
Semua makan malam dengan tenang. Tidak ada satu pun yang bicara. Tuan Wijaya senyum-senyum melihat Hera yang terlihat canggung. Mama Rita malah merasa gelisah, di satu sisi Jo yang tidak mau di jodohkan. Lalu suaminya yang ingin menjodohkan Jo.
Tuan Wijaya benar-benar sudah bertekad akan menjodohkan Hera dan Jo. Baru saja mengenal Hera langsung ingin di jadikan seorang mantu.
"Papa... tunggu di ruang keluarga," ucap Tuan Wijaya.
"Ma... aku juga sudah selesai," ucap Jo.
Tuan Wijaya dan Jo beranjak menuju ke ruang keluarga. Mama Rita dan Hera membereskan meja makan. Rita sangat kagum akan Hera. Dia sangat cekatan dalam bekerja.
"Hera... kamu bisa memasak?" tanya Mama Rita.
"Sedikit saja, Mah," jawab Hera.
"Kapan-kapan, kita masak bareng yah di sini. Nanti kita ajak juga kakak Jo," ujar Mama Rita.
"Oke Ma!"
Selesai membereskan meja makan, Hera membuat teh untuk keluarga Tuan Wijaya. Hera dan mama Rita, menyusul kedua pria yang sudah dari tadi duduk berbincang di ruang keluarga.
Tuan Wijaya melirik Jo yang sibuk dengan ponsel di tanganya. Jo tengah asyik berchat ria dengan Jessica.
"Jo... bisa lepaskan dulu main ponselnya," kata Tuan Wijaya.
Jo melepaskan ponsel di tanganya. "Kenapa Pah?"
"Kamu sudah mengenal Hera, kamu tidak tertarik dengan dia?" tanya Tuan Wijaya.
Jo menghela. "Hah... Pah, sudah berapa kali Jo bilang, Jo hanya mencintai Jessica."
Tuan Wijaya memasang wajah masam. "Sudah berapa kali juga Papa bilang, Papa tidak setuju dengan Jessica."
"Papa beneran, mau jodohin aku sama Hera?" tanya Jo.
Tuan Wijaya. "Yah... kalau kamu mau kenapa tidak? Papa suka Hera."
"Apa tidak ada wanita lain? Papa tidak tahu sifat Hera sebenarnya," tutur Jo.
Hera datang dengan mama Rita dengan membawa minuman dan cemilan untuk mereka. Hera meletakan secangkir teh di meja untuk Jo dan Tuan Wijaya.
__ADS_1
"Silakan... Pah," ucap Hera.
Tuan Wijaya meminum teh buatan Hera. Saat Tuan Wijaya menyeruput teh itu, rasanya sedikit berbeda. Teh chamomile yang di buat Hera sangat nikmat dan berbeda.
"Siapa yang buat teh ini?" tanya Tuan Wijaya.
"Hera... Pah, rasanya enak dan berbeda," ujar Mama Rita.
"Benar sayang, sudah cocok nih jadi mantu," ucap Tuan Wijaya.
Hera tersipu malu di puji oleh kedua orang tua Jo. Sedang Jo semakin kesal dengan Hera. Menurut Jo, Hera begitu licik dengan mengambil hati orang tuanya.
Jo yakin jika Hera hanya datang untuk mencari perhatian. Buat apa juga Hera datang ke mansionnya. Berkenalan dengan orang tuanya saja baru, saat di rumah sakit.
Hera pasti sudah tahu siapa Tuan Wijaya sebenarnya. Hera menyukai orang kaya, pasti sekarang dia sudah memasang umpan untuk mangsanya.
Jo tidak akan membiarkan Hera mencapai tujuannya. Jo akan membuat Hera menjadi buruk di depan orang tuanya. Jo memberi tatapan tajam pada Hera.
Hera menunduk takut melihat tatapan Jo. Tatapan itu seolah ingin memakannya. Tuan Wijaya yang melihat Jo, segera menegurnya.
"Jo... lembutlah sedikit menatap wanita," ucap Tuan Wijaya.
Jo memutar mata malas. "Pah... aku boleh tidak bicara sama Hera?" tanya Jo.
Mama Rita malah khawatir saat Jo dan Hera bicara berdua. Rita takut jika Jo akan berkata yang tidak-tidak pada Hera. Jo mengajak Hera mengikuti dirinya ke taman belakang rumah.
