Terpaksa Menikahi Mantanku

Terpaksa Menikahi Mantanku
Bab 90 S2


__ADS_3

Jessica membuka matanya secara perlahan. Ikatan tanganya sudah di lepas oleh Brian. Jessi merasakan sakit pada tubuhnya. Terutama di bagian pangkal pahanya.


"Sudah bangun," ucap Brian yang baru keluar dari kamar mandi.


Jessi memberi tatapan tajam pada Brian. Pria di depannya ini bukanlah seorang pria sejati. Dengan seenak hatinya merenggut mahkota seorang gadis.


Brian mendekat pada Jessica. "Maaf ... aku tidak menyangka kamu masih gadis."


Jessica mengalihkan pandangannya dari wajah Brian. Dia tidak sudi melihat tampang menjijikan dari pemain wanita itu. Brian menyentuh pundak Jessi. Namun Jessi menyingkirkan tangan Brian dari tubuhnya.


"Maaf ... aku akan bertanggung jawab," ucap Brian.


"Apa dengan kata maaf bisa mengembalikan semuanya, tidak, kan?" bentak Jessi.


Jessica terisak dengan keadaannya. Dia datang hanya untuk bekerja. Namun tidak di sangka malah dia kehilangan mahkotanya. Jessica meringkuk di atas tempat tidur.


Brian menghela napas. Dia benar-benar hilang kendali tadi malam. Apa lagi saat tahu Jessica masih virgin. Selama ini dia memang sangat menginginkan wanita yang masih bersih.


Brian mengelus punggung wanitanya yang polos. "Aku akan tanggung jawab. Aku akan menikahimu."


Brian membalikan tubuh Jessi agar menatap wajahnya. Brian menghapus air mata yang meleleh di pipi Jessica. Dia juga mengusap jejak-jejak yang dia tinggalkan semalam.


Betapa buasnya Brian tadi malam. Hingga jejak yang dia tinggalkan sangat banyak. Brian tahu pasti Jessica masih merasakan sakit di sekujur tubuhnya.


"Jadilah istriku ... meski kita tidak saling mencintai. Aku yakin setelah kita bersama maka cinta akan datang dengan sendirinya," ujar Brian.


Brian membawa Jessi ke dalam gendonganya. Brian menurunkan tubuh Jessi secara perlahan ke dalam bathtub yang sudah berisi air hangat.


"Aku akan keluar. Kalau sudah panggil saja," ucap Brian.


Brian keluar dari kamar mandi. Dia meraih ponsel dan mendial nomor para sahabatnya. Brian akan mengadakan pernikahan secara mendadak. Dan dia ingin para sahabatnya menghadiri pernikahannya.


Brian juga menelepon wedding organizer. Pernikahan akan di laksanakan di hotel tempatnya menginap sekarang.


Beberapa menit berlalu Jessi keluar dari kamar mandi. Dia berjalan sedikit tertatih-tatih. Brian yang melihat itu segera membantunya berjalan.


"Aku sudah siapkan semuanya. Besok kita akan menikah," kata Brian.


"Aku tidak mau. Aku membencimu," ketus Jessica.


Brian mengusap wajahnya. Sepertinya dia harus menjadi perayu kali ini. Wanita di hadapanya ini punya sikap yang keras kepala.


"Aku sudah melakukannya beberapa kali. Benihku sudah tumbuh di dalam sana. Kamu akan hamil. Kamu tidak kasihan jika anak yang tumbuh di rahimmu tidak punya ayah?"


Semalam Brian memang tidak memakai pengaman. Mengetahui fakta Jessi masih segel, Brian ingin benihnya tumbuh di rahim Jessi.


Jessica memikirkan apa yang di ucapkan oleh Brian. Dia tatap wajah pria yang baru semalam dia kenal. Jessica ragu untuk menikahi Brian.

__ADS_1


Pria yang berlutut di hadapanya ini seorang casanova. Bagaimana nanti nasib pernikahan mereka. Brian pasti akan tetap bermain dengan wanita di luar sana.


Brian melihat keraguan di mata Jessi. Dia mengerti, mungkin karena dirinya pemain wanita Jessi tidak menyukainya.


"Jessi ... aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Aku akan menikah dan berhenti bermain jika mendapatkan wanita yang masih virgin. Aku sudah mendapatkannya. Aku ingin kamu menjadi istriku," ungkap Brian.


Jessica tersentak akan penuturan Brian. Mungkin saja, ini adalah jodoh yang di berikan tuhan padanya. Pria yang akan mengantikan Jo dari dalam hatinya. Meski cara Brian mendapatkan dirinya salah.


Jessica mengangguk. "Aku bersedia menikah denganmu."


Brian bernapas lega mendengarnya. Dia memeluk tubuh Jessi dengan erat. Akhirnya penantian Brian berakhir juga. Dia juga akan menikah.


"Kamu menginginkan apa untuk pernikahan kita?" tanya Brian.


