
Alex bergegas untuk pergi dari apartemen Rania. Rania mendelik kesal Alex pergi begitu saja meninggalkan dirinya seorang diri. Baru satu hari menjadi suami dari Berli, Alex sudah berubah.
Rania mengepal tangan lalu melempar semua barang yang ada di hadapannya. Rania tidak ingin kalah dari mantan sahabatnya itu. Dari dulu semenjak sekolah Rania selalu iri pada Berli. Rania hanya berpura-pura saja berteman dan menjadi sahabat Berli.
Rania selalu iri akan kepintaran dan kecantikan dari Berli. Di sekolah Berli yang menjadi favorit, sedang dirinya hanya menjadi yang kedua. Rania selalu ingin apa yang di miliki Berli, dia juga menginginkannya.
Saat Rania tahu Alex adalah pacar dari Berli, maka Rania mencoba untuk merebutnya. Apalagi Berli tidak pernah bisa memberikan apa yang Alex inginkan, maka terbuka lah kesempatan lebar untuknya.
Tapi sekarang sepertinya Berli akan menjadikan Rania yang kedua lagi. Berli sudah menjadi istri dari Alex sedangkan Rania di jadikan simpanan. Tidak lama lagi hati Alex akan di kuasainya.
Rania menarik rambutnya lalu berteriak histeris. "Agkhhhhhh...."
Rania terisak seraya melempar barang yang ada di hadapannya. "Aku... tidak akan kalah darimu Berli."
Alex melajukan mobilnya untuk segera sampai di mansion mertuanya. Alex tidak ingin jika Berli pergi menemui Maxim. Alex terus melirik arloji di pergelangan tangannya. Alex berdecak sisa waktunya hanya sepuluh menit lagi.
Alex memarkirkan mobilnya secara sembarang di halaman mansion. Alex berlari menuju tangga untuk masuk ke kamar Berli. Jo yang melihat Alex berlari terlihat heran. Jo menegur Alex tapi pria yang sudah jadi iparnya itu tidak mendengar.
Alex terengah-engah menarik napas lalu mengembuskan secara perlahan. Berli berhasil membuat dirinya menjadi seorang pembalap dan pelari dalam satu hari.
Alex masuk ke dalam kamar, terlihat Berli tengah memoles wajahnya. Alex semakin yakin jika Berli akan pergi keluar menemui Maxim.
Berli terlihat heran melihat Alex yang tersengal-sengal dengan napasnya. "Kamu, kenapa sayang?"
Berli bersikap semanis mungkin pada suaminya. Berli beranjak keluar kamar menuju dapur. Berli mengambilkan air minum untuk suaminya. Berli kembali ke atas setelah mengambil minum.
Berli memberikan Alex minum agar suaminya itu sedikit lebih tenang. Alex meminum air putih itu hingga tandas. Berli mengelap keringat di dahi Alex.
Alex sudah merasa tenang, napasnya juga sudah teratur. "Aku... sudah datang, jangan pergi."
Berli tersenyum lalu mengendus bau dari tubuh Alex. "Kau... menyentuh wanita itu!"
Alex terkesiap. "A-aku... hanya memeluk Rania saja."
Berli tersenyum sinis lalu beranjak meraih tas untuk keluar. "Aku... akan pergi menemui Maxim."
__ADS_1
Alex mendelik. "Aku... sudah tiba dirumah, tapi kenapa kamu masih ingin pergi?"
Berli menghentikan langkah kakinya lalu menoleh pada Alex. "Kamu memeluk Rania, kan?"
Alex hanya terdiam, dia sudah berbuat kesalahan pada istrinya dengan memeluk wanita lain. "Maaf...."
Berli berdecih. "Cih... simpan saja kata maaf itu. Sudah aku katakan, apa yang kau lakukan pada Rania maka aku akan melakukannya pada pria lain.
Berli pergi meninggalkan Alex di kamar. Alex hanya menatap nanar kepergian istrinya. Berli melajukan mobilnya menuju sebuah cafe. Berli pergi menemui Maxim karna pria itu ingin bertemu.
Maxim sudah berada di cafe menunggu kedatangan Berli. Maxim tidak sabar ingin bertemu dengan wanita yang telah mencuri hatinya itu. Maxim membawa sebuket mawar merah untuk Berli.
