
Happy reading
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Tubuh lemah Kelvin terbaring tak berdaya, dirinya banyak menderita setelah bertemu denganku. Aku sangat sedih melihatnya, andai saat ini rasa sakit bisa tertukar aku rela untuk menjadi penukar sakitnya agar dirinya bisa cepat pulih.
“Oh tidak! Aku lupa mengabari Zoya, bagaimanapun aku juga harus memberitahu ia tentang kondisi Kelvin,” gumam ku lalu mengambil ponsel.
Mengirimkan sebuah pesan singkat kepada Zoya, aku tidak mau menghubunginya karena takut dirinya juga akan terkejut. Sembari menunggu mereka datang aku melihat isi handphone Kelvin karena tidak lagi harus berbuat apa, setelah melihat-lihat di handphonenya tidak ada hal menarik tapi yang membuatku kesal photo milik Viora tersimpan di sana dan itu cukup banyak begitupun photo Zoya, penuh dengan gambar mereka berdua tapi tidak denganku.
Berniat menghapus semua gambar milik mereka namun pintu kamar rumah sakit terbuka dan terlihat Zoya bersama dengan Reiner datang. Mereka langsung mendekati Kelvin tapi aku sedikit ketakutan saat Reiner juga ikut-ikutan menjenguk.
“Apa yang sebenarnya terjadi pada Kelvin?” lirih Zoya.
“A–aku ... anu, Kelvin tertembak,” sahutku dengan sedikit ragu-ragu.
“Apa tertembak?! Bagaimana bisa Elie? Katakan cepat dengan jujur, ini sudah tidak bisa dibiarkan,” sambung Reiner tidak terima.
“Bri–brian datang ke kediaman Kelvin sebenarnya dia mencariku tapi ia justru menembak, dan juga aku sempat menusuk lengan dirinya agar Kelvin selamat jika tidak Brian sudah memotong habis leher Kelvin. Ada satu lagi korban saat itu, pelayan kediaman mati tertembak dan sekarang sedang di makamkan,” ucapku menceritakan semuanya.
PLAK! Sebuah tamparan keras mendarat di pipiku, rasa malu dan sakit menjadi satu. Zoya dengan murkanya berani menamparku tapi aku hanya diam tahu akan kesalahan, seharusnya memang aku terima lebih dari ini namun sebaliknya justru orang yang tidak bersalah menjadi korban.
“Kamu lihat akibat semua ulahmu dan sekarang kamu masih berani menunjukkan wajahmu di sini. Lebih baik kamu pergi! Jangan mengganggu hidup Kelvin lagi,” usir Zoya menyuruhku pergi.
“Aku tidak mau! Kamu juga bukan siapa-siapa Kelvin jadi mau aku tetap di sini itu bukan urusanmu,” sahutku dengan geram.
“Pergi Elie! Jangan sampai aku menyeret mu keluar dari sini, cepat pergi sebelum kesabaran ku habis,” bentak Reiner juga ingin aku pergi.
__ADS_1
“Argghh kalian berdua sama saja, awas kalian,” ancam ku lalu beranjak keluar dari ruangan tersebut.
Rasa malu dan sakit karena penghinaan ini tidak akan kubiarkan, kalian berdua tidak akan hidup tenang selama aku masih hidup. Kelvin ku yang malang sedang terbaring di sana tanpa bisa kutemui lagi, aku sangat menderita jika tidak bisa menemani Kelvin yang sedang kesakitan.
“Kali ini aku akan terima tapi nanti aku tidak akan terima kalian berdua mengusirku lagi,” gumam ku dari balik ruangan. Aku pergi meninggalkan rumah sakit dan berniat kembali ke kediaman Kelvin.
* * *
(Zoya Khalisa More)
Melihat orang yang juga ku sayangi sedang terbaring lemah tak berdaya, aku sangat kecewa pada diriku sendiri seharusnya dulu aku langsung membantah saat Kelvin membawa Elie masuk kedalam lingkaran hidupnya tapi terlambat, sekarang justru semuanya telah sia-sia, yang ku takutkan semuanya sudah terjadi apalagi Brian dia pasti tidak akan membiarkan Kelvin hidup tenang setelah terjadi semua ini.
