Terpaksa Menikahi Mantanku

Terpaksa Menikahi Mantanku
Bab 64 S2


__ADS_3

Di dalam mobil, Tuan Wijaya terus saja memuji Hera. Mama Rita dan Jo sedikit kesal mendengarnya. Hera cantik, Hera sopan, Hera seorang Dokter, semua pujian di lontarkan Tuan Wijaya.


Mama Rita sampai menutup telinga. Suaminya sudah jatuh hati pada Hera. Jatuh hati dalam maksud ingin menjadikan Hera menantu.


"Pah... bisa diam gak sih? pusing mama, dari tadi ngoceh melulu," ujar Mama Rita.


"Ma... malam ini, kamu siapkan makan malam. Papa mau mengundang Hera ke rumah kita," ucap Tuan Wijaya.


Jo mendelik, papanya mengundang mantan yang sangat dia benci. "Pah... ngapain undang makan malam Hera?"


"Papa mau kalian saling dekat. Hera itu cocok untuk kamu. Cantik, sopan dan lagi seorang Dokter. Dari dulu papa mau punya mantu seorang Dokter," ujar Tuan Wijaya.


"Pah... Jo sudah punya kekasih. Lagian Hera mungkin sudah punya pasangan," ujar Jo.


"Papa gak suka Jessica, titik," ucap Tuan Wijaya.


Jo menghela napas, susah sekali mendapat restu dari papanya. Ini memang kesalahan Jessica, yang tidak bisa mengambil hati Papanya. Tetapi seharusnya, Tuan Wijaya juga mengerti akan perbedaan budaya mereka.


Jo mengerti papanya masih melihat seorang gadis dari tutur katanya. Berbeda dari mama Rita yang berdarah campuran. Mama Rita seolah tidak mempersalahkan tutur bahasa dari Jessica.


Jo sangat mencintai Jessica. Sebentar lagi kontrak Jessica akan selesai. Jo sudah berjanji akan menikahi gadis pujaanya. Jika Jessica tidak mengubah sikapnya, maka pernikahan yang di impikan Jo akan musnah.


Mama Rita merasa kasihan terhadap anaknya. Jo mencintai kekasihnya tetapi suaminya tidak setuju. Mama Rita sedikit takut jika Jo akan pergi dari mereka.


Mama Rita takut Jo akan meninggalkan keluarganya. Suaminya itu sungguh sangat keras kepala. Dia terlalu mengatur kehidupan Jo. Memang itu semua untuk kebaikan Jo. Sebagai seorang pria maka Jo yang memimpin keluarganya.


"Pah... restui saja hubungan Jo dan Jessica. Mereka saling cinta," ujar Rita.


Tuan Wijaya hanya diam. Dia langsung saja keluar dari dalam mobil, sesaat Jo menghentikan mobilnya di depan mansion. Mama Rita menghela, suaminya itu pasti merajuk.


Jo hanya geleng-geleng kepala akan tingkah papanya. Tuan Wijaya akan merajuk seperti anak kecil, kalau keinginannya itu tidak di turuti.


Jo merangkul seraya mengelus bahu mamanya. "Mama turuti saja keinginan papa. Undang saja Hera makan malam."


"Iya... Mama akan siapkan makan malam. Kamu pulang cepat malam ini," ucap Mama Rita.


Jo mengangguk. "Oke... Ma!"

__ADS_1


Jo pergi balik ke kantornya setelah mengantar orang tuanya ke mansion. Mama Rita segera melaksanakan perintah suaminya. Mama Rita menelepon Hera untuk datang makan malam.


Jo sudah sampai di depan gedung kantor miliknya. Jo naik ke lift dan menuju lantai atas ruangan kerja. Jo membuka pintu ruangan sudah ada Brian dan Maxim.


Mereka bertiga sudah akrab. Brian dan Maxim sama-sama jomblo. Sedang Jo, long distance bersama kekasihnya. Alex dan Vino sudah sibuk dengan keluarga mereka masing-masing.


"Sudah lama kalian?" tanya Jo.


"Lumayan," ucap Maxim.


"Wajahmu kelihatan kesal," kata Brian.


Jo mengusap wajahnya. "Biasa... papaku tidak merestui hubunganku bersama Jessica. Papa bahkan ingin mendekatkan aku dengan Hera."


"Siapa Hera?" tanya Maxim.


"Mantanku saat sekolah," sahut Jo.


Brian tertawa. "Hahaha... aku sangat heran dengan Tuan Wijaya. Dulu Berli dan Alex, sekarang kamu dan Hera. Kenapa semua balik pada mantan?"


