Terpaksa Menikahi Mantanku

Terpaksa Menikahi Mantanku
Bab 92 S2


__ADS_3

Jo sudah di cafe menunggu kedatangan Alex. Dia ingin membahas tentang Devan. Jo tidak ingin Devan satu rumah sakit dengan Hera.


Alex masuk ke dalam cafe. Dia langsung saja menuju meja Jo. Alex menarik kursi dan duduk. Jo memanggil pelayan untuk memesan minuman.


"Al ... gimana dengan masalah Devan?" tanya Jo.


"Beres ... Devan akan segera pindah dari rumah sakit Hera. Aku sudah memindahkan pria itu ke luar negeri," jawab Alex.


"Jauh sekali sampai ke luar negeri?" tanya Jo.


"Aku membujuk ayahnya dengan saham yang aku berikan. Devan akan memiliki saham di rumah sakit yang baru," kata Alex.


Ibu Devan adalah seorang Dokter. Ayahnya seorang pengusaha. Alex membujuk ayah Devan dengan iming-iming saham kepemilikkan di rumah sakit yang baru.


Ayah Devan setuju akan hal itu. Selain saham kepemilikkan. Ayah Devan juga menginginkan hubungan baik dengan pengusaha sukses seperti Alex.


"Syukurlah ... dia bakal menjauh dari Hera," ucap Hera.


Alex mencebik. "Dasar bucin!"


Jo mendelik. "Kamu juga bucin. Waktu di pulau siapa yang menangisi Berli?"


Wajah Alex memerah. Betapa malunya Alex pada saat itu. Dia menangisi Berli karna istrinya itu berciuman dengan Maxim. Sedang Jo terkekeh geli melihat raut wajah Alex.


"Jangan mengejek diriku," kesal Alex.


Pelayan datang dengan membawa minuman pesanan Jo dan Alex. Keduanya minum lalu berbincang-bincang hangat.


...****************...


Devan membereskan barang-barangnya di rumah sakit. Sebentar lagi di akan pindah ke luar negeri. Ayahnya meminta Devan untuk keluar negeri mengurus rumah sakit yang seperempat adalah miliknya.


Devan tidak tahu kalau kepemilikkan rumah sakit itu, kerjasama antara Alex dan ayahnya. Devan hanya mengikuti perintah ayahnya saja. Demi baktinya pada orang tua, Devan rela untuk pindah.


Devan sudah membereskan semuanya. Dia keluar dari ruangannya. Devan melangkah menuju ruangan Hera. Dia ingin berpamitan kepada Hera.


Sebenarnya Devan tertarik kepada Hera. Hanya saja dia terlambat untuk mengutarakan niatnya itu. Hera sudah menjadi milik orang lain.


Namun Devan harus mengikhlaskan Hera. Dia tidak di takdirkan untuk bersama. Devan mengetuk pintu ruangan Hera. Dari dalam sana terdengar suara yang menyuruhnya untuk masuk.


Devan memutar knop pintu dan masuk. Dia tersenyum melihat wajah cantik Hera. "Dokter Hera!"


Hera tersenyum saat idolanya datang. "Dokter Devan ... silakan duduk!"


Devan duduk di kursi berhadapan dengan Hera. "Her ... aku kesini untuk berpamitan. Aku mau pindah ke luar negeri."


Hera kaget mendengarnya. Tiada angin mau pun hujan. Tiba-tiba saja Devan ingin pindah ke luar negeri.

__ADS_1


"Kenapa mendadak sekali?" tanya Hera.


Devan tersenyum. "Ayahku yang menginginkannya!"


Hera cukup bersedih. Idolanya bahkan idola para suster akan segera pergi. Rasa kehilangan itu pasti ada. Devan di kenal akan sikap ramah dan lembutnya.


"Pasti kami sangat kehilangan dirimu. Semoga kamu baik-baik saja di sana. Aku juga berdoa, semoga kamu semakin sukses di sana," ucap Hera.


"Terima kasih, Her," ucap Devan.


Devan menatap wajah Hera. Sebelum pergi dia ingin mengutarakan perasaan hatinya. Devan tahu, tidak mungkin untuk mendapatkan Hera. Namun dia ingin Hera tahu perasaan yang dia pendam di dalam hati.


Devan ingin Hera mengetahui perasaannya. Meski Hera tidak bisa dan tidak akan pernah bisa menerima dirinya. Namun setidaknya Devan akan merasa lega karna telah menyatakan rasa cintanya.


"Hera ... sebenarnya aku menyukai dirimu. Aku hanya tidak bisa mengungkapkan perasaan cintaku. Saat aku ingin mengutarakannya, aku sudah terlambat," ungkap Devan.


