Terpaksa Menikahi Mantanku

Terpaksa Menikahi Mantanku
Bab 38


__ADS_3

Berli sudah berada didalam mobil Maxim. Malam ini benar-benar penuh kejutan, entah bagaimana perasaannya saat ini. Awalnya hanya untuk menunjukan kepada Alex kalau dirinya juga punya kekasih. Tapi lihatlah kini bahkan Berli terjebak akan perasaannya sendiri.


Hanya beberapa hari saja lewat kata-kata dan perlakuan romantis Maxim membuatnya seakan jatuh cinta.


Berli menggelengkan kepala, itu mungkin saja rasa kagumnya terhadap pria tampan ini.


Maxim yang memperhatikan Berli terlihat bingung mulai menegurnya.


"Kenapa Bee?" tanya Maxim.


Berli tersentak kaget malah balik bertanya. "Hmm... kenapa Bee, ada apa?"


"Ck... kau itu yang kenapa, kelihatan bingung gitu sambil geleng-geleng kepala?"


"Hah... tidak Bee, aku tidak kenapa-kenapa."


Mobil Maxim telah sampai tepat di gerbang Mansion Tuan Wijaya.


Berli segera membuka pintu mobil untuk keluar tapi Maxim menahannya.


"Bee... aku ingin bicara sebentar!"


Maxim meraih tangan Berli lalu menggengamnya.


"Ada apa Bee?"


Berli terlihat canggung akan situasi ini.


Maxim terdiam menatap wajah cantik di hadapannya. "Bee... kata-kata yang tadi di hotel itu memang bena. Aku memang menyukai dirimu saat pertama kali kita bertemu."


Berli bingung akan berkata apa, sebentar lagi hanya hitungan hari dirinya akan menjadi seorang istri. Sekarang pria tampan ini menyatakan perasaanya. "Bee... kau tau kalau aku akan menikahi Alex, kan?"


"Aku tidak mungkin bersama denganmu!"


Maxim tahu jika Berli akan menikah tapi apakah perasaan ini salah. Bukankah orang berkata bahwa cinta tak pernah salah.


Maxim menghela napas. "Bee... maaf, jika aku telah jatuh cinta kepadamu. Tapi biarkan aku tetap disisimu, setidaknya jadikan aku tempat untuk kamu bersandar."


Berli tidak dapat bicara apa-apa. Bibirnya tertutup rapat, pikirannya juga bingung harus bagaimana. Ini salahnya tidak seharusnya dia menyuruh Jo untuk mencarikan seorang pria.


Berli membalas mengenggam tangan Maxim.


"Bee... aku akan selalu bersamamu, tapi maaf mungkin bukan sebagai kekasihmu."


Maxim tersenyum mendengar kata Berli. Baginya tidak apa menjadi seorang teman asalkan bisa berdekatan saja sudah membuatnya senang begitulah pikirnya.


"Terima kasih Bee, tidak apa jika hanya menjadi teman. Asal aku tetap disisimu."


Maxim memeluk erat Berli lalu mencium kening wanita itu. Berli keluar dari dalam mobil Maxim setelah berpamitan. Maxim berlalu pergi meninggalkan mansion.

__ADS_1


Baru saja Berli membuka gerbang tangannya sudah ditarik.


Sreett... brukkk... !


Berli tersentak kaget lalu menubruk ke dalam dada seseorang. "Kau...?"


Mata Berli membulat melihat sosok pria menatap tajam dirinya. "Kenapa kau kemari?" tanya Berli.


Pria itu terus saja menarik tangan Berli untuk masuk kedalam mobil. Berli meronta ingin minta di lepas tapi sia-sia sekarang dirinya sudah berada di dalam mobil pria itu.


"Kau itu kenapa?"


"Kemana kau akan membawaku, Alex?" cerca Berli.


"Diam!" bentak Alex.


Berli terdiam, dia pasrah saja kemana pria ini membawanya.


Mobil telah sampai pada sebuah Villa. Berli hanya diam memperhatikan sekitar Villa.


"Turun... !" titah Alex.


Berli diam dan enggan untuk turun. Alex telah membukakan pintu mobil untuk Berli. Tapi Berli masih erat memegang sabuk pengaman yang berada di tubuhnya. Alex berdecak sebal melihat tingkah Berli.


"Kau... ingin keluar turun sendiri atau harus aku yang menyeretmu keluar!" bentak Alex.


Berli keluar dari dalam mobil, Alex meraih tangan Berli lalu menyeretnya agar mau mengikuti langkah kaki Alex untuk masuk ke dalam Villa.


