
Berli terbangun dari tidur lelapnya. Tubuhnya terasa berat untuk di bangunkan. Ternyata tangan Alex memeluk perutnya. Berli tersenyum Alex menuruti perkataannya untuk tidak pergi menemui Rania.
Berli memindahkan tangan Alex secara perlahan agar suaminya tidak terbangun. Berli menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Alex mengerjapkan mata tak lama setelah Berli masuk dalam kamar mandi. Alex membuka matanya secara perlahan lalu bangkit duduk.
Hal pertama yang Alex lihat adalah ponselnya. Ada banyak sekali chat dan juga panggilan telepon dari Rania.
Berli sengaja mensilent ponsel Alex agar Rania tidak terus menganggu mereka berdua.
Alex menghela napas panjang. "Hah."
"Apa... yang harus aku lakukan sekarang. Di satu sisi ada istriku dan sisi lain ada simpananku. Bukankah aku pria yang sangat beruntung. Tapi kenapa seolah ini menjadi rumit," gumam Alex.
Ceklek... ."
Suara pintu kamar mandi terbuka. Berli keluar dari kamar mandi. Berli melihat Alex sudah terbangun.
"Kau... sudah bangun?" tanya Berli.
"Hem... ."
Berli mengernyit, sepertinya dia tahu jika Alex sedang bimbang. "Kenapa... apa masih ingin menemui kekasihmu itu. Temuilah Rania, aku mengizinkan kamu."
Mata Alex membulat mendengar apa kata Berli. "Kamu... serius, kan?"
Berli tersenyum smirk. "Tentu... tapi, aku juga akan menemui Maxim."
Alex kesal Berli masih menyebut nama Maxim."Kau... tidak boleh menemui pria itu!"
Berli melipat tangan di dada."Jika... kamu, menemui Rania maka aku juga. Kamu mencium Rania maka aku juga akan mencium pria lain. Begitu seterusnya, apa yang kau buat dan lakukan pada Rania maka aku akan melakukannya dengan pria lain."
Alex merasa geram pada Berli. "Kamu... ."
Alex tidak bisa berkata apa-apa. Alex turun dari tempat tidur lalu pergi ke kamar mandi. Alex meninju tembok dinding yang tidak bersalah itu.
"Agkhhhhhh... ," teriak Alex.
Alex menarik rambutnya frustrasi. "Jika... aku menghabiskan waktu bersama Rania maka Tasia akan bersama pria itu."
Alex seolah tersadar dirinya sedang cemburu. "Kenapa... aku, merasa cemburu. Bukannya bagus jika Tasia bersama pria itu. Aku akan bersama Rania."
__ADS_1
Alex tersenyum biarlah Berli bersama Maxim asalkan dia bisa bersama kekasih hatinya. Alex melanjutkan acara mandinya yang tertunda.
Berli mengambil ponsel milik Alex di atas nakas tempat tidur. Berli ingin membuka ponsel Alex tapi terkunci. "Yah... terkunci, minta tolong sama Jo saja."
Berli keluar kamar lalu pergi ke kamar Jo.
"Jo... ," teriak Berli.
Jo kaget terbangun dari tidur lelapnya."Ck... ganggu saja."
Berli menarik tangan Jo agar bangun dan menyodorkan ponsel milik Alex. "Nih... buka'in password ponsel milik Alex."
Jo berkerut kening. "kenapa... memangnya?"
Berli terlihat kesal harus menjelaskan lagi dan lagi perihal dirinya dengan Alex. "Jo... kamu lupa jika Alex punya simpanan."
Jo menyengir kuda. "Sorry... aku baru bangun."
Berli memutar mata malas. "Ya... sudah, cepat buka kode ponselnya. Nanti Alex sudah keluar dari kamar mandi. Aku sengaja mengunci Alex di kamar mandi."
Jo hanya geleng-geleng kepala akan tingkah Berli. Suaminya sendiri di kurung di kamar mandi. Jo segera mengerjakan tugas yang di berikan Berli padanya. Bukan hanya membuka kode ponsel Alex saja tapi Jo menyadap ponsel Alex.
Jika Alex mendapat telepon ataupun chat dari seseorang maka semuanya akan masuk juga ke ponsel milik Berli. Hanya 10 menit yang di butuhkan Jo untuk menyadap ponsel Alex.
Berli tersenyum bahagia. "Terima kasih... adikku yang manis."
