
Setelah lelahnya berbaring beberapa hari di rumah sakit, akhirnya suamiku bisa pulang. Kami sedang menuju untuk pulang sekaligus dengan Kelvin, dialah yang mengantar kami kerumah. Tidak butuh waktu lama akhirnya kami sampai di rumah. Keluarga dari pihak-pihak kami pun sudah berkumpul bersama. Mereka menunggu kedatangan kami.
Tangan suamiku yang sudah tidak terlalu parah, hanya butuh beberapa hari lagi tangannya sudah bisa digerakkan bebas, dan tentunya Perusahaan Daddy yang kelola. Kami masuk kedalam kecuali Kelvin, dia hanya mengantar kami sebab dia masih memiliki pekerjaan katanya. Keluargaku pun menyambut kami dengan semangat termasuk beberapa orang lain yang juga datang bersamaan dengan pihak keluarga.
Aku duduk di samping mami dan juga mertuaku, mereka duduk berdekatan, dan Reiner duduk dibagian lelaki. Aku pun berniat memberitahu keluarga jika kami mempunyai akan anak kembar. Aku mencoba memberi kode kearah suamiku tapi dia tidak mengerti hingga ku putuskan sendiri. "Mommy, aku ingin bicarakan hal penting," ucapku pada kedua mommyku ini, mereka menatapku bersamaan termasuk Reiner dan juga Daddy.
"Katakan sayang, ingin bicara apa?" ungkap Mommy. "Aku bingung kenapa semenjak kehamilan aku tidak pernah sedikitpun ngidam, apa Mommy tahu sebabnya apa?" tanyaku kebingungan.
Terlihat jika mereka sedang berpikir bersamaan. "Mungkin saja ada yang seperti itu nak, bayi terkadang ada yang tidak banyak tingkah dan justru ada yang sebaliknya, sampai-sampai membuat ibunya kewalahan," ungkap mertuaku.
Aku mengangguk tanda mengiyakan. "Mami pikir mungkin ada juga yang memang bayi hanya mengidam di usia kandungan tertentu, apa kandunganmu sudah masuk ke lima bulan?" ungkap Mami. Aku menggelengkan kepalaku.
"Nah mungkin itu, tapi Mami juga tidak tahu pasti, sebab saat aku mengandung mu sangat membuat aku dan papimu kewalahan, hampir setiap malam aku merengek ingin dibelikan apapun," ungkap Mami. Dan disambut gelar tawa oleh mereka semuanya.
__ADS_1
Aku pun ikut tertawa padahal mereka menertawakan aku sewaktu Mami mengandung. "Mom, kalian tahu jika bayiku ini kembar," ucapku sontak membuat mereka tercengang dan akhirnya memelukku.
"Wah Zoe, aku sangat senang mendengar sampai akan memiliki cucu dua sekaligus, jadi jika yang satunya sedang sibuk belajar bisa bermain dengan satunya lagi, aku tidak sabar menantinya sayang," ungkap mertuaku penuh kegembiraan, dan disertai yang lainnya memberikan selamat untukku.
"Jadi nak, kapan acara untuk menyambut kandungan mu ini, tentu kalian akan membuatnya bukan?" ucap Mami disertai anggukkan kepalaku. "Aku sudah memikirkannya jeng, jauh-jauh hari untuk menyambut calonku ini, cuma harus tertunda dikarena Reiner menghilang jadi nanti biar aku yang akan mengaturnya kembali, bagaimana jeng pendapatmu?" tanya mertuaku kepada mamiku.
"Aku sih setuju denganmu Lis, sebab aku juga sedang memikirkannya," ungkap Mami.
"Wah ... Bagus sekali jika begitu, jadi kapan Mommy acaranya dibuat, eh tapi jangan sekarang tunggu aku sampai sembuh total dulu" ungkap suamiku, aku tahu dia malu. "Kamu yang tenang Son, sudah pasti Mommy membuatnya saat kamu sembuh jadi jangan khawatir, aku juga kan mau anak dan menantuku ini bisa saling berbahagia, iyakan sayang?" Aku hanya menganggukkan kepala mengiyakan ucapan Mommy.