"Alex... lepaskan, orang rumahku pasti mencariku. Aku ingin pulang," lirihnya.


Alex membawa Berli ke dalam sebuah kamar.


Brakkkkk... !


Pintu kamar terbuka, Alex melemparkan tubuh Berli di atas ranjang. Berli segera bangkit untuk keluar dari kamar itu tapi Alex dengan cepat menutup pintu lalu menguncinya.


"Alex... kau mau apa? aku harus pulang."


Berli berusaha untuk membuka pintu kamar tapi Alex malah menolak Berli hingga wanita itu jatuh terduduk di tempat tidur.


Berli melihat tatapan tajam mata Alex seolah-olah pria itu ingin sekali mencabik juga menerkamnya. Berli menelan salivanya perasaan takut tentu ada di dalam dirinya saat ini.


"Diam... dari tadi kau terus saja mengoceh!" bentak Alek.


Alex mendekatkan wajahnya pada Berli. Kedua tangan menjepit pipi Berli kuat.


Alex kelihatan marah nafasnya tidak beraturan karna menahan emosi. "Berani sekali kau bermesraan dengan pria lain!"


Berli berusaha melepaskan cengkraman tangan Alex di pipinya. "Le-lepaskan Alex, ini sakit."

__ADS_1


Alex melepaskan tangannya secara kasar. Terlihat kedua pipi Berli memerah. "Keterlaluan kamu Alex, kau menyakitiku," ujar Berli.


Alex berdecak. "Sakit kau bilang, aku bahkan akan menyakitimu lebih dari ini. Kalau kau masih berhubungan dengan pria itu."


Berli beranjak berdiri lalu menatap tak kalah tajam dari Alex. "Apa... hak kamu melarangku hah!" bentak Berli.


Alex mencengkram pundak Berli. "Kau lupa statusmu, kau sudah bertunangan. Tapi kau malah bermesraan dengan pria lain."


"Jangan jadi wanita murahan Tasia," teriak Alex.


Berli terkekeh mendengar perkataan Alex. "Kau jangan lupa Alex, kau juga mempunyai kekasih dan kau sendiri yang mengatakan untuk tidak mencampuri semua urusanmu!"


Alex terdiam mendengar semua kata-kata Berli. Pikirannya seolah mengingat semua yang dikatakannya kepada Berli saat di restoran.


Berli yang melihat Alex diam hanya berdecak. "Kenapa kau diam, apa kau cemburu melihatku bersama Maxim?" tanya Berli.


Alex masih membisu lalu duduk di sofa. Alex menghela napas panjang.


Ada apa denganku, aku seperti pria yang cemburu saja, batin Alex.


Keduanya masih terdiam dengan pikiran masing-masing. Alex menoleh ke arah Berli yang masih memakai gaun pesta.


"Kau... ganti pakaianmu dan bersihkan dirimu itu!"


"Aku ingin pulang!" Ketus Berli.


"Kita akan bermalam disini, aku sudah menghubungi orang rumah. Jika kita bermalam bersama," ujar Alex.


Baru saja Berli akan mengeluarkan suara tanda protes tapi Alex sudah memotong pembicaraan.


"Jangan membantah Tasia!"


"Aku tidak punya baju ganti, bagaimana aku mengganti pakaianku?"


Alex beranjak dari sofa menuju arah lemari pakaian. "Lihatlah ini."


Alex membuka lemari pakaian dan terlihat beberapa pasang baju tapi sayangnya itu pakaian pria. "Bukannya ini pakaian, cepat ambil dan ganti bajumu itu. Mataku sakit melihat gaunmu itu."


Bagaimana tidak sakit Alex melihatnya, gaun itu terlalu terbuka didepan dan belakang. Tanpa protes Berli nengambil kemeja putih milik Alex lalu beranjak ke kamar mandi.


Berli keluar kamar mandi dengan kemeja yang di pakainya. Kemeja itu hanya bisa menutupi setengah pahanya saja lalu begitu ketat di bagian dada hingga kancing kemeja itu terbuka. "Alex... apa tidak ada pakaian yang sedikit besar, ini terlalu kecil untukku," ujarnya.


Alex melihat Berli yang seperti itu hanya menelan saliva saja. "Tidak ada, kau pakai saja itu dan cepat tidur. Aku akan tidur dikamar lain!"


Alex keluar dari kamar itu dengan mengusap-usap wajahnya. Sepertinya malam ini dia akan mandi air dingin.


Apa kemejaku kekecilan atau bagian itu terlihat membesar, batin Alex.


Tbc

__ADS_1


Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.


__ADS_2