
Jo membuka matanya perlahan saat pantulan surya mengenai wajahnya. Jo mengucek-ngucek matanya. Tidak ada siapa pun di dalam kamar. Jo bangkit dari tempat tidur lalu beranjak ke kamar mandi.
Jo menguyur tubuhnya dengan air shower. Dia keluar dengan memakai handuk Hera. Jo memakai kembali pakaiannya. Jo memasukan ponsel miliknya dan keluar dari kamar.
Hera berada di dapur tengah membuat sarapan. Dia juga membuat sarapan untuk Jo. Hera tidak sadar saat Jo memperhatikan dirinya dari belakang.
"Aku mau pulang," ujar Jo.
Hera menoleh pada Jo. "Sarapan dulu."
Hera meletakkan sepiring omelette dan sandwich di meja makan. Hera juga menyiapkan segelas susu untuk Jo.
"Ayo kita sarapan."
Jo menatap hidangan yang berikan Hera. Dia mengambil sepiring omelette dan sandwich. Tetapi Jo tidak memakannya malah dia membuangnya ke lantai.
Hera sangat kaget akan tingkah Jo. "Jo ... apa yang kamu lakukan?"
Jo berdecih. "Cih ... jangan sok baik padaku."
Jo mengambil segelas susu di meja lalu menumpahkan susu itu ke atas kepala Hera. Jo sungguh sangat keterlaluan. Hera mengusap wajahnya yang terkena tumpahan susu.
"Apa semua ini, Jo?"
Hera sangat tidak menyangka akan kelakuan Jo. Tidak seharusnya Jo memperlakukan dirinya seperti ini. Apa salah Hera padanya, sampai Jo berbuat tidak sopan.
"Jika kamu tidak mau memakan masakanku, setidaknya jangan kamu buang," hardik Hera.
Jo terkekeh. "Kamu lupa, dulu kamu juga sama sepertiku. Ingat waktu aku memberimu gelang. Kamu membuang bahkan menginjak dan menendang gelang itu di hadapanku."
Jo menginjak sandwich dengan kakinya. "Ini hanya makanan. Kamu tahu selama 3 bulan aku bekerja keras untuk membelikan kamu hadiah. Tapi kamu sama sekali tidak menghargaiku.
Jo mendekat pada Hera dan menjepit kedua pipinya. "Kamu masih ingin bertunangan denganku maka siap-siap hidup mu bakal menderita."
Jo pergi setelah mengatakan hal itu pada Hera. Hera terisak, dia tidak menyangka perbuatan di masa lalu membuatnya sengsara. Hera harus membatalkan pertunangan ini. Dia tidak mau hidup bersama dengan pria yang membencinya.
Hera bergegas ke kamar mandi membersihkan tubuhnya dari tumpahan susu. Hera akan menemui orang tuanya dan akan membatalkan perjodohan ini.
*****
__ADS_1
Jo sampai di kediaman mansion. Hari ini adalah weekend, Jo tidak pergi ke kantor. Tuan Wijaya menatap tajam Jo yang tidak pulang semalam.
"Dari mana?" tanya Tuan Wijaya.
Mama Rita yang juga duduk di samping suaminya ikut bicara. Menurutnya Jo sudah dewasa. Wajar saja anak muda tidak pulang dan pergi bersenang-senang.
"Pa ... Jo sudah dewasa. Jangan anggap dia seperti anak kecil."
Tuan Wijaya mulai kesal. Istrinya itu selalu membela Jo. Tidak di pungkiri meski anak angkat tetapi Tuan Wijaya dan istrinya sangat sayang pada Jo.
Mereka sudah menganggap Jo sebagai anak kandung. Tidak ada istilah anak angkat dalam keluarganya. Bagi mereka Jo anak kandung yang terlahir dari rahim istrinya Rita.
"Kamu ... jangan terus membela anak manja ini. Justru dia sudah dewasa, maka dia harus pandai menjaga sikap," tutur Tuan Wijaya.
"Pa ... Jo menginap di apartemen Hera."
Mendengar nama Hera, wajah Tuan Wijaya berbinar. Dia tidak jadi marah, malah dia merasa sangat senang.
"Kamu ... menginap di rumah Hera?" tanya Tuan Wijaya.
