Terpaksa Menikahi Mantanku

Terpaksa Menikahi Mantanku
Bab 72 S2


__ADS_3

Hera sangat gugup untuk bicara. Orang tuanya sudah menunggu alasan, mengapa Hera tidak mau tunangan bersama Jo. Hera menarik napas dan mengembuskannya.


"Pa ... Hera tidak mau pertunangan, karena Jo sudah mempunyai kekasih."


Sinta berkerut, Tuan Wijaya mengatakan kalau Jo sudah putus dengan kekasihnya. Maka dari itu dia mau menjodohkan anaknya dengan Hera.


"Nama calon suami kamu, Jo?" tanya Tuan David.


Hera mengangguk. "Iya ... Pa."


"Jonathan Wijaya yang sekarang menjadi pemimpin di perusahaan Wijaya Corp, bukan?" tanya Tuan David.


"Iya ... Pa," sahut Hera.


Tuan David mengusap wajahnya. Dia lalu menatap wajah cantik anaknya. "Hera ... yang Papa dengar, dia pria yang sukses. Selama dia memimpin, perusahaan Wijaya semakin sukses. Papa mau kamu menikah dengannya."


"Pa ... bukannya Jo itu hanya anak angkat?" tanya Sinta.


"Semua orang juga tahu, kalau yang memimpin perusahaan hanya anak angkat. Tetapi dia adalah pewaris kedua dari Wijaya. Mungkin sekarang menjadi pewaris satu-satunya. Kakaknya itu sangat kaya, dia tidak membutuhkan lagi harta dari Wijaya," tutur Tuan David.


Sinta menghampiri anak semata wayangnya. "Her ... ini untuk masa depan kamu. Siapa yang tidak mau menjadi menantu dari Wijaya. Lagian Mama dan Papa tidak enak membatalkan perjodohan ini. Mereka adalah teman baik kami berdua.


Hera menghela, dia pasrah jika perjodohan ini memang harus terjadi. Menolak pun percuma. Siapa yang tidak mengenal Wijaya, orang tuanya juga sangat menginginkan berbesanan dengan mereka. Apalagi orang tua mereka saling mengenal satu sama lain.


"Kamu siap-siap saja, malam ini kita akan makan malam di kediaman calon suamimu," ujar Tuan David.


Hera mengiyakan perintah papanya. Dia lalu beranjak pergi untuk ke kamarnya yang berada di atas. Hera membuka pintu kamar dan langsung merebahkan dirinya di atas ranjang tempat tidur.


Hera benar-benar tidak mengira jika celotehan Tuan Wijaya tentang perjodohan, yang dia anggap lelucon akan benar-benar terjadi.


Hera beranjak menuju lemari pakaian. Dia mencari pakaian yang tertutup. Ini semua karena Jo yang meninggalkan bekas-bekas merah pada tubuhnya.


Setelah mendapat gaun yang dia inginkan, Hera mulai bersiap-siap.


******


Di dapur mansion tampak mama Rita dan para pelayan sibuk. Mereka sibuk menyiapkan segala hidangan untuk menyambut tamu istimewa.

__ADS_1


Sebentar lagi calon besan dan menantunya akan segera datang. Tuan Wijaya juga sudah bersiap duduk di ruang tamu. Sedang Jo masih asyik menelepon Jessica kekasihnya.


Jo tengah melakukan video call bersama Jessica. Kekasihnya itu semakin hari semakin cantik saja. "Sayang ... bagaimana hari kamu saat ini?"


"Hari-hari ku tidak menyenangkan," sahut Jessica.


"Lho ... kenapa?" tanya Jo.


"Karena kamu tidak berada di sisiku." Jessica memasang wajah memelas.


Jo terkekeh geli. "Minggu nanti kita akan bertemu. Aku juga akan melamarmu."


Jessica menutup bibirnya. Dia merasa senang bahwa Jo datang akan melamarnya. Sebentar lagi kontrak kerjanya sudah selesai. Jessica sudah berjanji pada dirinya sendiri.


Kalau kontrak kerjanya sudah selesai, dia akan fokus menjadi istri dari Jo. Jo juga sudah berjanji akan menikahi Jessica. Biarlah orang tua Jo tidak setuju. Cintanya pada Jo sangat tulus.


