
Alex tidak tahan melihat Berli dan Maxim yang bermesraan di depannya. Alex pergi menghampiri istrinya dengan emosi yang bergelora di hatinya. Alex tidak peduli Rania yang menghentikan dirinya.
"Alex... jangan pergi, biar saja mereka berdua," ucap Rania.
Rania menahan tangan Alex tapi Alex menepisnya. "Lepaskan... aku ingin istriku!"
Rania mulai terisak mengeluarkan air mata palsu. "Please Alex... biar saja mereka berdua. Kita juga harus bersama, kamu harus balas perbuatan Berli."
Vino dan Brian yang mendengar itu segera angkat bicara. Mereka memang sengaja datang atas permintaan Berli untuk memanasi Alex. "Alex... jika kamu bersama Rania, maka Tasia akan bersama Maxim," ucap Brian.
"Ingat Alex... kamu sudah kehilangan Tasia satu kali. Kalau kamu melepasnya lagi, kamu akan menyesal," ucap Vino.
Rania geram akan ucapan dua sahabat Alex. "Kalian... jangan ikut campur urusan kami berdua."
Brian dan Vino meraih tangan Rania agar tidak menghalangi Alex. "Alex... pergilah, bawa istrimu kembali."
Alex mengangguk lalu berlari menghampiri istrinya dan Maxim. Rania berusaha untuk melepaskan diri menyusul Alex tapi Brian segera membawanya pergi. "Rania... kamu jangan menghalangi Alex."
"Brian... ayo kita bawa ja**ng ini," ucap Vino.
Brian dan Vino membawa Rania ke kamar mereka. Rania berusaha untuk meloloskan diri tapi tidak berhasil. Kali ini habislah nasib Rania. Brian mengunci pintu kamar, lalu Rania di lempar di atas tempat tidur.
"Bren***k kalian... aku akan mengadu pada Alex," ucap Rania.
Brian dan Vino tertawa terbahak-bahak. "Hahahaha... kamu sudah membuat Alex menjadi bodoh seperti itu. Sekarang kami tidak akan mengampuni dirimu," ucap Brian.
Rania melempar bantal yang ada di tempat tidur ke arah Brian dan Vino. "Alex hanya mencintaiku bukan Berli."
Vino berdecak. "Cih... kamu jangan bermimpi."
Brian melihat Rania dari atas sampai bawah. "Vino... mending kita senang-senang dulu sama Rania."
Vino terlihat jijik melihat Rania. "Ogah... kamu saja. Kamu paling suka cewek model Rania, kan?"
Rania terlihat ketakutan. "Jangan macam-macam kalian, aku bakal bilang pada Alex."
"Sudah Brian, jangan bikin Rania takut. Kita tunggu saja Jo dan Maxim," ujar Vino.
__ADS_1
Di dalam kamar Rania, Jo tengah mengotak atik ponsel milik Rania. Jo akan menyadap setiap pesan dan panggilan wanita itu ke dalam ponsel Berli. Berli sengaja menyuruh Jo menyadap ponsel Rania.
Berli sangat curiga akan sifat Alex yang menurut Berli terlalu bodoh.
Alex sangat berbeda dari Alex yang dulu. Dulu Alex bersikap dingin, arrogant dan posesif. Sekarang pria itu terlihat sangat penurut dan terlihat bodoh.
Jo juga membongkar isi tas dari Rania dan juga Alex. Ada beberapa obat-obatan dari dalam tas Rania dan juga Alex. Jo mengambil setiap obat itu satu persatu dan memfoto botol obatnya.
Alex menghampiri Maxim dan Berli yang tengah asik duduk di kursi pantai. Alex sangat geram melihat pinggang Berli yang di rangkul oleh Maxim. "Lepaskan tanganmu itu Max!" bentak Alex.
Berli dan Maxim kaget melihat kedatangan Alex. "Alex... kamu tidak bersama Rania?" tanya Berli.
"Alex... kamu menganggu saja, ayo pergi sana. Kamu temui saja simpanan kamu itu," tutur Maxim.
Alex mengepalkan tangan. "Kamu yang pergi, Tasia istriku."
"Berli juga kekasihku," ujar Maxim.