Maxim tersenyum tak kala melihat Berli datang dan berjalan ke arahnya. Maxim berdiri menyambut kedatangan Berli. Maxim menarik kursi mempersilakan Berli untuk duduk.
Maxim memberikan Berli sebuket mawar merah. "Bee... ini untukmu."
Berli tersenyum mengambil bunga mawar itu. "Terima kasih... Bee."
Maxim memesan minuman dan juga cemilan untuk menemani mereka berbincang. Maxim bahagia hanya dengan melihat wajah cantik Berli. Andai saja Berli menerima cintanya tapi sayang itu sudah terlambat.
Berli tersenyum lalu melepas tangannya. Berli sadar jika dirinya sudah bersuami, meski suaminya itu memiliki simpanan. Tapi haruskan dia juga membalas perbuatan Alex. Berli hanya mengertak Alex saja, jika dirinya akan membalas perbuatan Alex.
Berli juga takut akan dosa. Jika dia membalas perbuatan Alex, bukankah itu juga sama artinya dia berbuat dosa. Bukannya menyadarkan Alex tapi dia akan sama-sama terjatuh di lubang dosa. Berli semakin bingung dengan pikirannya sendiri.
Maxim bingung, Berli melepas genggaman tanganya. "Bee... kenapa?"
Berli tersenyum. "Bee... aku sudah menikah."
Maxim menghela napas panjang. "Hah...."
Menikah, kata itu sangat tidak ingin di dengar oleh Maxim saat ini. Maxim sadar jika Berli sudah bersuami, tapi suaminya saja punya simpanan. Tidak bisakah Berli menjadikan dirinya sebagai simpanan saja.
"Tidak... bisakah, aku menjadi simpananmu," ucap Maxim.
Berli melotot tidak percaya jika Maxim bisa berkata seperti itu. "Bee... apa kamu tidak sadar, apa yang baru kamu ucapkan?"
__ADS_1
Maxim tidak peduli, Berli menjadikan dirinya apa pun akan di terimanya dengan bahagia. Maxim tidak ingin jauh dari Berli. Dia sudah jatuh cinta pada istri orang.
"Aku... serius," ucap Maxim.
Berli hanya geleng-geleng kepala. "Bee... jika aku menjadikan kamu simpanan, apa bedanya aku dan Alex?
Maxim menatap mata Berli. "Alex... juga punya simpanan."
"Haruskah... aku membalasnya, Bee?" tanya Berli.
Maxim juga bingung dengan keadaan mereka saat ini. Kisah ini begitu rumit di antara mereka. Berli tidak bisa berbuat apa-apa, melepas satu maka yang satu akan merasa kecewa.
Jika Berli menolak perjodohan dengan Alex maka orang tuanya akan kecewa. Hubungan baik orang tuanya dan Tuan Wiliam akan putus. Jika berpisah dari Alex, maka itu juga sama akan membuat dua keluarga putus hubungan.
"Bee... kita jadi teman saja," ucap Berli.
"Tapi... aku mencintai kamu," ucap Maxim.
"Bee... aku, tidak ingin memanfaatkan dirimu untuk membalas Alex. Kau pria tampan dan juga mapan. Pasti banyak wanita yang ingin menjadi milikmu," ucap Berli.
Maxim memelas. "Tapi... aku ingin dirimu."
Berli hanya diam, mengambil tas lalu beranjak untuk pergi. Maxim menghentikan langkah Berli dengan memeluknya.
"Maaf, aku tidak akan memaksa kamu... " ucap Maxim lirih.
Berli kembali duduk di kursinya. "Bee... sungguh maafkan aku."
Berli juga tidak tahu harus berbuat apa. Dia sendiri juga bingung akan kisah yang telah dibuatnya. Maxim mengalihkan pembicaraan tidak ingin membahas masalah cinta.
Maxim tidak ingin Berli pergi hanya karna dirinya membahas perasaan cintanya itu. Mereka berdua berbincang lalu bercanda bersama layaknya sebagai seorang teman.
Di sisi lain Alex bolak-balik di dalam kamar. Pikirannya sudah melayang kemana-mana, membayangkan kebersamaan Maxim dan juga istrinya. Alex mengacak-acak rambutnya, duduk lalu berdiri. Segala tingkah lakunya itu karena dirinya merasa cemburu.
Tbc
__ADS_1
Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.