
Jo sangat tidak bersemangat saat pulang dari Inggris. Dia hanya mengurung diri di kamar. Jo hanya bisa meratapi kesedihanya berpisah dari Jessica.
Mama Rita mengerti akan sedihnya Jo. Dia sudah tahu masalahnya sejak Jo pulang dari Inggris. Jo sendiri yang mengatakan bahwa dia sudah putus dengan Jessica.
Mama Rita mengetuk kamar Jo. Dia sedikit khawatir dengan kondisi anaknya. "Jo ... mama boleh masuk?"
Tidak ada jawaban dari Jo. Langsung saja mama Rita memutar handle pintu kamar. Mama Rita masuk dan terlihat Jo hanya menatap pemandangan luar dari balkon kamarnya.
Mama Rita menepuk dan mengelus bahu Jo. "Sayang ... lupakan Jessica. Mama tahu, ini tidak mudah bagi kamu. Yang di katakan Jessica memang benar. Berpisah adalah jalan yang terbaik.
"Ma ... Jo mencintai Jessica," lirihnya.
"Ikhlaskan saja Jo. Yakinlah, kalau kamu merelakan ini semua dan menerima perjodohan ini maka hidupmu akan bahagia," tutur Mama Rita.
Jo mengangguk. "Baiklah ... Jo akan melupakan Jessica dan menerima Hera."
Tuan Wijaya tiba-tiba saja masuk ke dalam kamar Jo. Dia heran melihat anak istrinya berpelukan. "Kalian kenapa?"
Mama Rita dan Jo menoleh. "Papa ... sejak kapan papa masuk?"
Tuan Wijaya menghampiri keduanya. "Barusan ... ada apa Jo?"
Tuan Wijaya juga merasa ada yang tidak beres saat Jo kembali dari luar negeri. Dia hanya tahu Jo pergi ke USA bukan ke Inggris. Istrinya sendiri yang bilang seperti itu padanya. Meski Tuan Wijaya merasa aneh. Pasalnya buat apa Jo ke sana, sedang perusahaan cabang mereka hanya ada di Inggris.
Jo mengeleng. "Tidak ada apa-apa, Pa.!"
"Jo ... sebentar lagi kamu akan menikah. Papa harap kamu bisa menerima Hera." Tuan Wijaya menepuk pundak Jo. "Papa yakin, kalau kalian terus bersama, cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya."
Jo tersenyum. "Iya ... Jo akan belajar mencintai Hera.
Hera ... ini semua karena kamu. Lihat saja nanti, hidupmu akan aku buat seperti neraka, batin Jo.
Mama Rita dan suaminya lalu keluar dari kamar Jo. Saat Tuan Wijaya ingin merangkul bahu istrinya, mama Rita malah menolak. Tuan Wijaya menjadi heran sendiri.
"Sayang ... kamu kenapa?" Tuan Wijaya menyusul istrinya di kamar.
Mama Rita melipat tangan di perut. "Papa puas sekarang?"
Tuan Wijaya tidak mengerti akan ucapan dari istrinya. Keningnya berkerut. "Ada apa sih?"
"Papa itu sudah buat anak kita patah hati," kesal Mama.
__ADS_1
Tuan Wijaya tampak berpikir. Dugaannya benar, kalau Jo pergi ke Inggris menemui Jessica. "Anak manja itu sudah putus dengan kekasihnya?"
Mama Rita semakin kesal. "Pa ... kita mengangkat Jo sebagai anak bukan untuk membuatnya menuruti keinginan kita. Mama tidak mau, Jo beranggapan kalau dia menerima perjodohan ini karena balas budi.
Tuan Wijaya mengusap wajahnya. Dia tidak bermaksud seperti itu. Dia juga sangat menyayangi Jo. Tuan Wijaya hanya ingin Jo mendapatkan wanita baik-baik.
Tuan Wijaya memeluk istrinya. Dia ingin amarah dari istrinya itu mereda. "Papa hanya ingin anak kita mendapatkan yang terbaik."
Tuan Wijaya pergi meninggalkan istrinya di dalam kamar. Dia menuruni anak tangga menuju ruang keluarga. Tuan Wijaya mengeluarkan ponsel dan mulai menekan nomor untuk menelepon seseorang.
"Hallo ... kamu buat nama Jessica semakin di kenal. Buat dia bersinar dengan karir yang cemerlang," ucap Tuan Wijaya.
