
Maxim dan Berli tertawa setelah kepergian Alex. Berli dan Maxim sengaja bersekongkol untuk membuat Alex cemburu. Maxim memakai kembali kaus yang sempat dia lepaskan. Berli juga memakai jubah untuk
menutup lingerie yang di pakainya.
"Untung saja, ada yang melihat kalau Alex akan ke kamarku," ucap Berli.
"Bee... apa kamu tidak mengucapkan terima kasih padaku?" ucap Maxim.
Berli tersenyum. "Makasih bee!"
Maxim mengaruk kepalanya. "Hadiah untukku mana?"
Berli berkacak pinggang. "Kamu... mau apa?"
Maxim menyengir. "Bagaimana... kalau kita lanjutkan kegiatan tadi!"
Berli melempar bantal ke arah Maxim. "Enak saja... kamu sudah menciumku, jadi sudah cukup."
Maxim menangkap bantal yang di lempar Berli. "Aku hanya mencoba saja, siapa tahu kamu mau bermalam denganku."
Berli memutar mata malas. "Jangan menggodaku, ayo kembali ke kamarmu sana."
"Kalau... Alex kemari lagi, gimana? untung saja kita menyuruh orang untuk memata-matai Alex," ujar Maxim.
"Tidak akan... Alex pasti sudah kembali ke kamar Rania," ucap Berli.
Maxim mencebik. "Ya sudah... tapi kamu sudah menghubungi yang lain?"
Berli mengangguk. "Sudah... besok kita lihat saja kejutan untuk Alex."
Alex berjalan gontai menuju ke arah pantai. Alex menatap laut lepas lalu berteriak kencang. "Aaaaghhhhhh," teriak Alex.
Alex mengusap wajahnya lalu menendang pasir. Alex menutup wajahnya, kesal bercampur amarah sudah meliputi hatinya. Alex bersedih, airmatanya sudah keluar. Alex tidak mengerti dia menjadi begitu cengeng untuk saat ini.
"Tasi-a-a-a-a!" teriak Alex.
__ADS_1
Alex berteriak agar amarah di dalam dadanya sedikit mereda. Ini salahnya, Alex tidak menyadari kesalahan yang sudah di buatnya. Alex begitu bodoh tidak menyadari bahwa istrinya itu hanya berpura-pura saja menerima Rania. Alex begitu santai bermesraan dan bersenda gurau bersama Rania di depan istrinya.
Bahkan Alex secara terang-terangan meminta untuk bermalam bersama Rania. Sekarang lihat, istrinya sudah di sentuh orang lain. Malam yang seharusnya menjadi miliknya kini menjadi milik pria lain. Alex tidak terima perlakuan seperti ini. Harga dirinya sebagai suami sudah di injak-injak.
Alex berjalan menuju kamarnya tapi bukan ke kamar Rania. Alex pergi ke kamar lainnya. Alex ingin menenangkan sejenak pikiran dan emosi di dalam hatinya. Alex bolak-balik ke sisi kanan dan kiri tetapi matanya tidak bisa tidur. Alex membayangkan malam ini istrinya itu bersama Maxim.
Alex mengusar rambutnya, haruskah dia ke kamar istrinya lagi. Alex sudah di usir tadi, tapi Berli adalah istrinya. Tidak boleh ada pria lain yang bermalam dengan istrinya. Bodohnya Alex, apa sebegitu pengecut dirinya. Jelas-jelas dengan mata kepalanya sendiri, melihat istrinya bercumbu tapi dia malah bersikap santai saja. Alex malah menangis di tepi laut dan berteriak kesal.
"Apa yang telah ku lakukan, kenapa tidak aku usir saja Maxim itu. Aku malah pergi meninggalkan mereka berdua," gumam Alex.
Kring... kring... kring... !
Bunyi dering telepon dari ponsel Berli. Berli segera mengangkat telepon yang berbunyi itu. "Halo," ucap Berli.
Berli kaget saat mendengar kata dari sang penelepon. Yang menelepon Berli adalah orang suruhannya yang selalu memata-matai Alex. Orang itu mengatakan jika Alex menuju kamarnya.
"Ish... Alex, kenapa kesini lagi sih. Mana Maxim udah balik ke kamarnya lagi," gumam Berli.
