Terpaksa Menikahi Mantanku

Terpaksa Menikahi Mantanku
Bab 67 S2


__ADS_3

Hera memandang tubuhnya di depan cermin. Di sekujur tubuhnya penuh dengan bekas ciuman Jo. Hera segera membersihkan tubuhnya kembali di bawah guyuran air shower.


"Bre***k kamu, Jo. Aku pastikan kamu akan bertekuk lutut di hadapanku," teriak Hera.


Hera menangis karena ini adalah pertama kalinya seorang pria menyentuh bagian tubuhnya. Hera memang pernah berpacaran dengan beberapa pria. Tetapi Hera hanya melakukan ciuman di wajah saja.


Sedang Jo bukanlah kekasihnya tetapi sudah begitu lancang menyentuh bagian-bagian sensitive Hera.


Jo melajukan mobilnya menuju mansion. Di dalam mobil dia tersenyum puas telah mempermainkan Hera. Untung saja tadi dirinya bisa mengendalikan diri.


Tubuh Hera sungguh sangat menggoda dirinya. "Hera ... rasakan akibat dari mengusikku. Aku akan berbuat lebih jika kamu masih mencari muka pada keluargaku."


Jo sangat membenci Hera, bayangan saat dia di permalukan masih terekam jelas di memory Jo. Begitu sakit dan malu saat harga dirinya di injak-injak oleh Hera.


Mobil telah sampai di depan mansion. Jo keluar dari dalam mobil dan masuk ke rumah. Tuan Wijaya telah menunggu anak lelakinya itu. Dia akan membuat perhitungan karena tidak bisa tidur satu kamar dengan istrinya.


Jo mengernyit saat melihat papanya yang masih duduk di sofa ruang tamu. "Papa belum tidur?"


Tuan Wijaya mencebik. "Kamu harus tanggung jawab!"


Jo tidak mengerti akan ucapan papanya. "Tanggung jawab apa, Pa?"


Tuan Wijaya melipat tangan di perut. "Gara-gara kamu, Papa jadi tidur di kamar lain. Mama kamu tidak ingin tidur bersama Papa."


Jo memutar mata malas. Papanya tidak bisa pisah dari mama Rita meski hanya satu malam. Tuan Wijaya sudah terlalu bucin pada istrinya. Jika berpisah sedikit saja seakan sudah kehilangan nyawa.


"Jo ... harus apa sekarang?"


"Kamu ... bujuk mamamu, suruh mama bukakan pintu untuk papa," ucap Tuan Wijaya.


Jo berdecak. "Ish ... bujuk istri saja tidak bisa."


Jo langsung saja menaiki anak tangga menuju kamar mamanya. Tuan Wijaya mengikuti Jo dari belakang.


Tok ... tok ... tok ... !


Jo mengetuk pintu kamar. "Mama ... buka pintunya," pekik Jo.


Di dalam kamar mama Rita juga belum tidur. Dia juga tidak bisa tidur kalau suaminya tidak berada disisinya. Mama Rita hanya gengsi saja tadi. Dia pura-pura marah agar suaminya itu merayunya.


Jo berteriak lagi memanggil mamanya. "Mama ... buka pintunya. Papa kesepian nih."

__ADS_1


Tuan Wijaya mendelik ketika Jo menyebutkan namanya. "Jo ... jangan sebut nama Papa."


Tuan Wijaya takut kalau mendengar namanya, istrinya itu tidak akan membuka pintu kamar. Pintu kamar terbuka lebar. Mama Rita memasang wajah cemberut.


Jo hanya mendengus dengan tingkah kedua orang yang sudah berumur. Mereka seperti anak muda saja yang harus di bujuk untuk berbaikan. Tuan Wijaya tersenyum lebar, akhirnya malam ini tidak tidur di kamar lain.


"Ma ... biar papa tidur di dalam," ucap Jo.


Mama Rita mendengus kesal. "Iya ... suruh papamu masuk ke dalam."


"Pa ... masuklah," ujar Jo.


Tuan Wijaya masuk ke dalam kamar tidak lupa menutup pintu. Jo geleng-geleng kepala akan kelakuan orang tuanya. Sudah tua masih saja bucin. Jo tidak menyadari betapa menakjubkan kekuatan bucin itu. Jika dia sudah merasakan yang namanya bucin, dia pasti juga akan kelepek-kelepek.


Jo masuk ke dalam kamarnya. Malam ini dia akan melakukan video call bersama Jessica. Jo mulai mendial nomor kekasihnya. Tidak berapa lama Jessica mengangkat panggilan video Jo.


