
Hari berganti hari tak terasa sudah tiga bulan Alex dan Berli terlihat dekat dan selalu bersama. Mengantar jemput Berli, kencan bersama dan melakukan aktifitas layaknya pasangan kekasih tapi belum ada pernyataan cinta dari Alex untuk Berli.
Hari ini semua mahasiswa yang berada di kampus dikumpulkan di tengah lapangan. Semua bingung ada apa gerangan sebab di lapangan itu sudah ada panggung yang di hias balon, bunga-bunga mawar putih ada kartu yang bertuliskan kata-kata cinta.
Para mahasiswa sudah tidak sabar untuk melihat adegan romantis ini. Mereka juga penasaran siapa yang akan menjadi aktor dan artis dalam panggung itu.
Karena semua mahasiswa di panggil untuk kumpul di lapangan maka Berli dan Serly juga ikut berada di sana.
"Berli... kamu, tau gak siapa yang buat ini semua?" tanya Serly. Yang sibuk foto-foto di area lapangan.
"Emang... aku cenayang, yang bakal tau siapa yang bikin lapangan ini jadi Taman cinta," sahut Berli.
"Jangan-jangan... kak Alex bakal nyatain cinta lagi sama kamu. Kamu sering jalan bareng kak Alex. Atau kak Vino yang bakal nembak kamu, secara kan kamu suka sama kak Vino," ujar Serly.
"Jangan... halu deh Ser, mending kita nonton aja nih acara live," ujar Berli.
Pengeras suara dari dalam gedung kampus menggema, memanggil satu nama wanita yaitu Berliana Anastasia.
Mendengar nama yang disebutkan oleh orang di balik pengeras suara membuat sang empunya nama terkesiap. Merasa tidak percaya apakah benar namanya di panggil atau ada nama wanita lain yang sama persis dengan namanya.
Pengeras suara itu kembali menggema memanggil satu nama. Kali ini dengan nama yang lengkap.
"Berliana Anastasia Wijaya silahkan menuju panggung di depan."
Berli masih enggan untuk beranjak, semua mata menatap ke arahnya. Serly yang berada di sampingnya itu, mendorong pelan tubuh Berli untuk berjalan menuju panggung yang telah di sediakan.
"Maju sana, nama kamu di panggil. Aku bilang juga apa, tebakan aku bener," ucap Serly.
"Ta-pi aku."
Berli berkata terbata-bata.
Belum selesai untuk melanjutkan kalimat perkataannya sudah dipotong Serly.
"Shuttt... !"
Menempatkan jari telunjuk ke bibir Berli.
"Jangan... buat malu, diem disini," ujar Serly. Yang segera meninggalkan berli di atas panggung.
Sosok pria tampan membawa sebuket mawar merah tengah berjalan mendekat ke arah Berli.
Pria itu tepat berdiri di hadapannya, sosok pria lain datang membawa microphone kemudian menyerahkanya kepada pria yang membawa buket bunga.
Suasana menjadi hening seketika, semua yang berkumpul di lapangan menjadi diam. Tidak ada yang bicara ataupun berbisik, semua terfokus ke depan untuk menantikan detik-detik pernyataan cinta.
__ADS_1
"Berliana Anastasia Wijaya, aku bukanlah sosok pria yang romantis.
Jika kau menyuruhku untuk menjadi mataharimu yang menyinari jalanmu, sungguh aku tidak bisa karna aku juga butuh sosok penerang.
Jika kau menyuruhku menjadi bintang-bintangmu yang indah, aku juga tidak bisa karna aku juga butuh keindahan.
Tapi aku bisa menjadi udara buatmu yang selalu setia mengiringi setiap detik nafasmu.
Jadilah pelengkapku Berliana Anastasia Wijaya.
Kau matahariku, kau bintangku, kau napasku.
Aku Alexander William telah jatuh cinta kepadamu.
"Maukah kau menjadi pelengkapku maukah kau menjadi pasanganku?"
Alex berlutut di hadapan Berli dengan menyodorkan sebuket bunga mawar.
"Aku... aku, juga telah jatuh cinta kepadamu. Aku mau menjadi pelengkapmu juga pasanganmu," ucap Berli.
