
Semua tamu undangan sudah berdatangan. Jo juga sudah berdiri di depan Altar pernikahan menunggu Hera. Sama sekali tidak ada rasa gugup dalam hatinya.
Jo tampak sangat santai saja. Dia tidak terlalu menganggap pernikahan ini penting baginya. Semua tamu undangan melirik ke arah di mana datangnya sang mempelai wanita.
Hera berjalan dengan sangat anggun dengan gaun pengantin yang melekat di tubuhnya. Dia tampak sangat gugup sangat mendekati Altar pernikahan.
Tuan David sebagai pendamping Hera menepuk tangan sang anak agar merasa rileks. Hera tersenyum pada ayahnya.
Tuan David berbisik kecil di telinga Hera. "Tenanglah ...."
Hera mengangguk seraya tersenyum. Tuan David memberikan tangan Hera agar di sambut oleh calon mempelai laki-laki. Jo membawa Hera ke hadapan pendeta.
Acara pengucapan janji suci mulai di ucapkan. Jo menyematkan cincin pernikahan di jari manis Hera. Begitu juga sebaliknya. Jo membuka tudung wajah Hera ke atas dan mendaratkan sebuah ciuman, sebagai tanda mereka telah sah sebagai pasangan suami dan istri.
Tepuk tangan para tamu undangan mulai bergemuruh. Dua keluarga merasa bahagia karena akhirnya mereka bisa menjadi satu. Para awak media mulai mengabdikan moment sakral itu.
Semua sudah selesai hanya tinggal resepsi saja. Tamu undangan mulai menikmati hidangan yang sudah tersedia. Jo dan Hera mulai menyambut tamu yang memberi ucapan selamat pada mereka berdua.
Hera memperhatikan raut wajah Jo yang terlihat sendu. Hera tahu pasti bahwa Jo pasti sedang kecewa saat ini. Seharusnya yang berdiri di samping Jo adalah Jessica bukannya dia.
Jo hanya pura-pura tersenyum saat tamu undangan memberi ucapan padanya. Mama Rita dan Berli yang melihat itu hanya menatap sedih. Mereka hanya bisa berharap kalau Hera bisa menyembuhkan luka di hati Jo.
Brian dan Maxim datang memberi ucapan selamat pada pasangan pengantin itu. Mereka juga memberi hadiah untuk keduanya.
Brian memeluk Jo. "Selamat Jo ... jangan lupa kamu coba video yang aku kirim semalam."
Maxim juga merangkul Jo. "Selamat Jo ... malam ini kamu bakalan begadang."
Brian dan Maxim terkekeh geli. Sedang Jo sangat kesal mendengar ucapan dari para temannya itu. Berli dan Alex juga memberi selamat pada adik mereka.
"Selamat Jo, Hera," ucap Alex.
"Makasih, Kak," balas Jo.
Alex lalu berbisik di telinga Jo. "Jangan lupa ... obat yang aku kasih, kamu minum."
Alex terkekeh geli. Sedang Jo sangat kesal mendengarnya. Tidak Brian, Alex dan Maxim, mereka semuanya sama saja.
__ADS_1
Berli merangkul Jo dan Hera secara bergantian. "Selamat Jo, Hera ... semoga kehidupan pernikahan kalian bahagia."
"Terima kasih, Kak," ucap Hera.
Hera sudah sangat lelah karena berdiri terus. Tamu undangan masih banyak yang belum memberikan ucapan selamat. Kakinya sudah sangat sakit karena memakai heel.
Seorang pria tampan datang memberi ucapan selamat pada Jo dan Hera. Dia adalah teman satu profesi dengan Hera. Pria itu bernama Devan.
Hera mengembangkan senyum sumringah melihat kedatangan Devan.
Devan mengulurkan tanganya pada Jo. "Selamat ...."
"Terima kasih," sahut Jo.
Devan beralih pada Hera dan memberi pelukan. "Selamat Hera ... kamu cantik sekali."
Hera tersipu malu di puji seperti itu. "Devan ... terima kasih sudah datang."
Jo sangat kesal melihat tingkah Hera yang menurutnya sangat kecentilan. Jo melingkarkan tangan di pinggang Hera. Dia lalu memberi tatapan tajam pada Devan.
Devan hanya tersenyum melihatnya. "Sekali lagi, selamat Hera."
