
Rania melepas sumpalan sapu tangan di dalam mulutnya. "Jangan kurang ajar kamu Berli!"
Berli berkacak pinggang. "Jika kamu masih berisik, aku akan mengikat dan membungkam mulutmu itu."
Rania menatap sengit Berli dan lainnya yang ada di kamar itu. "Kalian semua, aku akan membalas perlakuan kalian padaku. Aku akan bilang ini semua pada Alex."
Berli dan lainnya tertawa terbahak-bahak. "Hahahaha.... bilang saja," ucap Jo.
"Jo... bawa Rania pulang ke rumahnya," ujar Berli.
Jo mengangguk. "Oke... kamu tenang saja."
Rania melotot. "Apa... hak kamu menyuruhku pulang. Aku disini bersama Alex, jadi aku akan pulang bersama kekasihku."
Berli memutar mata malas. "Jo... kamu bawa obatnya, bukan?"
Jo mengangguk lalu mengambil obat di dalam sakunya. Jo memberikan beberapa tetes obat itu pada sapu tangan. "Kalian... bantu aku memegang Rania. Aku akan membiusnya."
Brian, Vino dan Maxim memegang tangan dan kepala Rania. Rania terus saja memberontak. Jo membekap mulut dan hidung Rania dengan sapu tangan di tangannya. Tidak lama kemudian Rania sudah lemah dan tertidur.
Mereka berlima bernapas lega, suara Rania sudah tidak menganggu telinga mereka lagi. Rania sudah tidak sadarkan diri, setelah di bius oleh Jo.
"Jo... apa yang kamu dapatkan dari dalam kamar Rania?" tanya Berli.
Jo memperlihatkan obat yang telah dia ambil dari dalam tas Rania dan juga Alex. "Ini... aku sudah mengambil contoh obat dari dalam tas Rania dan Alex."
Berli melihat obat yang di tangan Jo. "Kamu cari tahu obat-obatan ini. Kamu sudah menyadap ponsel Rania, kan?"
Jo mengangguk. "Sudah... setiap panggilan atau chat yang masuk dari ponsel Rania, kamu juga akan mengetahuinya."
"Kak Brian, Kak Vino, aku ingin bicara pada kalian," ujar Berli.
Berli menatap Maxim. "Bee... terima kasih sudah membantuku."
Maxim tersenyum. "Aku... senang bisa membantumu. Aku akan menemani Jo pulang."
"Kenapa cepat sekali?" tanya Berli.
__ADS_1
"Aku ada urusan pekerjaan. Kalau kamu sudah pulang dari pulau, kabari aku," ucap Maxim.
Berli memeluk Maxim. "Oke... kita makan siang bersama, saat kita bertemu."
Brian, Vino dan Maxim membantu Jo membawa tubuh Rania masuk ke dalam jet yang di bawa oleh Jo. Jo dan Maxim masuk ke dalam pesawat untuk pulang bersama. Berli dan yang lainnya melambaikan tangan pada Jo dan Maxim yang sudah berada di jet pesawat.
Brian, Berli dan Vino duduk di kursi yang ada di tepi pantai. Mereka berbincang mengenai perilaku Alex yang menurut Berli sangat aneh. "Kak Brian, Kak Vino... apa yang sudah terjadi kepada Alex saat aku pergi meninggalkannya?" tanya Berli.
Brian menghela. "Saat kamu pergi, Alex mencarimu kemana-mana. Aku bahkan melacak keberadaanmu tetapi tidak bisa menemukan kamu. Alex frustrasi, selama berbulan-bulan Alex menghabiskan waktunya di club. Alex mabuk-mabukan, menjadi seorang yang pemarah."
"Alex... juga tidak tinggal lagi bersama Rania. Alex tinggal di apartemen miliknya. Rania... selalu menemui Alex. Rania menghibur Alex yang sangat bersedih kehilangam dirimu. Alex saat itu mulai mengonsumsi obat anti depresi," sahut Vino.
Berli kaget mendengar Alex mengonsumsi obat anti depresi. "Apa... kalian tidak menghibur Alex?"
"Kami sudah sering menghiburnya, aku bahkan selalu melarangnya untuk berhenti meminum obat depresi," ungkap Brian.
"Alex... mulai berubah saat bersama Rania. Alex selalu menuruti kemauan Rania. Alex mengatakan jika dia mencintai Rania. Alex bahkan mengatakan jika dia membenci kamu karena meninggalkan dirinya," tutur Vino.
