Terpaksa Menikahi Atasanku

Terpaksa Menikahi Atasanku
14~ S2 kepergian ku ~ Steven pergi & Claudia menyendiri


__ADS_3

H A P P Y R E A D I N G


“Kakak benar-benar kehilangan akal. Perkataan mu membuat hatiku sakit!” geram Claudia.


“Tidak ada bedanya denganmu, kamu bahkan tidak menghargai tubuhmu sendiri. Lalu untuk apa aku menghargainya? Ayo kemari, ’lah biar ku perlihatkan sesuatu untukmu, lagian kita sama-sama sendiri,” ungkap Steven seraya menarik tangan Claudia.


Claudia sampai terjatuh kedalam pelukan kakaknya. Steven benar-benar tidak main-main dengan ucapannya, ia memang kesal dengan namun ia juga ingin memberikan adiknya pelajaran. Mata mereka bertemu begitu lama.


‘Di depanmu mungkin aku berkata mencintai Zoya, namun aku sadar cintaku untuknya tidak sebesar cintaku untukmu. Claudia, sejak kita masih SMA sebenarnya cintaku tetap ada untukmu sampai sekarang hanya saja kamu lebih memilih orang lain daripada aku, karena itulah aku menjadi alasan untuk melindungi mu. Kenapa sih kamu tidak melihat pengorbananku? Yang terlihat di matamu hanyalah Reiner bukan aku,’ batin Steven saat melihat mata Claudia.


‘Kakak, maafkan aku yang selalu merepotkan mu. Padahal berkat dirimu ada aku selalu merasa terlindungi, tapi aku begitu bodoh yang selalu membuat dirimu marah,’ batin Claudia yang juga melakukan hal yang sama.


Kedua saling memandang dan saling mengeluarkan isi hati masing-masing. Steven yang memang pernah menyatakan cinta untuk Claudia, tapi di tolak mentah-mentah hingga sekarang dia memang masih mencintai Claudia meskipun alasannya adalah menjadi kakak.


‘Jauh dari lubuk hatiku, aku ingin memeluk mu menjadikanmu istriku bukan adikku, bolehkah jika aku memperlihatkan cintaku sekarang? Mungkin ini adalah jalan untuk kamu berhenti mengharapkan cinta dari Reiner. Karena bagaimanapun dia tidak akan pernah melihatmu kecuali aku yang selalu setia menemanimu,’ batin Steven.


Steven masih menahan Claudia di dalam pelukannya. Ia tidak membiarkan adiknya bisa kabur. Perlahan Steven semakin mendekatkan wajahnya hingga dekat dan semakin dekat lalu akhirnya cupss! Mata Claudia melotot saat menyadari mereka telah saling berciuman, namun Steven tidak menghiraukan apapun ia terus membuat lawannya tidak bisa lepas dari bibirnya.


Mata Steven tertutup dan tangannya berada di belakangku untuk mengunci tubuh Claudia. Ia lalu semakin lama dan dalam hingga akhirnya. “Aku mencintaimu, Claudia.”


Steven mengatakan cintanya seperti masa SMA mereka. Bedanya tidak berciuman. Claudia memandang wajah Pria itu dengan emosi yang ia tahan lalu plak! Tamparan mendarat di wajah Steven.


“Ku pikir kamu memang menjadi kakakku tapi, ternyata kamu justru menjadi bumerang untukku,” ucap Claudia merasa kesal.


“Memangnya salah jika aku tidak menjadi kakakmu lagi? Salah jika aku kembali menginginkan perasaanmu seperti dulu? Sepertinya kita memang sudah tidak bisa terus seperti ini. Maafkan aku sebaiknya hentikan semua ini, biarkan kita menjadi teman biasa saja bukan menjadi adik-kakak lagi,” ungkap Steven dengan keputusannya.


“Arghh kenapa kakak terus seperti ini denganku? Ayolah aku ingin kita baik-baik saja,” sahut Claudia mencoba menahan Steven.


