia jadi tunangan settingan. Akhirnya cita-citaku menjadi menantu bisa segera terwujud,’ batin Alice sambil tertawa melirik kearah Alvero.
“Apa Lo ketawa terus?! Seneng 'kan lihat gue menderita!” kesal Alvero.
“Bukan itu tapi, Mama kamu lucu kirain aku bakalan di marahin abis-abisan eh taunya malah suka dapet cucu,” sahut Alice dengan gembira.
”Serah deh. Yang penting kalau aku nikahin kamu. Viora tetap harus jadi istriku juga!” ancam Alvero seraya bangkit dari tidurnya.
‘Coba saja. Aku akan menggagalkan semua rencana mu itu. Siapapun tidak ada yang boleh mendapatkan mu selain aku,’ batin Alice.
“Kalau gitu aku turun duluan yah. Nggak enak sama calon mertua di tungguin sarapan.”
Alice langsung membersihkan dirinya terlebih dahulu lalu ia langsung menuju ke ruang makan. Calon mertuanya sudah menunggu sejak tadi bahkan mereka sudah memulai menyantap hidangan.
“Loh? Alvero mana? Nggak ikutan makan dia?” tanya Papa.
“Ikut kok, Om. Cuma dia lagi mandi dulu,” sahut Alice seraya langsung memilih duduk didepan calon mertua.
Mama Alvero terus melirik kearah Alice sampai akhir ia membuka suara setelah berdiam lumayan lama.
“Emm nak, siapa nama kamu?” tanya Mama Alvero.
“Alice Angely, Tante eh, calon mertua,” sahut Alice tanpa merasa malu.
“Terus kamu lulusan pendidikan apa?” tanya Calon mertua.
“Kebetulan saya lulusan pendidikan Strata-1 jurusan administrasi perkantoran, dan kebetulan saya bekerja sebagai sekretaris di perusahaan terkenal bahkan gajinya gede ... Banget! Tante,” ucap Alice dengan mantap.
‘Ya ampun ... Ini mau sarapan apa mau di interogasi? Dasar mertua cerewet! Cuek banget lagi cara tanyanya mana Alvero datangnya lama. Hadeuh ... Males lama-lama,’ batin Alice.
“Oh ... Gitu! Ya udah suruh datang orangtuamu buat kita bicarakan mengenai pernikahan kalian supaya saya bisa cepat-cepat dapat cucu,” perintah calon mertua.
“Emm maaf nih sebelumnya calon mertua. Orangtuaku sudah ... Anu, saya tinggal di-”
Ucapannya terhenti sebab Alvero langsung menyambung pertanyaan mamanya. “Orangtuanya kenak tsunami, Mam. Jadi sekarang mereka sudah pergi jauh. Makanya Alvero bawa Alice buat tinggal di sini sama kita tapi, nanti kalau Mama nggak mau yah Vero bisa tinggal sama Alice di apartemen aja.”
‘Aduh ... Untung aja Alvero cepat datang,’ batin Alice.
“Jadi begitu, ya sudah kamu berhubungan dengan anak saya sudah berapa lama? Apa kamu tahu makanan kesukaan anak saya ini? Lalu bagaimana kalian menikah jika kamu masih bekerja? Sebaiknya setelah menikah kamu tinggal di rumah urus suami,” tanya Mama panjang lebar sambil memerintah.
“Ya ampun ... Mam! Udah deh jangan bahas jauh terus. Alvero sama Alice masih nyaman tunangan aja jadi nanti aja deh nikahnya. Ngapain buru-buru yang ada kita tidak bisa menikmati masa muda 'kan sayangku?” Betapa manis Alvero menjawab.
“Iya, sayangku. Bener calon mertua. Biarkan kami menikmati masa muda dulu yah ... Walaupun saya juga mau di nikahi cepet-cepet sama Alvero,” ungkap Alice dengan malu-malu.
__ADS_1
Mata Alvero melotot mendengar jawaban dari Alice. Dia berusaha untuk tidak ingin menikah justru Alice menginginkan sebaliknya.