Jo merasa bahagia saat melihat kekasihnya melompat-lompat kegirangan. Jo sampai tertawa terbahak melihat tingkah Jessica yang seperti anak kecil.


Meski mereka hanya bicara lewat video call, Jo merasa Jessica berada di dekatnya. Dia juga bisa merasakan sentuhan kekasihnya itu.


"Sayang ... sudah dulu, mama memanggilku untuk turun," ujar Jo.


"I love u too," balas Jo.


Jo mematikan sambungan video callnya bersama Jessica. Sedang Jessica yang berada jauh di sana merasa sangat senang. Tiada henti-hentinya Jessica tersenyum.


"Jo ... aku mencintai kamu. Tidak lama lagi kita akan bersama," gumam Jessica.


Jo segera menuruni anak tangga menuju lantai bawah. Mamanya tadi sudah berteriak untuk menyuruhnya turun ke bawah. Jo menghampiri papanya yang tengah duduk di sofa ruang tamu.


"Pa ...."


"Jo ... kamu duduk di sini. Sebentar lagi calon mertua kamu akan datang," ucap Tuan Wijaya.


Mobil Hera telah sampai di kediaman mansion Wijaya. Para pelayan yang di tugaskan untuk menyambut tamu segera membukakan pintu mobil.


Tuan David beserta istri dan anaknya keluar dari dalam mobil. Mereka di iringi untuk masuk ke dalam menuju ruang tamu. Di sana sudah ada Tuan Wijaya, mama Rita dan Jo.

__ADS_1


Tuan Wijaya menyambut calon besan sekaligus temanya itu. Mama Rita sedikit malu bertemu dengan mantannya itu. Tuan David memberi senyum manis pada mama Rita.


Tuan Wijaya lekas merangkul pinggang istrinya. Dia masih cemburu pada David. Meski sudah menjadi mantan, tetap saja mereka pasti ingat kenangan di masa lalu.


Tuan David juga mengeratkan tangannya di pinggang istrinya. Dia juga sama dengan Tuan Wijaya. Sedang Jo memutar mata malas melihat reuni antar mantan itu.


Jo sudah tahu jika calon mertuanya itu teman sekaligus mantan kekasih. Karena mereka tidak berjodoh di masa lalu, jadilah Jo dan Hera yang mereka jodohkan.


"Ayo duduk," ucap Tuan Wijaya.


"Bagaimana kabarmu,David?" tanya Tuan Wijaya.


"Seperti yang kamu lihat," jawab Tuan David.


Tuan David memperhatikan Jo yang duduk di samping papanya. "Jay ... aku dengar anakmu sudah punya kekasih?"


Tuan Wijaya mengeleng. "Tidak ... mereka sudah putus. Lagian aku tidak setuju dengan gadis itu. Dia berbeda dari anakmu, Jessica itu gadis yang tidak tahu sopan santun.


Hera sedikit kaget mendengar nama Jessica. Nama itu yang di sebut oleh Jo saat dia tertidur. Sedang Jo sangat kesal mendengar papanya menjelekkan nama Jessica.


"Kita akan melakukan pertunangannya 3 hari lagi. Jo akan pergi ke luar negeri untuk urusan bisnis. Pertunangannya akan di lakukan di mansion ku," tutur Tuan Wijaya.


"Terserah kamu saja, kami ikut saja," ucap Tuan David.


"Setelah mereka menikah, aku akan menyuruh Jo untuk menanamkan modal untuk rumah sakitmu," ujar Tuan Wijaya.


Tuan David mengeleng. "Tidak perlu ... aku bukan menjual anakku. Aku setuju karena kita dulu saling mengenal dan menjalin hubungan."


"Benar ... Jay. Kami tidak memerlukan itu semua. Kami ingin, anak kami menjadi menantumu agar silaturahmi kita tidak putus," sahut Sinta.


"Terserah kalian saja kalau begitu," ujar Tuan Wijaya.


Mereka lalu berbincang-bincang sambil tertawa. Jo menatap sinis Hera yang duduk berhadapan denganya. Sudah Jo kira pasti orang tua Hera juga menginginkan nama besar Wijaya.


Jika pernikahan ini terjadi maka nama rumah sakit dan keluarga Hera juga akan terkenal. Mereka akan kecipratan nama besar dari Wijaya. Menurut Jo keluarga Hera hanya berpura-pura saja.


Tbc

__ADS_1


Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.


__ADS_2