"Aku ingin menemui temanku di sini. Aku ingin dia menjadi saksi pernikahanku," jawab Jessica.


"Baiklah ... kita akan temui dia sekarang. Besok kita menikah, jadi kita tidak perlu menundanya."


Jessica mengangguk lalu segera bersiap. Brian sudah menyiapkan segala keperluan Jessica sangat wanita itu masih tertidur. Jessica dan Brian keluar dari hotel untuk pergi ke tempat Jo dan Hera.


Brian masih belum tahu siapa teman yang akan Jessica datangi. Brian membukakan calon istrinya itu pintu mobil. Jessica masuk kemudian di susul oleh Brian.


Brian menyalakan mesin mobil dan segera melaju membelah jalanan kota. Jessica memberitahu pada Brian alamat yang akan mereka datangi.


30 Menit telah berlalu. Mobil Brian sampai di depan perkarangan rumah Jo. Brian keluar dan membukakan pintu untuk Jessi.


"Iya ... mereka teman sekaligus mantan kekasihku," jawab Jessi.


"Hah ... untuk apa kamu menemui mantanmu?" kesal Brian.


Jessica tersenyum. "Dia yang membuatku pindah bekerja di sini. Istrinya juga temanku."


Brian merasa lega mendengarnya. Ternyata mantan Jessica sudah mempunyai istri. Jessica memencet bel rumah Jo. Cukup lama mereka menunggu barulah Hera membuka pintu rumah.


"Jessica!" Hera memeluk Jessica.


Hera merasa aneh ada Brian di samping Jessi. Begitu juga Brian yang melihat Hera. Brian menatap Jessica. Mungkinkah Jo adalah mantan dari Jessi.


"Jes ... kamu mantan Jonathan," kata Brian.


"Iya, Kak ... Jessica mantan Jo. Kemarin Jessica baru saja menginap di rumah kami," sahut Hera.


Brian menelan ludahnya. Bagaimana nanti jika Jo tahu kalau dirinya akan menikahi Jessica. Yang Brian tahu Jo masih belum bisa melupakan Jessi.


Hera mempersilakan Brian dan Jessica masuk ke dalam rumah. Brian dan Jessi duduk di sofa seraya menunggu Hera yang memanggil Jo di kamar.


Brian merasa gugup saat ini. Dia meremas kedua tangannya. Jessica yang melihat itu merasa heran.

__ADS_1


"Kamu ... kenapa gugup begitu?"


Brian mengeleng. "Ti-tidak ... aku tidak apa-apa."


"Kamu mengenal Hera dan Jo?" tanya Jessica.


Brian mengangguk. "Jo adalah temanku!"


Jo dan Hera menuruni anak tangga secara bersama-sama. Mereka lalu duduk di sofa berhadapan dengan Jessi dan Brian. Jo lalu menatap Jessica.


"Jes ... kamu disini juga," ujar Jo.


Jessica mengangguk tersenyum. Jo lalu beralih menatap Brian.


"Brian ... kamu bilang ingin menikah besok," kata Jo.


Brian memang mengirim pesan kepada Jo kalau besok dia akan menikah. Brian gugup untuk bicara. "Jo ... aku akan menikah."


"Baguslah ... apa kamu sudah mendapatkan wanita bersegel?" tanya Jo.


"Brian akan menikah denganku," sahut Jessica.


"Apaaaa?" kaget Hera dan Jo.


Jo merasa tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Jessica baru saja kemarin menginap di rumah mereka. Lalu hari ini Jessica datang dan bilang akan menikah dengan Brian.


"Jes ... kamu tidak lagi bercanda, kan?" tanya Hera.


Jessica mengeleng. "Aku serius ... besok kami akan menikah."


"Brian ... jelaskan saja semuanya," ucap Jo.


Brian lalu menceritakan semua kejadian antara dia dan Jessica. Jo hanya mengeleng mendengarnya. Jo tidak mengira dunia akan sesempit ini. Jessica berjodoh dengan Brian.


"Jo ... aku minta maaf. Aku tahu kamu masih mencintai Jessica," lirih Brian.


Jo tersenyum dan mengeleng. "Tidak ... aku sudah tidak mencintai Jessi. Aku mencintai istriku, Hera."


Jo mengecup kening Hera. Dia merangkul bahu Hera agar mendekat padanya. Hera merasa bahagia karena Jo sudah melupakan Jessica. Brian juga merasa lega mendengarnya.


"Brian ... kamu jaga Jessica. Dia wanita yang baik," ucap Jo.


"Pasti ... aku akan mencintai dan membahagiakan Jessi," ucap Brian.


Jo merasa bahagia akan kebahagian yang meliputi Brian dan Jessica. Meski Brian mendapatkan Jessi dengan cara yang salah. Namun Brian mau bertanggung jawab dengan menikahi Jessica.


TBC

__ADS_1


Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.


__ADS_2