Terpaksa Menikahi Mantanku

Terpaksa Menikahi Mantanku
Bab 68 S2


__ADS_3

Di tengah perbincangan para orang tua. Sinta menoleh ke belakang saat suara perempuan memanggil namanya. Tuan Wijaya serta istrinya juga kaget saat melihat wanita itu. Dia adalah Hera, gadis yang rencananya akan mereka jodohkan dengan Jo.


"Mama," panggil Hera.


Hera menghampiri meja mamanya. Dia juga terkejut saat melihat Tuan Wijaya dan mama Rita. Sinta menyuruh anaknya untuk duduk di kursi sebelahnya.


"Nak ... kenalkan mereka adalah teman mama," kata Sinta.


"Kami sudah mengenal anakmu, Sin. Kalau jodoh memang gak kemana. Aku juga sudah berencana menjodohkan Hera dengan anakku," ungkap Tuan Wijaya.


Sinta sangat kaget mengetahui fakta bahwa, mantan kekasihnya itu sudah mengenal anaknya.


"Ma ... kemarin juga, Hera baru makan malam sama Papa dan Mama," tutur Hera.


"Iya ... Sin, kemarin malam kami mengajak anakmu makan malam di rumah," sahut Rita.


Sinta sungguh tidak menyangka jika anaknya sudah mengenal para temanya. Dan lebih mengejutkan mereka sudah makan malam bersama. Itu artinya, Sinta tidak harus repot-repot mengatakan perjodohan yang akan dia rencanakan.


"Karena kamu sudah mengenal teman mama, artinya kamu setuju dengan perjodohan ini," ucap Sinta.


Hera melongo dengan penuturan mamanya. Bagaimana bisa mamanya mengatakan dirinya setuju tentang perjodohan. Hera hanya mengenal mereka saja. Lalu kenapa merembet ke masalah perjodohan.


"Pasti Hera mau, anakmu dan anakku sudah saling mengenal. Mereka bahkan dulunya satu sekolah," tutur Tuan Wijaya.


"Wah ... mereka memang berjodoh. Gimana kalau kita secepatnya meresmikan hubungan ini?" tanya Sinta.


Mama Rita dan Hera membelalak dengan penuturan Sinta. Sepertinya dalam pembicaraan kali ini hanya ada dia dan Tuan Wijaya saja. Mereka asik dengan masalah perjodohan tanpa meminta pendapat dari orang yang duduk di sebelah mereka masing-masing.


"Boleh juga, minggu depan saja kita laksanakan pertunangan," kata Tuan Wijaya.


"Ta-tapi Pa, aku rasa Jo tidak akan setuju dengan rencana ini. Jo pasti sudah punya pacar," ucap Hera.


Hera ingin menolak sebenarnya. Karena tidak ingin membuat para orang tua kecewa, dia sengaja memakai nama Jo untuk menolak perjodohan ini.


"Jo tidak punya pasangan. Mereka sudah putus sejak lama," ungkap Tuan Wijaya.


Mama Rita geleng-geleng kepala. Suaminya memang sangat ingin berbesan dengan mantan kekasihnya. Hera menyunggingkan senyum terpaksa. Jawaban dari Tuan Wijaya tidak sesuai harapannya.

__ADS_1


"Karena semua setuju, kita akan menyiapkan segalanya untuk acara pertunangan mereka berdua," tutur Sinta.


"Yah ... kamu benar. Rita nanti yang akan menghubungi kalian," kata Tuan Wijaya.


Selesai berbincang-bincang, mereka semua pulang ke tempat masing-masing. Tuan Wijaya mampir dulu ke mansion anaknya Berli.


Supir melaju membelah jalanan kota yang cukup padat. Di dalam mobil Tuan Wijaya tampak bahagia dengan perjodohan ini. Sedang mama Rita, malah kesal. Tanpa persetujuan Jo, suaminya malah akan mengadakan acara pertunangan.


Di mobil lain Hera, mamanya Sinta juga sangat gembira. Raut wajah yang tidak muda lagi itu, selalu tampak tersenyum. Hera melirik ke arah samping mamanya.


"Mama koq main setuju saja sih. Hera belum mengatakan pendapat Hera mengenai pertunangan ini," ujar Hera.


Sinta sedikit kaget. "Lho ... bukanya kalian saling mengenal. Anak dari Wijaya dan kamu sama-sama tidak punya pasangan. Apa salahnya jika kalian di jodohkan. Papa kamu pasti akan sangat senang mendengarnya.


Hera malas untuk berdebat lagi. Nanti saja saat mereka sampai di rumah barulah Hera akan bicara.


