
Hari sudah senja aku sedang menunggu kepulangan suamiku, makanan kesukaannya juga sudah ku sediakan tapi kenapa sampai senja datang suamiku tetap belum pulang tidak seperti biasanya. Berulangkali aku melihat jam, sampai langit berubah menjadi gelap tetap belum ada tanda-tanda suamiku pulang.
Aku sangat gelisah berjalan mondar-mandir di depan pintu dan sesekali melihat kearah luar. Banyak mobil lalu-lalang melintas tapi tidak ada satupun tanda mobil masuk ke halaman rumahku.
'Kenapa aku melupakan ponsel, ya ponsel aku harus mengambilnya.'
Aku mencoba menghubunginya tapi nihil, nomor yang Anda tuju sedang diluar jangkauan cobalah beberapa saat lagi. Hanya kata operator ini yang terus terdengar, jam sudah memasuki pukul delapan malam tapi tetap tidak ada tanda Kedatangan suamiku.
'Aku harus menunggu sebentar lagi mungkin ia lembur tapi jika memang itu kenapa dia tidak menghubungiku dulu.'
Aku memutuskan untuk menunggunya di dalam, sampai aku tidak sadar ketiduran dan akhirnya terbangun. Jam sudah menunjukkan pukul dua belas lewat sangat lama aku tertidur. Aku bangun berjalan melangkah melihat keluar, mobil suamiku juga belum ada, rasa cemas dan gelisah ku semakin menjadi.
Brak! Sungguh aku sangat terkejut. Aku pergi melihat suara apa dan setelah kulihat photo kami berdua jatuh, pecahan kaca berhamburan sampai rusak parah, bagaimana bisa jatuh sendiri, perasaanku sangat tidak enak, apa mungkin suamiku telah terjadi sesuatu.
Aku terduduk lemah, tidak mungkin jika bukan terjadi apa-apa sampai sekarang ini suamiku belum juga pulang. Aku mengambil ponsel dan mencoba menghubungi Kelvin, setelah beberapa saat menunggu balasan. "Hallo, dimana kamu Vin?"
"Aku sedang di rumah Zoe ada apa?" ucap Kelvin dari balik ponselku. "Bisa kau datang sekarang ke rumahku, Reiner Vin sampai saat ini dia belum kembali!"
"Baiklah tenangkan dirimu Zoe aku akan segera menuju kesana." Tut ... Dan sambungan terputus.
Entah apa yang harus kulakukan lagi aku tidak tahu, aku sangat takut jika terjadi sesuatu dengannya, aku mencoba bangkit dan berjalan menuju Kamar berniat mengganti pakaian tidak mungkin pakaianku terbuka begini.
Beberapa saat aku menunggu terdengar suara mobil di halaman depan rumahku. Aku berlari dan membuka pintu ternyata Kelvin kupikir suamiku yang datang, aku mempersilahkan Kelvin masuk terlebih dahulu.
Aku menangis kepada Kelvin. "Sejak dari tadi pagi Reiner berangkat kerja sampai sekarang dia belum balik Vin, ini udah tengah malam dan lagi dia ngga biasanya seperti ini." Kelvin mencoba menenangkan ku. "Sabar Zoe biar aku coba menghubungi beberapa orang kantor ya."
__ADS_1
Kelvin menghubungi beberapa orang yang dikenalnya di Perusahaan suamiku tapi mereka tidak ada yang tahu dimana suamiku berada sekarang sampai ada yang bilang kalau hari ini ia tidak pergi ke Kantor dan tidak melihat surat izin darinya.
Aku terus menangis saat mendengarnya. "Vin bagaimana ini jelas-jelas tadi pagi ia pergi ke Kantor dan lagi kenapa bisa mereka bilang tidak."
Kelvin terdiam seperti sedang berpikir sesuatu. "Zoe bagaimana kalau kita mencarinya langsung dan lagi apa ponselnya bisa terhubung mungkin kita akan tahu keberadaannya." Aku menggelengkan kepalaku. "Tidak Vin, ponselnya tidak terhubung, ya sebaiknya kita mencoba mencarinya."
Kami bergegas memasuki mobil dan Kelvin mulai menjalankan mobil. Tujuan pertama kami mencari kearah perusahaannya, perlahan kami menyelusuri jalan tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan suamiku, mobil yang dibawanya juga tidak kami temukan. Hampir setiap jalan kami mencarinya tapi juga tidak menemukan. Kelvin pun sudah memutarkan arah mobilnya.
