
Tepat pukul tiga pagi Alex sampai di apartment Rania. Alex masuk setelah menekan tombol password.
"Baby," panggil Rania.
Rania sengaja menunggu Alex di sofa ruang tamu.
"Ada apa Baby, kenapa tidak tidur?" tanya Alex.
Membelai rambut panjang Rania.
"Aku... takut Baby," ucap Rania. Merengek dan segera memeluk Alex.
"Hei... apa yang kau takutkan?" tanya Alex lagi. Yang membalas pelukan Rania.
"Tadi... mati lampu disini. Kau kan tau kalau aku takut gelap. Bisakah kau temani aku tidur Baby," ucap Rania manja.
"Sekarang... tidak usah takut, aku akan menemanimu Baby," ucap Alex.
"Tapi... sekarang rasa kantuk ku sudah hilang," ucap Rania.
"Hemmm... sepertinya aku harus membuatmu tertidur," ucap Alex. Tersenyum jahil.
"Kau... jangan menggodaku," ucap Rania. Mendusel wajahnya di dada Alex.
"Kalau... kau seperti ini, maka kau yang telah menggodaku Baby," ucap Alex. Mengedipkan sebelah matanya.
Alex dan Rania saling menatap, entah siapa yang memulai bibir mereka kini sudah menyatu. Alek melu**t, meny**ap serta men**git kecil-kecil bibir Rania. Lidah Alek menerobos masuk kedalam m**t. Mengabsen seluruh yang ada di dalamnya, begitu juga Rania dia membalas semua perlakuan Alex padanya.
Alex melepas pa**tan bibirnya untuk sekadar mengambil oksigen, untuk bernafas sebentar dan memulai kembali cu**uan lembut.
Kaki Rania sudah melingkar di pinggang Alex. Berjalan ke arah kamar dengan menggendong Rania di depan tanpa melepas pa**tan bibir keduanya.
Brakk...."
Pintu di tendang oleh Alex agar terbuka.
Alex menurunkan secara perlahan-lahan tubuh Rania ke kasur. Alex melepas pakaiannya dan juga pakaian Rania lalu membuangnya secara sembarangan.
Alex menindih tu**h Rania, mencium, menji**t area sensitif milik wanita itu.
Rania menger**ng nikmat tak kala Alex sudah melalukan penyatuanya. Hentakan hentakan yang di lakukan Alex membuatnya men**sah di bawah kungkungan Alex.
Alex hanya tersenyum mendengar suara de**han Rania dia terus memaju mundurkan tubuhnya hingga akhirnya mencapai klimaks.
Alex terbaring lelah di samping Rania. Pria itu segera memunguti pakaian yang tadi sempat dibuangnya dan segera memakainya.
Jam sudah menunjukan pukul lima pagi, dirinya harus pulang kerumah dengan segera.
Jika ayahnya tahu dirinya tidak tidur dirumah maka tamatlah riwayatnya.
__ADS_1
"Baby... aku pulang sekarang," ucap Alex. Mengelus puncak kepala dan menyelimuti tubuh polos Rania.
Rania tidak merespon perkataan Alex, dia sudah lelah akan aktifitas panas yang barusan terjadi hingga dengan cepat tertidur.
Alex segera melajukan mobil ke mansion ayahnya. Dirinya berharap pak Tua itu masih tertidur di kamarnya.
Sepertinya nasib beruntung tidak memihak Alex kali ini. Tepat setelah kakinya menginjakkan ke pintu masuk mansion suara mengelegar sang ayah memanggil namanya sudah terdengar.
Habislah kali ini kau Alex, batin Alex.
"Darimana kau Alex?" tanya Tuan Wiliam. Menatap tajam wajah Alex.
Ayah bisakah mata mu itu tidak setajam itu menatapku, kau seperti ingin menguliti aku saja, batin Alex.
"Hemm... aku dari tempat Vino. kami berkumpul bersama Ayah," sahut Alex. Menunduk tidak berani menatap wajah sang Ayah.
"Jangan... bohong Alex dan tatap wajahku ini!" bentak Tuan William.
Alex mendongak untuk melihat wajah Ayahnya.
"Benar... Ayah, aku tidak bohong," ucap Alex. Membela diri
Pleasa Ayah aku bukanlah anak sekolahan lagi umurku 27 tahun tapi kau seperti mengintrogasi anak SMA, batin Alex.