‘Awas kamu, Alice. Aku kasih pelajaran. Ah sial! Pasti Mama setuju nih,’ batin Alvero.
“Mama ngga mau tahu ya. Apalagi kalian udah Mama temukan sudah tidur bersama jadi, nggak ada bantahan secepatnya kalian harus menikah. Titik!” ungkap Mama dengan tegas.
Mama dan Papa selesai sarapan, mereka langsung meninggalkan Alvero bersama Alice. Saat keadaan sedang sepi Alvero langsung menarik tangan Alice membawa masuk kedalam kamarnya.
“Apasih, Alvero? Aku laper tahu! Lagi makan kamu main tarik-tarik aja,” kesal Alice.
“Kamu sengaja yah ngomong itu didepan mamaku supaya dia secepatnya nikahin kita iyakan? Aku nggak habis pikir sama kamu. Udah jelas-jelas aku itu sedang susun rencana buat bisa balik lagi sama Viora tapi, kamu malah sengaja ambil kesempatan ini. Aku udah pernah bilang kalau aku cuma cinta sama Viora bukan sama kamu. Kita itu terikat karena uang bukan hal lain. Males aku jadinya sekarang mendingan kamu pergi aja deh dari rumahku. Balik lagi kesana ke apartemen murah itu. Nyusahin tahu ada kamu di sini!,” usir Alvero tanpa memikirkan perasaannya.
‘Kenapa sih Alvero bicara semudah itu? Apa dia cuma mikirin tentang perasaan dia tanpa memikirkan perasaanku? Padahal aku sudah korbankan diriku untuknya bahkan keperawanan ku hilang olehnya lalu sekarang dia justru mengusirku,’ batin Alice.
“Baiklah kalau memang itu maumu. Aku akan kembali ke tempatku. Oh ya, terima kasih sudah mau menampungku walaupun aku tinggal di sini juga harus bayar uang makan perhari tapi, nggak apa-apalah yang penting aku udah ngerasain gimana nyamannya tinggal di rumah bak istana ini. Kalau begitu baiklah aku mau kemas-kemas dulu,” ungkap Alice pamit seraya beranjak meninggalkan Alvero yang masih berdiri mematung.
Kemudian Alvero mengikuti kemana langkah Alice berjalan. Ia pun memerhatikan Alice yang sedang berkemas. “Ya udah sana cepat beres-beres! Supaya mamaku nggak tahu kamu pergi. Oh ya bentar, ingat yah jangan ambil satu barang pun dari kamarmu. Kalau aku tahu ada yang hilang lihat aja kamu harus bayar!”
“Iya-iya aku paham. Aku nggak mungkin jadi maling kok masih sanggup aku cari kerja,” sahut Alice.
Sambil memasukkan barang-barang miliknya. Air matanya mengalir tanpa henti. Ia menangis dalam diam dan berusaha tidak terlihat oleh Alvero. Hatinya sakit setelah semuanya ia perjuangkan akhirnya segalanya harus ia tinggalkan. Layaknya di anggap maling Alvero berdiri gagah sambil terus menatap Alice.
‘Hatiku sangat senang mendengar kita akan di nikahkan tapi, dalam sekejap harapanku hilang. Pupus sudah harapanku. Segala impian sudah ada didepan mata. Ku menangis di dalam sepi. Ku takut menghadapi semua ia apalagi pekerjaan sudah tidak lagi ku miliki. Awalnya terasa begitu indah, serasa impian di depan mata. Namun, kini semua itu hanyalah sebatas nostalgia. Semua impian telah musnah tidak tersisa hanya rasa kecewa yang tertinggal menyesakkan dada. Alvero, apakah memang aku seperti sampah bagimu yang tercium busuk dan tidak berguna untukmu?’ batin Alice.
Alice telah selesai berkemas-kemas. Ia dengan cepat menghapus air matanya agar Alvero tidak melihat. Sambil menundukkan kepalanya ia beranjak pergi melewati Alvero yang masih berdiri mematung.