Berli memberi hadiah ciuman di pipi pada adiknya lalu beranjak pergi dari kamar Jo.
Alex yang sudah selesai mandi lalu memutar knop pintu. Alex terus berusaha membuka pintu tapi tidak bisa terbuka. "Koq, gak bisa di buka sih!"
Alex mengedor-ngedor pintu tapi tidak ada yang membuka. Alex memanggil Tasia agar membukakan pintu untuknya. "Tasia... ," teriak Alex.
Berli masuk dalam kamarnya lalu meletakan ponsel milik Alex ke tempat semula. Berli mendengar Alex mengedor pintu dan teriak memanggil namanya.
Berli terkekeh geli. "Alex... kau, kenapa sayang?"
Alex menempelkan telinganya di pintu kamar mandi. "Tasia... istriku sayang, tolong buka pintunya."
Berli semakin terkekeh bahkan tertawa. Alex memelas untuk di bukakan pintu. "Bersabarlah... sayang, aku akan mencari seseorang untuk menolongmu."
Berli berpura-pura akan mencari seseorang padahal dirinya berdiam diri duduk di ranjang. Setelah 10 menit Berli membuka pintu kamar mandi untuk Alex.
__ADS_1
Alex keluar dari kamar mandi dengan raut wajah merah padam. "Kamu... sengaja mengurungku di dalam kamar mandi, kan?"
Berli berkacak pinggang. "Jangan... menuduh istrimu yang cantik ini."
Alex tidak mau kalah juga berkacak pinggang. "Tidak... mungkin aku terkunci sendiri di dalam sana, kan?"
Berli mengalungkan tangannya di leher Alex. "Sayang... untuk apa, aku mengurung kamu di dalam kamar mandi."
Alex menolehkan wajahnya ke arah lain. Dia masih terlihat kesal. Berli membuat pola-pola abstrak di dada polos Alex agar pria itu tidak terlihat kesal lagi.
Berli mengalihkan pandangan wajah Alex agar menatap wajahnya. Berli mencium sekilas bibir Alex. "Aku... sudah mencium kamu. Sekarang jangan marah lagi."
Wajah Alex memerah bukan karna marah tapi karna prilaku manis istrinya. Alex tidak ingin membuang kesempatan yang di buat istrinya. Alex meraih tengkuk Berli dan kembali menciumnya.
Saat Alex ingin melanjutkan hal yang lebih, Berli menghentikan aksinya. "Nanti... Alex, belum saatnya."
Alex berdecak sebal. "lalu, kapan?"
Berli memberikan Alex pakaian ganti. "Kita, sudah terlambat untuk turun sarapan. Pasti mama dan papa telah menunggu kita dibawah."
Alex mengerucutkan bibir lalu berpakaian. Berli tersenyum melihat Alex yang manyun. Berli mengajak Alex untuk turun ke bawah.
Berli menuruni tangga bersama Alex dengan bergandeng tangan. Dari bawah orang tuanya terlihat tersenyum bahagia melihat kebersamaan sepasang pengantin baru itu.
Orang tua Berli yakin, jika Alex dan Berli akan saling mencintai. Seiring waktu cinta itu akan tumbuh di antara mereka. Padahal mereka tidak tahu jika putri dan menantunya sudah lama menjalin hubungan.
Alex menarik kursi untuk Berli. "Silakan... istriku!"
Berli tersenyum manis. "Terima kasih... suamiku!"
Tuan Wijaya beserta Mama Rita tersenyum simpul melihat keromantisan pasangan baru itu. Sedangkan Jo menatap datar seolah momen itu sudah biasa.
Berli mengambilkan sarapan untuk Alex tanpa bertanya lagi. Karna Berli sudah tahu apa yang di sukai Alex saat sarapan. Alex makan dengan lahap sarapan yang telah di letakan di atas piringnya.
Mama Rita sedikit heran, Berli seakan tahu apa yang di inginkan oleh Alex. "Berli... kamu sudah tahu menu sarapan Alex?"
Berli terkesiap lalu berbicara sedikit gugup. "I-itu karna semalam kami banyak bertukar cerita. Jadi Berli tahu kebiasaan Alex."
Mama Rita tersenyum. "Oh... baguslah, kalian sudah saling mengenal."
Syukurlah, dalam hati Berli.
__ADS_1
Tbc
Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.