Pihak-pihak keluarga kami sudah pulang, aku sedang menyiapkan sarapan untuk aku dan suamiku, tiba-tiba ia datang dari belakang dan memelukku. Hingga membuatku sedikit terkejut. "Mas! Kamu kebiasaan deh datang-datang langsung meluk, aku kan kaget jangan nanti makanan tumpah gara-gara kamu," ungkapku kesal.
Suamiku terkekeh, dan tidak mau mengalah. "Ayolah sayang, gitu aja udah bawel kamu, aku cubit pipi kamu nih!" Ungkapnya sambil dia melakukan apa yang dikatakannya. Aku menghela nafas panjang melihat tingkahnya ini.
__ADS_1
Aku berjalan dia pun berjalan seraya tidak melepaskan pelukan darinya. Sampai semuanya sudah siap aku lakukan dia masih berada dibelakang ku seperti bayi besar yang ingin di gendong. Aku berbalik dan melihat kearahnya sampai wajah kami bertemu dengan sangat dekat. "Mau apa mas?" ucapku.
Dia bukan dulu menjawab justru memperlihatkan giginya yang putih bersih. "Mandikan aku sayang ... Kamu ngga kasian aku udah ngga mandi-mandi selama di rumah sakit, nanti kamu males dong ciumnya pas tidur."
Aku menghela nafas berat, pantas saja dia seperti ini ternyata tugasku belum selesai harus memandikan bayi besar ku ini, dia terus merengek seperti bayi sungguhan hingga membuatku melakukan apa yang diinginkannya. Wajar karena tangannya masih belum bebas untuk bisa digerakkan, jadi sebagai istri harus membantu dong. "Yasudah mas ayo mandi," ungkapku disambut senyum yang terus-menerus olehnya. 'Untung suamiku tampan jadi aku betah melihat senyumnya meskipun dia kadang ngeselin dan juga rewel.
Kami berjalan beriringan, aku memegang tangannya yang sedang sakit, terlebih dahulu aku membuka perban dibagian pergelangan tangannya. Dan setelah itu kami berjalan dengan menuju bathroom. Singkat kata ia sudah siap untuk dimandikan, setelah membantunya membuka pakaian. Tangannya yang masih sedikit luka tidak bisa terkena air jadi aku harus memandikan dengan sangat teliti. "Sayang kamu juga harus mandi dong jangan aku aja ...," aku menahan senyum dengannya meskipun sudah berstatus istrinya namun aku juga masih malu.
Singkat kata sampai semuanya selesai aku memandikan suamiku, termasuk denganku, dia hanya bisa melihat karena tangannya sakit. Aku tahu dia menahan diri untuk tidak menyentuhku. Selesai sudah tugasku, kami pun berjalan melangkah keluar, aku mengambil handuk dan mengelap badannya. "Apa mas senyam-senyum dari tadi" aku tahu pikirannya sedang mesum. Dan ternyata benar dirinya sudah berdiri tegap, aku menutup wajahku dengan tanganku karena malu, sebab wajahku tepat di depan itu.
"Sayang kenapa harus ditutup sih wajahmu, dia juga kan pengen lihat kamu?" ungkap suamiku. Aku pun bangun. "Ada-ada saja kamu mas, mana bisa dia lihat, diakan ngga punya mata" ucapku. Suamiku semakin mendekatkan dirinya. "Ayolah sayang, kau sudah tahukan, ayolah aku merindukanmu, mau ya sayang?" Reiner terus merengek seperti bayi. "Kenapa kau hanya diam sayang, kau lihat keadaanku tidak bisa tidak bisa langsung menerkam mu" ungkap suamiku, aku menahan senyum mendengarnya.
Aku terpaksa menuruti ucapannya, sebab itu juga sebagai pahala untuk kami berdua. Yang biasanya dia selalu memulai pertama tapi sekarang aku yang memulainya duluan. Aku mengambil langkah tapi juga dengan pelan sebab kandunganku masih sangat rentan, jadi aku sedikit takut. Suamiku membantunya agar aku mengimbangi setiap gerakan yang kubuat. Dan malam ini kami tertidur dalam mimpi yang indah. Dan terbangun dengan kebahagiaan yang serupa.
__ADS_1
*******
Dirimu adalah hal terbaik yang dikirimkan Tuhan untukku. Jangan pernah menyerah karena aku akan selalu ada di sampingmu. Dan selalu menemani hari-harimu baik luka maupun bahagia kita akan berjuang bersama.