"Ingat... Alex, sebulan lagi acara pernikahanmu. Dan kau harus segera membuang semua kebiasaan burukmu itu. Dan satu lagi selama mempersiapkan acara pernikahanmu kau tidak boleh membuat masalah. Jangan menghancurkan reputasi keluarga kita, Ayah akan segera mengumumkan pernikahanmu setelah kita bertemu keluarga Wijaya. Satu lagi jangan pernah kau berhubungan dengan wanita itu. Jika kau masih melakukannya, kau tahu sendiri apa yang akan terjadi pada wanita itu," ucap Tuan Wiliam. Memperingati Alex.
"Iya... Ayah, tenang saja aku tidak akan macam-macam," ucap Alex tegas.
Dan segera berlalu dari hadapan Alex.
Huff pagi-pagi sudah di semprot omelan, batin Alex.
Alex mengacak acak rambutnya frustrasi memikirkan nasib percintaannya. Lebih baik dirinya segera istirahat.
Semalaman tidak beristirahat dari mengintip mantan kekasihnya setelah itu bercinta dengan wanitanya sungguh membuat dirinya lelah.
*****
Pagi pun menjelang keluarga Tuan Wijaya sudah berada di ruang makan untuk sarapan.
"Papa... jam berapa nanti kita akan bertemu Tuan William?" tanya Mama Rita.
"Kita... akan bertemu dengan beliau dalam acara makan malam. Dimana Berli?" tanya Papa. Yang baru sadar anaknya tidak ada di meja makan.
"Berli... masih tidur, biarkan saja nanti dia sarapan sendiri. Tadi malam dia pergi bersama Daniel dan pulang sudah dini hari," sahut Mama kepada Tuan Wijaya.
"Ya... sudah, biar kita sarapan saja duluan," ujar Tuan Wijaya.
Kring... kring... kring
__ADS_1
Ponsel Berli berbunyi
Tangan lentik itu meraba-raba kasur mencari sumber suara yang telah menggangu tidur lelapnya.
"Halo," sahut Berli.
Masih bergelung selimut dengan mata terpejam.
"Bangun!" anak gadis perawan udah siang belum bangun.
"Siapa sih?" tanya Berli kesal. Masih pagi ada saja yang ganggu.
"Dasar... ini bocah, gak lihat itu nama yang tertera di ponsel. Jangan ini anak masih tidur sambil ngomong lagi," omel sang penelpon.
"Aku... Indri woi ," teriak Indri di ponsel.
Segera Berli menjauhkan telinganya dari ponsel karena mendengar teriakan Indri.
"Kamu... masih tidur, pantesan. aku bakal balik ke Tanah air. Besok pagi pesawat aku sampai dan jangan lupa jemput aku di bandara," titah Indri.
"Iya... bawel kamu," gerutu Berli.
"Aku... kasih tahu kamu supaya menyambut aku dengan persiapan," ucap Indri.
"Cih... emang kamu Tuan Putri?" cibir Berli.
Sambungan telpon di matikan sepihak oleh Berli.
"Ck...."
Indri berdecak. "Belum juga selesai udah di matikan ini telpon huh," gerutu Indri.
Berli bangkit dari tidur cantiknya mengucek -ngucek kedua matanya. Dilihatnya jam beker di samping tempat tidur. Alangkah terkejut saat dirinya melihat jam ternyata sudah pukul 10 pagi lekas dirinya masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah bersiap Berli segera turun di lihatnya sekeliling ruangan tampak sepi. Pelayan yang melihat nona mudanya turun segera menyapa.
"Pagi... Non, apa Nona ingin sarapan?" tanya pelayan bernama Desy.
"Tidak... usah Bik, Berli ingin keluar. Nanti sarapan diluar saja," sahut Berli.
"Oh... ya, kemana papa dan mama?" tanya Berli.
"Tuan dan Nyonya sedang pergi mempersiapkan acara nanti malam Non," sahut pelayan Desy.
"Oh... ya sudah, aku pergi dulunya Bik," ucap Berli berpamitan.
"Iya... Non, hati-hati di jalan," ucap pelayan Desy. Tersenyum dan sedikit membungkuk hormat.
Tbc
__ADS_1
Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.