“Tidak ada lagi yang harus kita bicarakan. Aku tidak akan menjadi kakakmu lagi tapi aku akan tinggal di sini dan tetap memberikan kamu uang. Tapi, maaf jangan panggil aku sebagai kakakmu karena aku hanya ingin menjadi suamimu. Sudahlah lebih baik kamu keluar dari kamarku.” Steven lalu menarik tangan Claudia lalu ia menutup pintu.


Claudia berada di luar kamar, ia terus mengetuk pintu. Namun sayang Steven sudah tidak lagi ingin bertemu dengan adiknya dalam waktu dekat walaupun mereka tidak bersama.


’Maafkan aku, Claudia. Mungkin ini yang terbaik agar kita bisa tidak saling mengenal. Jika saat terbangun besok aku bukan lagi kakak untukmu,’ batin Steven.


***---------------------------------------***


(Stevenson)


Kringg ... Kringg .... Bunyi alarm terus menggema di dalam kamarku hingga membuat tidurku terganggu. Mentari pagi menyinari bumi. Hari telah berganti itu artinya aku harus kembali menjalankan rutinitas sehari-hari.


Semua kegiatan telah ku selesai kulakukan seperti mandi dan lain-lainnya. Semuanya sudah siap hanya tinggal berangkat untuk bekerja mencari nafkah.


Saat aku keluar dari kamar terlihat Claudia sudah berdiri lengkap dengan pakaian yang sudah rapi. Ia terus melihat kearahku meskipun aku sengaja membuang muka dan seakan tidak peduli ada orang lain di dekatku.


“Kakak, sudah siap? Ayo sarapan dulu aku sudah siapkan roti dan susu untukmu,” ungkap Claudia yang sengaja perhatian denganku.


“Tidak perlu aku sarapan di kantor nanti,” jawabku ketus tanpa peduli dia akan merajuk.


“Tapi kak, aku sudah membuatnya.” Claudia terus tidak ingin menyerah.


Tak ada jawaban dariku. Sengaja membuatnya merasa terabaikan. Aku langsung beranjak pergi meninggalkan Claudia yang masih menungguku untuk sarapan bersama tapi tetap tekad ku sudah bulat sebab sekarang kita hanya orang asing yang tidak sengaja sudah tinggal bersama.


‘Biarkanlah terus seperti ini, mungkin memang ini jalan yang terbaik sampai akhirnya nanti aku harus memilih pergi atau menjadi suami untuknya,’ batin Steven.


Dengan terburu-buru aku langsung meninggalkan Claudia, dan langsung menuju ke tempat kerjaku tanpa menunggu dirinya walaupun biasanya aku selalu berpergian bersamaan.

__ADS_1


Setibanya di kantor. Tidak ada semangat dalam diriku saat sedang bekerja, tidak seperti hari-hari yang lain. Rasanya hari ini begitu panjang. Banyak perdebatan yang sudah terjadi tapi tidak sesulit seperti sekarang hingga membuat konsentrasi ku kacau.


Saat sedang membuat sebuah laporan untuk di serahkan kepada atasan sampai aku salah menghitung jumlah setiap pengeluaran dalam seminggu untuk Perusahaan. Keteledoran ku ini hampir membuat Perusahaan celaka oleh ulahku.


Reiner hanya bisa menggelengkan kepala saat aku memberikan hasil laporan tersebut padanya. Untung saja dia tidak mengomeli ku.


“Steve, Lo kalau banyak pikiran mendingan urus masalah itu dulu jangan langsung fokus kerja, ya ada di sini kacau di sana tambah runyam,” ungkap Reiner seraya memberikan minum untukku.


“Gua bingung, Rei. Lo tahu sendiri kalau Claudia benar-benar buat gua kebingungan dengan tingkahnya itu,” curhatku.


