Terpaksa Menikahi Mantanku

Terpaksa Menikahi Mantanku
Bab 91 S2


__ADS_3

Brian telah menunggu Jessica di depan Altar pernikahan. Meski acara pernikahannya sederhana namun tidak mengurangi kesan mewah bagi orang yang memandang.


Brian hanya mengundang sahabatnya saja. Keluarga Brian dan Jessica juga tidak ada yang datang. Keluarga Brian dan Jessi semuanya berada di luar negeri.


Hera dan Jo masuk ke dalam kamar rias. Waktu pengucapan janji akan segera di laksanakan. Jessica juga sudah di rias dengan secantik mungkin.


"Jes ... kamu cantik sekali," ucap Hera.


Jessica tersipu malu. "Terima kasih, Her!"


"Ayo ... kita segera ke aula pernikahan," kata Jo.


Ketiganya menuju ballroom hotel. Jo yang akan mengiring Jessica menuju Altar pernikahan. Semua sahabat yang hadir berdiri melihat kedatangan mempelai wanita.


Jessica mengandeng tangan Jo menuju Altar. Brian menatap wanita yang akan menjadi istrinya itu. Jessica kelihatan sangat cantik sekali.


Jo memberikan tangan Jessica kepada Brian. "Jaga dia dan bahagiakan."


"Pasti ... aku akan selalu membahagiakannya," ucap Brian.


Brian menyambut uluran tangan Jessica dan membawanya ke hadapan pendeta. Jessica dan Brian mengucapkan janji suci sehidup semati. Brian mencium bibir Jessica yang menandakan mereka sudah sah menjadi pasangan suami dan istri.


Semua yang hadir bertepuk tangan. Brian dan Jessica begitu bahagia. Alex dan Vino menghampiri sahabatnya itu.


"Akhirnya ... petualanganmu berakhir juga," kata Alex.


Vino berbisik di telinga Brian. "Kamu sudah mencobanya?"


"Sudah ... masih segel," ucap Brian pelan.


"Selamat untuk kalian berdua, ucap Vino dan Alex bergantian. Ketiga saling berpelukan.


Berli juga memberikan selamat kepada Brian dan Jessica. "Kak Brian ... selamat yah. Menikah juga akhirnya."


"Makasih Tasia," ucap Brian.


Berli beralih pada Jessica. "Jes ... awalnya aku kaget ternyata kamu menikah dengan Brian. Aku doakan semoga kamu bahagia bersamanya."


"Mungkin sudah jodohnya. Aku dan Brian menikah. Terima kasih sudah datang, Berli," ucap Jessica.


Jo dan Hera juga mengucapkan selamat kepada Jessica dan Brian. "Kak Brian, Jessica selamat untuk kalian berdua," ucap Hera.


"Brian selamat untukmu," ucap Jo.


Jo memeluk Brian erat. "Berhenti bermain. Kamu sudah mendapatkan wanita yang kamu inginkan."


Brian terkekeh. "Aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Aku akan berhenti bermain jika sudah menikah."

__ADS_1


Jo beralih pada Jessica. Wanita yang selama 5 tahun mengisi hatinya. Jessica mencoba tersenyum kepada Jo. Tidak dia pungkiri nama Jo masih tertera di hatinya. Namun Jo sudah mencintai dan menjadi milik Hera.


"Jes ... selamat yah. Semoga kamu bahagia bersama Brian," ucap Jo.


Jessica tersenyum. "Terima kasih, Jo."


"Brian ... akhirnya kamu nikah juga. Selamat untuk kalian berdua," ucap Maxim.


"Cuma kamu saja yang belum menikah," ucap Brian.


Maxim terkekeh. "Hehehe ... pengantinku masih kecil."


"Kamu beneran menginginkan Liora?" tanya Brian.


Maxim mengeleng. "Tentu saja tidak. Aku hanya bercanda."


Brian bernapas lega mendengarnya. Setidaknya Maxim masih waras untuk tidak menikahi Liora saat sudah besar. Maxim berlalu meninggalkan Brian dan Jessica.


Dia menuju Berli dan Alex yang tengah mengendong Liora. Maxim langsung saja mengambil alih Liora dari tangan Alex. Liora tertawa saat Maxim mengendongnya.


"Liora ... apa kamu merindukan paman tampanmu ini?" tanya Max.


Liora memukul-mukul wajah tampan Max dengan tangan mungilnya. Max mengecup tangan mungil itu. Alex merasa takut akan kedekatan Liora dan Maxim.


