
Ballrom hotel mewah, tempat di laksanakan upacara janji suci antara Hera dan Jo sudah di sulap menjadi sangat indah. Segala macam, dari hal terkecil sudah di persiapkan. Satu pun tidak ada yang kurang. Dari undangan, catering, dan lain sebagainya.
Kedua keluarga menyiapkan pernikahan ini dengan sangat matang. Mama Rita meminta bantuan pada WO yang sudah berpengalaman untuk membuat pernikahan Royal Wedding.
Besok acara resmi itu akan di selenggarakan. Saat ini Jo tengah melamun di dalam kamarnya. Dia masih menatap foto Jessica di dalam layar ponsel miliknya.
"Seharusnya ... aku menikah denganmu. Bukan dengan wanita yang aku benci," lirih Jo.
Jo tidak ingin memberitahu Jessica kalau besok dia akan menikah. Jo tidak mau Jessica semakin terluka. Biar saja Jessica mengetahui berita pernikahannya lewat media.
Tuan Wijaya mengundang seluruh awak media untuk menyaksikan pernikahan putranya. Dia tidak mau pernikahan Jo seperti Berli yang di selenggarakan secara tertutup.
Pintu kamar Jo di ketuk dari luar. Segera saja Jo memutar handle pintu untuk membuka. Ternyata kakaknya Berli yang datang. Jo persilakan Berli untuk masuk ke dalam kamarnya.
Berli dan Jo duduk di sofa yang tersedia di dalam kamar Jo. Berli menatap wajah sendu adiknya. Dia tahu kejadiaan saat Jo pulang dari Inggris.
Berli mengelus pundak adiknya. "Jo ... kamu masih memikirkanya?"
Jo mengangguk. "Bagaimana bisa aku melupakan dirinya!" Jo berkata lirih sambil menundukan wajah. "Seharusnya Jessica yang menjadi pengantin bukan Hera."
Berli mengerti akan perasaan Jo. Tidak mudah untuk melupakan seseorang yang sudah mengisi relung hati kita.
"Jo ... aku dan Alex juga seperti itu. Sekarang kamu lihat, aku sangat bahagia," tutur Berli.
Jo menatap wajah Berli. "Itu sangat berbeda. Kamu dan Alex saling cinta. Aku dan Hera saling benci."
Berli tersenyum. "Benci dan cinta sangatlah tipis perbedaanya. Kakak yakin kamu akan mencintai Hera."
Jo berdecih. "Cih ... aku gak bakalan cinta sama Hera. Hatiku sudah aku berikan seluruhnya pada Jessica."
"Jo ... jangan berkata hal yang akan menjadi boomerang untuk kamu sendiri. Nanti saat kamu sudah bersama Hera, lihat saja, kamu akan bucin sendiri," tutur Berli.
Jo memutar mata malas. "Gak bakalan!"
Berli hanya mengedikan bahu. "Serah deh ... kakak hanya ingin memberi tahu. Perlakukan Hera dengan baik. Jangan pernah menyakiti dirinya."
"Kamu kelihatan setuju sekali, aku menikahi Hera. Kamu kakakku atau kakak Hera?" Jo sangat kesal akan ucapan Berli. Menurutnya Berli sangat mendukung pernikahan ini.
__ADS_1
"Jelas aku kakakmu lah. Aku bukannya mendukung. Tetapi aku hanya memberi kamu saran. Aku takut kebencian di dalam dirimu itu akan menyakiti Hera," tutur Berli.
"Wanita itu memang pantas untuk di sakiti." Jo mengepal geram. "Aku akan buat hidupnya menderita."
Berli kaget mendengarnya. "Jo ... jangan berpikiran seperti itu. Lupakan masa lalu, Hera juga sudah menyesal akan perbuatanya."
Berli mendekat pada Jo. Dia peluk adik kesayanganya itu. "Bukalah lembaran baru. Lupakan semua yang telah terjadi. Terima Hera sebagai pendamping kamu."
Berli keluar dari kamar Jo setelah mengatakan hal itu. Jo menjatuhkan bobot tubuhnya di atas ranjang kasur. Semuanya mendukung Hera. Semuanya ingin Jo menerima Hera.
"Hera ... awas saja kamu," pekik Jo.
