
Hera berlari meninggalkan Jo di taman belakang. Hera berlari dengan air mata mengalir di pipinya. Tuan Wijaya dan Mama Rita menjadi heran melihat Hera yang menangis.
"Papa, Mama, Hera pamit pulang. Terima kasih makan malamnya," ucap Hera.
Tanpa menunggu jawaban dari Tuan Wijaya dan mama Rita, Hera mengambil tas lalu keluar dari mansion. Hera langsung masuk mobil dan berlalu dari sana.
Tuan Wijaya tidak mengerti apa yang terjadi pada Hera. Jo masuk ke dalam rumah menemui papa dan mamanya. Tuan Wijaya menatap menyelidik kepada Jo.
"Jo ... apa yang terjadi pada Hera. Kenapa dia bisa menangis?" tanya Tuan Wijaya.
"Sayang ... kamu tidak bicara yang menyakit perasaan Hera, kan?" tanya Mama Rita.
Jo menghela. "Hah ... Jo hanya mengatakan statusnya saja. Dia pasti hanya ingin memanfaatkan keluarga kita saja. Jo tahu sifat Hera sejak dulu."
Tuan Wijaya menghela. "Hah ...."
Tuan Wijaya mengeleng melihat anaknya itu. Dia tidak percaya jika Jo punya pikiran picik seperti itu. Hera itu wanita baik, apa Jo tidak bisa melihatnya.
"Jo ... Papa tidak menyangka kamu bisa berpikiran seperti itu. Apa yang kamu katakan sampai dia menangis?"
Jo duduk di sofa samping mamanya. "Pa ... Jo hanya mengatakan fakta saja. Dia itu sejak dulu sangat menyukai orang kaya. Jo tidak ingin Hera memiliki hubungan dengan kita.
Tuan Wijaya mulai gusar akan pernyataan Jo. "Papa tidak mau tahu. Kamu harus minta maaf pada Hera. Kalau kamu tidak mau, Papa akan buat Jessica hancur."
Jo mendelik mendengar ancaman papanya. Tega sekali papanya, hanya demi Hera menghancurkan Jessica. Hera telah berhasil merebut hati dari orang tuanya. Jo tidak bisa membiarkan ini. Jika Jessica hancur maka Hera juga akan hancur.
Mama Rita malah merasa takut. Suaminya begitu keras memaksakan Jo. Rita takut hubungan keduanya akan renggang.
"Pa ... jangan memaksa Jo. Mama tidak mau kalian bertengkar hanya karena masalah wanita," lirih Rita.
Tuan Wijaya bangkit berdiri dan berkacak pinggang. "Itu akibat Mama selalu memanjakan Jo. Mama selalu menuruti keinginannya. Papa dari awal tidak setuju saat Jo berhubungan dengan wanita itu.
Rita menunduk, suaminya menyalahkan caranya mendidik Jo. Rita hanya ingin Jo tidak terlalu tertekan. Lagian, Jo sudah dewasa. Dia bisa membedakan mana baik dan buruk.
__ADS_1
Jo kesal, Tuan Wijaya malah bicara merembet kemana-mana. "Cukup, pa!" Jo bicara dengan sedikit tegas. "Jangan menyalahkan mama. Aku akan minta maaf pada Hera."
Jo keluar dari mansion kemudian masuk ke dalam mobilnya. Jo menyalakan mesin mobil lalu melajukan mobilnya keluar mansion. Mama Rita berlari mengejar Jo tetapi sudah terlambat. Jo sudah melaju ke jalan raya.
Mama Rita masuk ke dalam rumahnya. Dia sunguh sangat kesal akan suaminya. "Puas ... awas saja sampai Jo pergi dari rumah."
Tuan Wijaya kaget, istrinya marah. Alamat tidur di luar kalau sampai istrinya marah. Tuan Wijaya mendekat lalu merangkul istrinya. "Sayang ... jangan marah. Papa hanya mau Jo mendapatkan wanita yang baik."
Rita melepas rangkulan tangan suaminya. "Memangnya Papa tahu, sifat Hera. Kita baru saja mengenalnya."
Wijaya kembali memeluk istrinya. "Papa akan menyelidiki Hera dan keluarganya. Tetapi feeling Papa mengatakan jika dia wanita baik-baik."
