
Jo keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri. Hera menatap tajam wajah suaminya itu. Dia sudah geram saat tahu maksud sebenarnya dari Jo.
Jo sengaja membuat Hera tidak bisa memilih. Kalau Hera tidak hamil tentu saja itu akan membuat kecewa keluarga mertuanya. Kalau Hera hamil maka tujuan Jo akan tercapai.
Tuan Wijaya sangat menginginkan cucu. Jo sengaja membiarkan Hera meminum obat pencegah kehamilan. Dengan begitu maka Jo akan mengungkapkan kebenaran Hera di mata papanya.
Papanya akan merasa kecewa pada Hera. Menantunya itu akan buruk di matanya. Jika sudah begini maka rencana Jo berpisah akan berjalan mulus.
Kalau Hera bersedia hamil itu lebih bagus lagi. Jo juga akan mencapai tujuanya. Dia akan mendapatkan anak lalu dalam beberapa tahun mereka bisa bercerai.
Hera tidak bisa memilih di antara keduanya. Di sisi lain dia akan menjadi buruk di hadapan mertuanya. Lalu di sisi lainya Hera akan di ceraikan oleh Jo. Kedua pilihan itu sama-sama bisa menyebabkan perpisahan antara dia dan Jo.
Jo mengambil bajunya ke dalam koper. "Hera ... kita segera pulang saja."
Hera tersenyum pada Jo. Mulai saat ini Hera akan bersikap manis pada suaminya itu. Entah apa yang akan di rencanakan Hera. Yang jelas mulai sekarang dia akan menyebarkan cinta untuk Jo.
"Oke ... sayang," jawab Hera.
Kening Jo berkerut mendengar kata sayang dari bibir manis Hera. Dia mendekati Hera lalu menempelkan tanganya di dahi istrinya itu. Jo memeriksa apakah Hera sakit atau tidak.
"Kamu baik-baik saja. Lalu kenapa memanggilku sayang?" tanya Jo.
Hera tersenyum manis. Dia lalu merangkulkan tanganya di leher Jo. Hera juga mencium bibir Jo sekilas.
"Memangnya ... aku tidak boleh, menyebutmu dengan kata sayang. Kamu suamiku, wajar saja aku memanggil dirimu sayang," tutur Hera.
Jo masih menatap Hera heran. Dia melingkarkan kedua tanganya di pinggang Hera. Jo tersenyum smirk, sepertinya dia tahu apa maksud dari Hera.
Hera pasti berusaha untuk mengambil perhatian dari Jo. Dia akan membuat Jo jatuh ke dalam pelukannya. Tetapi Jo begitu pintar. Dia yang akan membuat Hera jatuh ke dalam jeratan yang dia buat.
Jo membelai lembut wajah Hera. Tanganya menyusuri setiap jengkal wajah cantik Hera. Jo berhenti di bibir mungil berwarna merah itu. Hera menatap Jo dengan tatapan penuh dambaan.
"Kamu ingin kita tidak pulang-pulang?" kata Jo yang membelai bibir Hera dengan jari jempolnya.
__ADS_1
Hera mengecup jempol itu. "Terserah kamu sayang. Kita bisa melakukannya lagi. Aku sangat ingin."
Jo terkekeh. "Kita lakukan di rumah saja. Kita coba suasana baru."
Hera mengangguk. "Boleh juga ... aku menginginkan suasana seperti di dalam video yang kamu kirim."
"Sesuai yang kamu minta. Kali ini kamu yang harus menjadi pemeran utamanya," ucap Jo.
"Aku akan membuatmu berada di bawah kendaliku," kata Hera.
Jo dan Hera lalu keluar dari hotel menuju rumah baru mereka. Jo sudah tidak sabar untuk segera melahap kembali istrinya. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimal.
Hera melirik suaminya yang sedang menyetir. Jo tampak fokus melihat jalanan. Hera menampilkan senyum devil pada Jo. Hera lalu menempelkan kepalanya di lengan Jo.
Jo memperlambat laju mobilnya. Dia merangkul bahu Hera. Jo juga mengecup puncak kepala istrinya. Hera hanya memejamkan mata menikmati kecupan itu. Rasanya dia seperti istri yang di sayang oleh suami.
