
Hera dan Jo telah sampai di rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan kandungan. Hera dan Jo langsung saja masuk ke dalam ruangan Dokter Raisa.
"Hai ... Raisa," sapa Hera.
Raisa tersenyum. "Silakan duduk, Her dan-"
"Jonathan, suami Hera," sahut Jo.
Jo mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Raisa meraih tangan Jo lalu mereka bersalaman.
Jo dan Hera duduk di kursi. Raisa mulai menyiapkan alat untuk melakukan pemeriksaan. Karna Hera adalah pasein pertama yang datang.
"Her ... semua sudah siap. Berbaringlah di sini," ujar Raisa.
Hera beranjak dari duduknya menuju brangkar pasein. Jo juga ikut menyusul Hera. Dia juga ingin melihat langsung perkembangan calon anaknya.
Raisa mulai menempelkan alat USG di perut Hera, yang sebelumnya sudah di beri gel pendingin. Raisa mengerak-gerakan alat itu dan tampaklah satu titik hitam kecil di dalam rahim Hera.
"Sayang ... apa itu anak kita?" Jo menunjuk titik hitam di layar segi empat itu.
Hera mengangguk. "Iya ... dia masih sangat kecil."
Jo mengecup kening istrinya. "Makasih sayang. Kamu sudah memberi hadiah terindah untuk-ku."
"Selamat yah, Hera dan Tuan Jonathan," ucap Raisa.
"Terima kasih, Dokter," ucap Jo.
Jo membantu Hera turun dari ranjang pasein. Mereka duduk lagi di kursi berhadapan dengan Hera.
"Apa kamu perlu resep obat?" tanya Raisa.
Hera seorang Dokter, dia tahu apa yang harus di lakukan. Raisa tidak perlu lagi untuk menuliskan resep obat. Saran-saran tentang kehamilan juga Hera sudah tahu.
Hera mengeleng. "Aku sudah minum Vitamin yang cocok untuk-ku. Aku juga tidak mengalami morning sickness."
Raisa mengangguk paham. "Baiklah ... kamu juga seorang Dokter, pasti paham betul dengan semua ini."
"Terima kasih untuk hari ini. Bulan depan aku akan periksa lagi denganmu," ucap Hera.
__ADS_1
"Sama-sama ... kamu tinggal masuk saja ke ruanganku untuk di periksa," kata Raisa terkekeh geli.
Hera dan Raisa bekerja di tempat yang sama. Mereka juga satu profesi yaitu Dokter. Sudah pasti sangat mudah bagi Hera untuk memeriksakan kandungannya.
Jo dan Hera beranjak untuk pergi dari ruangan Raisa. "Dok ... terima kasih sekali lagi," kata Jo.
"Sama-sama ... di jaga istri dan juga calon anaknya," kata Raisa.
Jo dan Hera keluar dari ruangan Raisa. Hera membawa Jo masuk ke dalam ruangannya. Jo mengelus foto USG yang di berikan oleh Raisa tadi. Calon anaknya masih sangat kecil sekali.
"Sayang ... kamu harus makan dengan banyak. Supaya anak kita cepat tumbuh dan besar," kata Jo.
Hera mendesah karna Jo tidak paham. "Jo ... dia akan tumbuh berkembang sesuai umur kehamilan. Kamu tunggu saja setiap bulan. Anak kita akan tumbuh berkembang di rahimku."
"Benar ... setiap bulan kita harus periksa." Jo mengecup foto USG. "Aduh ... jadi gak sabar nunggu bulan depan lagi."
Hera hanya tersenyum mendengar ucapan Jo. Suaminya itu begitu bahagia. Tampak dari wajah Jo yang berbinar-binar. Jo juga tiada henti mengembangkan senyuman di bibirnya.
...****************...
Hari-hari berlalu dengan sangat cepat. Perut Hera sudah membesar. Dia juga sudah cuti untuk tidak bekerja lagi. Sebenarnya Hera masih ingin bekerja. Namun Jo melarangnya untuk bekerja lagi.
Napsu makannya saja yang bertambah besar. Berat badanya juga naik dratis. Jo semakin mencintai istrinya yang montok itu.