Setelah menjauh beberapa langkah Alice tiba-tiba berhenti. “Aku pergi dulu. Semoga nanti kamu bisa mendapatkan kembali kekasihmu. Oh ya, bilang pada mamamu aku pamit, dan aku juga menolak untuk di nikahkan denganmu. Baiklah, jaga dirimu baik-baik, Alvero.”
Di sisi lain Alvero menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak memusingkan apa yang sudah ia perbuat. Saat dirinya beranjak menuju ke kamar ibunya memanggil-manggil nama Alice. Sampai akhirnya Alvero pergi menemui ibunya.
“Mama! Sudahlah jangan lagi memanggil nama itu,” ungkap Alvero.
“Loh? Memangnya kenapa? Lagian Mama panggil calon istri kamu supaya kalian bisa langsung lihat costum,” sahut Mama bertanya kebingungan.
“Aku ngga akan nikah sama, Alice. Jadi pliss! Berhenti sebut nama itu lagi di sini, Mam. Mengenai Mama ingin cucu adopsi saja anak orang,” ungkap Alvero begitu gampang.
“Hey! Mana bisa seperti itu. Kamu pikir Mama sudi adopsi anak orang demi cucu! Lebih baik Mama memilih tidak memiliki cucu sama sekali. Ah benar-benar kamu telah berbohong banyak bahkan kamu membuat kegembiraan hati Mama hancur berkeping-keping,” sahut Mama sangat lebay.
‘Ya ampun ... Jika terus-menerus mendengarkan ucapan Mama di sini yang ada aku kehabisan nafas. Lebih baik aku pergi melihat kekasihku,’ batin Alvero.
“Ma, aku harus pergi jadi, semua ocehan Mama sebaiknya pendengar 'kan kepada Papa. Bye Mom,” pamit Alvero sambil melambaikan tangannya.
“Benar-benar anak itu mempermainkan aku,’ gumam Mama.
...----------------...
(Tiba di apartemen)
Alvero memarkirkan mobilnya dengan cepat. Ia sangat ingin melihat kekasihnya hingga dirinya terburu-buru. Keluar dari mobilnya dengan perasaan begitu bahagia sampai-sampai ia sengaja tidak masuk bekerja demi bertemu sang kekasih. Meskipun beberapa menit yang lalu ia baru saja menghadapi masalah dengan Alice serta ibunya.
__ADS_1
“Kekasihku, tunggu aku. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu denganmu,” gumam Alvero.
Dengan penuh semangat Alvero menekan tombol kunci apartemen miliknya. Ia masuk dan langsung menuju ke kamar di mana Viora di sekap.
“Aku kembali sayangku ....” Alvero sengaja memberi kejutan kedatangannya.
Betapa terkejutnya ia saat membuka pintu kamar sudah tidak ada seorangpun di sana.
“Viora! Di mana kamu?! Ah sial! Bagaimana bisa dia kabur dari sini? Sebaiknya aku harus memberi pelajaran kepada pelayan sialan itu. Mereka menjaga satu orang wanita saja tidak becus!” geram Alvero seraya beranjak keluar.
Dengan api kemarahan yang begitu besar. Ia keluar sambil mencari keberadaan dua pelayannya. Namun, sudah keliling semua ruangan tidak ada satu orang yang terlihat hingga akhirnya ia menemukan sebuah surat yang tergelatak di lantai.
Alvero dengan cepat membuka isi kertas tersebut. “Maaf, Tuan. Kami sudah lalai dalam bekerja jadi sebelum Anda menghukum lalu memecat kami sebaiknya kami memilih untuk pergi dan meninggalkan pekerjaan. Maaf, Nyonya keluar di bantu oleh seorang wanita yang tidak salah kami dengar namanya Claudia. Sekali lagi maafkan kami, dan tolong jangan hukum kami.”
Alvero membaca isi surat tersebut. Rahangnya mengeras setelah membacanya. Ia bahkan melemparkan kertas tersebut ke sembarang arah.
“Viora! Aku benar-benar kecewa denganmu! Dan kamu, Claudia. Aku akan mencari tahu siapa dirimu. Berani-beraninya kamu membantu kekasihku kabur. Kamu harus membayar semua ini,” geram Alvero.