Devan kemudian berlalu meninggalkan pasangan pengantin itu. Jo mencengkram pinggang Hera kuat. Hera meringis sakit tetapi dia berusaha untuk tidak menampakan- nya.
Hera berusaha memasang senyum manisnya. Dia lalu bicara dengan berbisik. "Sakit, Jo!"
Jo berbisik di telinga Hera. "Awas saja ... kalau kamu bersikap kecentilan seperti tadi."
Hera tidak mengerti akan perkataan dari Jo. Apa yang sudah dia lakukan. Dia hanya menyapa temannya saja. Dia tidak kecentilan di depan Devan.
Jo melepas tanganya lalu mengecup kening Hera. Jo berusaha untuk se-romantis mungkin di hadapan keluarganya. Tuan Wijaya yang melihat adegan itu begitu bahagia.
Dia sedari tadi tengah memperhatikan Jo dan Hera. Jo yang melihat itu lantas mendaratkan ciuman di kening istrinya.
Ballroom hotel mulai sepi. Para tamu undangan sudah pada pulang ke tujuanya masing-masing. Hera dan Jo sudah duduk di hadapan dua keluarga mereka.
Mereka saat ini tengah menikmati acara makan malam. Jo dan Hera memang sudah sangat lapar. Mereka hanya makan tadi pagi. Selesai makan malam barulah kedua keluarga itu berbincang-bincang hangat.
__ADS_1
"Aku sungguh tidak menyangka, akhirnya kita jadi besan," kata Tuan David.
Tuan Wijaya tertawa. "Hahaha ... mungkin ini adalah jodoh. Dulu kita sama-sama tidak jodoh dan sekarang anak kita yang berjodoh."
Jo yang mendengar itu jadi kesal sendiri. Kalau bukan karena papanya, mana mungkin dia menikahi Hera.
"Sayang ... kalian sudah merencanakan honeymoon?" tanya Sinta pada pasangan pengantin baru itu.
"Belum ... aku sangat sibuk," sahut Jo.
Tuan Wijaya dan mama Rita sedikit tidak enak mendengar sahutan dari Jo. Putranya itu berbicara dengan nada yang sedikit ketus.
"Jo ... masih sibuk Sinta. Kamu tidak usah khawatir, Jo sudah menyiapkan honeymoon saat dia ada waktu," tutur Rita.
Tuan Wijaya menatap tajam Jo. Dia seolah memberi kode agar Jo menjelaskan maksud dari mamanya. Jo mulai memasang senyum palsu di wajah tampanya.
"Yang di katakan mama, memang benar. Aku akan mengajak Hera bulan madu ketika kami berdua, sama-sama memiliki waktu luang. Mama Sinta jangan khawatir. Aku janji akan membuat Hera bahagia," tutur Jo.
Sinta dan suaminya merasa lega akan penuturan dari menantunya. Mereka sangat bersyukur mendapat menantu yang baik dan juga tampan.
Hera berasa ingin muntah mendengar mulut manis Jo. Dia tahu kalau Jo hanya berpura-pura manis di depan keluarganya.
"Sebaiknya kalian kembali ke kamar. Kalian pasti sudah sangat lelah," ucap Rita pada Jo dan Hera.
"Besok pagi kita sarapan bersama," kata Tuan Wijaya.
"Baik Pa ... Jo dan Hera pamit ke kamar kami," ucap Jo.
Hera dan Jo lalu berjalan menuju lift. Jo berjalan terlebih dahulu tanpa menunggu Hera. Sedang Hera terlihat kesusahan dengan gaun panjangnya.
Jo berdecak kesal karena Hera sangat lamban berjalan. Jo lalu membantu membawa ujung gaun Hera yang menjuntai. Hera bernapas lega, akhirnya dia bisa berjalan cepat karena ujung gaunya di pegang oleh Jo.
Hera masuk ke dalam lift kemudian di susul Jo dari belakang. Posisi mereka menjadi terbalik. Tadi Jo di depan berjalan, sekarang malah Jo berada di belakang dengan gaun yang dia pegang.
Hera hanya tersenyum melihat suaminya dari pantulan dinding lift. Posisi itu akan segera berbalik. Jo yang membenci tidak lama lagi akan mencinta.
Tbc
__ADS_1
Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.