“Sudahlah jangan terlalu di pikirkan, mendingan Lo berlibur deh supaya nenangin diri Lo sendiri. Gua punya saran sedikit kalau emang nggak mau berlibur gimana kalau mendingan jadian aja sama dia,” respon Reiner dengan idenya.


Aku tercengang mendengarnya, meskipun aku sudah pernah mencium Claudia tapi, bagaimana mungkin dia akan dengan mudahnya jadian denganku. Hanya menambah beban saja.


“Rei, ngga mudah. Lagian Claudia ngga cinta sama gua. Dia cuma suka sama Lo bukan buat gua.”


“Ya siapa tahukan dengan Lo bersikap seperti ini terus dia bakalan lihat perasaan Lo.” Reiner berbicara sesukanya.


“Ya ampun Rei, ini bukan soal perasaan tapi gua malu Rei, malu!”


‘Asal Lo tahu, gua udah cium orang yang udah gua anggap adik gua sendiri,’ batinku.


Reiner memicingkan matanya, entah apa yang hatinya sedang pikirkan untukku sekarang.


“Lo jujur sama gua, berhubung gua udah mau rela kasih waktu kerja gua buat Lo,” paksa Reiner.


“Udah deh ngga perlu, lagian sekarang gua mau lanjut kerja dulu permisi, Bos!” ucapku seraya pamit dengannya.


Tapi bukan Reiner namanya jika membiarkan orang lain tidak mendengar ucapannya dulu. Dia sengaja menghentikan jalanku hingga membuatku meliriknya sekilas.


‘Reiner benar, dia bahkan lebih tahu tentang gua ketimbang diri gua sendiri,’ batinku.


“Makasih Rei. Gua jujur gua emang pernah punya simpati buat Zoya, tapi gua cuma tertarik lihat dia punya kepribadian unik yang bahkan wanita lain susah ada seperti dia. Jadi gua sadar selama ini gua cuma terobsesi karena sifat baik dari istri Lo, padahal gua emang masih punya perasaan buat Claudia. Bahkan sampai saat ini pun gua masih cinta sama dia. Lo udah buka pikiran gua, seharusnya gua emang harus fokus dengan diri sendiri daripada mementingkan orang lain yang bahkan ngga peduli sama gua.”


“Bagus Brother, gua suka diri Lo yang seperti ini. Semoga setelah ini Claudia lihat semua cinta Lo buat dia. Kalau perlu Lo mendingan liburan deh sama siapa kek gitu temen Lo yang lain. Gua kasih izin cuti kok tiga hari tapi yah jangan lama-lama,” ungkap Reiner seraya tersenyum kikuk.


“Ide Lo bagus juga ngga rugi gua ada temen kaya Lo. Udah nggak malu-maluin di ajak jalan karena tampang ganteng terus sekarang Lo makin pinter. Aduh salut gua,” pujiku dengan berlebihan.


“Nggak usah alay Lo! Udah sana keluar dari ruangan gua. Muak tahu lihat muka Lo itu,” sahut Reiner seraya tersenyum.


“Aman, Bos!” Aku pun keluar dengan raut wajah tersenyum bahagia.


***------------------------------------***


(Enam bulan kemudian)


(Claudia Siregar)


Hatiku sakit saat melihat kakakku sudah tidak peduli dengan apa yang aku katakan bahkan memintanya untuk sarapan dia tetap tidak mau padahal aku sudah lelah membuatnya. Mulai dari itu sikap kakak semakin berubah, setiap harinya ia sering marah-marah dan bahkan ada yang tidak pulang hingga membuatku cemas.


Berhari-hari bahkan berbulan-bulan aku menunggu agar ia mau membuka mata melihatku lagi sebagai adiknya tapi, ternyata salah dia tetap tidak berubah. Setelah ciuman itu hubunganku bersama dengan Steven layaknya orang asing yang tidak saling mengenal satu sama lain. Tinggal bersama hanya karena dia sedang menunggu rumahnya selesai di buat.