*****


Supir berhenti di kediaman mansion Alex. Supir membukakan pintu untuk kedua majikannya. Tuan Wijaya melangkah masuk dengan ikuti oleh istrinya.


"Liora," pekik Tuan Wijaya.


Berli keluar karena mendengar suara teriakan papanya. Dengan Liora di gendongannya, Berli turun dari anak tangga.


"Papa, Mama, kenapa gak bilang mau kesini. Alex masih di kantor," ujar Berli.


"Papa mau ketemu Liora. Biar saja Alex di kantor, sekalian ada yang ingin papa bicarakan," ujar Tuan Wijaya.


Mama Rita mengambil alih Liora dalam gendongan Berli. Kedua orang tuanya melepas rindu pada cucu pertama mereka. Setelah puas mencium dan menimang cucu mereka, Liora di bawa ke atas oleh suster pengasuh.


"Papa ingin membicarakan apa?" tanya Berli.


"Kamu ... bujuk adikmu. Papa ingin menjodohkan dia dengan anak teman Papa," ucap Tuan Wijaya.


"Apa ... Pa?" Berli kaget mendengar ucapan papanya. "Papa gak lagi bercanda, kan?"


Tuan Wijaya mengeleng. "Papa serius, mereka akan bertunangan minggu depan."

__ADS_1


"Pa ... jangan mengambil keputusan sendiri. Biar Jo menentukan pilihan hatinya. Jo sudah mempunyai kekasih Jessica," lirih Berli.


Mendengar nama Jessica, Tuan Wijaya berdecak. "Ck ... sampai kapan pun, Papa tidak ingin Jo menikahi wanita itu."


Berli tahu jika Jo menjalin hubungan bersama Jessica. Berli mengenal Jessica saat dia dan Jo tinggal di Inggris. Berli jadi pusing sendiri, dia di beri pilihan antara Jo atau papanya.


Papanya menyuruhnya untuk menbujuk Jo. Lalu bagaimana dengan perasaan Jo. Yang Jo tahu selama ini, Berli sangat mendukung hubungan keduanya. Sekarang Berli harus membujuk Jo untuk bertunangan dengan wanita lain.


Tuan Wijaya benar-benar sangat keterlaluan. Memutuskan sendiri apa yang menjadi kehendaknya. Meski demi kebaikan anaknya, harusnya tidak mengorbankan perasaan cinta anaknya juga.


Jo sudah dewasa dan bisa menentukan pilihannya sendiri. Berli jadi sangat penasaran akan sosok wanita yang akan menjadi tunangan adiknya itu. Wanita itu pasti sangat luar biasa. Sehingga bisa mencuri hati papanya.


"Serah Papa saja, Berli akan berusaha untuk membujuk Jo," ujar Berli.


Tuan Wijaya tersenyum lebar. Dia sengaja menyuruh Berli untuk membujuk Jo. Tuan Wijaya tahu, Jo tidak akan membantah ucapan kakaknya.


*****


Sinta dan Hera sudah sampai di rumahnya. Sinta lamgsung saja masuk untuk menemui suaminya. Hera hanya mengeleng melihat tingkah mamanya.


"Sayang ... kamu di mana?" pekik Sinta.


Tuan David turun dari anak tangga karena suara dari istrinya. Tuan David sedikit heran, tidak biasanya istrinya itu begitu bahagia saat pulang belanja. Istrinya juga bahagia saat pulang dari mall, dengan tangan penuh belanjaan. Tetapi Tuan David melihat, ini lebih dari biasanya.


"Ada apa, Ma?" tanya Tuan David.


"Papa duduk dulu," ujar Sinta.


Tuan David dan Sinta duduk berdampingan di kursi sofa. Hera yang baru masuk ke dalam rumah juga ikut menyusul duduk. Sinta lalu menceritakan semuanya pada suaminya. Awal pertemuannya dengan Wijaya serta tentang perjodohan Hera.


Tuan David tampak kaget sekaligus juga senang. Mereka akan berbesanan, dengan perjodohan ini maka silaturahmi mereka akan terjalin.


"Papa setuju, lagian dulu kita juga saling mengenal dan memiliki hubungan. Kita sudah tahu sifat dari keluarga Wijaya dan Rita. Papa sudah tidak sabar untuk minggu depan," tutur Tuan David.


Hera hanya menghela napas. Papanya sudah setuju. Artinya tiada lagi harapan untuk Hera menolak. Tuan David, tidak bisa di tolak atau di bantah. Jika dia sudah bilang setuju artinya Hera harus menerima perjodohan ini.


Tbc

__ADS_1


Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.


__ADS_2