Tampak dari video Jessica tengah memakai pakaian minim. Jo sangat senang melihat tubuh indah pacarnya. Pacarnya itu tahu betul menyenangkan dirinya.


"Halo sayang ... kamu semakin cantik saja." ~ Jo.


"Jo ... kapan kamu akan datang kemari?" ~ Jessica.


Meski Jo belum pernah melakukan hubungan in*im bersama Jessica, Tetapi melihat tubuh polos Jessica sudah biasa bagi Jo. Jessica dengan senang hati membuka pakaiannya untuk Jo. Mereka sering melakukanya lewat video call saja.


Setelah puas melihat kekasihnya, Jo beranjak membersihkan diri di kamar mandi. Jo membiarkan air shower menguyur tubuhnya. Jo mandi air dingin karena sempat bergelora melihat Jessica yang polos.


******


Mama Rita tengah berbelanja di mall bersama Tuan Wijaya. Mereka berdua berbelanja kebutuhan rumah dan juga berbagai hadiah mainan untuk cucu pertama mereka.


Rencananya sehabis berbelanja, Tuan Wijaya dan istrinya akan berkunjung ke mansion Berli. Saat tengah asyik berbelanja, seorang wanita menepuk pundak Tuan Wijaya.


Tuan Wijaya menoleh pada wanita yang menepuk pundaknya. Dia kaget, wanita yang menepuk pundaknya adalah mantan kekasihnya saat kuliah.


"Sinta," ucap Tuan Wijaya.


Mama Rita menghentikan aksi belanjanya. Dia melihat wanita dan suaminya tengah bicara. Mama Rita yang penasaran akan wanita itu, segera mendekati suaminya. Mama Rita juga kaget saat melihat wanita itu. Wanita paruh baya itu adalah mantan terindah suaminya.


Mama Rita melihat sekeliling wanita yang bernama Sinta itu. Tidak ada pria yang berada di dekatnya. Suami dari Sinta adalah mantan terindah dari Mama Rita.


"Sinta ... apa kabar?" tanya Mama Rita.

__ADS_1


"Rita ... aku baik, kalau kamu?"


"Aku juga baik, kamu sendirian di sini?" tanya Mama Rita.


Tuan Wijaya menarik sudut bibir kesal. "Kamu mau mencari mantan kekasihmu itu!"


Sinta hanya terkekeh, menurutnya, Wijaya masih saja cemburu pada suaminya. Padahal mereka sudah berjodoh masing-masing. Lagian juga mereka berempat hanya mantan.


Suami dari Sinta bernama David adalah mantan dari Rita. Sedang Sinta adalah mantan dari Wijaya. Jodoh mereka saling bertukar. Sinta dan David lalu Rita dan Wijaya.


"Aku bersama anakku, ayo kita berbincang di cafe saja. Sudah lama sekali kita tidak bertemu," ucap Sinta.


Sinta, Wijaya dan Rita lalu menuju sebuah cafe di mall. Mereka bertiga sudah duduk di kursi meja. Mereka juga memesan minuman dan makanan untuk menemani mereka berbincang.


Mereka asyik mengobrol mengenang masa lalu. Di tengah obrolan itu dering ponsel Sinta berbunyi. Telepon dari anaknya yang menanyakan keberadaanya. Sinta lalu memberitahu kalau dia sedang berada di sebuah cafe.


"Anak kamu yang telepon?" tanya Mama Rita.


"Iya ... anakku, tadi kita janjian ketemu disini," jawab Sinta.


"Anak kamu laki-laki atau perempuan?" tanya Tuan Wijaya


"Dia perempuan, dan bekerja sebagai seorang Dokter," sahut Sinta.


Tuan Wijaya tersenyum mendengar anak perempuan Sinta seorang Dokter. Mama Rita sudah mengerti akan raut wajah gembira suaminya. Suaminya itu pastilah akan menjodohkan Jo dengan anak Sinta.


"Anak kamu sudah menikah?" tanya Tuan Wijaya.


"Belum ... dia juga belum punya pacar," jawab Sinta.


"Wah ... kebetulan sekali. Anak lelaki kami juga belum menikah. Kita jodohkan saja mereka, bagaimana menurutmu?" ucap Tuan Wijaya pada Sinta.


Sinta tampak setuju dengan ide dari Tuan Wijaya. Mereka dulu tidak berjodoh, mungkin anak mereka bisa.


"Boleh juga ide kamu," sahut Sinta.


Mama Rita hanya menepuk jidat. Seharusnya pasangan mantan kekasih itu harusnya bersatu. Karena Sinta mau pun Tuan Wijaya punya pemikiran yang sama.


Tbc


Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.

__ADS_1


__ADS_2