
Jessica sampai dengan selamat di Tanah air. Dia melengang berjalan dengan membawa koper besar di tanganya. Jessica celingak-celinguk menanti seseorang yang katanya akan menjemput dirinya.
"Mana sih ... orang yang katanya mau menjemputku," gumam Jessica.
Jessica melihat jam di pergelangan tanganya. Sudah 15 menit dia berdiri menunggu. Jessica sudah merasa sangat kesal. Dia paling tidak suka jika harus menunggu.
"Jessica ...."
Jessica menoleh pada seseorang yang memanggil namanya. Dia kaget melihat Jo berada di hadapanya. Niat hati tidak ingin lagi bertemu Jo. Sekarang malah Jo berdiri di hadapanya.
"Jo ... kamu di sini?" Jessica gugup bertemu dengan Jo.
"Jessica ... aku ingin mengatakan sesuatu. Kamu ikut aku sekarang," kata Jo.
"Ta-tapi ... aku lagi menunggu orang yang akan menjemputku," ujar Jessi.
Sebenarnya Jessica ingin menghindar dari Jo. Dia sudah menata hatinya untuk melupakan Jo. Ini malah Jo sendiri yang datang padanya.
"Orang yang menjemputmu adalah aku," kata Jo.
Jessica mendelik. "Maksud kamu?"
Jo mengambil koper Jessica dan meraih tanganya. "Aku akan menjelaskan semuanya padamu. Ikuti saja aku sekarang."
Jessica pasrah saja mengikuti langkah kaki mantanya itu. Jo membuka pintu mobil dan menyuruh Jessica masuk ke dalam. Jessica masuk ke dalam mobil di susul oleh Jo.
Jo menyalakan mesin mobil dan segera berlalu dari bandara. Jo melajukan mobilnya menuju restoran mewah. Mobil sampai di restoran yang di tuju oleh Jo.
Jo keluar dulu lalu membukakan pintu mobil untuk Jessi. Dia mengengam tangan Jessi menuju meja yang telah dia pesan terlebih dahulu.
Jo menarik kursi dan mempersilakan Jessi untuk duduk. Jo lalu memesan makanan serta minuman untuk mereka berdua.
Jessica berusaha untuk menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. Dia sendiri belum bisa melupakan pria yang tengah duduk di hadapannya ini. Jessica sangat mencintai Jo.
Jonathan adalah cinta pertamanya. Jo adalah sosok pria yang hangat dan lembut. Hanya saja takdir tidak mengariskan mereka berjodoh.
Jo mengengam tangan Jessica. "Sayang ... aku yang mengatur semua ini. Aku yang membuat kamu bekerja di negara ini. Aku ingin kita kembali menjalin hubungan. Hera sudah menyetujui hubungan kita."
Jessica melepas gengaman tangan Jo. "Apa kamu tidak waras?" Jessica berkilat marah. "Kamu sudah beristri. Lalu kamu ingin menjalin hubungan denganku?"
"Jes ... aku mencintai kamu. Hera sudah setuju jika kita bersama. Aku akan menceraikan Hera setelah 2 tahun pernikahan kami," ungkap Jo.
__ADS_1
Jessica mengeleng tidak percaya akan penuturan Jo. "Jo ... kamu kira pernikahan itu main-main?"
"Jes ... aku mohon. Kalau kamu tidak percaya, kamu boleh bertanya pada Hera sendiri."
Jessica menatap wajah Jo. Dia juga ingin kembali bersama Jo. Jessica bingung, dia mengusap wajahnya. Dia sendiri tidak tahu harus berkata apa.
"Jo ... jangan membuat hubungan ini menjadi rumit. Aku tidak mau terjebak di dalamnya," lirih Jessica.
"Please ... kembali padaku."
"Kita temui saja istrimu dulu. Aku ingin mendengar langsung dari mulutnya," ujar Jessica.
Jo tersenyum bahagia. "Kita makan dulu, setelah itu kita temui Hera."
Jessica mengangguk. "Baiklah ...."
Jo dan Jessica makan dengan lahap. Setelah pelayan mengantar dan menata makanan di atas meja. Jo tiada hentinya menatap wajah kekasih yang selalu di rindukan. Rasanya sungguh bahagia. Sekarang Jo akan bisa menatap serta bertemu langsung dengan Jessica.
...****************...
Jo sampai di rumahnya bersama Jessica. Mereka turun dari dalam mobil. Jo tidak melepas gengaman tanganya pada Jessi. Dia membuka pintu lalu mempersilakan Jessi untuk masuk ke dalam rumah.