"Mungkin sudah jodohnya," sahut Maxim.


"Aku menunggu Liora," ucap Maxim.


Jo dan Brian kaget mendengar nama Liora. Apa Maxim akan menikahi Liora yang masih berumur tiga bulan. Mungkin Maxim kecewa karena tidak mendapatkan Berli jadi Liora harus menjadi miliknya.


"Kamu ini pedofil, Liora masih berumur tiga bulan. Sedang kamu sudah tua," tutur Jo.


"Siapa bilang aku tua, aku masih muda. Saat Liora berumur 20 tahun maka saat itu umurku 40 tahun," ujar Maxim.


Maxim memang masih muda. Lebih muda dari Jo dan lainnya. Alasan karena Berli tidak ingin bersama Maxim. Salah satunya adalah umur Max yang masih muda. Meski pemikiran Max sudah dewasa, tapi tetap saja umurnya terlalu muda.


*****


Hera bersiap-siap untuk menghadiri undangan makam malam di mansion Tuan Wijaya. Hera mengunakan gaun dengan panjang selutut dan berlengan panjang.


Rambutnya juga sudah di tata dengan sangat rapi. Hera sebenarnya tidak ingin memenuhi undangan ini. Tetapi Hera ingin menemui Jo untuk meminta maaf.

__ADS_1


Hera melajukan mobilnya menuju kediaman Tuan Wijaya. Hera sudah di beritahu oleh mama Rita alamat mansionnya. Jantung Hera berdegup kencang saat mobil sudah berhenti di gerbang mansion.


Penjaga gerbang membukakan pintu gerbang untuk Hera. Mama Rita ternyata sudah menyambut kedatangan Hera di depan rumahnya. Hera keluar dari dalam mobil dengan senyum manis mengembang.


"Malam... Nyonya," ucap Hera.


"Malam juga, sayang. Ayo masuk, kami semua sudah menunggu kamu," ujar Mama Rita.


Hera masuk ke dalam mansion rumah Jo. Hera begitu kagum dengan interior dan desain mansion Jo. Hera memang orang berada tetapi Tuan Wijaya lebih kaya. Rumah Hera saja tidak ada apa-apa di banding mansion Jo.


Tuan Wijaya sangat senang saat melihat Hera datang. Suasana hatinya membaik saat istrinya mengatakan Hera akan makan malam. Jo memberi tatapan dingin pada Hera.


Hera sedikit canggung akan tatapan itu. "Malam... Tuan," ucap Hera.


"Malam juga Hera, kamu jangan panggil Tuan. Panggil saya Papa."


Tuan Wijaya menunjuk istrinya. "Dan istriku, panggil dia Mama," ucap Tuan Wijaya.


Jo langsung saja menoleh pada papa dan mamanya. "Papa... mau mengangkat anak lagi?"


Tuan Wijaya terkekeh. "Siapa bilang? papa mau Hera jadi mantu keluarga ini."


Hera kaget mendengar bahwa dia di klaim sebagai calon menantu keluarga Wijaya. Jo memutar mata malas, papanya memang sudah bertekad akan menjodohkan dirinya.


Memang apa kelebihan dari Hera. Dia hanya seorang Dokter saja. Sama saja dengan Jessica, sama-sama cantik. Tidak di pungkiri Jo, Hera memang kelihatan semakin cantik.


Hera terlihat begitu anggun dan dewasa. Tubuhnya juga sangat berbentuk proporsional. Jo asyik memerhatikan penampilan Hera.


Bodynya boleh juga, sama seperti model. Sesuai dengan tipeku, tapi Jessica lebih dari dia, batin Jo.


Semenjak bergaul bersama Brian dan juga Maxim, Jo jadi ikutan mesum. Untung saja Jo tidak mengikuti gaya Brian yang seorang casanova. Baginya setelah pernikahan barulah dirinya akan melakukan hubungan itu.


Jo masih menjaga keperjakaan dirinya. Pacaran bersama Jessica hanya sebatas cumbuan saja, tidak lebih. Mama Rita langsung saja mengajak Hera untuk duduk di kursi makan.


Jam sudah menunjukan pukul 8 malam. Itu artinya sudah waktunya makan malam. Hera duduk berhadapan dengan Jo. Hera menunduk tidak ingin melihat wajah Jo. Dia masih sangat malu bertatapan wajah dengan mantannya itu.


Tbc

__ADS_1


Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.


__ADS_2