Aku merasa bersalah, setelah semuanya terjadi hidupku semakin banyak masalah dan banyak mengalami kesialan. Berkali-kali aku melamar pekerjaan namun berkali-kali aku di tolak hanya karena alasan kemampuan ku tidak mencukupi.


Hari ini kakak pulang kerja, dan seperti biasa Steven berjalan melewati ku tanpa menyapaku sedikitpun.

__ADS_1


“Kakak,” sapa ku seraya mencoba membantu mengambil tas kerjanya. Namun, percuma dia bahkan melepaskan tanganku dengan kasar.


Tidak ada jawaban apapun bahkan Steven sangat kejam. Ia terlihat arrogant, sungguh membuatku ingin berteriak memanggil namanya dengan lantang. Tapi, sepertinya percuma pasti aku tidak akan di anggap ada di tempatku sendiri.


Aku sengaja mengintip apa yang ia perbuat, ternyata dia sedang berganti pakaian. “Aku harus masuk ke dalam, dan harus mengambil perhatiannya.”


Membuka pintu kamarnya perlahan-lahan lalu aku berdiri mematung dan melihatnya yang juga sedang menatapku.


“Siapa suruh Lo masuk ke kamar gua?!” tanya Steven dengan galak.


“Aku hanya ingin masuk, kakak. Lagipula aku sudah lama tidak menghabiskan waktuku di kamarmu.”


“Mendingan Lo keluar deh dari sini, males gua lihatnya!” bentak Steven tanpa kasian denganku.


Aku tidak keluar bahkan aku memilih rebahan di ranjang miliknya. Menahan rasa malu dengan muka tebal, meskipun aku ingin menangis saat mendengar ia mengusirku secara terang-terangan. Tapi, dengan sekuat tenaga hatiku menahannya.


“Lo tuli ya? Gua bilang keluar ya keluar! Oh ... atau Lo mau gua perkosa di sini? Lagian Lo juga udah sering, 'kan kasih tubuh Lo buat orang lain. Jadi kalau emang mau boleh aja sih gua bakalan bayar berapa harga diri Lo tapi, yang murah aja ya,” ucap Steven dengan mudahnya.


Hatiku begitu sakit saat dia menghinaku seperti ini. Aku hanya ingin bersama dengannya dan berbaikan bukan ingin di rendahkan. Perkataannya sungguh membuat air mataku jatuh.


“Udah deh ngga usah nangis, drama Lo basi tahu! Aneh ya didepan gua, Lo sok suci tapi didepan Reiner Lo bahkan memperlihatkan semua tubuh Lo itu bahkan dia sendiri nggak butuh tubuh murahan Lo itu.” Lagi-lagi Steven menghinaku.


“Cukup kak, cukup! Gua kesini cuma buat ngobrol baik-baik sama Lo bukan buat di hina! Gua masih jaga harga diri gua buktinya gua masih perawan. Gua salah apa sampai Lo musuhi dan jadi bahan hinaan buat Lo? Pikir kita adalah adik-kakak.”


Steven mengeraskan pipinya dan melangkah mendekat kearahku dengan bertelanjang dada. “Lo denger yah, Lo ngga salah apapun sama gua. Tapi gua, yang udah salah jatuh cinta sama wanita kaya Lo. Apa Lo pernah pikirin perasaan gua? Nggak, 'kan? Semenjak kita SMA gua mati-matian lindungi Lo sampai perasaan ini rela gua korbankan meskipun gua harus terus berpura-pura jadiin Lo adik gua. Itu semua karena gua punya perasaan!”


“Tapi kakak ngga pernah mengatakan semua itu sebelumnya denganku,” ucapku tidak percaya.