Tuan Wijaya mematikan sambungan telepon setelah mendengar balasan oke dari sang penerima telepon.
"Hanya itu yang bisa aku berikan padamu. Sebagai rasa terima kasih karena sudah mengakhiri hubunganmu dengan Jo," gumam Tuan Wijaya.
Tuan Wijaya melakukan itu karena dia sendiri juga merasa kasihan pada Jessica. Maka dari itu, Tuan Wijaya ingin berterima kasih dengan membuat nama Jessica menjadi terkenal.
*****
Kedua keluarga yang akan menjadi besan tengah berada di butik. Mereka akan melakukan fitting baju pengantin. Hera terlihat bingung memilih gaun yang cocok untuknya.
Mama Rita sejak tadi menelepon Jo. Putranya itu belum datang juga. Pada hal mama Rita sudah mengatakan kalau hari ini mereka akan fitting baju.
"Sebentar lagi mungkin," jawab Rita.
Hera keluar dengan gaun pengantin yang menjuntai indah di tubuhnya. Semua tampak kagum melihat kecantikan Hera.
"Kamu cantik sekali, Hera," ucap Mama Rita.
Hera tersipu malu. "Makasih, Ma!"
Jo memarkirkan mobilnya di depan butik. Dia keluar dan segera masuk ke dalam butik. Jo menghampiri keluarganya
"Ma ... maaf tadi sedikit ada urusan," ucap Jo.
Mama Rita mendekap tubuh Jo. "Gak apa sayang."
Tuan Wijaya menyenggol lengan Jo. "Tuh lihat ... calon istrimu sangat cantik."
Jo melihat penampilan Hera yang memakai gaun pengantin. Gaun itu melekat sempurna dengan membentuk lekuk tubuh Hera. Sangat seksi dan sangat pas di tubuhnya.
__ADS_1
Hera seksi banget, tapi dia lebih seksi kalau lagi polos, batin Jo.
Jo tidak berkedip melihat Hera. Kedua orang tua malah tertawa melihat Jo.
"Jay ... sepertinya kita harus cepat menikahkan mereka," ucap Tuan David.
"Kamu benar, David," sahut Wijaya.
Mereka saling tertawa melihat tingkah kelakuan Jo. Hera juga tersenyum manis pada calon suaminya. Jo menahan rasa malu karena ketahuan memperhatikan Hera.
Bisa-bisanya aku tidak berkedip melihat Hera, batin Jo.
Hera masuk ke dalam kamar ganti. Dia terlihat kesusahan saat ingin melepas resleting gaun yang berada di belakang.
Hera lalu memanggil pelayan butik dari balik kamar. Yang datang bukan pelayan butik melainkan Jo. Hera terkesiap melihat Jo yang berada di belakangnya.
"Jo ... mau ngapain kamu?" tanya Hera.
"Mau bantuin kamu lah," jawab Jo.
Jo membalikan tubuh Hera menghadap depan. Dia lalu membuka resleting gaun Hera. Jo kemudian menurunkan habis gaun Hera.
"Jo ... kamu jangan macam-macam."
Jo terkekeh. "Sebentar lagi kita menikah. Lagian ini bukan pertama kali aku melihatmu polos."
Jo me**mas bagian sensitif Hera dengan kuat. "Rasakan ... kamu sudah membuat aku patah hati."
"Sakit ... lepaskan," lirih Hera.
Jo menutup mulut Hera agar tidak bersuara. Tangannya masih bermain di area sekitar sana. "Karena kamu, Jessica dan aku berpisah. Setelah kita menikah, aku akan buat hidupmu menderita."
Bugh
Hera menendang bagian pangkal paha Jo. Dia segera menaikan gaun untuk menutupi tubuhnya. Jo yang merasa kesakitan itu lantas refleks memengang bagian sensitif miliknya.
Hera segera meninggalkan Jo keluar dari kamar ganti. Jo meringis sakit dan mengepal geram. "Awas kamu, Hera!"
Jo keluar dengan masih merasa kesakitan. "Hera ... kamu keterlaluan. Kenapa harus menendang di bagian sini sih. Bisa gawat kalau adik kecilku terluka. Adik kecilku belum pernah merasakan nikmatnya bercinta.
Tbc
__ADS_1
Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.