Alex terlihat geram lalu pergi meninggalkan Maxim dan Berli. Berli heran akan sikap Alex, kemana Alex yang selalu bersikap posesif padanya. Alex seperti pria yang gampang untuk di suruh-suruh. Maxim mengusirnya saja, Alex malah pergi. Dulu Alex sangat marah bahkan memukul pria yang mendekati Berli. Alex seperti mempunyai emosi yang labil. Kadang emosi tapi seketika itu juga emosinya akan surut.
"Maxim... aku merasa aneh akan sikap dari Alex. Aku ingin pergi menyusulnya," ujar Berli.
"Kamu pergilah susul Jo dan lainnya," ucap Berli.
Maxim mengangguk. "Oke... nanti kamu menyusul saja."
Maxim pergi menyusul Jo dan yang lainnya. Berli pergi mencari Alex yang pergi meninggalkannya. Berli mencari Alex di kamarnya tapi Alex tidak disana. Berli menelepon seseorang yang selalu mengikuti Alex.
Berli pergi ke arah kolam renang di penginapan. Dari orang suruhannya mengatakan Alex berada di tepi kolam. Berli menyusul Alex kesana. Alex terlihat memandang wajahnya di air kolam.
Berli menepuk pundak Alex. "Al... kamu kenapa?"
Alex menoleh pada istrinya, Alex terlihat menangis. "Tasia... aku mohon, jangan perlakukan aku seperti ini lagi. Jangan tinggalkan aku."
Berli merasa heran melihat Alex. Seorang Alexander William menangis. Apa yang sudah terjadi pada Alex saat Berli meninggalkannya. Apakah Alex memang cinta pada Rania atau ada hal yang lain. Berli semakin penasaran, jika Alex ternyata mencintai Rania maka Berli akan mundur.
Berli membawa Alex masuk ke dalam kamar. Berli membawa Alex berbaring di atas tempat tidur. Berli mengelus-elus rambut Alex. Alex memejamkan matanya karna elusan tangan Berli. Tidak lama Alex mulai tertidur. Berli meletakan kepala Alex di atas bantal. Berli lalu keluar kamar menyusul yang lainnya.
__ADS_1
Tok... tok... tok... !
Brian membuka pintu kamar yang di ketuk. "Kalian... ayo masuk."
Jo dan Maxim masuk ke dalam kamar Brian. "Mau... kalian apakan wanita ini?" tanya Maxim.
Brian tersenyum smirk. "Kita senang-senang dulu saja, gimana?"
"Boleh juga," ucap Jo.
"Apa kalian bilang?" teriak Berli.
Ke empat pria yang ada di dalam kamar terperanjat kaget mendengar suara Berli. Berli menatap tajam ke arah empat pria itu. Berli semakin terkejut saat melihat kondisi Rania. Tangan dan kaki Rania di ikat dengan kain pantai lalu mulut di sumpal sapu tangan.
"Apa yang telah kalian lakukan?" tanya Berli.
"I-itu... karena Rania berisik," ucap Brian.
Brian tergagap bicara pada Berli.
Berli menghela. "Kak Brian... lepaskan Rania, dan tadi apa yang ingin kalian lakukan pada Rania. Kalian ingin bersenang-senang?"
Ke empat pria itu mengeleng. "Itu... Brian yang pengen," ucap Vino.
Berli berkacak pinggang. "Kak Vino... kakak sudah punya Elena, dan kalian... Maxim, Jo, apa kalian ingin juga bersama Rania?"
Semuanya mengeleng. "Ini semua karna kamu Brian," ucap Vino.
Brian mendelik tidak ingin di salahkan. "Kalian... jangan pura-pura, padahal pengen?"
Ke empat pria itu saling menyalahkan dan berdebat. Berli pusing mendengar ke empat pria itu bicara. "Apa kalian tidak bisa diam?"
Berli geleng-geleng kepala lalu mendekati Rania. Berli melepas ikatan kaki dan tangan Rania. Berli juga melepas sumpalan sapu tangan dari mulut Rania. Baru saja sumpalan itu di lepas, Rania mulai berkicau lagi
"Aku... akan bilang ini semua ke-"
Sebelum Rania menyelesaikan kata-katanya, Berli sudah menyumpal kembali bibir Rania dengan sapu tangan.
__ADS_1
Tbc
Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.