Hera terkesiap mendengarnya. Dia tidak menyangka Devan punya rasa padanya. "Devan ... kamu tidak lagi bercanda, kan?"


Devan mengeleng. "Tidak ... aku serius. Aku memang sudah jatuh cinta kepadamu." Devan terkekeh kecil. "Maafkan aku yang menyukai kamu. Aku hanya ingin menyatakan perasaanku saja. Setidaknya kamu tahu isi hatiku."


"Maafkan aku, Dev. Aku tidak bisa membalasnya," lirih Hera.


Devan memberi senyum manisnya. "Aku tahu itu. Semoga kamu bahagia selalu, Hera!"


Devan beranjak berdiri begitu juga Hera. "Hera ... bolehlah aku memelukmu?" Devan mendekat pada Hera. "Anggap saja pelukan sebagai seorang teman.


Hera membiarkan Devan mengecup keningnya. Setidaknya itu akan menjadi kenangan manis untuk Devan. Hera memang menyukai Devan namun hanya sebatas kagum saja.


...****************...


Jo kembali ke kantornya setelah bertemu dengan Alex. Jo kembali berkutat dengan file-file di atas meja kerjanya.


Brian datang dan langsung masuk ke dalam ruangan Jo. "Jo ... lagi sibuk?"


Jo berdecak. "Ck ... ketuk dulu pintunya!"


Jo kesal karna kaget akan kedatangan Brian yang tiba-tiba. Kebiasaan Brian adalah datang ke kantor Jo main nyelonong saja.


Brian menatap selidik. "Biasa juga begitu. Atau kamu takut, aku datang terus kamu lagi main sama Hera?"


Jo kesal mendengarnya. Namun dia juga seperti mendapat ilmu baru dari Brian. Jo belum pernah bermain dengan Hera di kantor. Sepertinya akan bagus kalau sesekali mengajak Hera untuk bermain di ruangan kantornya.


Brian menatap heran Jo yang senyam-senyum sendiri. "Jonathan," pekik Brian.


Jo terlonjak kaget. "Apa sih?"


"Kamu ngapain senyum-senyum sendiri?" tanya Brian.

__ADS_1


Jo terkekeh. "Aku baru saja memikirkan ucapanmu. Sepertinya, aku akan mengajak Hera untuk sekali-kali bermain di dalam kantorku."


Brian terkekeh geli. "Bagus ... kamu semakin pintar saja!"


Jo beralih duduk di kursi sofa. "Kamu ... ada apa kemari?"


"Aku ingin mengajakmu liburan bersama," kata Brian.


"Boleh ... aku juga ingin berlibur bersama Hera," sahut Jo.


"Baguslah ... kita pergi minggu depan. Kita ke pantai saja, gimana?" tanya Brian.


Jo tampak berpikir. "Boleh juga. Apa kita akan mengajak yang lainnya juga?"


"Kita pergi berdua pasangan saja. Yang lainnya pada sibuk," kata Brian.


Brian juga sudah mengajak Alex dan Vino. Kedua sahabatnya itu bilang tidak bisa. Mereka punya anak yang masih kecil. Bisa saja kalau di tinggal bareng suster. Namun mereka tidak menginginkanya.


"Maxim ... tidak kamu ajak?" tanya Jo.


"Aku mau ... tapi, Max akan jadi nyamuk di sana," ujar Brian.


"Siapa yang jadi nyamuk?" tanya Maxim.


Brian dan Jo terlonjak kaget akan kedatangan Maxim. Brian mengaruk tengkuknya. Sedang Jo mengalihkan wajahnya ke arah lain.


Maxim langsung saja duduk di samping Brian. "Kalian tidak mengajakku liburan?"


"Da-dari mana kamu tahu, kami akan liburan?" tanya Brian.


"Dari Alex dan Berli. Aku baru saja dari mansionnya," ujar Maxim.


"Kamu menemui Liora?" tanya Jo.


"Memangnya ... aku ke sana harus menemui Liora. Aku ada kontrak kerja bareng Alex," ucap Maxim.


Sekalian menemui Liora, batin Maxim.


"Kita mau liburan. Kamu mau ikut tidak?" tanya Brian.


"Aku akan ikut. Aku juga ingin cari pacar," kata Maxim.


Brian dan Jo terlihat begitu senang. Akhirnya Maxim bisa move on dari Berli. Brian dan Jo juga tidak cemas lagi akan Maxim yang tergila-gila pada Liora.


Sorry ... aku hanya tidak ingin kalian curiga, batin Maxim.


TBC

__ADS_1


Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.


__ADS_2