Reiner merangkul tubuhku, ia pasti merasakan dengan apa yang sedang ku alami. Sedih dan amarah bercampur satu saat melihat semua ini terjadi pada sahabatku sendiri.
“Bee, aku mohon perketat penjagaan di ruangan ini, aku takut Brian ataupun Elie masuk dan berbuat sesuatu dengan Kelvin. Aku tidak mau Bee.”
Saat suamiku sedang mencoba menasehatiku, tiba-tiba aku melihat tangan Kelvin sedikit bergerak lalu ia perlahan membuka matanya. Dengan cepat aku mendekatinya.
“Z–Zoe ... Rei, aku di mana?” tanya Kelvin dalam kesadaran yang belum stabil.
“Kamu di rumah sakit Vin, sudah tenanglah jangan banyak bergerak dulu.”
“Aku ingat kalau waktu itu aku tertembak dan–”
“Ia Kelvin, kami sudah tahu itulah sebabnya aku menyuruhmu untuk berpikir jika ingin melindungi Elie tapi semuanya tidak akan terjadi lagi, aku yakin ... nanti biarkan kami yang mengatasi masalahmu dengan Brian yang penting saat ini kamu fokuskan dulu untuk kesembuhan. Maaf seharusnya dari dulu aku melarang mu berdekatan dengan siluman itu.”
“Sayang ... kamu juga harus tenang, jangan dulu berbicara terlalu berat pada Kelvin, ayo sini duduk dan biarkan dia istirahat. Vin sebaiknya istirahatlah,” ucap Reiner lalu membawaku duduk bersamanya di sofa.
__ADS_1
“Tidak apa-apa Rei, aku cukup paham dengan apa yang katakan Zoya, seharusnya aku memang tidak melakukan semua itu dan terimakasih sudah datang menjengukku,” sahut Kelvin.
“Sama-sama Vin, sudah seharusnya aku seperti ini dengan sahabatku sendiri. Setelah ini kamu harus tepati janjimu pilihlah wanita baik-baik, jika perlu aku siap membantumu.”
“Benar Vin, sebagai suami dari sahabatmu. Aku tidak akan marah lagi jika Zoya mencampuri masalahmu karena Elie benar-benar keterlaluan ini bukan lagi permainan tapi sudah menyangkut nyawa seseorang,” timpal Reiner yang juga ikut setuju.
“Terimakasih kalian benar-benar keluargaku, aku sangat lega sekarang,” ucap Kelvin bahagia.
“Yah Vin, istirahatlah.”
-----------------------------------------
(Brian Regan)
“Arrrghhh sial! Gara-gara Elie semuanya berantakan. Awas kamu sayang ... setelah aku menemukanmu kamu tidak akan bisa lagi lari bahkan meminta pertolongan di manapun! Aku akan membalas kesakitan yang telah kamu perbuat, dan untuk Kelvin, apa mungkin dia mati? Semoga saja tidak, aku telah berdosa membuat orang lain celaka tanpa bertanya.”
Aku mengamuk dengan kegilaan. Entah kenapa saat emosiku sudah berada di ambang batas, saat itu pula aku tidak bisa berpikir mana yang baik yang harus kulakukan. Saat ini aku sedang menjalani kesakitan yang amat sakit, bekas tusukan Elie begitu dalam hingga membuatku cedera dan tidak dapat menggerakkan tanganku.
Elie harus menanggung semua penderitaan yang telah ku alami, dia juga memfitnah Reiner dan istrinya. Aku harus meminta maaf lalu melihat bagaimana keadaan Kelvin. Tekad ku sudah bulat kali ini.
“Semoga mereka memaafkan aku dan mengobati diriku kenapa tidak bisa mengatasi semua emosi.”
* * *
Cintaku kau balas tuba, cintaku kau balas penghianatan. Setelah apa yang terjadi padaku lalu kamu justru menambah rasa sakit ini begitu dalam, haruskah aku membunuhmu agar aku bisa tenang? (Brian– Eliezer)
≈≈≈
__ADS_1
Guys jadi Brian hanya cedera bukan mati ckckck. Jangan lupakan kesan kalian, aku bakalan update banyak kalau bisa dapat dukungan terbanyak.