Terpaksa Menikahi Mantanku

Terpaksa Menikahi Mantanku
Bab 53


__ADS_3

Sesuai janji Berli kepada Alex. Hari ini adalah hari kebersamaan mereka. Tidak ada yang menganggu sama sekali. Tidak ada Rania dan juga para sahabat Alex dan Berli. Sepanjang hari ini adalah hari mereka.


Berli meluapkan semua rasa cintanya kepada Alex. Begitu juga Alex yang mengenang masa-masa saat mereka berpacaran. Mereka bicara seraya bersenda gurau. Pegangan tangan Alex tidak pernah sekali pun terlepas dari tangan Berli.


Alex tidak ingin kehilangan cintanya lagi. Rasa bersalahnya telah membuatnya menjadi gila. Alex ingat saat-saat di mana dirinya begitu terpuruk kehilangan Berli. Alex seperti orang yang kehilangan akal.


Alex memeluk istrinya itu begitu erat. Membelai wajah cantik dari sang istri, Alex mendaratkan bibirnya ke bibir Berli. Tentu saja dengan senang hati Berli menerima dan membalasnya.


Alex menurunkan bibirnya ke leher jenjang milik Berli. Tiba-tiba Alex menghentikan kegiatannya. Alex teringat jika tadi malam Berli bersama Maxim. Alex menjauh dari tubuh Berli. Alex menatap tajam ke arah istrinya.


Berli merasa heran saat Alex menghentikan kegiatannya. "Al... ada apa?" tanya Berli.


Alex mengepal, matanya sudah memerah menahan amarah. "Kamu... tega kepadaku Tasia. Kamu bermalam bersama Maxim."


Berli seakan lupa jika semalam dirinya mengerjai Alex. "Tidak Al... kamu salah paham, duduklah biar aku jelaskan padamu."


Alex menggeleng. "Tidak... kamu memang jahat kepadaku. Kamu meninggalkan diriku dan kamu juga berselingkuh. Rania benar, kamu memang tidak mencintaiku."


Berli kaget akan perkataan Alex. "Tidak... apa kamu tidak ingat jika kamu yang selingkuh dariku. Aku hanya membalas dirimu saja."


Alex terdiam seolah mengingat sesuatu. "Tasia... maaf aku yang menyakitimu. Kau bilang akan memaafkan aku jika kau tidur bersama pria lain. Sekarang kau sudah tidur bersama Maxim, itu artinya kamu memaafkanku."


Berli mengangguk saja. Biarlah Alex menganggap dirinya sudah tidur dengan pria lain. Jika sudah waktunya maka Berli akan mengatakan semuanya. Berli terlalu capek untuk bicara saat ini. Apalagi melihat keadaan Alex yang seperti anak kecil.


Berli membawa kepala Alex ke dalam pangkuannya. Berli mengelus puncak kepala Alex. "Al... obat apa yang sering kamu minum?"


Alex membuka matanya yang tadi terpejam saat Berli mengelus rambutnya. "Hanya vitamin saja, tidak ada yang lain."


"Kak Brian bilang, kamu pernah minum obat anti depresi?" tanya Berli.


Alex melingkarkan tanganya ke pinggang Berli. "Itu dulu... saat kamu pergi. Hatiku merasa tidak tenang, aku merasa sedih dan juga marah. Aku meminum obat itu tapi Brian dan Vino melarangku untuk meminumnya lagi."

__ADS_1


"Apa sampai sekarang kamu masih meminumnya?"


Alex mengeleng. "Tidak... Rania memberiku obat pengganti. Obat itu sangat efektif menghilangkan kamu dari pikiranku. Aku menjadi tidak bersedih lagi jika meminumnya."


Alex beranjak dari pangkuan Berli. Alex membawa istrinya berbaring di tempat tidur. "Ayo... kita tidur."


Berli merebahkan kepalanya ke dalam dada bidang Alex. Mereka saling berpelukan dan terlelap tidur. Mungkin malam pertama untuk mereka sebagai pasangan pengantin harus di tunda dulu. Berli akan memberikan hak Alex saat pria itu sudah benar-benar lepas dari Rania.


*****


Rania telah sadar dari tidurnya. Rania mengerjap membuka matanya perlahan. Rania memegang kepalanya yang sedikit pusing. Rania melihat di sekelilingnya. Dia berada di dalam mobil. Rania ingat jika dirinya di bius oleh Jo dan lainnya.