“Yah memang karena gua malu, cinta gua udah di tolak! Dan sekarang didepan, Lo berdiri seakan-akan Lo nggak pernah tahu. Okay fine ngga masalah kalau cinta ngga bisa Lo bales tapi setidaknya nasehat Lo denger! Semua itu buat Lo sendiri. Supaya harga diri Lo itu ada biar jangan kaya Elie busuk itu. Udahlah gua udah banyak ngoceh dari tadi sekarang minggir gua mau pergi dari sini.”


‘Kenapa aku begitu bodoh sampai tidak menyadari jika cinta dari kakakku begitu besar. Ya Tuhan, ampunilah aku, sudah terlalu banyak dosa yang ku perbuat,’ batinku.


Steven mengemasi semua barang-barangnya. Aku hanya melihat sembari menangis tanpa bisa mengatakan apapun lagi sebab memang seharusnya ini terjadi karena ulahku sendiri yang sudah membuat kakakku begitu marah. Lalu Steven menarik koper seraya melangkah mendekat kearahku.


“Claudia, mungkin ini terakhir kalinya kita saling mengenal. Gua harap Lo bisa jadi yang terbaik buat gua, dan terimakasih buat semua tumpangan di apartemen Lo. Maaf kalau selama gua di sini hidup Lo harus menderita dengan ocehan gua. Uang buat Lo bertahan hidup sementara udah gua transfer jadi sekarang gua bisa tenang pergi dari kehidupan Lo selamanya,” ucap Steven yang ingin berpisah denganku.


Dengan cepat aku memeluk tubuhnya, dan menangis sejadi mungkin. “Kakak, jangan pergi ... aku janji bakalan jadi adik yang baik buat kakak, tapi tolong jangan tinggalkan aku sendirian. Maafkan aku, ku mohon jangan tinggalkan aku ....”


Steven membalas pelukanku seraya mengusap rambutku. “Maafkan aku, tapi sekarang keputusan ku sudah bulat. Ini adalah satu-satunya cara agar aku tidak lagi menganggap bahwa kita adalah adik-kakak. Jangan bandel, dan jangan terlalu sering bermalam di Club, aku tidak ingin punya keponakan tanpa ayahnya. Baiklah lepaskan aku harus pergi jaga dirimu baik-baik.”


Aku tidak ingin melepaskan pelukanku tapi malangnya justru Steven sendiri yang melepaskannya. Mata Steven berkaca-kaca saat menatapku lalu ia perlahan mendekatkan dirinya dan setelah itu sebuah ciuman mendarat dengan begitu lembut dan mengesankan tepat di bibirku. Aku membalas ciumannya meskipun aku tahu dia sudah menjadi kakakku namun untuk yang terakhir kalinya aku pasrah.


‘Apa mungkin kakak ingin meninggalkan aku hanya karena tidak ingin kita menjadi adik-kakak lagi? Melainkan lebih dari itu,' batinku saat kami masih saling berciuman.


Steven perlahan melepaskan ciumannya. Dia adalah orang pertama yang mencuri ciuman pertamaku.


“Claudia, sudah aku harus pergi sekarang. Jaga dirimu baik-baik selamat tinggal.” Steven pun pamit lalu berjalan meninggalkanku.


Aku hanya mengangguk dan berusaha menggapainya tubuhnya. Dalam deraian air mata aku melepaskan kepergian orang yang selama ini sudah berjasa untukku.


‘Semoga kita bertemu kembali, kakak. Maafkan aku yang tidak bisa membalas cintamu,’ batinku yang masih melihat kepergiannya.


***----------***


Steven pun akhirnya pergi memilih jalannya sendiri. Ia akan selalu menyayangi Claudia sekalipun cinta tidak pernah ia dapatkan.

__ADS_1


‘Maafkan jika kepergian ku menyakiti hatimu. Tapi percayalah kelak ketika aku kembali kita bukan lagi menjadi adik-kakak melainkan sudah menyatu dalam ikatan suci hanya ada aku dan kamu,’ batin Steven.


__ADS_2