
Happy Reading
(Claudia Siregar)
Aku sedikit prihatin saat mendengar curhatan dari kakak sepupuku. Hidupnya yang kupikir sangat bahagia ternyata tidak jauh berbeda dengan kisahku mempunyai kekelaman yang begitu dalam.
“Aku turut sedih kak, lalu kenapa kamu bilang namamu Eliezer? Yang aku tahu hanya Elina.”
Kakak menggandeng tanganku lalu kami duduk di sebuah sofa panjang di toko tersebut.
“Begini, awalnya aku tidak ingin namaku di ganti tapi Mama tidak mau identitas asli kami terungkap dari pihak Papa karena kami semua takut kalau mereka sampai mengetahui kita orang rendahan hingga akhirnya namaku di ganti menjadi Eliezer itulah sebabnya aku tidak ingat lagi kapan terakhir orang panggil namaku yang dulu,” curhat Elie.
“Pantas saja kak, saat aku memanggilmu tadi sampai nggak tahu. Ya sudah mulai sekarang aku akan memanggilmu Eliezer. Akhirnya kita bisa ketemu lagi aku seneng banget,” ucapku seraya memeluknya.
“Iya Claudia, kakak juga seneng banget. By the way kamu kesini sama siapa? Kok dari tadi aku nggak lihat orang lain sama kamu.”
“Ah itu, aku datengnya sama Steven, dia lagi di sebelah sana. Kakak ingatkan Steven yang dulu sering ngerjain kakak terus tiba-tiba kalian ribut sampai saling adu mulut,” ungkapku seraya menceritakan memory lama.
“Steven? Bentar kayanya sih ingat tapi ... wah Stevenson yah? Yang suka jahil sama aku sampai buat aku kesal setengah mati. Kok bisa sama dia kesini, Cieee ngaku pacaran yah kalian?” ledek Elie mencoba merayuku.
“Ihhh ngga! Aku itu sama dia adik–kakak. Pokoknya ceritanya panjang deh, ya udah yuk kita kesana temuin dia,” ajakku seraya menggandeng tangannya.
Elie hanya mengangguk, dari jarak tidak jauh kami sedang melihat Steven yang sedang memilih beberapa jas yang cocok untuknya. Berjalan perlahan-lahan berniat membuat ia terkejut hingga akhirnya.
“Baaa! Hahaha, serius banget milih jasnya,” candaku berusaha mengganggu yang ia kerjakan.
__ADS_1
“Eh! Bikin kaget aja. Udah kelar pilih-pilihnya?” tanya Steven dengan serius yang masih tidak sadar kalau seorang wanita sedang berusaha berdiri didekatnya.
“Udah entar lagi, jadi sekarang gua mau kenalin lo sama seseorang yang dulu pernah ada waktu buat Lo? Di samping kita ini, dia ... Kak Elina, yang dulu sering kamu kerjain, inget ngga?”
Terlihat Steven berpikir sembari melihat kearah Eliezer, ia mungkin saja mengingat momen-momen penting saat ia bersama dengan kakakku. Tiba-tiba raut wajahnya ceria dan ingin senyum.
“Elina yang cengeng itu terus suka mengadu itukan?! Wah gua bener nggak nyangka bisa ketemu Lo di sini, El ... gua kangen pengen ngerjain Lo lagi,” ucap Steven dengan gembira seraya memeluk Elie dengan erat.
“Steven! Aku se–sesak lepasin ....” Protes Elie saat ia mendapat pelukan yang begitu erat.
“Hehe maaf El, gua seneng banget bisa ketemu sama Lo lagi. Aduh ... gimana kalau kita curhat-curhat? Tapi sebelum itu kita belanja yuk. El, Lo pilih deh bareng Claudia apa yang Lo mau gratis gua bayarin.”
“Wah asyik ... ayo Claudia, kita serbu!” teriak Elie seraya menarik tanganku.