Tidak lama setelah Berli keluar dari kamar Jo, sekarang giliran suaminya Alex, yang masuk ke dalam kamar Jo.
Alex menyenggol kaki Jo yang terjuntai di atas tempat tidur.
"Al ... ayo kita duduk di sofa," ajak Jo.
Jo bangkit dari rebahanya menuju sofa. Jo dan duduk saling berdampingan. Alex memberikan paper bag kecil pada Jo. "Nih ... buat kamu. Aku membelinya saat aku ke luar negeri."
Jo mengambil paper bad dari Alex lalu melihat isinya. Jo mengernyit heran, Alex memberinya beberapa botol obat. "Obat apa ini?"
Jo mendelik mendengarnya. "Kamu kira ... aku tidak sanggup untuk melakukanya?"
Alex malah terkekeh geli. "Aku percaya padamu. Obat ini bisa tahan semalaman. Istrimu bakal sangat puas."
Jo memutar mata malas. "Apa kamu memakai ini untuk Berli?"
"Kadang-kadang ... obat ini untuk stamina saja. Kau tidak akan terlalu lelah. Brian saja bisa melahap banyak gadis, hanya dengan obat ini," ungkap Alex.
Jo memutar mata malas. "Kamu pasti tahu obat ini dari Brian."
Alex terkekeh. "Siapa lagi kalau bukan si mesum itu yang memberitahu."
Jo sudah mengiranya. Brian si pakar mesum itu sangat mengetahui urusan ranjang. "Terima kasih ... apa gak kebanyakan nih kamu beli?"
"Itu ... untuk persediaan kamu. Setelah kamu merasakan bercinta, aku yakin, kamu akan ketagihan melakukanya," tutur Alex.
__ADS_1
Alex menepuk pundak Jo. "Aku keluar dulu, sudah larut malam. Aku ingin malam pengantin dulu dengan Berli."
Jo hanya mengeleng menatap kepergian Alex. "Berli ... aku kasihan padamu malam ini. Kamu akan kurang tidur dan besok kamu akan kesusahan untuk berjalan."
Dering ponsel milik Jo berbunyi. Ada pesan masuk dari Brian. Jo membuka pesan itu dan membacanya. Ternyata ada banyak sekali video yang di kirim Brian.
Jo hanya kesal saja dengan dua tingkah sahabat itu. Alex memberinya obat dan Brian mengirimkanya video. Jo lalu menelepon nomor Brian. Cukup lama menunggu Brian belum mengangkatnya.
Jo mencoba sekali lagi. Kali ini Brian mengangkat telepon darinya.
"Hallo ... Brian. ~ Jo.
Jo mendengar suara-suara seorang wanita yang melenguh.
"Jo ... aku lagi sibuk. ~ Brian.
Jo juga mendengar napas Brian yang seperti di buru. Jo berdecak ternyata Brian sibuk bermain.
"Brian ... berhenti bermain-main. Menikah sana, dasar perjaka tua. ~ Jo.
Jo mematikan sambungan teleponya. Dia lalu menatap kembali obat dan video yang di kirim oleh ipar dan temanya. Jo tiba-tiba punya ide jahil untuk mengerjai Hera.
Dia lalu mengirimkan video itu pada Hera. Jo juga mengirim pesan padanya.
~ Aku ingin, kamu mencontoh adegan ini untuk besok, malam pertama kita, Jo.
Hera yang masih belum tidur itu segera meraih ponselnya yang berdering. Dia membuka isi pesan chat dari Jo. Hera kaget menerima video itu.
"Jo mesum ... dia mau aku melakukan hal yang sama seperti ini," geram Hera.
Hera melempar ponselnya di atas kasur. Dia membaringkan tubuhnya. Besok adalah hari di mana dia akan menjadi Nyonya Jonathan Wijaya. Pria yang memiliki kebencian padanya.
Hera juga memikirkan malam pertama mereka. Hari-hari yang lalu saja, Jo sudah menyiksa tubuhnya. Apa lagi besok saat mereka sudah bersama. Hera yakin kalau dia akan lebih tersiksa lagi.
Jo sudah mengirimkan video bercinta itu pada Hera. Itu artinya besok dia harus menyerahkan mahkota miliknya. Hera menutup wajahnya dengan bantal. Dia tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi besok.
Tbc
__ADS_1
Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.