
Jo dan Hera tengah mendekor kamar untuk baby mereka. Segala macam pernak-pernik di tempel dan di hias bagi penghuni baru yang akan segera lahir.
Berbagai macam mainan telah di susun rapi. Baju-baju bayi sudah di cuci dan di setrika. Perlengkapan mandi serta tempat tidur bayi juga sudah siap sedia.
Hera juga sudah menyiapkan perlengkapan persalinan untuk dia bawa ke rumah sakit nanti nya. Jo berkacak pinggang melihat Hera yang mendekor sambil makan.
Tiap menit istri nya itu selalu mengunyah. Makanan apa saja selalu di lahap habis oleh Hera. Jo juga selalu menyediakan stok cemilan. Hera selalu lapar saat tengah malam.
"Hera ... bisa tidak kamu berhenti dulu makan nya?" Jo mengeleng akan tingkah istri nya.
"Aku lapar," ucap Hera dengan mulut penuh makanan.
"Lihat tubuh mu!" Jo menunjuk tubuh Hera dari atas sampai bawah. "Sudah gendut begitu masih saja makan."
Hera berdecak sebal. "Ish ... ini semua gara-gara kamu." Hera menunjuk wajah Jo. "Kamu yang membuat ku hamil."
Jo mengusap wajah nya. Dia sudah salah bicara. Seharus nya dia mengatakan kalau Hera harus mengurangi frekuensi makan nya.
"Sayang ...." Jo berkata dengan lembut.
Jo membujuk Hera yang tengah merajuk. "Makan nya nanti lagi, kita selesaikan mendekor nya. Kita sudah janji untuk periksa lagi ke Dokter, kan?"
Hera mengangguk mengiyakan. Dia hampir saja terlupa kalau hari ini ada janji bersama Raisa. "Ayo cepat selesai kan. Kita mau konsultasi lagi, bukan?"
Jo dan Hera kembali menyelesaikan pekerjaan mereka. Hera dan Jo tersenyum puas melihat hasil karya nya sendiri. Kamar baby mereka sudah tampak cantik dengan nuansa serba biru langit.
"Semua sudah selesai. Kita berangkat sekarang saja ke rumah sakit," ujar Jo.
Hera dan Jo bersiap-siap untuk ke rumah sakit. Jo mengiringi langkah kaki Hera menuruni anak tangga. Mereka berdua keluar rumah menuju mobil.
Jo membuka kan pintu mobil untuk istri nya. Hera masuk kemudian di susul oleh Jo. Hera terlihat kesusahan saat memasang sabuk pengaman di tubuh nya.
Jo malah tertawa geli melihat adegan itu. Hera kesal pada Jo. Suami nya itu bukan menolong malah tertawa. Sabuk pengaman itu tidak muat di tubuh Hera.
Bisa kalau di paksa kan. Tapi Hera akan merasa sesak di perut nya. "Sudah ... jangan di paksa kan lagi. Aku akan membawa mobil nya dengan pelan."
Jo menjalan kan mobil nya dengan kecepatan pelan. Dia takut terjadi apa-apa terhadap istri serta anak di dalam kandungan Hera. Biar pelan asal kan selamat sampai tujuan.
1 Jam perjalanan baru lah mobil Jo sampai di rumah sakit. Hera dan Jo keluar dari dalam mobil. mereka langsung saja menuju ruangan Dokter Raisa.
Hera langsung saja masuk ke dalam ruangan Raisa. Teman nya itu sudah cukup lama menunggu kedatangan Hera.
"Maaf Raisa ... aku telat datang nya," ucap Hera.
"Ya ampun, Hera ... kamu itu makin berisi saja," kata Raisa.
"Makan melulu ... maka nya jadi montok," sahut Jo.
__ADS_1
Raisa tertawa mendengar nya. Hera langsung saja berbaring di atas ranjang pasein. Suster menaikan sedikit baju Hera ke atas. Raisa mulai menempelkan alat USG di perut buncit teman nya.
"Anak nya sehat, semua nya juga dalam kondisi yang baik. Hanya saja anak kamu berat nya sudah mencapai 4 kilogram. Lebih baik kamu cesar saja," tutur Raisa.
"Tuh ... kamu sih makan terus," sahut Jo.
Hera tertawa geli. "Pasti anak ku bakal lucu dan mengemaskan ketika lahir. Sudah gak sabar buat lahiran."
Raisa malah mengeleng akan ucapan dari Hera. "Jadi ... kamu gimana sekarang?"
"Sayang ... menurut kamu bagaimana?" tanya Hera pada Jo.