Jo dan Hera selalu menghabiskan waktu bersama-sama. Jo secepat mungkin menyelesaikan pekerjaannya di kantor, selepas itu dia langsung pulang.
Jo semakin sering bercinta dengan istrinya. Hera ingin melahirkan secara normal. Tentu saja itu sebuah kabar baik untuknya. Jo semakin betah berada di dalam rumah. Dia jarang sekali bertemu dengan para temannya. Kecuali urusan pekerjaan dan makan siang bersama.
Saat ini Jo dan Hera tengah berada di sebuah mall. Mereka berbelanja segala macam perlengkapan bayi. Jenis kelamin dari bayi Jo adalah laki-laki.
Jo merasa bahagia karna anak pertamanya adalah laki-laki. Keluarga Jo juga bahagia mendengarnya. Tuan Wijaya dan mama Rita, akhirnya mendapat sepasang cucu laki-laki dan perempuan.
Jo terlihat asyik memilih baju-baju lucu untuk anaknya. "Sayang ... lihat baju ini. Semuanya sangat lucu."
"Benar ... kita ambil satu pasang saja tetapi lain motif," sahut Hera.
Jo mengambil baju-baju itu dengan berbagai motif. Hera juga membeli sepatu dan topi khusus bayi. Mereka juga membeli boks bayi. Semua keperluan bayi mereka beli. Tidak masalah berapa pun harganya.
Hera sudah kelelahan habis berbelanja. Dia sudah tidak kuat lagi untuk berdiri. Hera duduk di kursi yang berada di toko bayi itu. Dia menunggu Jo yang sedang membayar semua belanjaan mereka.
__ADS_1
Jo datang menghampiri Hera. Semua belanjaan tadi akan di antar oleh kurir toko itu. Belanjaan mereka sangat banyak. Tidak mungkin Jo membawanya sendiri.
"Sayang ... kamu lelah?" tanya Jo.
Hera mengangguk. "Aku lelah dan lapar."
Jo malah terkekeh akan ucapan Hera. Tubuh istrinya sudah semakin besar saja. Pipinya juga bertambah chubby. Hera bahkan sangat sedikit susah untuk bergerak.
"Sayang ... kamu harus diet. Anak kita besar di sana. Nanti kamu susah untuk mengeluarkannya," tutur Jo.
Jo jadi takut sendiri. Jo takut istrinya itu tidak bisa mengeluarkan bayi mereka. Berat badan Hera naik dratis. Bahkan Hera sangat susah untuk bergerak. Dia cepat lelah dengan membawa tubuhnya.
"Aku tahu ... aku ini Dokter. Kamu tenang saja," ucap Hera.
Hera juga menyadari dia susah untuk bergerak. Hera melakukan konsultasi pada ahli gizi. Dia akan melakukan diet tetapi anak dalam kandunganya tetap sehat.
Hera mengurangi mengkonsumsi karbohidrat. Dia juga mengikuti senam ibu hamil. Jo selalu setia mendampingi istrinya itu.
"Ya sudah ... kamu mau makan apa?" tanya Jo.
"Makan salad buah saja," jawab Hera.
Hera bangkit dari duduknya dengan di bantu oleh Jo. Mereka lalu menuju restoran yang berada di mall itu. Jo memesan salad buah serta makanan untuknya. Jo hanya memesan menu protein.
Dia tidak mau saat makan nasi, maka Hera akan menginginkan-nya juga. Beberapa menit menunggu, pelayan datang dengan membawa pesanan mereka.
Pelayan restoran menata semua makanan yang dipesan Jo di atas meja. "Silakan ... Tuan, Nyonya."
"Terima kasih," ucap Hera.
Hera makan dengan lahap salad buah yang di pesan suaminya. Jo hanya mengeleng melihat Hera. Jo merasa yakin sekali, kalau anak mereka akan gendut nantinya.
"Pelan-pelan makannya, sayang," ucap Jo.
"Aku rasa ... anak kita nanti akan gendut," gumam Jo yang melihat Hera begitu rakusnya.
Jo yakin anak dalam kandungan Hera akan menuruti dirinya waktu masih muda. Anaknya juga akan bertubuh gendut sama seperti saat Jo masih muda.
TBC
__ADS_1
Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.