Terpaksa Menikahi Mantanku

Terpaksa Menikahi Mantanku
Bab 59


__ADS_3

Alex dan Berli sudah pulang ke apartemen. Setelah kurang lebih dua minggu berada di negara S. Selama berbulan madu, mereka berdua hanya menikmati kota sekitar. Alex dan Berli banyak menghabiskan waktunya di dalam kamar.


Berli merasakan tubuhnya lemas. Sejak pagi dirinya tidak bernapsu untuk makan apa pun. Kadang Berli mual sangat mencium bau bahan dapur. Karena mual Berli tidak memasak untuk makan siang.


Berli bersiap-siap untuk pergi ke kantor Alex. Setelah menikah, Berli tidak lagi mengurus perusahaan miliknya. Sudah ada Jo yang mengantikan dirinya. Berli hanya datang sesekali saja meninjau perusahaan.


Berli sudah berdandan dengan sangat cantik. Beberapa hari ini, Berli begitu centil. Berli juga merasa heran mengapa dirinya jadi seperti itu. Berli juga semakin manja pada Alex.


Sifat Berli juga kadang berubah-ubah. Kadang Berli merasa ingin sekali marah. Kadang juga dia merasa bersedih. Tanpa sebab yang jelas Berli merasa mood tubuhnya berubah.


Berli keluar dari dalam apartemen. Rencananya Alex dan Berli akan pindah ke mansion. Alex sudah membeli sebuah mansion dan saat ini sedang di renovasi.


Berli keluar dari lobby gedung apartemen menuju mobilnya. Berli masuk dan segera menyalakan mesin untuk jalan. 30 menit kemudian Berli sampai di gedung kantor Alex.


Semua karyawan sudah tahu jika Alex sudah menikahi Berli. Alex sudah mengumumkan pernikahannya ke seluruh karyawan dan juga media. Tidak ada lagi pernikahan yang di sembunyikan.


Alex juga berencana untuk mengadakan sebuah resepsi pernikahan mereka berdua. Alex ingin pernikahan mereka di ketahui oleh masyarakat luas. Alex seorang pembisnis terkenal begitu juga Berli. Sudah pasti resepsi pernikahan mereka akan di nantikan.


Berli langsung saja naik ke lift menuju lantai atas kantor Alex. Selena tersenyum saat mengetahui istri atasannya itu datang.


"Selamat siang, Nyonya," ucap Selena.


Berli membalas senyum Selena. "Siang... Alex di dalam, kan?"


Selena mengangguk. "Iya... Tuan Alex, saat ini bersama Tuan Brian."


"Oke... aku masuk dulu," ucap Berli.


Berli berlalu meninggalkan sekretaris Alex. Saat Berli sudah sampai di depan pintu, Berli mendengar samar-samar percakapan dua sahabat itu. Berli terkekeh geli mendengar percakapan mereka.


Alex duduk di hadapan sahabatnya Brian. "Brian... kapan kamu akan berhenti bermain. Vino akan menikahi Elena. Aku sudah menikah, lalu kamu?"


Brian kesal, kalau sudah bertemu Alex hanya nikah saja yang di bahas. "Aku tidak akan menikah, aku akan menikah jika sudah mendapat wanita virgin."


Alex geleng-geleng kepala. "Apa di otakmu hanya ada bagian bawah saja?"


Brian terkekeh kecil. "Kamu dan Vino dapat yang masih segel. Aku juga mau kali."


"Terserah kamu, Brian," ujar Alex kesal.


Braakk... !

__ADS_1


Alex dan Brian menoleh ke arah pintu yang terbuka. Alex bangkit dari duduknya menyambut istrinya itu. "Sayang... kamu datang!"


"Alex... ayo kita makan siang di luar. Aku tidak memasak hari ini," ucap Berli.


Alex terkekeh geli, istrinya itu begitu manja. "Oke... kita ajak Brian juga!"


"Brian... ayo kita keluar makan siang," ucap Alex.


"Boleh," sahut Brian.


Brian, Alex dan Berli pergi makan siang bersama. Mereka menuju sebuah restoran yang tidak begitu jauh dari kantor Alex. Mereka bertiga sudah duduk di meja dekat jendela kaca.