"Apa Alex... memang mencintai Rania?" tanya Berli.
"Tasia... kami juga sangat rumit untuk menjelaskannya. Alex... selama tiga tahun tidak pernah ingat akan dirimu. Tetapi saat dia kehilangan kamu, dia frustrasi. Kami tidak mengerti, yang bisa menjelaskan hanya Alex saja," ucap Brian.
"Jangan berterima kasih, Alex adalah sahabat kami. Aku akan membebaskan dirinya dari Rania. Tasia... aku tahu Alex bersalah padamu. Maafkanlah Alex, dia mencintai kamu," ujar Vino.
Berli terdiam mendengar kata-kata Vino. Berli beranjak pergi meninggalkan Vino dan juga Brian. Berli berjalan menuju kamarnya. Berli membuka pintu dan terlihat Alex masih tertidur.
Berli meraba wajah tampan Alex. Menyusuri setiap jengkal wajah suaminya. "Apa yang terjadi pada dirimu, Al?"
Alex mengeliat saat jari-jari lentik Tasia menyentuh wajahnya. Alex perlahan membuka matanya. Alex tersenyum saat membuka mata yang di lihatnya adalah Tasia. Berli memberi senyum manis pada suaminya.
Alex bangkit duduk dari tidurnya. Alex langsung saja memeluk Berli di depannya. "Tasia... kamu tidak pergi meninggalkan aku. Aku sudah cukup menderita karena kehilangan kamu."
Berli tersenyum mengangguk. "Iya... jangan khawatir, aku akan berada di sisimu."
Alex semakim mengeratkan pelukannya. "Kamu sudah memaafkan diriku?"
"Aku akan memaafkan kamu, jika kamu meninggalkan Rania," ucap Berli.
__ADS_1
Alex berkata lirih. "Rania... dia sudah membantuku. Rania... selalu menghiburku saat kamu pergi. Kenapa kamu pergi meninggalkanku Tasia?"
"Aku mencintai kamu, tapi kamu pergi. Aku bahkan depresi karna kamu pergi," tutur Alex.
Berli memeluk erat Alex. "Maafkan aku karna pergi meninggalkan kamu."
Alex beranjak turun dari tempat tidur. Alex mulai mencari tasnya. "Tasia... mana tasku, aku perlu obatku untuk di minum!"
Berli terlihat heran. "Obat apa, Alex?"
Alex beranjak untuk keluar kamar. "Aku harus bertemu Rania. Dia tahu obatku."
Berli menahan diri Alex untuk keluar. "Alex... obat apa yang kamu minum?"
"Itu... obat karna aku takut kehilangan kamu. Aku harus meminumnya agar hatiku tenang," ucap Alex.
Berli meraih wajah Alex. "Lihat aku Alex, aku tidak akan pergi meninggalkan kamu."
"Tapi kamu bersama Maxim, kamu pasti akan pergi lagi," lirih Alex.
Alex menudukkan wajahnya, air matanya menetes. Alex seperti pria yang tidak berdaya. "Aku membutuhkan Rania, hanya dia yang bisa menenangkan aku."
"Jangan Alex... lihatlah diriku. Aku Tasia... cintamu," ujar Berli.
Alex menatap Berli lalu memeluknya. Alex memeluk Berli dengan sangat erat. Berli semakin bingung dengan sikap Alex. Alex sudah berubah menjadi pria cengeng. Berli membawa Alex duduk di sofa yang ada di dalam kamarnya.
Alex membenamkan wajahnya di dada Berli. Berli mengelus kepala Alex, sekali-kali Berli mengecup puncak kepala Alex. Alex mengangkat wajahnya untuk melihat Berli. Alex mencium bibir Berli lalu memeluk kembali istrinya.
"Tasia... aku ingin bersamamu kali ini," ucap Alex.
Berli tersenyum mengangguk. "Tentu saja... hari ini kita akan bersama. Lupakan Rania, dia bukan cintamu. Hanya aku... Tasia, ingat namaku Alex, Tasia cintamu."
Alex mengangguk."Tasia... cintaku!"
Berli semakin yakin jika Alex memang sudah ketergantungan obat. Pantas saja Alex selalu menuruti apa yang dia inginkan. Alex gampang tersulut emosi tetapi emosinya cepat surut. Alex menjadi seorang yang penurut.
Tbc
__ADS_1
Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.