Terpaksa Menikahi Mantanku

Terpaksa Menikahi Mantanku
Bab 88 S2


__ADS_3

Jo mengeliat bangun dari tidurnya. Dia merentangkan tangan melemaskan otot-otot tubuhnya. Di samping sisinya sudah tidak ada lagi Hera.


Jo beranjak masuk ke dalam kamar mandi. Selesai membersihkan diri, Jo bersiap-siap turun ke bawah. Jo menuruni anak tangga satu persatu untuk sarapan.


Jo tersenyum melihat Jessica yang sudah duduk di meja makan. "Selamat pagi, Jes!"


"Pagi juga, Jo," balas Jessica.


Jo celingak-celinguk mencari Hera. "Jes ... dimana Hera?"


Jessica menghentikan sarapannya. "Hera ... tadi dia di jemput oleh seorang pria. Katanya mereka akan pergi tugas."


Jo terkesiap mendengarnya. "Apa hari ini tugasnya?"


Jessica mengedikan bahu. "Mana aku tahu. Kamu suaminya masa tidak tahu."


Jo lekas meminum jus yang sudah di sediakan oleh Jessica. Dia lalu beranjak bangkit dari duduknya. Jo lekas pergi ke kamar mengambil ponsel.


Jessica mengeleng kepala melihat Jo yang panik. Sudah jatuh cinta tetapi masih saja menyangkalnya. Jessica kembali melanjutkan makannya. Dia juga mengirimkan pesan pada Hera.


Jessica memberitahu Hera kalau sebentar lagi Jo pasti akan menyusulnya ke tempat kerja. Jo mengecek lokasi di mana istrinya berada. Dia bergegas untuk segera pergi menyusul Hera.


Jo menuruni anak tangga. Di tanganya sudah ada kunci mobil. Jessica lekas menghentikan langkah kaki Jo untuk keluar.


"Jonathan ... kamu mau kemana?" tanya Jessica.


Jo berhenti melangkah. "Aku ingin menyusul Hera."


Jessica bersedekap dada. "Aku ada disini, untuk apa kamu menyusul Hera?"


"Jes ... Hera adalah istriku. Aku takut terjadi apa-apa dengannya. Apa lagi bersama Dokter itu," ujar Jo.


"Kenapa kamu khawatir. Hera pergi bersama kekasihnya. Wajar saja kalau mereka berdua bersenang-senang," ucap Jessica.


Jessica sengaja memancing Jo untuk mengungkapkan perasaannya pada Hera. Dia ingin menyadarkan mantan kekasihnya itu akan perasaannya sendiri.


"Hera istriku ... mana mungkin aku membiarkan dia bersama pria lain," ucap Jo.


Jessica tersenyum. "Lha ... kamu sendiri juga begitu. Kamu mengucapkan cinta pada wanita lain di depan istrimu."


Jo terkesiap mendengarnya. Dia tidak menyadari kalau wanita yang bicara padanya adalah wanita yang dia cintai. Jo malah mengungkapkan perasaannya bahwa dia sangat mencemaskan Hera.

__ADS_1


"Jes ... aku tidak bermaksud untuk mencemaskan Hera. Aku hanya tidak ingin Hera membuat malu keluargaku," tutur Jo.


"Kamu sudah mencintai istrimu, Jo. Jangan lagi menyangkalnya. Sikapmu sudah membuktikan itu semua. Jangan sampai di kemudian hari kamu menyesal," kata Jessica.


"Jes ... aku tidak mengerti, apa kemauan dari hatiku sendiri," ujar Jo.


Jessica menghela. "Hah ... apa kamu merasa cemburu, gelisah, selalu menginginkan Hera?"


Jo mengangguk membenarkan ucapan Jessica. "Iya ... aku merasakan itu semua."


"Itu namanya sudah jatuh cinta," pekik Jessi.


Jessica sedikit kesal pada Jo. Masalah begitu saja Jo tidak tahu. Memang benar kata orang. Benci dan cinta itu beda tipis. Kebencian Jo sekarang berubah menjadi cinta untuk Hera.


"Cinta ... aku memang mencintai Hera. Aku sudah menyadarinya. Aku sangat cemburu melihatnya bersama pria lain," ungkap Jo.


Jessica bernapas lega. Akhirnya Jo mengakui perasaan cintanya pada Hera. Jessica merasa senang. Meski hatinya terasa sakit. Jessica yakin, seiring waktu maka luka hatinya akan sembuh. Dia juga akan menemukan pria yang lebih baik dari Jo.


"Jes ... aku minta maaf padamu. Aku sudah membuatmu terjebak ke dalam masalah rumah tanggaku," ujar Jo.