"Max ... kamu tidak berniat untuk menikahi Liora, kan?" tanya Alex.


"Maksudku ... ketika dia sudah besar," ucap Alex.


Maxim tampak berpikir sejenak. "Kalau Liora mau, kenapa tidak?"


Maxim membawa Liora menjauh dari Berli dan Alex. Dia membawa Liora duduk di kursi. Alex merasa kesal akan jawaban dari Maxim.


"Sayang ... ketika Liora besar, aku akan menjauhkannya dari Maxim," ucap Alex kepada Berli.


Berli memutar mata malas. "Max itu hanya bercanda. Jangan anggap serius."


"Tapi ... aku merasa apa yang di katakan Max itu benar," gumam Alex.


Alex menatap Liora yang tertawa bersama Maxim. Putrinya itu memang akrab bersama Max. Padahal Liora dan Max hanya bertemu di saat-saat tertentu saja.


Maxim menimang-nimang Liora yang duduk di pangkuannya. Tiada henti Max mencium pipi Lio. Putri kecil itu memang sangat lucu dan mengemaskan. Wajahnya sangat cantik dan juga lucu.


"Liora ... kamu sangat cantik. Sudah besar menikahlah dengan paman," ucap Maxim.


Liora kecil hanya tertawa. Maxim semakin geram saja. Dia memeluk Lio dan menciumnya.


...****************...

__ADS_1


Jo dan Hera sampai di kediaman mereka. Jo membukakan pintu mobil untuk istrinya. Keduanya masuk ke dalam rumah. Jo menutup pintu dan menguncinya.


Dia membawa Hera ke dalam pelukan dadanya. "Sayang ... kita pergi bulan madu yuk!"


Hera menatap wajah Jo. "Memangnya kamu tidak sibuk?"


Jo mengecup bibir Hera. "Aku sudah mengaturnya."


Hera mengangguk. "Baiklah ... kita pergi bulan madu."


"Malam ini ... kita buat baby dulu," kata Jo.


Jo mengendong Hera dan membawanya ke kamar. Bibir keduanya saling bertautan. Jo menendang pintu kamar dan menjatuhkan Hera di atas ranjang kasur.


Keduanya memulai pertempuran panas. Mereka saling menyentuh satu sama lain. Napas keduanya tidak beraturan. Hera mencengkram kuat seprai akibat guncangan yang di buat suaminya.


"Pelan-pelan, Jo," kata Hera.


"Tahan ... sebentar lagi selesai," ucap Jo.


Di lain sisi Brian dan Jessica juga melakukan ritual yang sama. Brian membuka gaun pengantin yang melekat di tubuh istrinya.


Tanda-tanda cinta yang di tinggalkan Brian masih tampak di tubuh Jessi. Brian meng*cup punggung yang polos itu. Dia merebahkan tubuh Jessi dia atas ranjang kasur.


Brian memulai tugasnya sebagai seorang suami. Kali ini dia melakukannya dengan sangat lembut. Jessica di buat melayang oleh sentuhan yang di berikan oleh Brian.


Sebagai pemain wanita, Brian sangat pintar dalam soal memuaskan. Jessica terengah-engah saat Brian menghujamnya dengan sedikit cepat.


"A-aku mau keluar," kata Jessica.


"Sebentar sayang ... kita keluarkan sama-sama," sahut Brian.


Keduanya menarik napas panjang saat telah mencapainya. Brian mengecup kening Jessica dan memeluknya. Jessica sudah sangat kelelahan. Dia kewalahan mengimbangi permainan Brian.


Brian benar-benar sangat kuat dan lihai dalam permainan ini. Jessi memejamkan matanya. Dia sudah sangat letih. Brian sebenarnya masih menginginkannya lagi.


Tetapi dia paham kalau ini adalah pengalaman kedua Jessi. Istrinya itu pasti sangat lelah. Brian membawa tubuh Jessi ke dalam dekapannya.


"Terima kasih ... karena bersedia menjadi istriku. Aku akan mencintai dan membahagiakan kamu."


Brian mengelus perut Jessica yang masih rata. Dia menginginkan keturunan dari rahim Jessi. Alex dan Vino sudah mempunyai anak. Giliran dia saja yang belum.


Brian mengecup perut Jessi. "Cepatlah tumbuh!"


Brian kembali berbaring di samping Jessica. Dia memejamkan mata dan tertidur lelap.


TBC

__ADS_1


Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.


__ADS_2