
Semakin hari tingkah Berli semakin aneh. Hari ini saja Alex di paksa harus memakai pakaian berwarna pink. Kemeja putih, dasi serta jas berwarna pink. Tidak ketinggalan juga sepatu sport berwarna pink.
Alex berjalan dengan gaya cool saat sampai di kantornya. Alex cuek dengan tatapan para karyawannya. Alex melangkah dengan gaya gagah tetapi terkesan sweet.
Demi sang istri, Alex rela melakukan apa pun. Alex sudah membuat temu janji dengan Dokter kandungan. Alex yakin jika istrinya itu tengah mengandung. Melihat tingkah Berli yang aneh dan juga setiap pagi selalu mual.
Selena yang melihat atasannya, memakai serba pink merasa heran. Alex yang berpenampilan seperti seorang executive, kini berubah menjadi boyband.
Alex berdehem. "Hemm... jangan memandangku seperti itu."
Selena gelagapan. "Selamat pagi, Tuan!"
"Pagi," sahut Alex.
Alex langsung masuk ke dalam ruangan miliknya. Alex masuk ke dalam kamar yang memang tersedia di dalam ruangan kantornya. Alex bercermin melihat penampilan dirinya.
Alex menari-nari layaknya anggota boyband di TV. Alex tidak menyadari ada sahabat yang menahan tawa saat melihatnya. Brian dan Vino baru saja datang ke kantor Alex.
Sampai di ruangan kantor Alex, mereka di suguhkan akan hal konyol. Alex menari street dance di depan cermin. Berpakaian serba pink dengan wajah cool berkumis.
Brian dan Vino tidak tahan lagi untuk tidak tertawa. "Hahaha...."
Alex kaget mendengar suara tawa Brian dan Vino. "Kapan... kalian datang?"
"Alex... tumben sekali kamu berpenampilan seperti ini," ucap Brian.
"Alex... kamu ingin berpindah profesi menjadi boyband?" tanya Vino.
Alex duduk di sofa di susul oleh Brian dan Vino. "Tasia... memaksa diriku memakai pakaian ini. Aku yakin jika istriku itu beneran hamil."
"Kalian belum periksa?" tanya Vino.
"Nanti siang... aku sudah membuat janji temu," sahut Alex.
"Semoga... Tasia beneran hamil," ujar Brian.
Brian mengeluarkan map di dalam tas kerjanya. Mereka bertiga membahas masalah pekerjaan. Alex bekerja sama dengan perusahaan Vino dan Brian.
Di sisi lain Berli tengah berada di kantor menemui Jo. "Jo... ayo pakai ini."
Berli menunjukan bando kelinci pada Jo. Jo melotot ketika Berli memakaikan kepalanya bando. "Berli... aku bukan anak kecil!"
Berli melotot, saat Jo memanggil namanya. "Kamu bilang apa?"
Jo tersadar dia telah salah dengan memanggil nama saja, tanpa embel-embel kakak. Jo segera meralat ucapannya.
__ADS_1
"Kakak... aku bukan anak kecil, aku juga bukan wanita," ujar Jo.
Jo sudah tidak tahan lagi dengan perlakuan Berli. Jo segera menelepon Alex agar datang menjemput istrinya. Berli bertingkah aneh, Jo di dandani seperti wanita.
Jo menekan tombol dial untuk menelpon. Cukup lama Jo menunggu, baru lah Alex mengangkat panggilan teleponnya.
"Halo Alex." ~ Jo.
"Panggil Alex kakak, Jo," teriak Berli.
Jo spontan menutup telinganya karena teriakan Berli. Jo meralat ucapannya memangil Alex. Sedang Alex yang mendengar teriakan Berli, malah tertawa dari seberang telepon.
"Halo Kakak." ~Jo.
"Cepat datang kemari, jemput istrimu. Aku sudah tidak tahan lagi. Aku mohon bawa istrimu pergi." ~ Jo.
Jo memutuskan sambungan telepon setelah Alex mengatakan oke.
Alex segera bersiap untuk pergi menjemput Berli. Alex masuk ke dalam lift untuk turun. Alex menekan angka lantai dasar. Alex keluar dari lift dan keluar dari gedung kantornya.
