
Acara liburan bersama telah selesai. Jo dan Brian beserta istri sudah pada pulang. Mereka kembali melakukan aktifitas seperti biasanya.
Jo dan Hera tengah makan malam bersama. Terlihat Hera makan dengan porsi yang tidak biasanya. Jo merasa heran karna Hera makan dengan porsi yang tidak biasa.
Hera melihat makanan di piring Jo masih tersisa setengah. "Jo ... mengapa tidak habiskan makananmu?"
"Aku sudah kenyang," jawab Jo.
"Biar aku yang habiskan!" Hera mengambil makanan Jo lalu memindahkannya ke dalam piring. Hera lalu memakan dengan lahap makanan itu. Hera juga minum air dari bekas gelas suaminya.
Jo mendelik akan perilaku Hera yang seolah tidak jijik makan bekas dirinya. "Her ... kamu itu seorang Dokter, kan?"
Hera heran akan pertanyaan Jo. "Iya ... kenapa?"
"Apa kamu merasa tidak jijik, makan bekas mulutku?" tanya Jo.
Hera mengeleng. "Tidak ... anggap saja kita berciuman."
Jo tertegun. "Aku perhatikan ... napsu makanmu bertambah."
"Besok pagi kamu akan mengetahui semuanya," ucap Hera.
Kening Jo berkerut. "Tahu apa?"
"Besok saja kejutannya. Aku mau tidur dulu," ujar Hera.
Jo semakin penasaran di buatnya. Entah ada kejutan apa yang akan di berikan Hera padanya. Jo menatap Hera yang sedang menaiki anak tangga.
Jo menyuruh pelayan rumah untuk membereskan meja makan. Dia lalu beranjak menyusul Hera masuk ke dalam kamar. Hera langsung merebahkan diri setelah mengosok giginya.
Jo juga demikian, dia mengosok giginya lalu ikut berbaring di samping Hera. Jo memeluk perut Hera. Namun istrinya itu menepiskan tangannya.
"Koq ... gak mau aku peluk?" Jo merasa heran akan sikap Hera.
"Jangan terlalu erat memeluknya. Aku bisa sesak," ucap Hera.
"Biasanya juga seperti itu. Kamu malah merasa senang," kata Jo.
"Itu kemarin-kemarin ... sekarang jangan lagi. Boleh peluk asal jangan erat-erat," seru Hera.
"Baiklah ... aku tidak akan erat-erat memelukmu," pasrah Jo.
Jo tidak jadi memeluk Hera. Dia mengantinya dengan guling. Hera memejamkan matanya lalu tertidur. Jo melirik Hera yang sudah memejamkan matanya.
__ADS_1
Dia mendekat lalu mencium kening serta bibir Hera. "Padahal aku mau main. Dia malah sudah tidur. Kamu sudah membuatku candu."
Jo tadi memeluk Hera karna memang ingin bermain sebentar. Tetapi sepertinya Hera sedang lelah dan tidak mood. Jo akhirnya ikut memejamkan matanya lalu tertidur.
...****************...
Pagi harinya Hera melakukan tes kehamilan sendiri dengan test pack. Dia sudah tahu kalau dirinya seperti mengandung. Namun karna untuk memberitahu Jo maka Hera akan melakukanya dengan test pack.
Hera tersenyum bahagia saat ada dua garis merah yang muncul. Artinya dia benar-benar hamil. Hera keluar dari kamar mandi untuk menemui Jo yang masih tertidur.
Hera menguncang tubuh Jo agar terbangun. "Jo ... bangun dulu. Aku ada kejutan untukmu!"
Jo mengeliat dari tidurnya. Dia menguap karna masih mengantuk. Jo mengucek-ngucek matanya agar terbuka sempurna. Jo melihat wajah sumringah dari Hera.
"Kenapa kamu tampak bahagia?" tanya Jo.
Hera tersenyum lalu menunjukam test pack ke hadapan suaminya. Jo mengambil benda kecil pipih itu dari tangan Hera. Dia membulat lalu tersenyum saat melihat dua garis yang menandakan istrinya tengah hamil.
"Ini kejutan yang kamu bilang tadi malam?" Jo merasa tidak percaya akan apa yang dia lihat dan pegang. Ini seperti mimpi indah dan Jo tidak ingin terbangun. "Ini bukan mimpi, kan?"
Hera tersenyum lalu mengeleng. "Ini nyata ... kamu akan menjadi seorang ayah."
Jo langsung memeluk Hera dengan erat. Dia menciumi seluruh wajah Hera. Jo begitu bahagia akan kabar bahagia ini. Kerja kerasnya telah membuahkan hasil.