Mobil sampai tepat di depan pintu rumah mewah. Jo dan Hera segera keluar dari dalam mobil. Jo membuka pintu lalu mempersilakan istrinya untuk masuk.
Hera menutup pintu rumah. Tidak lupa dia juga mengunci pintunya. Jo melipat tangan di perut. Dia ingin tahu seberapa nakal Hera akan menggodanya.
Hera lalu menurunkan tubuhnya. Jo melotot akan apa yang di lakukan Hera. Dia merasa terbang tinggi. Hera membuat Jo menikmati surga dunia lewat bibir mungilnya.
Jo mengeleng, ini tidak bisa di biarkan. Kalau seperti ini maka Jo akan tunduk di bawah kendali Hera.
"Sayang ... kamu memang sudah nakal," kata Jo.
"Kamu suka ini?" tanya Hera.
Jo mengangguk. "Tentu saja ... kita lihat apa dia bisa keluar."
Hera tersenyum smirk. Dia lalu membawa Jo untuk duduk di sofa. Hera memulai kembali menikmati permen di dalam bibirnya. Jo memejamkan mata. Napasnya memburu, ini benar-benar sungguh luar biasa.
Kali ini suara Jo yang terdengar mengalun di ruangan tamu. Jo tidak tahan lagi. Dia menarik napas karena sudah mencapainya. Jo lemas setelahnya, dia lalu menarik Hera ke atas pangkuannya.
__ADS_1
"Kamu sungguh membuat diriku di bawah kendalimu. Aku sangat menyukai permainan ini," ujar Jo.
Hera membenamkan wajahnya di dada bidang Jo. "Aku akan melayani dirimu sebaik mungkin."
Jo mengecup kening Hera. Dia lalu membawa Hera ke dalam gendonganya. Hera mengalungkan erat tanganya pada leher Jo.
Hera membuka pintu kamar. Jo lalu merebahkan Hera di kasur. Mereka memulai kembali ritual pasangan suami istri. Jo melakukannya bersama Hera di berbagai tempat.
Di sofa, kamar, dapur dan terakhir kamar mandi. Entah berapa ronde yang mereka habiskan bersama. Jo sudah lemas dan tumbang di atas tempat tidur.
Hera melihat itu hanya tersenyum puas. Langkah pertama adalah taklukan pria dengan hawa napsunya. Hera sudah melakukan itu. Dia akan menaklukan Jo di atas ranjang terlebih dahulu.
Hera masuk ke dalam selimut lalu mendekat pada Jo. Hera mendusel wajahnya di dada polos sang suami.
"Tidurlah Hera ... apa kamu menginginkanya lagi," kata Jo
Jo berbicara tanpa membuka matanya. Hera masih mendusel dan membuat pola abstrak di dada polos itu. Jo membuka matanya lalu memengang jari tangan yang membuat dirinya selalu terbakar.
"Kamu tidak lelah?" tanya Jo.
"Lelah ... aku belum bisa tidur kalau kamu tidak memelukku."
Jo tersenyum lalu mengecup kening Hera. Suaminya itu lalu melingkarkan tanganya memeluk Hera. "Tidurlah ... aku akan terus memeluk dirimu.
Langkah kedua bersikaplah polos, manja dan manis. Hera melambaikan tanganya pada wajah Jo. Dia juga menoel-noel pipi Jo. Hera perlahan melepas tangan yang melingkar erat di perutnya.
Dia turun dari ranjang lalu mengambil ponsel miliknya. Hera mengirim pesan singkat pada Berli.
~ Kak ... terima kasih atas sarannya. Aku sudah mencobanya, Hera.
Saat Jo berada di dalam kamar mandi hotel. Di saat itu juga Berli menelepon Hera. Berli tahu betul sikap Jo yang kurang baik terhadap adik iparnya itu.
Hera lalu menceritakan semua masalahnya pada Berli. Lalu Berli memberi saran agar Hera bisa menaklukan hati Jo. Hera akan membuat kebencian itu menjadi cinta.
__ADS_1
Tbc
Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.