Alex masuk ke dalam mobil dan segera berlalu meninggalkan kantor. Mobil Alex melaju membelah jalanan kota yang padat. Alex sampai di gedung kantor Jo. Alex keluar dari dalam mobil dan langsung menuju lift.
Semua karyawan kantor Jo, sudah mengetahui siapa Alex. Mereka tidak heran kalau Alex datang. Alex masuk ke dalam lift, tetapi ada seorang wanita yang sudah berada di dalam.
Alex mengacuhkan wanita itu. Alex fokus menatap ke depan seraya menunggu pintu lift terbuka. Wanita itu menegur Alex yang berada di depannya.
Alex menoleh saat namanya di panggil. Alex mengernyit berusaha mengingat wanita di depannya. Wanita itu tersenyum manis pada Alex.
"Kamu... Clara?"
Clara mengangguk. "Iya... aku Clara."
Alex seolah merasa aneh, Clara ada di kantor Jo. "Kamu... kenapa ada di sini?"
"Aku lagi ada pertemuan dengan pak Jo. Kamu sendiri, ingin bertemu pak Jo?" tanya Clara.
"Jo... adik iparku, aku datang karena istriku di sini," ucap Alex.
Pintu lift terbuka, Alex langsung saja keluar. Alex langsung saja melengang menuju ruangan kantor Jo. Clara berdecak akan sikap Alex yang terkesan dingin.
Alex membuka pintu ruangan. Mata Alex melotot melihat Jo. Alex menutup mulutnya menahan tawa. Jo memakai bando kelinci dan di dandani layaknya anak gadis kecil.
Jo yang melihat Alex malah tertawa. Alex berpenampilan ala boyband. Sangat tidak cocok sekali dengan tampang Alex. Tampang macho dengan baju pink.
"Kakak... tolong, bawa istrimu ini pergi," ucap Jo.
__ADS_1
Berli mendengus. "Kamu tidak suka, aku berada di sini?"
"Kamu mengangguku bekerja, lebih baik kamu pergi ke Dokter saja. Tingkah lakumu begitu aneh," ujar Jo.
Berli merengut, lalu beranjak pergi keluar. Alex dan Jo melongo melihat kepergian Berli. Tampaknya Berli tengah merajuk pada Jo. Alex memberi tatapan tajam pada Jo.
"Lihat... istriku jadi merajuk," ucap Alex.
"Kau lihat diriku, aku jadi anak gadis seperti ini. Dari tadi dia mengangguku, aku harus bekerja," kata Jo.
"Kamu juga lihat diriku, aku menjadi boyband," ucap Alex.
"Sebaiknya bawa istrimu ke Dokter. Aku rasa kalian akan punya anak perempuan," ujar Jo.
"Iya... aku pamit dulu," ucap Jo.
Jo juga merasa Berli tengah hamil. Jo merasa ada hal aneh pada Berli, saat kakaknya itu pulang dari negara S. Berli bertingkah aneh dan moodnya kadang berubah-ubah.
Berli berjalan keluar ruangan Jo. Mata Berli menangkap sosok wanita yang tengah bersama Selena sekretaris Alex. Berli menghampiri kedua wanita yang berbincang itu.
"Clara... kamu Clara, kan?"
Berli memastikan jika wanita di hadapannya adalah Clara. Wanita yang bertemu dengan mereka saat dinner di negara S.
"Hai Berli, senang bertemu kamu lagi," ucap Clara.
"Ada apa kamu kemari?" tanya Berli.
"Aku ingin bertemu pak Jo," ucapnya.
Berli mengangguk dan pergi dari hadapan Clara dan Selena. Alex datang menyusul istrinya itu. Berli mengalihkan pandangannya tidak ingin melihat Alex.
"Sayang... kamu marah juga padaku?" tanya Alex.
Berli tidak menjawab pertanyaan Alex. Berli langsung saja pergi melangkah. Alex menghela, istrinya merajuk. Alex merangkul bahu Berli tetapi Berli melepas tangan Alex.
"Jangan marah cintaku!"
"Kenapa tidak membelaku, Jo mengusirku tadi."
Berli merengut, bibirnya sudah manyun ke depan. Alex malah terkekeh melihatnya. Istrinya itu terlihat seperti anak kecil. Alex mendaratkan bibirnya ke kening Berli.
"Aku mencintai kamu," ucap Alex.
Tbc
__ADS_1
Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.