Mama Rita menatap kesal suaminya, saat Jo dan Hera sudah beranjak pergi. "Apa maksud Papa melakukan ini semua?"
Tuan Wijaya mengernyit. "Maksudnya?"
Mama Rita sedikit geram. "Papa main jodohin saja anak orang, siapa tahu orang tua Hera sudah punya calon lain."
Tuan Wijaya malah terkekeh. "Papa hanya mendekatkan mereka berdua. Kalau mereka mau nikah kenapa tidak. Lagian, siapa yang tidak ingin menjadi menantu keluarga kita."
"Serah deh," ucap Mama Rita ketus.
Jo dan Hera sudah berada di taman belakang. Suasana menjadi kikuk saat mereka hanya berdua saja. Jo menatap Hera yang berdiri tepat di hadapanya.
"Kamu pasti sengaja, kamu sudah tahu keluarga kami kaya. Kamu kekurangan uang, sampai ingin menjadi menantu keluarga Wijaya," celetuk Jo.
__ADS_1
Jo langsung saja bicara to the point. Dia tidak bertele-tele lagi. Dugaannya pasti benar, meski nanti Hera akan menyangkalnya.
"Jangan sembarangan menuduhku. Keluargaku memang tidak sekaya keluargamu. Tetapi aku masih punya harga diri. Papa kamu sendiri yang mengundangku kesini," tutur Hera kesal.
Jo berdecih. "Cih... maling mana ada yang mau mengaku. Aku sudah bisa membaca pikiran kamu itu. Dengar Hera, aku tidak akan membiarkan tujuanmu itu tercapai."
Hera geram akan tuduhan dari Jo. Dia memang sengaja datang untuk menemui Jo. Hera ingin meminta maaf pada mantanya itu. Hera juga tidak mengerti kalau Tuan Wijaya telah mengklaim dirinya sebagai mantu.
Hera mengira itu hanya gurauan Tuan Wijaya saja. Maka dari itu Hera hanya menganggapnya angin lalu. Hera juga tidak tahu jika celetukan Tuan Wijaya itu benar. Jo sudah salah menilai dirinya yang menginginkan keluarga Wijaya.
"Jo... aku datang hanya ingin minta maaf padamu. Aku benar-benar menyesal akan perbuatanku dulu," ucap Hera.
Jo tersenyum sinis. "Gampang sekali kamu mengucapkan maaf. Seharusnya kamu itu mikir, sebelum mempermalukan diriku. Aku tidak akan pernah memaafkan kamu."
Hera meraih tangan Jo. "Jo... aku memang bersalah. Aku mohon, maafkanlah aku. Aku akan melakukan apa pun, agar aku bisa mendapat maaf darimu."
Jo menyeringai. "Kamu... mau aku maafkan?"
Hera mengangguk. "Iya... aku akan melakukan apa pun."
Jo memperhatikan Hera dari atas sampai bawah. Jo membelai rambut panjang Hera. Hera sedikit kaget akan perlakuan Jo.
"Kamu semakin cantik saja."
Jo mendekatkan wajahnya ke telinga Hera. Dia membisikan sesuatu di telinga Hera. "Kamu... akan aku maafkan, tapi kamu harus tidur denganku."
Hera mendelik, tanganya tidak spontan mengampar pipi Jo.
Plaakk... !
Jo memberi tatapan tajam pada Hera. "Berani sekali, kamu mengampar wajahku."
"Jo... kamu jangan keterlaluan. Aku bukan wanita seperti itu. Aku tulus minta maaf padamu," ucap Hera.
Hera berbicara dengan nada tinggi. Dia sangat tidak menyangka, jika Jo bisa mengatakan hal yang menjijikan itu. Jo yang dulu sangat sopan, kini berubah menjadi seorang badboy.
Jo bicara dengan nada sedikit meninggi. "Kamu bilang akan melakukan apa pun agar aku bisa memaafkan kamu. Sekarang aku minta, kamu tidur denganku."
Hera meneteskan air mata, apa dia harus merelakan harga dirinya untuk menebus semua perlakuannya terhadap Jo. Hera mengerti betapa sakit saat Jo dia permalukan. Tetapi jika harus merelakan harga dirinya, Hera tidak akan pernah mau.
__ADS_1
Tbc
Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.