Terpaksa Menikahi Mantanku

Terpaksa Menikahi Mantanku
Bab 62 S2


__ADS_3

Masa sekolah Jo


Jo seorang anak yatim piatu, bertampang gendut. Jo bersekolah di sekolah elite karena mendapat beasiswa. Jo sangat pintar, setiap tahun dia selalu menjadi juara umum.


Hera siswa populer di sekolah. Selain populer, Hera juga sangat cantik. Tidak ada para siswa yang tidak menyukai kepribadiannya. Hera berpacaran dengan Jo seorang kutu buku.


Hera secara tidak sengaja bertaruh bersama temannya untuk menjadi pacar dari Jo. Tanpa di sangka, Jo malah memilih Hera sebagai pacarnya. Pada hal teman Hera yang menyatakan cinta pada Jo juga cantik.


Mau tidak mau Hera menjadi pacar Jo yang gendut. Jo memang sudah suka pada Hera. Saat pertama melihatnya, Jo sangat mengagumi akan kecantikan Hera. Saat Hera menyatakan cinta padanya, tentu Jo tidak akan menyia-yiakan kesempatan itu.


Hera duduk di kantin bersama dua orang temannya. Mereka saling bicara dan bersenda gurau.


"Hera... apa kamu masih pacaran dengan Jo?" tanya Devi.


"Masih... kenapa memangnya?" tanya Hera.


"Sudah lebih dari tiga bulan dari taruhan itu. Seharusnya kamu sudah putus dengan Jo," kata Devi.


"Biar saja... Jo jadi pacarku. Aku bisa memanfaatkan dirinya," ujar Hera.


"Benar Her... pacarmu itu pintar, kamu bisa manfaatkan dia," ujar Eva.


Jo datang dengan tubuh gendutnya. Jo membawa buku tugas Hera yang telah dia kerjakan. Teman-teman Hera berbisik saat Jo datang menghampiri meja mereka.


Hera berpura-pura memasang wajah manis di hadapan Jo. "Jo... kamu di sini!"


Hera bergeser dari tempatnya duduk agar Jo bisa duduk di sampingnya. Hera sedikit kesal sangat Jo berada di dekatnya. Tubuh Jo sangat gendut, lengan mereka saling bersentuhan saat Jo duduk.


Tetapi demi sandiwara yang dia lakukan, Hera pura-pura senang. Hera berasa jijik di dekat Jo. Bagaimana tidak, tubuh yang gendut itu mengeluarkan keringat. Lengan Hera tentu terkena keringat dari lengan Jo.


Hera harus menahan itu semua demi agar Jo menjadi suruhannya. Wajah Jo jelek dengan jerawat di wajahnya. Di tambah lagi kacamata yang menempel di matanya. Jo tidak kaya seperti Hera. Jo tinggal di panti asuhan. Hanya otak pintar saja yang Jo punya.


"Hera... ini tugasmu, aku sudah mengerjakan semuanya," ucap Jo.


Jo menyerahkan buku tugas ilmiah pada Hera. Sungguh sangat menyenangkan punya pacar pintar dan bisa di suruh-suruh. Hera mengambil buku tugas itu dan memeriksanya. Hera senang bukan main, tugas semua sudah selesai. Itu artinya, Hera bisa pergi main bersama temanya.


"Makasih Jo!" ucap Hera.


Jo merasa sedikit gugup untuk bicara. Dia takut jika Hera menolak dirinya. Jo tidak punya apa-apa, selama mereka menjalin hubungan tidak pernah sekali pun jalan bareng.


Selama tiga bulan berpacaran, Jo bekerja paruh waktu. Jo ingin mengajak Hera untuk jalan berdua denganya. Dia sudah mengumpulkan uang untuk membelikan Hera sebuah hadiah.


"Hera... aku ingin mengajak kamu jalan sepulang sekolah," ucap Jo.

__ADS_1


Teman-teman Hera berusaha menahan tawa. Mereka tidak dapat membayangkan Hera yang cantik bersama pria buruk rupa. Apa kata orang saat melihat mereka berjalan berdua.


Hera mendelik akan ucapan Jo. Mau di taruh di mana wajahnya jika sampai jalan bareng Jo. Di sekolah memang Hera cuek saja. Tapi jika di luar pasti beda lagi. Akan sangat malu Hera nantinya.


Hera bingung ingin menjawab apa. Hera memberi kode pada temannya agar meninggalkan mereka berdua. Eva dan Devi meninggalkan Jo dan Hera. Hera pindah dari tempat duduknya. Sekarang mereka saling berhadapan.


"Kamu... ingin mengajak aku kemana?" tanya Hera.


"Aku... hanya ingin mengajakmu menonton saja," kata Jo.


"Kau punya uang?" tanya Hera.


"A-aku punya sedikit," ucap Jo.


Jo terbata-bata sangat bicara mengenai uang. Hera anak orang berada berbeda sekali dengan Jo. Tetapi demi kekasihnya, Jo bekerja keras. Mungkin Hera akan senang akan ketulusan yang Jo berikan.


Hera menghela. "Hah... baik, aku akan menunggu kamu di parkiran nanti selepas pulang sekolah."


Hera langsung saja pergi meninggalkan Jo. Betapa bahagia hati Jo, akhirnya dia bisa juga jalan bareng Hera. Jo balik ke kelas dengan senyum sumringah.