"Iya ... kita siap-siap buat kerumah papa," ucap Hera.
Jo segera pergi mandi dan bersiap untuk ke rumah Tuan Wijaya. Sedang Hera turun ke bawah untuk sarapan. Jo menuruni anak tangga dan menuju ruang makan.
Jo menarik kursi dan duduk. Hera dengan sigap melayani Jo. Mereka berdua lalu sarapan bersama.
"Sayang ... kapan kita akan periksa si kecil?" Jo sudah tidak sabar untuk melihat calon anaknya.
"Besok saja kita pergi periksa. Aku sudah membuat janji dengan temanku," jawab Hera.
Hera sudah membuat janji pada temannya yang merupakan seorang Dokter kandungan. Lagian Hera akan melakukan pemeriksaan di rumah sakitnya sendiri.
"Baguslah kalau begitu. Aku ingin sekali melihatnya," ujar Jo.
Hera terkekeh geli. "Anak kita masih berbentuk segumpalan darah, Jo. Masih belum berbentuk."
"Biar saja ... aku ingin melihatnya. Oh ... ya, kamu seorang Dokter. Pasti sudah tahu apa yang harus di lakukan untuk menjaga agar dia sehat di dalam sana," tutur Jo.
"Iya ... kamu tenang saja," ucap Hera.
__ADS_1
"Apa kamu menginginkan sesuatu. Katakan saja padaku. Aku akan siap untuk memenuhinya." Jo kelihatan sangat antusias akan kehamilan Hera.
"Aku tidak menginginkan apa pun. Yang aku inginkan hanya makanan saja," sahut Hera.
"Aku akan memberikanya. Katakan saja makanan yang kamu inginkan," ucap Jo.
Selesai sarapan Jo dan Hera bersiap untuk pergi. Mereka berdua masuk ke dalam mobil. Jo segera melajukan mobilnya menuju mansion Tuan Wijaya.
Beberapa menit kemudian. Mobil Jo telah sampai di depan pintu mansion. Jo dan Hera segera keluar dari dalam mobil. Mereka bergandengan tangan masuk ke dalam rumah.
"Papa, mama ... Jo datang," pekik Jo.
Tuan Wijaya dan mama Rita tengah berada di kamar. Mereka mendengar teriakan Jo yang mengema itu.
"Anak manjamu itu datang rupanya. Dia tidak ingat kalau masih ada orang tua," kesal Tuan Wijaya.
Pasalnya Jo sangat jarang berkunjung ke rumahnya. Tuan Wijaya dan mama Rita juga sangat merindukan anak-anak mereka.
"Jangan marah-marah. Ayo kita keluar menemuinya," ujar mama Rita.
Mama Rita serta Tuan Wijaya keluar dari dalam kamar. Jo langsung saja memeluk mamanya dengan erat. Tuan Wijaya sedikit cemburu karna Jo lebih memeluk mamanya.
Mama Rita berbisik di telinga Jo. "Papa kamu marah. Cepat ... beri dia pelukan."
Jo terkekeh mendengarnya. Dia lalu beralih pada Tuan Wijaya. Jo memeluk papanya itu. Dia lalu berbisik di telinga Tuan Wijaya. "Papa sebentar lagi punya cucu baru."
Tuan Wijaya kaget mendengarnya. "Serius ... kamu tidak lagi bercanda, kan?"
Mama Rita merasa ada yang aneh. "Ada apa memangnya?"
"Mari kita duduk dulu," ujar Jo.
Mereka lalu duduk di kursi sofa ruang keluarga. Mama Rita dan Tuan Wijaya sudah sangat penasaran akan kabar kehamilan Hera.
"Hera ... apa benar yang di katakan oleh Jo?" tanya Tuan Wijaya.
Hera mengangguk. "Benar ... Hera tengah hamil saat ini!"
Tuan Wijaya dan mama Rita begitu bahagia mendengarnya. Mereka akan segera memiliki cucu lagi. Tuan Wijaya serta mama Rita memeluk Jo dan juga Hera. Kini sudah terasa lengkap rasanya. Kedua anaknya telah memberikan mereka penerus.
Setelah ke rumah orang tua dari suaminya. Hera lalu berkunjung ke rumahnya. Dia juga memberitahu perihal kabar yang membahagiakan ini. Kedua orang tua Hera sangat bahagia mendengarnya. Mereka akan segera di beri cucu pertama dari Hera dan Jo.
TBC
__ADS_1
Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.