Pelayan datang dengan membawa buku menu. Pelayan siap mencatat semua makanan yang mereka pesan. Berli begitu banyak memesan makanan. Brian dan Alex merasa heran tetapi mereka membiarkan saja.


"Sayang... kamu yakin memesan makanan sebanyak itu?" tanya Alex.


Berli mengangguk. "Tentu saja... panggil juga kak Vino untuk datang."


Kening Alex berkerut. "Memangnya kenapa, harus memanggil Vino?"


"Aku kangen saja," celetuk Berli.


Berli memutar mata malas. "Alex... apa kamu masih cemburu sama kak Vino?"


Sebenarnya Alex merasa cemburu pada Vino. Bagaimana pun Vino adalah cinta pertama Berli. Kata orang cinta pertama itu tidak bisa di lupakan. Karena kata orang, Alex jadi khawatir.


"Panggil saja Al, aku ingin berkumpul bersama saja," ucap Berli.


Alex pasrah, mau tidak mau dirinya menelepon Vino. Alex menyuruh Vino untuk datang makan siang bersama mereka. Raut wajah Alex sudah berubah kecut. Brian tertawa melihat Alex.


"Masih saja kamu cemburu sama Vino," ujar Brian.


"Aku lebih takut sama Vino dari pada Maxim," tutur Alex.


Brian semakin tertawa. "Hahaha... Vino sudah mau menikah, masih saja kamu cemburu."


Berli mengecup pipi Alex agar suaminya itu tidak cemberut. Raut wajah Alex berubah setelah pipinya di kecup Berli. Brian geleng-geleng kepala. Alex sudah menjadi bucin Berli.


Pelayan datang membawa semua makanan yang telah di pesan. Pelayan menata satu persatu makanan di meja. Pelayan pamit setelah mempersilakan pelanggannya untuk menikmati hidangan.


Alex dan Brian menelan ludahnya. Hanya dengan melihat saja mereka sudah merasa kenyang. Ada sepuluh menu makanan yang di pesan Berli.

__ADS_1


"Kalian makan saja dulu, aku ingin menunggu kak Vino datang," kata Berli.


"Kalau begitu, kami tunggu Vino saja," ucap Brian.


Tidak lama kemudian Vino datang menghampiri meja Alex. Berli langsung saja menarik tangan Vino untuk duduk di sampingnya. Vino tentu saja kaget akan tingkah Berli.


"Kak Vino, ayo sekarang suapi aku makan," ucap Berli.


Alex melotot, istrinya itu meminta Vino datang hanya untuk minta di suapi makanan. "Sayang... aku disini bisa menyuapi kamu."


"Tapi... aku maunya kak Vino yang suapi aku," jawab Berli.


Brian memberi kode pada Alex. Brian mengerakan tangan mengembung di perut. Alex tidak mengerti akan kode dari Brian. Sedang Vino menuruti kemauan Berli.


Berli makan dengan lahap di suapi oleh Vino.


"Kamu mau makan apa lagi?" tanya Vino.


Berli menujuk makanan satu persatu. Vino mengambil makanan itu dan memberikan pada Berli.


"Alex... kamu sebagai suami perhatian sedikit dong," ujar Vino.


Alex melongo. "Aku perhatian koq."


Vino terus menyuapi Berli makan. "Kalau kamu perhatian, kenapa istrimu harus aku yang menyuapinya."


Alex mengambil alih sendok yang di pegang Vino. Alex ingin menyuapi makan istrinya. Tetapi Berli mengeleng tidak mau. Berli hanya ingin Vino yang menyuapinya.


"Sayang... kenapa tidak mau?" tanya Alex.


"Aku tidak tahu, aku maunya kak Vino," ujar Berli.


Vino kembali mengambil alih sendok dari tangan Alex. "Biar aku saja, kamu mending diam makan."


Alex terlihat sedih saat Berli menolak dirinya. Brian lalu mengirimkan sebuah pesan pada Alex. Alex mengambil ponsel yang berada di saku celananya. Alex heran saat Brian mengirim sebuah pesan. pada hal Brian berada di depannya.


Brian memberi kode agar Alex membaca pesannya. Alex membaca pesan yang di kirim Brian. Mata Alex melotot saat membaca pesan dari Brian. Alex mengedikan bahu tanda dirinya sendiri tidak tahu.


Tbc


Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.

__ADS_1


__ADS_2