"Kamu duduklah dulu. Aku akan memanggil Hera," ucap Jo.
Jo duduk di atas ranjang kasur seraya menunggu Hera selesai mandi. Hera keluar dari dalam kamar mandi.
"Jo ... kamu sudah pulang?" tanya Hera.
"Her ... aku sudah membawa Jessica ke sini. Aku ingin kamu menjelaskan semua yang telah kita sepakati," ucap Jo.
Ada rasa nyeri di hati Hera saat mendengar kalau Jessi sudah ada di rumahnya. Jo benar-benar melakukan hal yang dia inginkan. Suaminya itu sudah sangat mencintai Jessica. Jo bahkan rela membuat kekasihnya untuk pindah dari negaranya.
Hera menghela napas. "Aku akan turun sebentar lagi."
Jo keluar dari dalam kamar. Dia kembali menemui Jessica di ruang tamu. "Sayang ... kamu tunggu sebentar. Hera akan segera turun."
Jo duduk di samping Jessica. Dia membawa Jessica ke dalam dekapan tubuhnya. Jessica mendorong pelan tubuh Jo agar menjauh darinya.
"Aku rindu denganmu. Apa kamu tidak ingin aku peluk," lirih Jo.
Jessica menjadi serba salah. Dia juga sangat merindukan Jo. Dia bahkan sangat merindukan dekapan serta sentuhan dari kekasihnya itu. Tidak, bukan kekasih tetapi mantan. Jessica masih belum menerima Jo kembali.
__ADS_1
"Jo ... nanti di lihat istrimu. Hormatilah istrimu," ucap Jessica.
Jo mengelus puncak kepala Jessica. "Kamu dari dulu sangat baik. Kamu selalu mementingkan perasaan orang lain."
Hera menuruni anak tangga satu persatu. Hera berjalan dengan sangat lambat. Dia tidak mau menganggu moment sepasang kekasih melepas rindu. Hera tadi sempat melihat Jo memeluk dan mengelus rambut Jessica.
"Ehem!" Hera berdehem lalu tersenyum kepada sepasang kekasih yang tengah duduk berdampingan itu.
"Kenalkan ... aku Hera." Hera mengulurkan tanganya untuk berjabat tangan.
Jessica menerima uluran tangan Hera. "Aku ... Jessica. Senang berkenalan denganmu."
Hera tersenyum manis pada Jessica. Kekasih suaminya itu memang sangat cantik.
"Jessica ... aku akan berbicara langsung saja. Aku tidak masalah kalau kalian menjalin hubungan kembali. Aku tidak ingin memisahkan dua insan yang saling mencintai. Lagian, kami juga akan berpisah sebentar lagi," tutur Hera.
Jo tersenyum puas akan penuturan Hera. Jo mengengam tangan Jessica dan mengecupnya. "Kamu dengar sendiri, kan? Hera saja tidak masalah kalau kita bersama kembali."
Hera tersenyum getir melihat perlakuan Jo pada Jessica. Suaminya itu bahkan tidak memandang dirinya yang berada di tempat yang sama.
Jessica semakin gundah untuk menerima Jo kembali atau tidak. Dia menatap wajah memelas Jo. Jessica juga menatap wajah Hera yang tidak menunjukan ekspresi apa pun.
Apa Hera tidak mencintai Jo. Kenapa mudah sekali, dia mengijinkan Jo kembali padaku, batin Jessica.
"Jo ... aku tidak bisa menjawab sekarang. Beri aku waktu dulu," ucap Jessica.
Jo mengengam tangan Jessi. "Please ... terima aku kembali."
"Terima saja, Jes. Jangan sampai Jo berbuat gila. Dia hampir bunuh diri saat kamu meninggalkan dirinya," tutur Hera.
Jo menatap tajam Hera. Memangnya kapan dia melakukan hal bodoh itu. Jessica kaget mengetahui hal itu.
"Jo ... apa itu benar?" tanya Jessica.
"Dia tidak akan mengaku. Kamu terima saja, kamu tidak kasihan, melihat wajah memelasnya itu?" ucap Hera.
Jo mengepal geram pada istrinya itu. Hera telah memojokan dirinya. Hera seperti menganggap Jo pengemis cinta. Tetapi itu memang faktanya. Jo memang mengemis cinta dari Jessica.
Hera ... awas saja kamu, batin Jo.
Tbc
__ADS_1
Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.