Berli mengambil ponselnya lalu memutar sebuah video. Berli mengunci pintu kamarnya agar Alex tidak dapat masuk. Berli juga sudah mengeraskan sedikit volume video itu.
"Tasia... tega sekali kamu padaku. Aku adalah suamimu, tapi kamu malah memberikan malam pertama dirimu untuk pria lain," lirih Alex.
Alex masuk ke dalam kamarnya lalu menuju kamar mandi. Alex menguyur tubuhnya dengan air dingin. Alex membayangkan malam panas yang di lakukan Berli. Sebagai suami, Alex belum mendapatkan haknya. Tetapi lelaki lain yang tidak jelas statusnya malah bisa bermalam bersama Berli.
Di sisi lain Berli malah asyik tertidur pulas. Berli bahkan lupa untuk mematikan video yang dia putar. Suaminya merana karena mengira dia tidur bersama Maxim. Sedang Berli malah asyik bergelung selimut.
******
Alex berjalan-jalan di tepi pantai bersama Rania. Alex membulat saat melihat dua orang pria juga ada di pulau yang sama dengannya. Brian dan Vino juga berada di pulau yang sama.
Alex menghampiri dua sahabatnya itu. "Brian, Vino... kalian, kenapa ada disini?"
Brian dan Vino tersenyum. "Kami berlibur, kami menyewa salah satu penginapan yang ada disini," ucap Brian.
Alex semakin heran, bukankah ini adalah pulaunya. Kenapa bisa di sewa. "Ini pulauku... siapa yang menyewakannya pada kalian."
__ADS_1
Vino memutar mata malas. "Kamu lupa... ini pulau milik Tasia."
Alex baru ingat jika pulau ini telah dia berikan pada istrinya. "Apa istriku yang menyewakannya?"
Brian dan Vino mengangguk. "Kamu bersama Rania, lalu di mana Tasia?" tanya Vino.
"Tasia bersama Maxim," sahut Rania.
Brian dan Vino mendelik. "Apa... kamu tidak waras membiarkan istrimu bersama pria lain?" tanya Vino
"Lihat... itu bukannya Tasia sama Maxim. Tasia sexy banget pake bikini. Apa mereka juga bermalam bersama," ucap Brian.
Alex, Rania, dan Vino melihat ke arah yang di tunjuk oleh Brian. Berli memakai bikini tetapi di bawahnya mengunakan kain pantai sebagai penutup. Maxim juga tak kalah, dia memamerkan otot sixpack yang di milikinya.
"Beruntung banget Maxim, dapat Tasia yang cantik dan sexy," ujar Vino.
"Kamu benar Vino, aku yakin jika tadi malam mereka bersama. Apa... Maxim pria pertama yang mendapatkan Tasia?" tanya Brian.
"Mana mungkin, Alex pasti yang pertama. Alex suaminya, kan?" ujar Vino.
"Beruntung sekali Maxim, mendapat berlian. Sedangkan pria di samping kita dapatnya perak," ujar Brian.
Alex semakin kesal mendengar perkataan dua sahabatnya itu. Mereka bicara seolah Alex tidak berada di dekat mereka. Telinga Alex sudah panas mendengar kata-kata yang di ucapkan Brian dan Vino. Rania juga merasa tersindir akan perkataan yang Brian lontarkan.
"Alex... kamu lelaki pertama mendapatkan Tasia, bukan?" tanya Vino.
Alex diam tidak menjawab perkataan Vino. Brian dan Vino saling melirik lalu mengangguk. "Mana mungkin Vin, kamu gak lihat jika Alex membawa Rania juga. Sudah pasti Alex bersama Rania," ujar Brian.
Rania geram kepada Brian dan Vino. Mereka sengaja memanasi Alex. "Memangnya kenapa Alex bersamaku? Berli juga bersama Maxim, jadi kita berdua impas."
"Itu artinya liburan kali ini bukannya bulan madu Alex dan Tasia, tetapi bulan madu Maxim dan Tasia," ujar Vino.
Brian dan Vino tertawa bersama. Sedang Alex sangat kesal akan perkataan sahabatnya itu. Belum lagi dengan mata kepalanya sendiri melihat Maxim dan istrinya berjalan dengan mesranya.
Tbc
__ADS_1
Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.