Jo mengangguk. "Iya ...."
Tuan Wijaya malah terkekeh kecil. "Jo ... Papa gak nyangka kamu gerak cepat juga."
Tuan Wijaya tidak tahu saja. Anaknya menginap hanya untuk menyakiti Hera. "Pa ... kalau bisa percepat saja pertunangan kami. Minggu depan Jo akan ada urusan di luar."
"Kamu ingin ke luar negeri?" tanya Mama Rita.
"Iya ... Ma. Jo ingin ke luar negeri. Ada urusan pekerjaan di sana," ujar Jo.
Tuan Wijaya tampak berpikir. Dia seperti mempunyai ide cemerlang. "Jo ... kalian menikah saja. Kamu mau ke luar negeri sekalian bulan madu."
Jo mendelik akan penuturan papanya. Dia ingin ke luar negeri menemui Jessica. Papanya malah menyuruhnya menikah dan bulan madu. Mama Rita juga sangat kesal akan ucapan suaminya.
Di kira mempersiapkan pernikahan gampang. Meski mereka menyuruh orang untuk mengerjakan semuanya, tetap saja itu akan membuat mereka repot.
"Pa ... jangan bicara yang tidak-tidak. Mama mau Jo tunangan dulu," ujar Mama Rita.
"Iya ... tunangan saja dulu Pa," sahut Jo.
__ADS_1
Tuan Wijaya mendesah pasrah. "Baiklah ...."
Jo naik ke atas lalu masuk ke dalam kamarnya. Dia usap wajahnya lalu berbaring di tempat tidur. Jo bingung, bagaimana dia harus menjelaskan pada Jessica perihal ini.
Jo tidak ingin Jessica kecewa. Jessica wanita yang baik, hanya saja sifatnya yang kurang sopan. Jessica hanya punya seorang ibu. Dia banting tulang untuk menghidupi keluarganya.
Jessica juga wanita mandiri. Dia tidak seperti Hera yang sudah terlahir kaya. Jo mengambil ponsel miliknya lalu membuka foto-foto kebersamaan mereka.
Foto Jo dan Jessica saat keduanya bertemu. Jo mengusap foto itu dan menciumnya. "Sayang ... aku merindukan kamu. Tunggu aku, kita akan bertemu."
Tuan Wijaya lalu menelepon Sinta untuk memberitahukan kalau pertunangan akan di percepat. Pertunangan akan di lakukan 3 hari lagi. Acara pertunangan akan di selengarakan di kediaman mansion.
*****
Hera melajukan mobilnya menuju arah rumah. Dia ingin bertemu dengan kedua orang tuanya. Hera keluar dari dalam mobil dan langsung masuk ke dalam rumah.
Hera mendengar papa dan mamanya tengah asyik berbincang. "Papa, Mama!"
"Nak ... duduklah, kami ingin membicarakan pertunangan kamu," ujar Tuan David.
Hera duduk berhadapan dengan kedua orang tuanya. "Hera ... juga ada yang ingin di sampaikan."
"Biar kami dulu yang bicara," ucap Tuan David.
"Pertunangan kamu akan di percepat 3 hari lagi. Nanti malam kita akan ke rumah calon suamimu untuk makan malam," tutur Tuan David.
Hera kaget mendengarnya. Pertunangan akan di percepat. Hera harus secepatnya menolak untuk menikahi Jo. Kalau tidak hidupnya akan berada dalam Penderitaan.
Hera gugup untuk bicara. Melihat raut wajah kedua orang tuanya yang bahagia, dia jadi tidak tega. Hera meremas kedua tanganya untuk menghilangkan rasa gugup.
"Papa, Mama ... Hera ingin menolak perjodohan ini."
Tuan David dan mama Sinta kaget mendengar hal itu. Anaknya tiba-tiba datang untuk menolak perjodohan. Padahal mereka sangat senang berbesan dengan mantan pacar mereka.
"Ada apa, Nak?" tanya Mama Sinta.
"Ma ... Hera tidak mau menikah dengan Jo. Hera-"
Hera tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Dia juga bingung mencari alasan untuk menolak. Tidak mungkin juga baginya menceritakan semua perihal antara dia dan Jo.
__ADS_1
Tbc
Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.