Lalu setelah semuanya selesai aku mengajak Elie untuk mampir di apartemenku sampai dia curhat kalau sekarang dia tidak ada tempat tinggal hanya bisa berpindah-pindah dari satu hotel ke hotel yang lain karena ketakutan oleh mantan suaminya yang sedang berusaha untuk mengejarnya. Betapa malangnya hidup Elie saat aku mendengar ceritanya harus selalu menderita. Ia telah mengalami banyak hal pahit, memiliki keluarga yang akhirnya orang lain yang membuat keluarganya hancur hingga memiliki mantan suami yang seorang piscyo. Semuanya ia ceritakan saat kami sedang menuju jalan pulang.
“Kak, aku turut bersedih mendengar semua ceritamu, tapi kamu tenang aku selalu ada di pihak kakak karena aku tidak ingin melihat kakak menderita lagi,” ucapku seraya mengusap-usap bahunya.
“Makasih Clau, aku memang sudah tidak tahan lagi hidup sendirian tanpa keluarga namun sekarang aku senang ada kalian bersamaku,” sahut Elie bahagia.
“Iya kak, aku sama Steven bakalan jadi keluarga kakak dan sekarang kakak bisa tinggal di apartemenku yah meskipun kamarnya cuma dua tapi nggak masalah kita bisa berbagi kamar.”
“El, bener kata Claudia, kalau sekarang kamu jangan sedih lagi apalagi jika terus mengingat tentang mantan suamimu itu. Jika dia sampai berani melakukan hal buruk padamu kami akan membantumu,” timpal Steven yang juga tidak ingin mengalah mencoba menguatkan Elie.
“Duh ... aku bahagia banget sekarang udah punya kalian yang jadi keluargaku, by the way kok kalian bisa belanja gaun sama jas mahal kayak gini? Kaya mau ke pesta,” tanya Elie penasaran.
__ADS_1
“Oh itu, temen dari sahabatku adain pesta ulangtahun yah ngga mungkin kita berdua pakai baju yang lama, malu dong!” jawab Steven dengan gaya gengsinya.
“Seru dong! Pestanya di mana? Duh aku bisa ikutan ngga?” tanya Elie dengan antuasias.
“Boleh, kayaknya Zoya ngga bakalan larang kalau satu saudara kita ikut, bener nggak Steven?” tanyaku berusaha memastikan.
“Iya bener, teman kami pasti nggak bakalan marah kamu datang lagian El nanti malam kamu pasti bosen kalau sendirian di apartemen terus,” timpal Steven yang masih sibuk menyetir.
“Eh ngga usah, kayaknya aku nggak bisa ikut soalnya aku juga ada janji sama partner kerjaku dia adain pertemuan, duh aku bisa-bisanya lupa,” jawab Elie menolak dengan halus.
“Gitu! Ya udah kak, ngga apa-apa kok kirain kakak ngga ada kesibukan.”
Elie tersenyum tanpa mengeluarkan suara berbeda dengan Steven yang mulai fokus menghadap ke depan hingga tidak ada lagi percakapan antara kami. Begitupun denganku yang sudah sibuk memainkan gadget.
---------------------------------------
(Eliezer)
Tidak disangka kedua orang yang sudah menganggapku saudara ternyata memiliki hubungan yang baik dengan Zoya, sungguh membuatku bingung kenapa mereka bisa saling kenal satu sama lain. Jelas-jelas mereka semua berasal dari Negera yang berbeda apalagi Zoya sendiri tidak cepat bergaul dengan sembarangan orang.
Aku penasaran pesta siapa yang akan Zoya gelar, apa mungkin Kelvin atau temannya yang satu lagi? Tapi bagaimanapun itu aku harus tahu. Dan mereka tidak boleh tahu kalau aku kenal dengan Zoya.
* * * *
Jika aku pernah gagal memiliki cinta tapi sekarang aku tidak akan gagal dan terus berusaha dengan cinta yang harus ku miliki sekalipun itu menyangkut dengan kematian. (Eliezer–Kelvin)
__ADS_1