Bel tanda pulang sekolah berbunyi. Jo sudah menunggu Hera di parkiran dengan sepeda bututnya. Hera yang bersama temannya menuju parkiran di mana mobilnya berada.


"Kamu yakin mau jalan bareng Jo?" tanya Eva.


"Ya nggak lah... kapan sampainya kalau pake sepeda," ucap Hera.


Hera berserta temannya berpisah dan masuk ke dalam mobil masing-masing. Hera sengaja menunggu semua temanya pulang. Keadaan sudah sepi, Hera menghampiri Jo.


"Jo... kita pergi pakai mobilku saja. Tinggalkan saja sepedamu di sekolah," ujar Hera.


Jo mengangguk. "Baiklah...."


Jo dan Hera masuk ke dalam mobil. Segera mobil Hera melaju meninggalkan area sekolah menuju mall. Hera memarkirkan mobilnya saat sudah sampai di mall. Hera keluar dan berjalan lebih dulu. Jo berusaha untuk mengejar Hera.


Dengan tubuhnya yang gendut itu, tentu saja Jo merasa kewalahan. Jo menarik tangan Hera dan mengengamnya. Hera harus menahan malu sangat orang-orang melihatnya.


Hera dan Jo pergi menonton dan juga makan. Orang yang melihat mereka saling berbisik. Ada yang menertawakan dan ada juga yang merasa kagum. Mereka kagum karena merasa Hera memiliki cinta tulus untuk Jo.


Jo memberikan sebuah gelang imitasi untuk Hera. "Hera... ini untukmu!"


Hera mengambil gelang itu dan memasukannya ke dalam saku bajunya. "Makasih... ayo pulang, aku sudah capek. Kamu pulang sendiri, aku ingin langsung pulang kerumah."


Tanpa mendengar ucapan dari Jo, Hera pergi dari mall. Jo memeriksa uang yang masih tersisa di saku celananya. Uang itu hanya bisa mengantarnya separuh perjalanan untuk ke sekolah.

__ADS_1


Jo harus ke sekolah mengambil sepeda miliknya. Angkutan umum menurunkan Jo di tengah jalan. Jo akhirnya jalan kaki menuju sekolah. Hari sudah gelap, Jo terengah-engah berjalan kaki. Meski Jo bersepeda tetapi bobot tubuhnya tidak kurus.


Makan makanan instan penyebab itu semua. Jo kadang makan mie instan saja tanpa nasi. Hidup di panti membuatnya harus berbagi. Jo sudah mencoba untuk diet, tetapi tetap saja bobot tubuhnya tidak turun.


Jo tidak mengerti cara menjaga bentuk tubuhnya. Karena makanan instan, wajah Jo juga jerawatan. Makanan berminyak dan berlemak itu yang dia makan setiap hari.


*****


Baru saja sampai di sekolah, Hera sudah di berondongi pertanyaan oleh Eva dan Devi. Mereka penasaran bagaimana acara kencan Jo dan Hera kemarin.


"Gimana kemarin?" tanya Eva.


"Cerita dong, penasaran nih," ucap Devi.


"Aku malu sekali jalan sama Jo, secara dia itu jelek, gendut. Orang-orang pada menertawakan kami. Mau taruh di mana wajahku ini. Kalau bukan karena Jo itu pintar, aku gak bakal mau sama dia," tutur Hera.


"Apa maksud kamu?" tanya Jo.


Hera kaget tiba-tiba saja Jo datang. Hera gelagapan begitu juga temanya. Mereka sudah keceplosan membicarakan Jo.


"Jadi... kamu cuma manfaatin aku?" tanya Jo lagi.


Hera beranjak berdiri mendekati Jo. Hera saling berhadapan dengan pacarnya. Hera melipat tangan di dada. Tidak lupa senyum sinis yang dia tunjukan kepada Jo. Inilah saatnya memberitahu Jo kebenarannya. Semua siswa kelas mereka berkumpul melihat Jo dan Hera.


"Kamu pikir, aku mau sama kamu yang jelek!"


Hera menunjuk wajah Jo. "Aku itu cuma manfaatin otak kamu. Kamu mikir seharusnya, mana mau aku sama kamu. Dasar gak sadar diri," ucap Hera.


Hera mengambil gelang imitasi yang di beri Jo di dalam saku bajunya. Hera melempar gelang itu ke lantai dan menginjaknya. Hera lalu menendang gelang itu ke hadapan Jo.


"Ini... ambil gelangmu itu, barang murahan tidak cocok untuku," ujar Hera.


Jo mengambil gelang itu. Uang hasil keringatnya selama tiga bulan, sama sekali tidak di hargai. Siswa yang menonton banyak yang bersorak menertawakan Jo.


Jo menatap tajam Hera. "Aku pastikan, kamu akan membayar ini semua. Kamu akan merangkak memohon maaf padaku."


Jo pergi dengan segala kesedihanya. Ternyata cintanya bertepuk sebelah tangan. Hera tidak pernah menyukai dirinya. Benar kata Hera, seharusnya dia sadar diri. Hera gadis populer, mana mungkin suka dengannya.


Hera tertawa puas akan sikapnya pada Jo. Para siswi banyak mencibir perbuatan Hera. Menurut mereka tidak seharusnya Hera mempermalukan Jo di depan kelas. Hera menyadari itu, tapi penyesalan memang suka datang terlambat.


Tbc


Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.

__ADS_1


__ADS_2