"Zoe bagaimana ini aku tidak yakin kalau Reiner akan pulang cepat, apa sebaiknya kau menginap di rumahku sementara sampai Reiner kembali?" ucap Kelvin.
"Baiklah Vin."
Aku terpaksa menyetujuinya apalagi mengingat diriku sekarang tidak mungkin berada sendirian di rumah. Kami akhirnya memutuskan untuk pulang.
Sudah dua hari lamanya suamiku tidak kembali, aku masih berada di rumah Kelvin, keluargaku juga sudah tau tak lagi mereka sedang mencarinya termaksud kami sudah melaporkan ke pihak berwajib.
'Di mana kamu mas kenapa Sampai saat ini kamu masih menghilang bagaimana nasibku.'
Seharusnya hari ini adalah jadwal periksa kandunganku tapi aku tidak berniat pergi sebelum aku dapat menemukan suamiku.
Kelvin pulang dari pekerjaannya, dia berlari ke arahku, membuatku kebingungan. "Kenapa Vin lari-lari jangan buat jantungku mendadak sakit lihat kamu!"
Kelvin menarik nafasnya memburu. "Sorry Zoe aku capek banget, bentar ya aku minum dulu ngga sanggup harus ngmong." Ia pun berjalan ke dapur.
Dia kembali lengkap dengan satu gelas air di tangannya dan duduk di sampingku. "Ada apa Vin jangan buat aku takut?"
__ADS_1
"Nggak, aku ingin tahu apa seseorang mengirimkan mu pesan atau menghubungimu?" ucap Kelvin.
"Tidak ada Vin memangnya kenapa?" aku kebingungan dengannya.
"Kau ingat saat aku menemui kalian dan kita membicarakan tentang masalah Elie yang akan bekerjasama denganku, aku berpikir jika ini ulahnya tapi jika memang benar kenapa dia tidak menghubungiku lagi maksudnya membuat kesepakatan denganku dulu?" ucap Kelvin penuh tanya tanya.
"Kau benar Vin tapi jika memang dia jelas dia akan memberitahukan mu dulu entahlah aku tidak ingin berpikir buruk untuk orang lain, apalagi aku sedang mengandung."
Kelvin merangkul ku. "Bersabarlah Zoe aku selalu disini akan membantumu dan menjagamu seperti janjiku dulu, siapapun yang menjadi penghalang untuk kalian aku akan siap berada di depan meskipun aku masih memiliki perasaan untukmu."
Aku menangis dan memeluk Kelvin, dia mencoba menenangkan, membelai rambutku entahlah jika Kelvin tidak di sisiku mungkin aku sudah mati mengingat beban yang sangat berat. Seharusnya sekarang kebahagiaan menghampiriku tapi kenapa kepedihan terus melalui hidupku. Aku menangis dalam pelukan Kelvin hingga aku ketiduran.
-------------------------------------------------
Elie kembali ketempat di mana Kelvin disekap, ia membawa beberapa makanan untuk Pria itu. Sampailah ia di sana.
Aku berjalan masuk menghampiri Kelvin, dia terlihat lemas, aku memegang wajahnya. "Hai sayang aku kembali lagi untukmu bagaimana kau pasti merindukan aku ya," ucapku dan satu kecupan untuknya.
Wajahnya berpaling dariku mencoba menghindari ciumanku. "Sayang kenapa kamu begitu jangan terlalu malu, oh bagaimana jika kita makan sebelum kita melewati hari yang menyenangkan."
"Ku pastikan kau akan menyesal Elie!" Reiner geram.
"Aww aku menyesal! Tidak Reiner justru aku bahagia saat ini, bisa melihat wajahmu ini sangat tampan semakin membuatku tergoda, ayolah kita nikmati hari yang panjang ini berdua bukankah tidak ada istrimu dan lagi kau pasti sangat lelah disini bagaimana kalau kita mandi bersama?"
"Jangan berharap lebih Elie!" ucap Reiner geram. Perlahan aku membuka baju satu persatu dan mencoba mendekatinya. "Kamu banyak omong sayang, aku tidak menyukainya aku hanya ingin denganmu bukan ucapanmu."
__ADS_1