"Sudah sadar?" tanya Jo.


Rania menatap sengit Jo dan Maxim. "Kalian... aku akan balas perbuatan kalian padaku. Alex tidak akan mengampuni kalian."


Jo tertawa. "Apa kamu masih berharap pada Alex? Alex itu sudah miskin, uang saja di jatah oleh istrinya."


"Sudahlah Jo, antarkan saja wanita ini pulang. Aku sudah pusing mendengar suaranya," ujar Maxim.


"Maxim... kamu tidak cemburu, kekasihmu bersama Alex?" tanya Rania.


"Aku tidak punya kekasih, aku masih jomblo," sahut Maxim.


Rania berdecak. "Ck... kamu bukannya cinta sama Berli."


Maxim memutar mata malas, Rania bermaksud untuk menghasutnya. "Untuk apa aku mencintai istri orang. Aku bukan kamu yang mencintai kekasih dan suami orang."


Rania terlihat kesal akan perkataan Maxim. Maxim dan Jo hanya tersenyum sinis melihat Rania. Rania keluar dari dalam mobil saat mobil Jo sudah berhenti tepat di gedung apartemen.


Tanpa pamit atau ucapan terima kasih, Rania pergi begitu saja. Jo merasa sangat geram melihat Rania. Bukan karena Rania tidak pamit atau mengucapkan terima kasih. Tetapi lebih kepada tingkah laku Rania.

__ADS_1


Sejak dari tadi rasanya Jo ingin mencabik-cabik wajah yang sok polos itu. Sedang Maxim justru merasa heran kepada Rania. Rania sebenarnya cantik, bisa saja menjadi seorang model. Tetapi wanita itu malah lebih suka hidup menjadi simpanan.


Jo melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Jo tidak ingin membuang waktu untuk menyelidiki obat-obatan yang di dapatnya dari dalam tas Rania dan Alex. Jo ingin secepatnya Berli menyelesaikan masalahnya.


Jo juga akan menyelidiki tentang Rania. Jika terbukti Rania berbuat sesuatu, maka Jo dan Berli sudah menyiapkan sesuatu untuk membalasnya. Sebelum sampai ke rumah sakit, Jo mengantar Maxim ke apartemennya.


Maxim akan syuting besok dan dia harus beristirahat dengan segera. Maxim pamit dan berterima kasih saat sudah sampai di gedung apartemen miliknya. Jo kemudian melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


Jo bergegas menuju ruang Dokter Hera untuk mengetahui jenis obat yang di bawanya. Jo langsung saja masuk ke dalam ruangan yang bertuliskan nama Hera.


Braakk... !


Hera kaget saat pintu ruangannya di buka tanpa di ketuk dahulu. "Jo... rupanya kamu, Ada apa?"


Jo langsung saja duduk di kursi lalu meletakan obat yang di bawanya di atas meja kerja Hera. "Kamu... selidiki jenis obat ini. Aku mau secepatnya kamu memberikan hasilnya."


Hera berdecih. "Cih... kamu datang menemuiku hanya untuk ini. Apa kamu tidak merindukan kekasihmu ini?"


Jo memutar mata malas. "Kita sudah putus, jangan harap aku akan kembali padamu."


Jo melipat tangan di dada. "Jangan membahas masa lalu. Kamu aku bayar untuk pekerjaan ini."


Hera sedikit kesal lalu mengambil obat yang telah Jo letakan di atas meja kerjanya. "Tenang saja... secepatnya aku akan memberitahu hasilnya."


"Bagus... aku pulang," ucap Jo.


Jo pulang tanpa menoleh atau berterima kasih kepada Hera. Hera sudah terbiasa akan perlakuan dingin dari Jo. Jo dan Hera adalah mantan kekasih saat mereka masih di bangku sekolah.


Mobil Jo melaju membelah keramaian kota. Sebenarnya Jo tidak ingin lagi bertemu Hera. Dokter lain selain Hera juga banyak, tetapi Hera adalah dokter genius dan dapat di percaya. Jo yakin jika obat yang di ambilnya dari dalam tas Rania adalah obat yang terlarang.


Tbc

__ADS_1


Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.


__ADS_2