Yang segera menerima buket bunga yang di sodorkan Alex.
Alex segera berdiri dan berhambur memeluk erat Berli.
"Terima kasih sayang, aku mencintai dirimu. Aku akan selalu bersama dirimu seperti hembusan napas," ucap Alex.
Semua para pasang mata yang berkumpul di lapangan bersorai dan bertepuk tangan. Karna telah menjadi saksi akan pernyataan cinta Alex untuk Berli.
Kini Alex dan juga Berli telah resmi menjadi pasangan kekasih. Alex begitu perhatian, memberi semua cinta dan kasih sayang hanya untuk wanita yang di cintainya.
Berliana Anastasia wanita pertama yang di cintai Alex. Sosok yang berbeda begitu hangat, ceria mengisi hari-hari Alex dengan tertawa.
******
Alex dan Berli saat ini telah berada di pasar malam. Sesuatu yang baru bagi Alex berkencan layaknya sepasang remaja yang jatuh cinta.
Meski keduanya tidak lagi remaja tapi sosok Berli lah membuat masa-masa remaja itu menghampiri Alex yang tidak dia dapatkan saat itu.
Bersikap dewasa sebelum waktunya itulah Alex. Saat duduk di bangku sekolah menengah atas, Alex sudah punya kehidupan bebas.
Setiap malam hanya dihabiskan di club ataupun di hotel tidak ada acara nongkrong di cafe. Tidak ada acara bermain musik atau sekedar nonton bioskop bersama teman layaknya remaja pada umumnya.
Keduanya menjajal semua arena permainan didalam pasar malam itu.
"Al... (panggilan khusus berli kepada alex )ayo naik bianglala," tunjuk Berli.
__ADS_1
Ke arah bianglala yang di penuhi lampu kerlap kerlip yang sangat indah.
"Baiklah... apa yang tidak untuk kekasihku," ucap Alex. Merangkul pundak Berli untuk segera naik ke bianglala.
"Al... apakah, kau tahu ada mitos yang mengatakan jika sepasang kekasih naik bianglala dan bianglala itu berhenti tepat di atas puncak, lalu saling berciuman maka cinta mereka akan abadi," ujar Berli. Tersenyum memberitahu Alex.
"Apa... kau percaya Mitos itu?" tanya Alex.
"Entahlah, aku hanya dengar saja. Jika kau bertanya aku percaya atau tidak, aku tidak tahu," sahut Berli.
"Kalau... begitu kita harus membuktikannya sayang," ujar Alex.
Dengan mencubit hidung bangir Berli.
"Awwww... jangan mencubit hidungku, rasanya sakit," rengek Berli.
Cup... !
Alex mengecup kecil hidung berli.
"Aku... sudah mencium hidungmu jadi sekarang tidak sakit lagi, kan?" ujar Alex.
"Huh... selalu saja begitu," gerutu Berli kesal.
Alex hanya terkekeh kecil melihat tingkah lucu sang kekasih. Mereka telah berada di dalam bianglala, Alex dan Berli duduk saling berhadapan.
"Tasia... (panggilan khusus alex untuk berli )
benar atau tidak mitos bianglala, yang mengatakan hal yang tadi kau sebutkan itu. Aku hanya berharap bahwa kau, satu-satunya yang akan menjadi cinta abadi dan juga terakhir dalam hidupku. Aku mencintaimu, sangat mencintai dirimu sayang."
Alex meraih tengkuk Berli dan mulai mencium lembut bibir ranum itu, tepat berhentinya bianglala di atas puncak.
"Aku juga sangat mencintaimu, Al," sahut Berli.
"Jadilah yang terakhir dalam hidupku."
Sesaat setelah mereka melepaskan ciuman.
Alex mencium kembali bibir ranum itu.
Bibir yang hanya dia seorang yang pernah mencicipinya. Bibir yang menjadi candu baginya. Bibir berwarna kemerahan yang selalu ingin dia reguh manisnya. Tidak ada ciuman nafsu di antara mereka yang ada hanya ciuman yang penuh cinta.
I LOVE U TASIA
Tbc
__ADS_1
Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.