Alvero sangat marah hingga dirinya tidak bisa berpikir jernih. Ia terduduk sambil terus memendam dendam yang begitu besar. Sesekali ia berteriak memanggil nama Viora sampai akhirnya ia mengingat seseorang yang sudah ada untuknya selama ini.
“Alice, asal kamu tahu. Tahanan kita telah kabur, dan juga kamu telah pergi dariku. Apa setelah ini aku bisa kembali mengambil Viora seorang diri? Meskipun ada Madam yang membantu tapi, aku merasa senang jika kamu ikut serta membantuku. Setidaknya kita selalu bertengkar dan itu justru membawa keceriaan buatku. Dengan adanya pertengkaran aneh kita sama-sama mengenali satu sama lain, maafkan aku,” gumam Alvero yang merasa kesedihan.
Ia memilih untuk berdiam diri di dalam apartemennya tanpa ingin pulang. Walaupun mamanya sudah menghubungi bahkan meminta sesuatu pesanan tapi, ia masih tidak melihat ponsel. Hanya melihat sekilas tanpa mau membukanya.
...----------------...
Di sisi lain, Alice tiba di apartemen miliknya. Semangatnya hilang apalagi setelah semua impian terkubur dalam-dalam. Menyeret koper dengan rasa malas. Lalu dirinya membuka ponsel namun, tidak ada satupun notifikasi. Hingga akhirnya ia memilih mengambil dompetnya.
“Bagaimana aku harus melanjutkan hidupku? Jika kembali bekerja ke perusahaan Kelvin justru bisa-bisa aku langsung di seret ke penjara. Ah sungguh malang, andai saja kedua temanku bisa kembali menerimaku lagi setidaknya aku bisa meminta bantuan untuk mendapat pekerjaan namun, sepertinya sudah tidak mungkin mereka mau berteman denganku. Ya ampun ... Uang dari Alvero juga hanya cukup untuk hidup selama sebulan,” gumam Alice sambil menghitung uangnya.
Alice merasa bersalah terhadap kedua temannya. Ingin kembali berteman pasti tidak mungkin hingga akhirnya ia memutuskan hari ini langsung mencari pekerjaan baru.
“Sepertinya aku tidak bisa terus berdiam diri di sini,” gumam Alice.
Tekadnya semakin kuat. Tanpa membereskan semua barang-barangnya terlebih dahulu ia sengaja untuk mengambil beberapa berkas yang akan ia gunakan untuk lamaran kerja. Dengan bergegas membenahi dirinya lalu ia langsung keluar berjalan kaki mencari pekerjaan.
Sudah sedikit jauh berjalan namun, satupun belum ia temui. Beberapa perusahaan yang ia datangi bahkan tidak membutuhkan lagi pegawai wanita apalagi ia ingin sekali melamar pekerjaan sebagai sekretaris seperti biasa ia lakukan. Panasnya terik matahari membuatnya kelelahan hingga tanpa terasa kepalanya sedikit pusing lantaran karena lamanya berjalan.
“Duh! Bisa-bisa aku pingsan nih. Capek banget jadi orang miskin. Tapi, kalau aku berhenti yang ada aku nggak bakalan bisa dapat kerja. Aku harus mencoba berjalan sedikit lagi, harus!”
Alice tidak peduli dengan tubuhnya yang sudah sangat kelelahan. Ia terus berjalan meskipun fisiknya sudah tidak sanggup lagi. Sampai akhirnya jalannya berhenti tiba-tiba hingga terjatuh pingsan. Beberapa orang lalu-lalang sembari melirik kearah Alice yang sudah tidak sadar bahkan karena kesibukan masing-masing sampai tidak punya waktu mengurusi urusan orang lain.
Alice sudah tergeletak tanpa ada yang menolongnya hingga seorang Pria datang yang tidak sengaja lewat di tempat itu. Mobilnya berhenti tidak jauh dari keberadaan Alice.
...****************...
Hay guys ... Author mau tahu nih kalian dari tim mana?
...Kelvin - Viora....
__ADS_1
...Alice - Alvero...
...Claudia - Steven....