Wijaya mencium pipi istrinya yang cemberut. Membelai rambut istrinya yang halus dan wangi. Meski sudah berumur tetapi mereka tetap mesra. Rita menghindar dari belaian tangan suaminya.
"Malam ini, Papa tidur di kamar lain," ujar Rita kesal.
Wijaya mendelik. "Sayang ... jangan menyiksaku. Aku mohon ...."
Rita tidak mengubris perkataan suaminya. Dia langsung naik ke atas menuju kamarnya. Rita masuk lalu mengunci pintu kamar. Wijaya menyusul istrinya ke kamar. Dia mengetuk pintu kamar yang terkunci.
******
Jo mengotak-atik ponsel di tangannya. Baginya yang seorang Hacker sangat mudah untuk mengetahui di mana tempat tinggal Hera. Jo melajukan mobilnya menuju kediaman Hera.
Mobil Jo berhenti di sebuah gedung apartemen yang cukup mewah. Jo langsung saja menuju lantai kamar Hera. Dengan mudahnya Jo masuk ke dalam flat Hera. Baginya sangat kecil hanya untuk membobol password flat Hera.
Jo langsung saja masuk, tidak ada siapa-siapa yang dia lihat. Jo menuju kamar tidur Hera. Dia masuk dan duduk di tepi ranjang. Jo mendengar suara gemericik air di dalam kamar mandi.
Hera mematikan kran shower setelah selesai mandi. Hera memakai handuknya lalu keluar. Mata Hera melotot saat ada Jo tengah berbaring di atas kasurnya.
Hera terbata-bata bicara. "K-kamu ... bagaimana bisa, kamu ada di dalam kamarku?"
Jo menarik salah satu sudut bibirnya. "Kamu tidak tahu siapa aku. Hanya dengan jentikan jari, aku bisa masuk ke dalam kamarmu."
__ADS_1
Jo memperhatikan Hera yang hanya memakai handuk Pendek. Kulit putih bersih dengan rambut yang basah. Hera kelihatan sangat menggoda.
Hera menyilangkan tangannya ke pundak untuk melindungi diri. Jo mengelus dagunya lalu mulai mendekati Hera. Hera tidak bisa mundur karena sudah terpentok tembok.
Jo mengukung Hera dengan kedua tanganya. Jo mengendus aroma rambut dan tubuh Hera. Begitu wangi dan membangkitkan gelora kelakiannya.
"Mau apa kamu?" Hera sangat takut jika Jo berbuat yang tidak-tidak.
Tangan Jo merambat ke handuk Hera. Jo mulai ingin membuka tetapi Hera menghalanginya. "Kamu mau aku paksa atau kamu sendiri yang merelakan dirimu."
Hera mengeleng. "Jangan lakukan hal ini padaku. "
Jo malah tersenyum smirk. "Sepertinya kamu memang suka di paksa."
Jo meraih tubuh Hera dan melemparnya di atas kasur. Hera ketakutan, dia mundur ke belakang menghindari Jo. Jo melepas jas yang di kenakan. Jo juga melepas kancing kemejanya.
"Jangan, ku mohon," lirih Hera.
Jo menarik kaki Hera hingga posisi Hera menjadi terlentang. Jo membuka handuk yang membungkus tubuh Hera. Tampaklah tubuh polos Hera di kasur.
"Ini akibat kamu telah membuatku di marahi."
Jo mulai menindih tubuh Hera lalu mengengam kedua tangan Hera ke atas. "Gara-gara kamu, papa ku menyalahkan cara mama mendidikku. Kamu harus tanggung jawab."
Jo mulai menc*mbu Hera, setiap bagian tidak dia lewatkan sedikit pun. Hera hanya pasrah akan perlakuan Jo. Tanda-tanda merah sudah membekas di sekujur tubuh Hera. Jo menghentikanya aksinya lalu bangkit dari atas tubuh Hera.
Jo melempar handuk ke arah Hera. Jo merapikan kembali pakaiannya. Dia tersenyum sinis dengan keadaan Hera.
"Kamu pikir, aku mau bercinta denganmu. Jangan harap, tubuhmu itu tidak layak untukku," ucap Jo.
Jo pergi setelah mengatakan kata-kata yang menyakitkan itu. Hera menarik handuk untuk menutupi tubuhnya yang polos. Dia terisak, begitu sakit kata-kata dan perbuatan yang Jo lakukan.
Tbc
__ADS_1
Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.