
Tamu undangan sudah berdatangan. Kolega dari kedua pihak sudah hadir di dalam satu ruangan bersama. Berli dan Alex berserta Liora sudah datang. Brian, Vino dan istrinya Elena serta Maxim.
Hari ini adalah hari pertunangan Hera dan Jo. Hera sudah tampil dengan sangat cantik. Jo juga begitu sangat tampan. Pertunangan hanya di selenggarakan secara sederhana. Tuan Wijaya hanya mengundang kerabat dekat mereka saja.
Acara akan segera di mulai. Hera dan Jo saling berdampingan. Cincin juga sudah siap berada di tangan mama Rita. Pembawa acara mulai membuka acara. Setelah menyampaikan sepatah dua patah dari masing-masing keluarga, acara inti pun di mulai.
Hera saling berhadapan dengan Jo. Ada rasa gugup saat melihat tatapan dingin yang Jo berikan. Mama Rita mengulurkan kotak cincin yang telah di buka.
Jo mengambil cincin itu dan menyematkanya di jari manis Hera. Semua yang hadir bertepuk tangan. Kemudian giliran Hera, dia mengambil cincin dan menyematkanya di jari manis Jo. Semua yang hadir bertepuk tangan.
Kedua pihak keluarga sangat bahagia dengan acara pertunangan ini. Jo menahan rasa kesalnya. Dia hanya berpura-pura tersenyum. Berli yang melihat itu tahu kalau Jo tidak bahagia.
Alex dan Berli menghampiri kedua insan yang baru saja bertunangan. "Jo, Hera ... selamat untuk kalian berdua," ucap Alex.
"Selamat Jo, Hera selamat datang di keluarga kami," ucap Berli.
"Terima kasih, Kak," ucap Hera.
Jo hanya diam, Berli dan Alex tahu perasaan Jo yang setengah hati dalam menerima Hera. Alex menepuk pundak Jo. "Jo ... sudahlah, terima Hera sebagai tunanganmu."
Jo hanya berdehem menjawabnya. "Hem ... di mana Liora?"
Alex menunjuk ke arah Maxim. "Tuh ... dia di gendong Max."
Jo malah terkekeh geli melihat Liora yang di gendong Max. Berli yang tengah berbincang bersama Hera, heran mendengar kekehan Jo. Alex juga heran, apa yang lucu dari Max mengendong Liora.
Berli lalu beralih pada Jo. "Apa ada yang lucu?"
Jo mengeleng tetapi sekarang dia malah tertawa. "Aku hanya lucu melihat Max. Aku rasa kalian nantinya akan mendapat calon menantu yang tua."
Alex mengernyit. "Apa maksudmu?"
"Sepertinya Max jatuh cinta pada Liora," ucap Jo.
Berli dan Alex mendelik. Dalam pikiran mereka mungkin Max akan mengejar Liora sangat dia dewasa. Alex langsung saja pergi menghampiri Liora. Alex datang dengan tiba-tiba mengambil Liora dari gendongan Max.
Maxim kaget akan hal itu. Liora yang di gendong daddy Alex malah menangis. Berli ikut menyusul agar Liora berhenti menangis. Berli mengambil anaknya dari gendongan Alex.
__ADS_1
Tetap saja Liora masih menangis. Akhirnya Max yang mengambil alih. Liora diam seketika melihat raut wajah tampan dari Max. Alex menepuk jidat, mungkin yang di katakan Jo benar.
Brian yang memang sudah berada di samping Jo ikut tertawa bareng. "Jo ... aku rasa Liora akan menjadi jodoh Max."
Jo menahan tawanya. "Kau benar, Brian. Perutku sakit menahan tawa."
Hera yang melihat Jo tertawa bahagia, hanya tersenyum. Jo sangat berbeda saat berada di dekat kakak dan temannya. Beda sekali saat mereka tengah bersama. Hanya ada tatapan kebencian yang di berikan Jo.
Semua tamu yang hadir memberi ucapan selamat untuk Jo dan Hera. Semuanya setelah mencicipi hidangan, satu persatu mulai meninggalkan mansion.
Alex dan Berli juga pulang ke mansionnya. Brian dan Max setelah memberi selamat untuk Jo juga pulang. Suasana seketika menjadi sepi. Hanya ada pelayan saja sekarang yang mulai berberes-beres.
Kedua keluarga duduk di kursi sofa. Mereka membicarakan masalah pernikahan. Mereka menginginkan acara pernikahan di lakukan secepatnya.
"Kapan acara pernikahannya?" tanya Tuan Wijaya.
"Terserah kalian saja. Kami siap kapan pun," sahut Tuan David.