"Cesar saja ... dari pada terjadi hal-hal yang tidak di inginkan," sahut Jo.
"Baiklah ... aku menurut saja," ucap Hera.
"Kamu tentukan saja hari dan tanggal nya. Aku akan cocokan dengan jadwal ku lain nya," tutur Raisa.
Hera mengangguk paham. "Oke ... aku akan mengabari kamu nanti."
Setelah selesai melakukan pemeriksaan, Hera dan Jo keluar dari ruang Dokter Raisa. Saat mereka berjalan di koridor, mereka bertemu Jessica dan Brian.
"Brian, Jessica ... kalian di sini juga?" Jo tidak mengira akan bertemu dengan Brian dan Jessi. Jo dan Brian saling berpelukan.
"Kami ingin ke Dokter kandungan," jawab Brian.
Jessica mengangguk malu. "Iya ... aku sedang hamil!"
Hera langsung memeluk Jessica. Dia begitu senang mendengar nya. Jo juga turut merangkul Jessica. Dia juga turut senang mendengar kabar ini.
"Selamat Jessi, Brian," ucap Jo dan Hera bergantian.
"Terima kasih!" ucap Brian dan Jessica.
"Kami duluan ... kapan-kapan kita kumpul bareng," ujar Jo.
"Baiklah ... hati-hati di jalan," kata Brian.
Jo dan Hera melangkah menuju keluar dari rumah sakit. Sedang Jessica dan Brian menuju ruangan Dokter kandungan. Hera dan Jo masuk ke dalam mobil.
"Sayang ... kamu mau kemana lagi sekarang?" tanya Jo.
"Kita jalan ke mall yuk!" seru Hera.
Jo mengangguk. "Oke ... kita ke mall."
Jo melajukan mobil nya menuju mall. Baru saja tiba di pintu mall, Hera sudah menuju cafe es krim. Jo pasrah saja mengikuti kemana langkah kaki Hera.
__ADS_1
Hera memesan dua gelas es krim untuk nya. Jo malah terasa ngilu melihat Hera makan es krim dengan rakus nya.
"Jo ... kalau aku gendut, apa kamu masih cinta pada ku?" tanya Hera seraya menikmati es krim di mulut nya.
"Kamu sekarang sudah gendut," ucap Jo.
"Maksud ku setelah melahirkan," kesal Hera.
"Aku tidak suka wanita gendut," ucap Jo.
Jo sengaja berkata seperti itu. Dia ingin menggoda istri nya. Hera menunduk kan wajah nya. Dia mengeser es krim dan tidak ingin lagi memakan nya.
Jo menahan tawa nya. Dia menikmati wajah sedih Hera. Jo mengeser es krim ke hadapan Hera. Namun istri nya itu tidak mau mengalihkan pandangan dari bawah.
"Aku hanya bercanda." Jo meraih wajah Hera dan mengecup kening istri nya. "Aku mencintai kamu apa ada nya. Mau kamu bagaimana pun, aku akan tetap cinta. Tidak masalah kamu itu gendut. Ini semua karna kamu mengandung anak ku."
"Jo ... maafkan kesalahan ku yang dulu. Aku sungguh menyesali nya," lirih Hera.
Hera masih merasa bersalah karna pernah mengatakan Jo gendut. Dia takut Jo akan membalas sakit hati nya. Hera hanya tidak ingin Jo meninggalkan diri nya saat dia sudah tidak sexy lagi.
Jo mendekati istri nya. Dia membawa tubuh Hera ke dalam pelukan dada nya. Jo memberi kecupan sayang pada istri nya itu.
"Aku sudah melupakan itu semua. Aku mencintai kamu. Jangan berpikir aku akan meninggalkan kamu," tutur Jo.
"Terima kasih ... terima kasih untuk semua nya," ucap Hera.
"Aku mencintai kamu, my wife."
"Aku juga mencintai kamu, hubby."
TBC
Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.
Jo dan Hera menyapa :
"Hera ... kamu sudah punya nama belum, untuk anak kita?" ~ Jo.
"Belum ... aku bingung mau pilih yang mana. Semua nya bagus-bagus." ~ Hera.
"Kita tanya Reader saja yuk. Siapa tahu mereka punya nama yang bagus untuk anak kita." ~ Jo.
"Boleh juga." ~ Hera.
"Untuk para Reader boleh tulis di koment nama anak untuk baby kita berdua yah." ~ Jo dan Hera.
Salam hangat untuk para Reader dari Jo dan Hera.
__ADS_1