Jessica mengengam tangan Jo. "Sudah lah ... aku sudah tidak memikirkannya lagi. Aku hanya minta kompensasi saja."


Jo mengernyit tidak tahu maksud dari Jessica. "Kompensasi apa?"


Jo menyengir. "Baiklah ... tenang saja. Akan aku bayar semuanya."


Jo mengeluarkan dompetnya. Dia memberi kartu uang kepada Jessica. Semua ini memang ulah dari Jo yang membuat Jessi harus pindah bekerja. Jo harus bertanggung jawab atas semuanya.


"Nih ... aku sudah membayarnya. Aku pamit pergi dulu," ucap Jo.


Jessica mengambil kartu itu. "Terima kasih ... aku akan menginap di hotel dulu. Kamu Berjuanglah, aku lihat pria yang bersama Hera sangat tampan."


Jessica masuk ke dalam rumah setelah menggoda Jo. Jessica sengaja mengatakan kalau pria yang bersama Hera sangat tampan. Pada hal tadi Hera di jemput oleh teman wanitanya.


Jessica sengaja mengerjai Jo. Hitung-hitung membalas perbuatan Jo yang seenaknya. Karena ulah mantanya itu. Selama setahun Jessica akan tinggal dan bekerja di Indonesia sebagai model.


Mendengar kata pria tampan dari bibir Jessi, langsung saja Jo masuk ke dalam mobil. Dia melajukan mobilnya menyusul ke rumah sakit.


Dari lokasi ponsel Hera, istrinya itu masih berada di rumah sakit. Jo melaju dengan kecepatan tinggi. Dia tidak peduli akan keselamatannya. Jo tidak ingin Hera pergi bersama Devan.


Jo memarkirkan mobilnya secara sembarangan. Dia lansung saja berlari menuju ruangan Hera. Tanpa mengetuk pintu terlebih dulu. Jo langsung saja mendobrak masuk.

__ADS_1


Hera yang tengah memberi penjelasan pada pasein kaget akan kedatangan Jo yang tiba-tiba. Pasein keluar setelah selesai di periksa. Hera juga meminta suster pembantunya untuk keluar juga.


Hanya tinggal Jo dan Hera saja di dalam ruangan. Hera bersedekap dada. "Ada apa?"


"Jessi bilang kamu pergi tugas bersama Devan," kata Jo.


"Minggu depan ... bukan sekarang," kata Hera.


Jo melongo ternyata dia di bohongi oleh Jessica. Hera beranjak duduk di kursinya kembali.


"Kenapa kamu tidak menungguku bangun, sebelum pergi?" tanya Jo.


"Aku sudah membangunkan kamu. Hanya kamu saja yang tidak mau bangun," ucap Hera.


Sebenarnya Hera memang tidak membangunkan Jo. Dia dan Jessica bekerja sama agar Jo mengungkapkan perasaan hatinya. Semua sudah terbukti jelas. Hera tidak di sampingnya saja, Jo sudah kelimpungan.


Jo menarik tangan Hera agar istrinya bangkit berdiri. "Kamu belum memberiku morning kiss."


Hera memutar mata malas. "Kamu kesini hanya untuk morning kiss?"


Jo mengeleng. "Bukan itu saja. Aku kira kamu pergi bersama Dokter itu."


"Memangnya kenapa aku pergi denganya?" tanya Hera.


"Aku tidak suka istriku dekat dengan pria lain. Aku sudah menyadarinya. Aku sudah jatuh cinta padamu. Aku mencintai kamu," ungkap Jo.


Hera kaget mendengarnya. Dia tidak percaya kalau Jo mengungkapkan perasaan cintanya.


"Kamu sadar, dengan apa yang kamu ucapkan barusan?" Hera bertanya sekali lagi.


Jo mengangguk. "Aku mencintai kamu. Aku membenci kamu namun hatiku selalu menginginkan kamu. Aku terus menyangkalnya. Tetapi rasa itu semakin menguat. Aku memang mencintai kamu Hera.


Hera memeluk Jo dengan erat. Dia meneteskan air mata bahagia. Akhirnya suami yang dia cintai membalas perasaannya.


"Aku juga mencintai kamu, Jo," ucap Hera.


Jo menghapus air mata yang mengalir di pipi Hera. Jo mengecup kedua mata yang basah oleh air mata itu. Kecupan itu berpindah ke bibir mungil kemerahan. Keduanya saling berciuman mesra. Jo kemudian menahan tengkuk leher Hera untuk memperdalam ciuman panas di antara mereka.


Setelah sekian lama akhirnya rasa cinta itu terungkap juga. Tidak sia-sia perjuangan Hera selama ini. Dia berhasil membuat suaminya itu menjadi miliknya.


TBC

__ADS_1


Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.


__ADS_2