"Satu bulan lagi gimana?" tanya Tuan Wijaya.
Tuan David menoleh pada istrinya. Sinta tersenyum lalu mengangguk. "Oke ... bulan depan kita nikahkan saja mereka."
Hari sudah larut malam. Pertunangan Jo memang di lakukan pada malam hari. Tuan David sudah pulang. Tinggal Jo yang harus mengantar tunangannya untuk pulang.
Hera masuk ke dalam mobil Jo. Segera saja Jo melajukan mobilnya keluar dari mansion. Seperti biasa tidak ada yang bicara di dalam mobil.
Beberapa menit berlalu. Mobil telah sampai di gedung apartemen. Jo keluar dari dalam mobil. Hera yang juga sudah keluar langsung saja di tarik oleh Jo.
Hera merasakan rasa sakit di tangannya. Jo menariknya dengan sangat kuat. Belum lagi Hera harus berjalan cepat dengan heel yang dia pakai.
"Lepaskan, Jo. Tangan dan kaki ku sakit," lirih Hera.
Jo tidak mengubrisnya. Dia terus saja mengeret Hera. Jo menekan kode sandi di pintu masuk apartemen. Pintu terbuka, langsung saja Jo mendorong Hera untuk masuk.
Hampir saja Hera terjatuh karena hilang keseimbangan. Jo menutup pintu masuk. Dia lalu membawa Hera ke kamar tidur. Sesampainya di dalam kamar, Jo langsung melempar Hera ke tempat tidur.
Jo membuka jas yang di pakainya. Dia juga membuka tali pinggang. Jo melilitkan tali pinggang itu di kedua tangan Hera.
__ADS_1
"Puas ... kamu puas sudah menjadi tunanganku," hardik Jo.
Hera mengeleng. "Bukan aku yang mau menjadi tunanganmu. Aku sudah menolak perjodohan ini. Keluargamu sendiri yang menginginkan diriku menjadi menantunya.
"Diam!" bentak Jo.
"Kenapa ... kamu sendiri tidak bisa menolaknya, kan?" Hera menatap tajam Jo. "Kamu hanya bisa melecehkan diriku saja. Pria macam apa kamu ini," hardik Hera.
Jo berkilat marah, Hera berani menantangnya. Jo merobek gaun yang di pakai Hera. Dia merobek semuanya, hingga gaun itu tidak terbentuk lagi.
Hera tertawa. "Hahaha ... apa begini juga kamu memperlakukan kekasihmu?"
"Diam ... kekasihku lebih berharga dari kamu," ucap Jo.
Hera berdecih. "Cih ... berharga, sangat di sayangkan. Orang tuamu malah tidak setuju kamu menikah dengannya."
Hera menatap sinis Jo. "Aku lebih berharga dari pada pacarmu itu. Hingga papamu menginginkan aku menjadi menantunya. Sedang pacar tidak sopanmu itu malah di benci."
Hera pernah mendengar, saat Tuan Wijaya tidak setuju hubungan Jo dan Jessica. Itu karena pacar Jo, tidak punya sopan santun.
"Kamu sudah menghina Jessica. Kamu rasakan akibat dari mulut berbisamu itu," kata Jo.
"Lakukan ... lakukan apa yang kamu mau. Kamu sama saja menghianati kekasihmu itu," ucap Hera.
Jo menjepit kedua pipi Hera. "Kamu itu hanya ja**ng bagiku. Seorang ja**ng harus memuaskan pelangganya."
Jo membuka habis kain yang melekat di tubuh Hera. Jo juga membuka kemeja yang melekat di tubuhnya. Hera merasakan sakit di tangannya yang di belit oleh tali pinggang. Jo mulai melakukan aksinya.
Jo melakukannya dengan kasar. Hera menahan sakit di sekujur tubuhnya. Meski belum berhubungan yang sebenarnya. Tetapi bibir dan tangan Jo melukai tubuhnya.
Jo juga melakukan hal yang tidak senonoh. Dia membuka ikatan tali pinggang di tangan Hera. Hera langsung saja berlari ke kamar mandi. Dia memuntahkan c*iran yang berada di dalam mulutnya. Jo yang melihat itu hanya terkekeh.
Tbc
Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.
Catatan Author
__ADS_1
Maaf Author sudah menulis adegan dewasa ini seminimal mungkin dan sesamar mungkin. Kalau pun tidak ada yang tidak suka, di skip saja. Pembaca sebaiknya bisa memilih mana novel yang bisa dia baca. Novel kebanyakan untuk usia 18+. Author bukan buat novel untuk anak-anak.